BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Ferosemen merupakan konsep bangunan yang diterapkan dalam
sebuah bangunan yang mempunyai nilai sejarah budaya, suku, dan ciri lainya ini.
Bangunan megah yang dibangun dari bahan utama ferosemen ini mampu menyita
perhatian wisatawan atau warga non Lampung yang menginjakan telapak kakinya di
tanah Bakauheni, setiap orang yang belum mengerti unsur dan tujuan dibangunan
mewah ini sekilas bertanya bagaimana proses pembangunannya?, bangunan itu
adalah Menara Siger yang berdiri tegak menghadap laut selat sunda.
Lampung sebagai salah satu pintu gerbang pulau Sumatera dan
pulau Jawa belum memiliki bangunan yang mencirikan khusus daerah Lampung (Landmark). Konstruksi yang ada selama
ini hanya berupa portal atau gerbang yang menunjukan daerah batas atau
kabupaten atau kotamadya di wilaya Lampung.
Lampung yang merupakan salah satu propinsi yang terletak bagian ujung pulau
Sumatera ini merupakan tanah yang sering dijuluki sebagai “Serambi Sumatera”
seperti Aceh dengan semboyan “Serambi Mekah” adalah daerah Sang Bumi Ruwai
Jurai. Jika aceh terkenal dengan masjid Baiturrahman yang kokoh tetap berdiri
dari terpaan gelombang tsunami dan mesum tsunami, palembang dengan Jambatan
Ampera, Bali dengan keindahan alamnya, kini Lampung dengan Landmark-nya berupa Menara Siger.
Bangunan yang dibangun sejak tahun 2004 sampai tahun 2008 ini mempunyai
kisah sejarah tersendiri, mulai dari perencanaan sampai proses pembangunan.
Salah satunya adalah proses pembangunan menara siger yang memakan waktu cukup
lama dan biaya yang cukup besar dari APBD Lampung, diharapkan tugu besar yang
tegak berdiri ini bisa dibanggakan dalam berbagai segi.
Banyak sekali yang unik dan perlu dibahas dari menara siger, dari proses
pembangunan yang cukup rumit dan memakan bahan yang unik, membuat bangunan in
menjadi bangunan khas dan tersendiri. Proses pembangunan yang memakan waktu
yang cukup lama menjadikan bangunan ini tidak akan mudah runtuh dan rusak
Tugu Siger atau sering disebut
Menara Siger adalah project idealisme dari pemerintah Propinsi Lampung yang
ingin membuat identitas daerah Propinsi Lampung, seperti Menara Eiffelnya
paris, twin towernya malaysia, Monasnya Jakarta dan lain sebagainya.
Pemerintah
Propinsi Lampung membangun sebuah landmark
yang diberi nama Menara Siger Bakauheni. Menara siger merupakan simbolik dari
tapal batas awal tanah sumatera, dengan adanya menara siger merupakan titik nol
batas tanah sumatera. Menara siger juga merupakan ikon kebanggaan masyarakat
lampung yang meninggalkan catatan berupa sejarah dari segi teknis maupun yang
melatarbelakanginya.
Menara
siger diharapkan dapat mempresentasikan sejarah, budaya adat dan seluruh etnis
lampung. Seluruh masyarakat Lampung berharap agar menara siger menjadi
kebanggan lampung tersendiri.
B. Alasan
Pemilihan Judul
Dalam
penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis memperoleh bahan sebagai materi
penelitian langsung ke Menara Siger sejak tanggal 17 Januari 2013 sampai tahap
penyusunan, dan penyusun mengambil judul:
“SEJARAH PEMBANGUNAN MENARA SIGER”
C. Tujuan
Penelitian
Adapun penulis mengambil judul
tersebut karena beberapa alasan diantaranya adalah:
1.
Untuk
mengetahui proses pembangunan Menara Siger
2.
Untuk
mengetahui tujuan dibangunya Menara Siger
3.
Untuk
mengetahui model dan bentuk Siger pertahun
4.
Untuk
mendokumentasikan proses pembangunan Siger
5.
Untuk
menambah ilmu dan wawasan yang masih belum kami ketahui.
D. Metode
Pengumpulan Data
Metode yaitu
cara atau langkah yang ditempuh untuk
mencapai suatu tujuan. Metode yang di pakai dalam penyusunan karya tulis ini
adalah:
1. Metode observasi
Yaitu metode
yang di lakukan dengan cara mengamati secara langsung objek yang di teliti
2. Metode literatur
Yaitu metode yang dilakukan dengan
mencari informasi yang berkaitan dengan objek sekitar tempat penelitian
3.
Metode
Kuisioner
Yaitu metode yang dilakukan dengan
bertanya kepada masyarakat setempat dengan daftar pertanyaan yang telah
disiapkan
E. Sistematika
Penulisan
Untuk
memudahkan pembaca dalam memahami laporan ini kami menyajikan sistematika
penulisan dengan susunan:
Bab 1: Pendahuluan, meliputi:
Latar Belakang
Masalah, Alasan Pemilihan Judul, Tujuan Penulisan, Metode Pengumpulan Data, dan
Sistematika Penulisan.
Bab II:Pembahasan, meliputi:
Deskripsi
lokasi, keanekaragaman hayati, keanekaragaman aves.
Bab III: Penutup , meliputi:
Saran – saran dan kata penutup
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mengenal
Arsitek Perancang Menara Siger
Desain suatu bangunan adalah salah satu unsur penting untuk
daya tarik bangunan itu, selain itu juga desain gambar sampai hal yang terkecil
merupakan unsur penting. Termasuk menara siger, yang dimulai dari desain sampai
proses peresmian dilakukan secara hati-hati.
Ir.Anshori Djausal,M.T
adalah sang creator yang desainer dari
menara siger. Beliau adalah ahli forasemen di Indonesia. Dua buku yang pernah
ditulisnya tahun 2004 untuk membagi pengetahuan bagi generasi mendatang yaitu Pengantar Forasemen dan Aplikasi Forasemen. Beberapa
karya konstruksi forasemen terbesar diberbagai tempat di Indonesia, termasuk
beberapa dermaga forasemen yang dibangun dalam beberapa tahun terahir.
Ir.Anshori Djausal,M.T
merupakan salah seorang pendiri IFS (International Forracement Society),
organisasi internasional bidang forasemen ini didirikan tahun 1990, dan pada
symposium Forasemen internasional ke 9 bulan mei 2009 di Bali beliau terpilih
sebagai Presiden IFS untuk masa kerja 2009-2012.
Keahlian seorang Ir.Anshori Djausal,M.T
dibidang forasemen bersama dengan
ketertarikanya untuk mendalami berbagai keahlian lain dan berbagai hobi,
kebudayaan lampung merupakan hal yang menarik baginya, sehingga penggalian
nilai-nilai budaya dapat teragenda untuk
diangkat menjadi sesuatu yang istimewa. Menara Siger adalah karya gabungan
antara keahlian forasemen dan adat budaya lampung yang juga ditekuninya.
Selain sebagai perangcang dan desainer bangunan menara
siger, beliau juga merupakan salah satu penggagagas dan ideator pembangunan
menara siger bersama Gubernur Lampung Sjachroedin ZP. Selama proses pemikiran
dan sampai peresmian bangunan Menara Siger, beliau merupakan salah satu orang
yang sangat berpengaruh dalam sejarah pembangunan Symbol Lampung itu.
Alumni jurusan Teknik Sipil ITB (1980) ini bekerja sebagai
dosen di jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung (Unila) periode 1999-2004.
Suami dari DR.Herawati Soekardi dan bapak dari empat anak serta kakek dari dua
cucu ini juga selalu menempatkan keluarga sebagai pendorong utama untuk
mengerjakan banyak hal dengan penuh semangat.
B. Menara
Siger, Landmark Propinsi Lampung
1.
Ide Dasar
Lampung sebagai salah satu pintu
gerbang pulau Sumatera dan pulau Jawa belum memiliki bangunan yang mencirikan khusus
daerah Lampung (Landmark). Konstruksi
yang ada selama ini hanya berupa portal atau gerbang yang menunjukan daerah
batas atau kabupaten atau kotamadya di wilaya Lampung. Oleh karena itu,
pemerintah propinsi Lampung membangun sebuah Landmark yang diberi nama Menara Siger Bakauheni.
Ide dasar dari pembangunan siger adalah berawal dari gambar siger yang
dikenakan wanita khas lampung dalam sebuah acara-acara khusus seperti acara
pernikahan dan acara-acara resmi lainya
Gambar 1. Mahkota Siger dengan 9 puncak
Gambar 3. Perempuan Lampung dengan mahkota siger
Dipandang secara seksama, bangunan yang sekarang berdiri
kokoh sangat mirip dengan mahkota siger. Karena memang ide awalnya dari lambang
muli lampung.
2. Inspirasi Menara Siger
Pada tahun 2001, melalui Bappeda Lampung, penulis mengusulkan kepada Gubernur Lampung Oemarsono perlunya sebuah landmark bagi Propinsi Lampung.Salah satu bentuk yang dipertimbangkan pada saat itu adalah kayu ara. Kayu ara merupakan budaya masyarakat Lampung merupakan pohon kosmologi (Lampung’s cosmological tree). Kayu ara merupakan hal yang penting dan selalu ada pada setiap upacaadat lampung.
Gambar 4. Kayu Ara desain awal menara
Gambar 5. Desain terusan kayu Ara
Gagasan awal membangun sebuah landmark yang menandai titik
nol km Lampung telah menjadi pembicaraa awal Gubernur Lampung Bapak Sjachroedin
ZP sejak tahun 1995.
Kemudian, pada tahun 2004, Gubernur Lampung Sjachroedin ZP
gagasan tersebut dilanjutkan dengan perencanaan yang lebih matang dan
memutuskan penggunaan siger sebagai desain utama landmark dengan pertimbangan bentuknya yang unik dan khas Lampung.
Pembangunan menara siger itu memakan waktu 4 tahun yang diresmikan langsung
oleh Gubernur Lampung Bapak Sjachroedin ZP pada tanggal 30 April 2008, dalam
peresmian ini Gubernur Lampung mengundang 32
Duta Besar Negara Sahabat di antaranya Negara
kroasia,Srilangka,Jepang,Palestina,Afganistan,Singapura,dan Negara Filipina.
Belum pernah ada menara berbentuk siger yang pernah dibuat
sebelumnya. Inspirasi bentuk siger berasal dari bentuk mahkota yang sangat khas
yang dipakai oleh pengantin wanita dan pelaku adat lampung.
Bentuk
siger secara sosio-politik telah terlegitimasi pada lambing Propinsi Lampung.
Lambang ini telah resmi dipakai sejak tahun 1964. Akhirnya dengan berbagai
pertimbangan di atas maka dipilihlah siger
sebagai bentuk menara untuk landmark Propinsi
Lampung.
3. Perancangan Menara Siger
Rancangan menara siger akhirnya selesai
pada tahun 2004. Rancangan ini disampaikan kepada Gubernur Lampung Bapak
Sjachroedin ZP dan rancanga ini pula disetujui oleh beliau.
Rancangan menara siger ini merupakan kolaborasi dari tiga unsur yaitu
nilai budaya, struktur dan arsitektur.
Gambar 6. Desain Menara Siger
A. Transformasi
Desain ke Perancanaan Teknik
Transformasi Gambar Seni ke Perancanaan
Teknik
Pada proses ini dilakukan penerunan-penurunan nilai-nilai estetik dari
siger itu sendiri. Setelah itu dilakukan proses pengejawantahan nilai-nilai
estetik ini dengan menggunakan teknologi-teknologi baru.
Gambar
7. Proses Transformasi Desain
Transformasi gambar seni ke perencanaa
teknik dilakukan secara seksama dan teliti
Lampung sebagai salah satu pintu gerbang pulau Sumatera dan
pulau Jawa belum memiliki bangunan yang mencirikan khusus daerah Lampung (Landmark). Konstruksi yang ada selama
ini hanya berupa portal atau gerbang yang menunjukan daerah batas atau
kabupaten atau kotamadya di wilaya Lampung.
Pada tahun 2001, melalui Bappeda Lampung, penulis
mengusulkan kepada Gubernur Lampung Oemarsono perlunya sebuah landmark bagi Propinsi Lampung.Salah
satu bentuk yang dipertimbangkan pada saat itu adalah kayu ara. Kayu ara
merupakan budaya masyarakat Lampung merupakan pohon kosmologi (Lampung’s cosmological tree). Kayu ara
merupakan hal yang penting dan selalu ada pada setiap upacaadat lampung.
A. Bahan
Pembangunan Menara Siger
1. Mengenal Ferosemen
Jika
didefinisikan secara sederhana, ferosemen (ferrocement)
adalah suatu tipe dinding tipis beton bertulang yang dibuat dari kawat jala,
pasir, air, dan semen. Teknologi ferosemsen pertama kali diajukan hak patennya
oleh Joseph Louis Lambot tahun 1852 di Prancis dengan membangun dua perahu
tahun 1848 dan 1849.
Tahun 1940,
Pier Luigi Nervi, insinyur arsitek italia, menghidupkan kembali konsep
ferosemen dangan membangun sebuah kapal untuk memancing. Setelah perang dunia
II, Nervi menunjukkan kembali konsep ferosemen dengan membangun kapal pancing
165 ton, diberi nama Irene, dengan dinding kapal ferosemen tebal 35 mm yang
lebih ringan dibandingkan dengan bahan kayu.
Pada awal
tahun 1960, akhirnya ferosemen dapat diterima secara luas untuk konstruksi
kapal laut di inggris, Selandia Baru, Kanada, dan Australia. Tahun 1968, FAO
mengadakan proyek pembuatan kapal ferosemen di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan
Unisoviet.
Dibandingkan
dengan beton bertulang, ferosemen memiliki sejumlah perbedaan. Dari segi fisik,
ferosemen lebih tipis, memilki tulang yang terdistribusi pada setiap
ketebalannya,penulangan dua arah,dan matriksnya hanya terdiri atas agregat
halus dan semen.
Dari sifat
mekaniknya, ferosemen memilki sifat-sifat seragam dalam dua arah, umumnya
memiliki kuat tarikdan kuat lentur yang tinggi, memiliki ratio tulangan yang
tinggi,proses retak dan perluasan retak yang berbeda pada beban
tarik,duktilitas meningkat sejalan dengan peningkatan rasio tulangan
anyam,kedap air tinggi. Ferosemen lemah trhadap temperature tinggi, tetapi
ketahanan terhadap beban kejut lebih tinggi.
Metode
pembuatan pun berbeda dengan beton bertulang, tidak memerlukan keahlian khusus,
sangat mudah dalam perawatan dan perbaikan, dan biaya konstruksi untuk aplikasi
di laut lebih murah disbanding dangan kayu, beton, bertulang, atau material
komposit.
Ferosemen
pun terus berkembang. Bahkan, untuk stasiun ruang angkasa pun tekhnologi ini
sudah bias di aplikasikan. Bahan-bahan yang digunakan pun makin variatif, bukan
sekedar kawat, melainkan juga sampai keserat karbon atau tekstil.
Struktur
ferosemen yang sudah dikerjakan dan ramah lingkungan sangat cocok untuk
diterapkan di berbagai bentuk konstruksi. Bentuk penulangan yang tersebar
merata hampir diseluruh bagian struktur memungkinkan untuk dibuat struktur
tipis dengan berbagai bentuk struktur sesuai dengan kreasi perencanaannya.
Bangunan
monumental dengan struktur ferosemen yang pertama kali dibangun adalah menara
masjid dijalan Cisitu Lama, Bandung, tahun 1980. Struktur ferosemen juga
digunakan membuat gerbang kebun Binatang Ragunan tahun 1984. Sementara itu,
bangunan monumental terbesar di Indonesia dari struktur ferosemen adalah Menara
Siger di Bakauheni Lampung yang dibangun tahun 2006 dan diresmikan pada tahun
2008.
Lainnya,
Masjid Bagus Kuning Palembang dibangun tahun 1985 dengan bentangan dari sudut
ke sudut sepanjang 38 meter. Selain berbentuk kubah, ferosemen ini juga dapat
dibentuk datar seperti pada Mesjid Al Abror Bandar Lampung.
Melalui
studi model di ITB pada tahun 1982, percobaan pertama dimulai di Sumatera Selatan
pada Tidal Rice Project yaitu pembangunan flap
gate untuk irigasi pasang surut. Ferosemen juga digunakan untuk membuat
saluran irigasi pracetak di Citandui, Jawa Barat, dan juga di Bekri-Rumbia
Lampung.
Pusat
Penelitih Teknologi ITB dengan nama DTC tahun 1970-an, banyak sekali membangun
tangkir air baik dari ferosemen maupun bamboo-semen. Bak air dan kamar mandi
fero dan bambu-semen dibangun daerah pedesaan Jawa Barat.
Ferosemen
juga diaplikasikan dibidang maritime berupa perahu yang dibuat tahun 1983 dan
digunakan untuk memancing. Setelah beberapa tahun digunakan, perahu ini
mengalami kerusakan pada bagian dindingnya.
Sebagian
kawat jala mengalami karat dan mortalnya terlepas dari kerangka perahu.
Perbaikannya bias dilakukan dengan cara mengganti bagian kawat jala yang
berkarat dan melepas kembali dengan mortar. Ferosemen dapat juga digunakan
untuk membuat dermaga. Panel-panel
ferosemen dicetak di daratan, kemudian dirangkai menjadi satu dengan
balok dengan kolom yang sudah terpasang di dermaga.
Bentuk-bentuk
lengkung pada menara siger tidaklah mudah dibuat tanpa menggunakan tekhnik
konstruksi yang khusus. Maka, kemudian dipilihlah penggunaan konstruksi
ferosemen untuk membangun menara siger.
Ferosemen
adalah bentuk dasar dari betonbertulang yang dibuat dari kawat jala, pasir,
air, dan semen yang memiliki sifat-sifat kuat tekan dan tarik tingggi. Faktor
yang tak kalah penting diterimanya ferosemen adalah ketersediaan bahan dasar di
Negara berkembang, dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan disesuaikan dengan
lingkungan dan budaya suatu Negara dan cocok untuk dibuat pracetak maupun
konstruksi langsung dilapangan.
Penggunaan
bahan ferosemen seluas 3000 m2 ini telah mengurangi biaya konstruksi struktur
sampai dengan 25 persen di bandingkan dengan beton bertulang biasa.
Sedangkan
untuk pembagian lantai, menara siger terdiri atas 5 lantai dengan lantai
terluas adalah lantai 1.
Gambar 8. Pemodelan Struktur Menara
Siger
1.
Desian Ferosemen
Ferosemen yang digunakan pada menara siger
memiliki spesifikasi sebagai berikut :
Spesifikasi
Mortar
|
||||
1
|
Kuat tekan silinder
|
Fcm
|
30
|
MPa
|
2
|
Modulus Elastisitas Mortar
|
Em
|
3767.24
|
MPa
|
3
|
Regangan Ultimate
|
Eum
|
0.0075835
|
|
4
|
Kuat tarik
|
Ftm
|
2.736
|
Mpa
|
Spesifikasi
Tulangan Rangka
|
||||
1
|
Diameter tulangan
|
Ds
|
6
|
Mm
|
2
|
Jarak tulangan
|
Ss
|
100
|
Mm
|
3
|
Kuat leleh
|
Fys
|
360
|
MPa
|
4
|
Modulus tulangan
|
Es
|
210000
|
MPa
|
Spesifikasi
Ferosemen
|
||||
1
|
Tebal
penampang
|
Hfc
|
30
|
Mm
|
2
|
Jumlah lapisan kawat
|
Nw
|
6
|
lapis
|
Spesifikasi
kawat
|
||||
1
|
Jenis segienam
|
Nw
|
0.45
|
|
2
|
Diameter kawat
|
Dw
|
0.75
|
Mm
|
3
|
Jarak bukaan arah 1
|
DL
|
12.5
|
Mm
|
4
|
Jarak bukaan arah 2
|
DT
|
12.5
|
Mm
|
5
|
Kuat leleh
|
Fyw
|
490
|
Mpa
|
6
|
Regangan Ultimate
|
Euw
|
0.015
|
|
7
|
Modulus elastisitas
|
Ew
|
210000
|
Mpa
|
Modulus Elastisitas Komposit/Forasemen
Ec
= Em . Vm + EW . Vfr . nw Ec = 5.678 x 103
Modulus Retak
Ecr
= Ew . Vfr . nw Ecr = 1.99 x 103
2.
Pembebanan Struktur Pada Menara Siger
· Beban Mati
1.
Beban
mati yang bekerja melata pada lantai bangunan
Beban
ini bekerja pada setiap lantai kecuali lantai dasar
· Berat pelat 0,12 x 2400 = 288Kg/m2
· Berat spesi (tebal 2cm) : 0,03 x 2100 = 19Kg/m2
· Berat penutup lantai = 18 Kg/m2
· Beban plafon dan penggantung = 388 Kg/m2
=
400 Kg/m2
2.
Beban
mati tembok yang bekerja sebagai beban merata garis : untuk badan merata garis
untuk dinding ½ bata digunakan sebesar 250 Kg/m2
3.
Beban
mati foresemen 0,03 x 2400 = 72 Kg/m2
· Beban Hidup
Beban
hidup yang dipergunakan untuk pada bangunan ini adalah sebesar 250 kg/m2
· Beban Angin
Tekanan
angin diambil sebesar 40 Kg/m2
· Beban Gempa
Lokasi
pembangunan menara siger termasuk kedalam wilayah gempa lima
Gambar
9. Kurva Pembeban Gempa
A. Pembangunan
Menara Siger
Pembangunan menara siger dimulai dengan pengukuran lahan
pada bulan Desember 2004. Setelah itu pembangunan menara sendiri dimulai dari
bulan April 2005. Tahap pembangunan struktur menara siger dilaksanakan pada
bulanApril 2005, kemudian dimulai tahapan pabrikasi struktur bajarangka atap
pada bulan Mei 2005
Gambar 10. Pabrikasi baja
Gambar
11. Tahapan Pembangunan Menara Siger, Tahun 2005
1. Pembuatan Atap Ferosemen
Setelah
rangka atap diselesaikan maka dimulailah tahapan pembuatan atap ferosemen. Pada
tahap awal, dilakukan pemasangan rangka baja sebagai penggantung sementara besi
beton ferosemen. Tahapan berikutnya adalah melakukan pemasangan besi neton pada
rangka baja.
Gambar 12. Pemasangan
Gambar 13. Pemasangan Besi Beton
Setelah itu dilakukan pemasangan kawat ayam (chicken-mesh) pada besi tulangan sebanyak 3 lapis dari bagian
bawah dan 3 lapis dari bagian atas. Setelah selesai memasang lapisan chicken-mesh pekerjaan dilanjutkan
dengan pekerjaan plester mortar ferosemen.
Gambar 14. Chicken Mesh telah terpasang
Gambar 15. Sebagian kubah telah
diplester dengan mortar
Selanjutnya
ferosemen dilaksanakan secara bertahap dan melalui masa perawatan dengan karung
basah untuk mencegah terjadinya keretakan akibat pengeringan permukaan
ferosemen yang terlalu cepat. Adapun mortar ferosemen juga menggunakan aditif
yang berfungsi untuk memperlambat pengeringan mortar.
Pekerjaan plester ferosemen ini dilakukan secara manual menggunakan
tenaga menusia dan dihaluskan sehingga tebal ferosemen secara keseluruhan
relative setebal 3 cm.
Gambar 16. Menara siger dengan salah
satu sayap kubah sudah diplester dengan mortar
Setelah
itu barulah selanjutnya adalah tahap finishing. Pada tahap ini permukaan
ferosemen kemudian dilapisi cat sebagai tahap akhir pekerjaan atap ferosemen.
2. Foto
Desain dan Realitas
Gambar 18. Menara Siger September 2005
Gambar 19. Menara Siger Oktober 2005
Gambar 19. Menara Siger Oktober 2005
Gambar 20. Menara Siger Desember 2005
Gambar 21. Menara Siger Juli 2006
Gambar 22. Menara Siger Mei 2007
A. Bakauheni
Lokasi Pembangunan Menara Siger
Lokasi yang dipilih untuk pembangunan
menara siger adalah wilayah pelabuhan bakauheni, Lampung Selatan. Letaknya
diatas bukit sehingga dapat dilihat dari kapal ferry yang akan merapat ke
pelabuhan maupun yang baru beragkat kearah merak.
Bakauheni dipilih dengan alasan yang cukup mendasar yaitu
menandakan pintu masuk wilayah propinsi Lampung. Menara siger inilah yang
kemudian menjadi pertanda 0 km ujung selatan pulau sumatera.
A. Anggaran
Biaya Pembangunan Menara Siger
Menurut arsiteknya Ir. Hi. Anshori Djausal M.T Dengan penggunaan
teknik ferrocement, Menara Siger dijamin mampu menahan terpaan
angin kencang walau di bangun dengan ketinggian 110 meter di atas permukaan
laut, Pembangunan menara siger sejak tahun 2005 sudah menghabiskan biaya Rp15
miliar. Tidak ada data
secara detail, karena pihak pemerintah tidak terlalu transparant untuk
mempublish secara rinci
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dimulai
dari berbagai cara penelitian dan konsep penulisan, dan dari uraian yang telah
penulis paparkan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
-
Tokoh
penggagas bangunan menara Siger yang paling terkenal adalah Sjahroedin ZP
selaku Gubernur Lampung dan Ir.Anshori Djausal, M.T Selaku arsitek pembangunan
-
Waktu
Pembangunan menara siger memerlukan waktu selama 4 tahun, terhitung mulai tahun
2004 dan peresmian tahun 2008
-
Bahan
dasar dan teknik pembangunan menara siger adalah Ferosemen yang merupakan suatu
tipe dinding tipis beton bertulang yang dibuat dari kawat jala, pasir, air, dan
semen
-
Biaya
yang dibahiskan untuk pembangunan menara siger menghabiskan Rp. 15 Milyar,
dengan rincian biaya tidak bisa disebutkan ke media massa dan pers
-
Menara
siger merupakan titik nol KM tanah sumatera, yang merupakan awal dibangunya
jembatan selat sunda (JSS)
B. Saran
Berdasarkan
ringkasan dan uraian karya tulis ini, maka penulis memberikan beberapa saran
sebagai berikut :
1.
Proses
pembangunan menara siger diharapkan agar tidak hanya sebatas bangunan, tapi
disertai dengan bangunan lain sehingga wisatawan lebih menikmati keindahan
lampung
2.
Dokumentasi
dan koleksi pembangunan menara siger agar dipaparkan disetiap sudut, agar
pengunjung lebih mengetahui sejarah pembangunan menara siger
3.
Kedetailan
biaya pembangunan agar lebih transparan, sehingga masyarakat lebih mengetahui
jelas
4.
Perawatan
bangunan agar lebih ditingkatkan lagi mengingat wisatawan setiap tahun melonjak
5.
Pengembangan
pembangunan di area menara siger seperti arena permainan, aula dan saran
informasi harus lebih ditingkatkan
Masukan pembaca sekalian untuk lebih lengkapnya penyusunan karya tulis
yang akan datang Poss-kan koment

Jangan Hanya Menikmati dan Copy Paste Ilmunya Saja, Silahkan Komentar dan Sertakan Link Ini




















0 Komentar