Oleh Lampung Post
Selama Ramadan 1431 Hijriah, Lampung Post menelusuri jejak masuknya agama Islam di Lampung. Penelusuran dimulai dengan menggelar diskusi terbatas bersama tokoh agama K.H. Arief Makhya dan K.H. Nurvaif Chaniago, dosen IAIN Raden Intan Dr. Fauzie Nurdin, Khairuddin Tahmid, M.A, dan dosen STAIN Metro Drs. M. Soleh. Lampung Post juga melakukan reportase ke berbagai peninggalan sejarah Islam yang tersebar di Lampung.
TARAWIH PERTAMA. Umat muslim menunaikan salat tarawih pertama di Masjid Al Furqon, Bandar Lampung, Selasa (10-8). Ini sebagai pertanda mulai menjalankan ibadah puasa. (LAMPUNG POST/IKHSAN))
BARANGKALI, tidak semua orang mengetahui agama Islam masuk Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama. Dari arah barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui Belalau (Lampung Barat), dari utara (Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar (1443), dan dari arah selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhanmaringgai di Keratuan Pugung (1525).
Dari ketiga pintu masuk agama Islam itu, yang paling berpengaruh melalui jalur selatan. Ini bisa dilihat dari situs-situs sejarah seperti makam Tubagus Haji Muhammad Saleh di Pagardewa, Tulangbawang Barat, makam Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, dan makam Tubagus Yahya di Lempasing, Kahuripan�diduga keduanya masih keturunan Sultan Hasanuddin dari Banten. Di Ketapang, Lampung Selatan, terdapat makam Habib Alwi bin Ali Al-Idrus.
Selain itu, menurut buku Sejarah Perkembangan Pemerintahan di Lampung Buku II, terbitan DHD Angkatan 45 Lampung tahun 1994, halaman 49-53, disebutkan pada sekitar abad 18, sebanyak 12 orang penggawa dari beberapa kebuaian di daerah ini mengunjungi Banten untuk belajar agama Islam. Mereka adalah penggawa dari Bumi Pemuka Bumi, penggawa dari Buai Subing, Buai Berugo, Buai Selagai, Buai Aji, Buai Teladas, Buai Bugis, Buai Mega Putih, Buai Muyi, Buai Cempaka, Buai Kametaro, dan Buai Bungo Mayang.
Di Belalau, Islam dibawa empat orang putra Pagaruyung (Minangkabau). Sebelumnya, di wilayah ini telah berdiri sebuah kerajaan legendaris bernama Sekala Brak, dengan penghuninya suku bangsa Tumi, penganut animisme.
Bangsa Tumi mengagungkan sebuah pohon bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang. Konon, pohon ini memiliki dua cabang, satunya nangka dan sisi yang lain adalah sebukau, sejenis kayu bergetah. Keistimewaan pohon ini, jika terkena getah kayu sebukau bisa menimbulkan koreng dan hanya dapat disembuhkan dengan getah nangka di sebelahnya. (ALHUDA MUHAJIRIN/U-3)
Agama Islam masuk ke Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga
pintu utama, salah satunya yaitu dari arah selatan atau Banten oleh Fatahillah
atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhanmaringgai di Keratuan Pugung pada 1525.
Selain
itu, Islam di Lampung Masuk lewat Budaya Setempat.Meskipun penyebaran agama Islam di Lampung dominan melalui selatan
(Banten), bukan berarti bisa menjamah seluruh daerah di Lampung.
Dari utara, misalnya, Islam mudah masuk dari Pagaruyung (Minangkabau). Dari
utara, Islam masuk dari Palembang melalui Komering.
Dari
utara, Islam dibawa empat putra Raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi.
Empat putra Maulana Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Bejalan Di Way, Umpu
Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong. Fase ini menjadi bagian terpenting
dari eksistensi masyarakat Lampung. Kedatangan keempat umpu ini merupakan
kemunduran dari Kerajaan Sekala Brak Kuno atau Buay Tumi yang merupakan
penganut Hindu Bairawa/animisme.
Momentum
ini sekaligus tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Brak atau Paksi Pak Sekala
Brak yang berasaskan Islam.
Umpu
berasal dari kata ampu tuan (bahasa Pagaruyung), sebutan bagi anak raja-raja
Pagaruyung Minangkabau. Di Sekala Brak, keempat umpu tersebut mendirikan suatu
perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti empat serangkai atau empat
sepakat.
Setelah
perserikatan ini cukup kuat, suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu
berkembanglah Islam di Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala
Brak saat itu wanita yang bernama Ratu Sekerumong yang pada akhirnya dapat
ditaklukkan Perserikatan Paksi Pak.
Sedangkan
penduduk yang belum memeluk Islam melarikan diri ke pesisir Krui dan terus
menyeberang ke Jawa dan sebagian lagi ke Palembang.
Agar
syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan, pohon belasa kepampang yang
disembah suku bangsa Tumi ditebang untuk kemudian dibuat pepadun. Pepadun
adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan
saibatin raja-raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunannya.
Ditebangnya
pohon belasa kepampang ini pertanda jatuhnya kekuasaan Tumi sekaligus hilangnya
animisme di Kerajaan Sekala Brak, Lampung Barat.
Islam
juga erat kaitannya dengan adat dan budaya Lampung. Sebagai cikal bakal
masyarakat suku Lampung, Paksi Pak Sekala Brak memasukkan nilai-nilai keislaman
dalam semua peristiwa dan upacara adat. Hampir tidak ada acara adat yang tidak
berbau Islam. Mulai dari kelahiran anak sampai perkawinan dan kematian selalu
bernuansa Islam.
Menurut
kitab Kuntara Raja Niti, orang Lampung memiliki sifat-sifat piil-pusanggiri
(malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri);
juluk-adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya);
nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima
tamu); nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak
individualistis); sakai-sambaian (gotong royong dan saling membantu dengan
anggota masyarakat lainnya). Semua sifat itu fondasinya adalah islam.
Sedangkan
pengaruh agama Islam dari arah (Palembang) masuk lewat Komering. Ketika itu,
Palembang diperintah Arya Damar. Diperkirakan, Islam masuk dari utara dibawa
Minak Kemala Bumi atau yang juga dikenal dengan nama Minak Patih Prajurit.
Makamnya berada di Pagardewa, Tulangbawang Barat, bersebelahan dengan makam
Tubagus Haji Muhammad Saleh dari Banten, yang juga tokoh penyebar agama Islam
di daerah ini.
Dari
selatan (Banten), Islam diperkirakan dibawa Fatahillah atau Sunan Gunung Jati
melalui Labuhanmaringgai sekarang, tepatnya di Keratuan Pugung. Di sini, konon,
Fatahillah menikah dengan Putri Sinar Alam, anak Ratu Pugung.
Dari
pernikahan ini melahirkan anak yang diberi nama Minak Kemala Ratu, yang
kemudian menjadi cikal bakal Keratuan Darah Putih dan menurunkan Radin Inten,
pahlawan Lampung yang juga tokoh penyebar Islam di pesisir. (ALHUDA
MUHAJIRIN/U-3)
selain
melalui jalur budaya, perdagangan juga ikut mewarnai masuknya Islam di Lampung.
Salah satunya rombongan dari Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho,
berniaga dari Palembang dan menyusuri Way Tulangbawang.
Awalnya Islam masuk ke Indonesia pada abad VII Masehi
Selat Malaka. Perdagangan saat itu menghubungkan Dinasti Tang di China,
Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat
Kerajaan
Sriwijaya mempunyai hubungan perdagangan yang sangat baik dengan saudagar dari
China, India, Arab, dan Madagaskar. Hal itu bisa dipastikan dari temuan mata
uang China, mulai dari periode Dinasti Tang (960-1279 M) sampai Dinasti Ming
(abad 14-17 M).
Berkaitan
dengan komoditas yang diperdagangkan, berita Arab dari Ibn al-Fakih (902 M),
Abu Zayd (916 M), dan Mas’udi (955 M) menyebutkan beberapa di antaranya
cengkih, pala, kapulaga, lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus,
gading, timah, emas, perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah, dan penyu.
Barang-barang ini dibeli oleh pedagang asing, atau dibarter dengan porselen,
katun, dan sutra
Menurut
sumber-sumber China menjelang akhir perempatan ketiga abad VII, seorang
pedagang Arab menjadi pemimpin permukiman Arab muslim di pesisir pantai
Sumatera.
Jalur
perdagangan ini kemudian disambung dengan tali perkawinan antara saudagar dan
masyarakat setempat, atau bahkan keluarga kerajaan. Dari hasil perkawinan
inilah yang membuat perubahan pada kerajaan-kerajaan di Sumatera.
“Salah
satu penyebab banyak hilangnya situs-situs milik kerajaan di Sumatera karena
dijual keluarga kerajaan kepada saudagar asing,”
Situs-situs
sebelum Islam masuk berupa patung-patung sesembahan yang kemudian disingkirkan
karena bertentangan dengan ajaran Islam. Berbeda dengan kerajaan di Pulau Jawa
yang terus mempertahankan benda-benda budayanya, sebab memang Islam masuk
sebagian besar melalui jalur budaya.
Barulah sekitar abad XIV perjalanan Laksamana Cheng Ho
memasuki Way Tulang Bawang dan berinteraksi dengan warga sekitar. Selain itu
juga ada pintu masuk lain, yakni Labuhan maringgai, terbukti ada beberapa
daerah yang dinamai Lawangkuri di Gedungwani dari Sultan Banten. (MUSTAAN/E-1)
Jangan Hanya Menikmati dan Copy Paste Ilmunya Saja, Silahkan Komentar dan Sertakan Link Ini

0 Komentar