“Gimana Ukhti! Siap?” Tanya ukhti Erni. “Insya Allah, ana siap!” Ucapku pasti.
“Tapi Ukh. Disana tempatnya sangat kumuh!” Erni terlihat khawatir.
“Insya Allah. Medan dakwah yang berliku-liku, sudah ana lewati. Tinggal anti memberikan medan dakwah yang lainnya! Ana sudah siap dengan medan jihad itu” Jawabku mantap.
“Baik Ukh! Ana serahkan kepada anti. Ana tahu, anti lebih berpengalaman dari kami. Makanya ana ingin anti ikut dengan kita. Ana juga ingin memastikan, apakah anti siap!”
“Insya Allah, ana akan selalu siap! Demi dakwah kita. Ana akan selalu siap!”
Erni telah memberikan amanah dakwah kepadaku. Aku tidak mungkin untuk melepaskan amanah itu. Meskipun amanah dakwahku juga sangat banyak. Aku harus tetap bisa memberikan yang terbaik, demi dakwah ini. Demi untuk meraih kemuliaan disisi sang Maha Mulia.
Beberapa amanah-amanah dakwahku. Membuat benar-benar bikin hidup lebih hidup. Meski memang bahu ini terasa berat. Tetapi amanah-amanah yang telah dipercayakan, tidak boleh dinafikkan. Selama amanah-amanah itu, tidak diamanahkan secara sembarangan.
Desa kumuh. Binaan para akhwat kampus, terlihat dengan jelas. Aura-aura kejahilan terasa begitu menyengat. Apalagi bau-bau yang tidak mengenakkan. Memang ironis sekali. Ternyata masih banyak saudara-saudara umat Islam yang sangat menderita. Menderita karena kemiskinan, dan tak pelak penderitaan akhidah pun mereka rasakannya juga. Dengan pasti, aku dangan akhwat-akhwat lain. Berjalan. Tak lama, Erni berhenti disuatu rumah.
“Kita, telah sampai!” Erni menunjukkan sebuah rumah. Rumah yang terlihat terawat lebih bagus ketimbang rumah yang lainnya. “Assalamualiakum”
Terlihat seorang wanita paruh baya datang menyambut. Terlihat sangat suka cita melihat kedatangan kami.
“Mari-mari silakan masuk! Maaf ya, rumahnya berantakan.” Ucap wanita itu. Sambil membersihkan beberapa debu-debu yang menempel dibeberapa kursi kayunya.
“Bu Inah, jangan repot-repot yah!” Ucap Erni. Terlihat mereka sudah kenal sebelumnya.
“Oh, nggak kok neng!” Ucap bu Inah, sambil mempersilahkan duduk.
“Bu. Erni disini mau memperkenalkan ustadzahnya!” Ucap Erni sambil tersenyum.
“Oh, iya!” Jawab bu Erni sambil duduk. “ini, Bu!” Erni menunjukku.
Aku tersenyum.
“Namanya Mbak Farah, Bu! Nanti Mbak Farah ini yang akan mengajarkan ngaji dikampung sini. Termasuk, juga nanti teman-teman kami akan ikut pengajian Mbak Farah disini!” Ucap Erni lanjut.
“Insya Allah!” Jawabku pelan. Sangat beda sekali dengan kondisi dirumahku. Kampung ini benar-benar menjadikan ladang pahala. Yang representative bisa aku dapatkan. Dan ini adalah tugas yang berat bagikut. Ya Allah kuatkan perjuangan hambamu! Ucapku dalam hati.
Bu Inah tersenyum melihatku. “hebat yah! Masih muda dan cantik, sudah jadi ustadzah.” Pujinya.
“Apalagi belum menikah! Kalau Ibu punya anak laki-laki, bisa dijodohkan sama
Mbak Farah. Kok Bu!” Veletuk Dita. Yang akhirnya membuat “GERR…” Semua. Aku hanya tersenyum. Akhwat ini, ngomong apaan sich! Batinku.
Dari balik kelambu, penutup ruang dalam. Muncul seorang pemuda, dia berjalan menuju kedepan dengan langkah yang menunduk-nunduk sopan. “Itu anak Ibu! Rendra namanya!” Yang akhirnya diikuti dengan anggukan para akhwat.
“Mbak Farah, rumahnya dimana?” Tanya Ibu Inah. Memecahkan suasana.
Aku bingung untuk menjawabnya. Jangan sampai aku bilang rumahku dikawasan cemara indah! Bisa-bisa Ibu Inah segan kepadaku. Bukan karena agamaku, tetapi karena kekayaan orang tuaku. Gumamku dalam hati. “Saya tinggal didekat sini aja kok Bu!” jawabku sekenanya.
Bu Inah hanya mengangguk. Beberapa akhwat mencoba mengerti dengan jawaban itu. “Kapan kita mulai!” Ucap Bu Inah
“Lebih baik, secepatnya Bu!” Ucapku
“Baik, kalau begitu minggu depan! Gimana?” Bu Inah terlihat bersemangat sekali. “Bisa, Bu! Tempatnya dimana?” Tanyaku.
“Gimana kalau disini saja! Dirumah ibu.” Bu Inah menawarkan diri.
“Iya, tidak apa-apa!” Jawabku. Yang akhirnya diikuti oleh teman-temanku.
Terlihat senja memerah. Panas mentari tak lagi segarang disiang hari. Aku dan teman-temanku langsung berpamitan.
Dalam perjalanan kami pun berbincang-bincang.
“Anti, dapat darimana desa itu?” Tanyaku kepada Erni penasaran.
“Sebenarnya sich, bukan ana. Tetapi Akhi Khalid yang duluan masuk kedesa itu! Saat itu, akhi Khalid melihat ladang dakwah desa itu besar!” Ucap Erni serius.
“Oh!” jawabku sekenanya. Ikhwan itu lagi! bisik hatiku. Entah kenapa setiap nama Ikhwan itu disebut. Hatiku berdesir. “Lalu, apakah Akhi Khalid ikut membina desa itu juga?” Tanyaku penasaran.
“Loh! Malahan, Akhi Khalid yang pertama kali membina desa itu. Yang pertama kali, membina anak-anak desa itu. Lalu, setelah itu membina para bapak-bapaknya. Kalau anti tahu, pasti anti akan kaget. Siapa bapak-bapak para anak-anak yang ada didesa itu!” Erni terlihat begitu serius sekali.
“Emang siapa Ukh?” Aku benar-benar penasaran.
“Bapak-bapak didesa itu, kebanyakan adalah para preman-preman!”
“HAH! Preman” ucapku kaget. Masya Allah, para preman saja bisa dibina oleh Akhi Khalid! Sungguh dakwah tidak hanya berada dimasjid. Tetapi berada dimana-mana! Gumamku dalam hati. Semakin menjadikan kekagumanku dengan Al Akh yang satu itu.
“Itulah, Ukh! Akhirnya Akhi Khalid mencoba membentuk pengajian untuk para ibu- ibu. Dan diserahkan kepada akhwat-akhwat LDK. Anti kan tahu, akhwat-akhwat LDK masih belum seberapa pengalaman. Akhirnya, kami memilih anti. Karena kami melihat anti lebih berpengalaman dalam pembinaan ibu-ibu!”
“Ah. Nggak juga! Ana sama saja dengan anti” Ucapku merendah. Masya Allah, benar-benar berat amanahku.
Erni tersenyum. “Siapa sih, yang nggak kenal ukhti Farah! Apalagi, mantan sekretaris
LDK. Dan termasuk tangan kanannya akhi Khalid!” Goda Erni.
JANGAN…jangan sebut nama itu terus. Jantungku sudah tidak kuat menerima nama jundi itu. Teriakku dalam hati. “Anti itu, ngomong apaan sich!” Ucapku mencoba mengalihkan perhatian.
Melewati persimpangan Jl. Raden Shaid. Teman-temanku mulai berpamitan. Aku pun harus naik angkot menuju rumahku. Meskipun nanti aku harus menjadi pepesan akhwat lagi. Atau bahkan berjalan dari perumahanku, karena angkot tidak boleh memasuki permukiman elit itu. Biarlah, biar aku terbiasa untuk menjadi orang susah. Biar nuraniku tertempa dalam setiap hal-hal baru yang aku dapatkan. Meskipun pahit getir itu juga, harus aku alami dan merasakannya.
***
Tilawah sudah aku kerjakan. Entah kenapa rasa-rasanya pengen sekali melihat acara-acara tv. Sudah sangat lama, aku tidak menontonnya. Dengan malas, aku ambil remote untuk menyalakan tv. Hem tidak pernah berubah, sudah lama aku tidak melihatmu. Tapi kamu masih tetap saja sama!.
Tak seberapa lama. Aku menekan salah satu program tv yang bernuansa Islami. “HIDAYAH” hem bagus juga nih! Sesaat aku menonton sinetron itu. Dari alur ceritanya bagus juga, tetapi sayang dari artisnya masih senang mempertontonkan aurat-auratnya. Bagaimana kalau, masyarakat meniru gaya berpakaian seperti mereka! Pikirku dalam hati. Ternyata sama sekali tidak Islami. Dari judulnya saja seperti film yang Islami. Ternyata dalamnya, sama saja dengan program tv yang lainnya. Apalagi, mempersepsikan seorang laki-laki yang berpoligami. Bertindak semena-mena terhadap istri-istrinya. Ini sama saja menghasut seseorang untuk melanggar syariat Islam. Apalagi, ini termasuk menyatakan bahwa poligami akan terus membuat dampak yang tidak baik. Aku sangat tidak setuju.
Ini pemutar balikan ajaran namanya. Memang, sering terjadi poligami dianggap sebuah malapetaka bagi sebuah keluarga. Tetapi, seharusnya bukan poligaminya yang dipersepsikan seperti itu. Seperti malapetaka yang sangat besar. Seharusnya, laki-laki yang melakukan poligami itulah. Yang menjadi sumber masalah. Karena akhidah dan akhlaknya masih belum mengetahui ajaran rasulullah secara benar. Jadi itulah yang harusnya jadi masalah awal. Bukan ajaran poligaminya. Jadi sama saja, jika ada yang mengatakan bahwa tidak akan pernah bisa adil seorang laki-laki yang berpoligami. Malah seharusnya, ungkapan itu dibalik. Menjadi, tidak akan pernah bisa adil laki-laki yang tidak berpoligami. Karena, nyata-nyata bahwa poligami itulah yang menjadikan ujian suami menjadi adil apa tidak. Dan adil itu sendirilah, nantinya yang mengantarkan seorang laki-laki menuju jahannam atau jannah Illahi.
Bosan juga melihat tayangan-tayangan menyedihkan itu. Maksudnya, menyedihkan karena tidak berlandaskan Al Qur’an. “KLIK.” Aku matikan saja tvnya. Lebih baik aku terlelap dalam tidur. Memimpikan berjuang bersama mujahidah- mujahidah Allah. Bermimpi tentang indahnya bertemu dengan istri-istri manusia termulia didunia. Bermimpi tentang segala perjuangan. Bermimpi tentang indahnya kemenangan. Dan saat aku bangun. Semua mimpi-mimpiku terwujud. Tapi memang tidak semudah itu. Ya Allah untuk-Mu lah aku tertidur. Dan untuk-Mu lah aku terbangun. Dan bangunkanlah aku pada sepertiga malam-Mu.
***
Pagi yang indah. Aku berjumpa lagi denganmu. Aku tetap setia menantimu. Pagi. Embun pagi tetap setia menyirami bunga-bunga. Amanah-amanah dakwah sudah menantiku. Siang ini aku harus berkumpul dan bertemu dengan teman-teman. Kali ini bukan di LDK. Tetapi ditempat pengajian yang setiap minggu harus aku hadiri. Wajib. Untuk dapat selalu mengingatkan dan menguatkan azzamku. Agar dapat selalu istiqomah dalam berdakwah.
Seperti biasanya. Aku harus berjalan menuju pangkalan angkot. Sudah kebiasaanku. Dan sudah kebiasaan akhwat-akhwat yang lain. Biarlah, sesulit apapun jalan dakwah. Aku akan tetap setia dalam mengembannya. Meskipun jalan didepan, sangat terjal dan sulit untuk aku lalui.
Pengap, panas, bau keringat dan bau parfum yang menyengat. Bersatu padu dalam udara yang ada diangkot. Terlihat seorang ibu, berusaha menenangkan bayinya. Karena menangis, kepanasan. Seorang siswa SMA berada disamping pintu masuk angkot. Berusaha untuk mendapatkan angin segar. Beberapa orang pun terlihat berkipas-kipas ria. Termasuk yang berada disampingku. Rok yang diatas lutut, baju atasnya terlihat trendy. Sepertinya wanita karier yang berada di kantoran. Ternyata sebuah baju yang dipilih oleh wanita sendiri, belum tentu nyaman dipakai oleh wanita! Makanya, jangan asal pilih baju. Pilih yang telah dipilihkan-Nya. Pikirku dalam hati.
Bagaimana bisa nyaman. Wanita yang berada disampingku, sedaritadi. Berkipas-kipas, sangat terlihat kepanasan. Padahal bajunya, sangat kontras dengan pakaian yang aku kenakan. Sesekali wanita itu melihatku. Tatapan matanya datar, terlihat sinis. Aku hanya tersenyum, saat wanita itu melihatku. Namun sayang, wajahnya terlihat tidak bersahabat. Ingin sekali aku menyapanya. Tetapi, aku takut jika dia tidak menanggapiku. Beberapa kali, dia selalu melihatku. Dan selalu, tatapan datar dan tarlihat sinis yang ditujukan. Aku harus menyapa dia, toh nggak ada salahnya! Kalau dia tidak menanggapi. Aku juga nggak rugi apapun. Dan nggak perlu merasa malu dengan wanita yang tidak punya malu. Pikirku.
“Mau turun dimana, Mbak!” Tanyaku, berusaha ramah. “Jl. Sriwijaya.” Jawabnya datar tanpa menatapku.
“Oh!” Aku masih berusaha tersenyum ramah. Itu kan daerah perkantoran!
Aku tidak lagi bermaksud tanya lagi. Jika aku terus bertanya, nanti dikira aku menginterogasinya. Apalagi, biar wanita itu yang balik bertanya. Nggak etis, seseorang banyak bertanya dengan lawan bicaranya, yang tidak dikenal.
Tak seberapa lama, wanita itu pun bertanya. “Kalau Mbak, turun dimana?”
Nah kan, umpannya dikembalikan. “Saya, turun, didaerah Jl. Diponegoro” Ucapku dengan senyum.
“Mbak, bekerja disana?” tanya wanita itu kembali. Sekarang lebih terlihat
memanusiakan manusia.
“Oh, nggak kok Mbak! Saya disana mau kerumah saudara” “Oh!” Ucapnya datar.
“Mbak, bekerja?” Tanyaku membuka percakapan kembali. “Iya!” Wanita itu menjawab dengan lebih ramah.
“Kalau boleh tahu, Mbak bekerja dibidang apa?”
“Saya, bekerja disalah satu perusahaan asing!” jawabnya, terlihat bangga. “Wah, pasti gajinya besar ya Mbak!” Ucapku memuji dia.
Wanita itu tertawa. Terlihat bangga sekali. “Sudah berapa lama, bekerja disana Mbak?” “Sudah, hampir empat tahun!”
“Sudah lama juga, ya Mbak!” “Ya, begitulah!”
“Oh iya, nama saya Farah!” Kataku sambil mengulurkan tangan. Mengajak bersalaman.
“Oh iya! Nama saya Vita” Jawabnya ramah.
Hem, ternyata ramah juga kok wanita ini. Pikirku.
Angkot terus melaju. Sesekali terhenti, karena kemacetan. Aku dan Vita, masih asyik mengobrol. Banyak hal yang dapat aku ketahui darinya. Ternyata dia seorang PR (Publik Relation). Seorang wanita muda yang sudah bersuami. Kariernya yang terus menanjak, dari tahun ketahun. Sungguh sangat dibanggakannya. Kasihan wanita ini, dunianya terbelenggu dengan kefanaan dunia.
“Eh, Fara! Aku mau tanya, boleh?” Vita sudah tidak segan-segan lagi untuk memanggil namaku.
“Silakan!”
“Baru kali ini loh, aku mengobrol dengan seorang wanita yang berjilbab besar. Seperti kamu! Aku sering, bertemu dengan seorang wanita yang berjilbab seperti kamu. Tapi sayang, wanita-wanita yang berjilbab seperti kamu memandangku dengan tatapan yang terlihat jijik sekali. Aku juga muslimah loh! Apakah karena aku nggak berjilbab, makanya mereka melihatku seperti itu?” Serunya.
Oh jadi itu! Yang membuat pandangan datarnya tadi tertuju kepadaku. Bagaimana aku menjelaskan tentang ini. Gumamku dalam hati. Bingung. “Mungkin itu perasaan Mbak Vita saja, deh! Karena Mbak Vita nggak berjilbab, lalu ada orang yang berjilbab memandang Mbak Vita. Sehingga Mbak Vita melihat diri Mbak merasa dihina oleh wanita yang berjilbab! Hem, kalau misalkan Mbak Vita bertemu dengan wanita berjilbab besar. Dan wanita itu memandang dengan tidak enak!” aku diam sejenak. “Atas nama wanita yang berjilbab, saya meminta maaf!” Ucapku serius.
Memang banyak sekali akhwat-akhwat yang kelewat batas. Memandang seorang wanita yang tidak berjilbab, dengan tatapan yang merendahkan. Sepertinya, akhwat itulah yang paling tinggi derajatnya. Padahal, seorang wanita yang tidak berjilbab. Adalah sebuah objek dakwah yang sudah pasti.
“Aku tadi, memandang Fara. Sama seperti mereka! Tetapi saat Fara yang menyapaku dengan ramah. Aku seperti, seorang wanita yang benar-benar dihargai. Meskipun aku tidak berjilbab”
“Ah, Mbak Vita terlalu berlebih-lebihan! Semua wanita yang berjilbab, juga sama semuanya kok. Hanya saja, mungkin karena Mbak Vita sudah menjaga jarak dengan mereka. Sehingga mereka pun menjaga jarak dengan Mbak Vita! Kalau aku sich, nggak mau menjaga jarak. Mau, menjaga perasaan aja deh!” Ucapku sambil tertawa kecil.
“Iya, mungkin juga sih! Dalam ilmu komunikasi, aku juga pernah diajarkan seperti itu. Seorang yang menjaga jarak dengan orang lain, maka otomatis. Orang lain pun akan menjaga jarak dengan kita. Maka, diharuskan dalam ilmu komunikasi itu. Seseorang tidak boleh menjaga jarak dengan orang lain. Tetapi malah lebih diutamakan, bagaimana menjaga pembicaraan agar tetap berkesinambungan dengan lawan bicara. Dan lawan bicara tidak tersinggung dengan ucapan kita.” Vita terlihat yakin dengan ucapannya.
“Nah, itu kan Mbak Vita sudah lebih paham!”
“Ah, nggak juga! Kamu aja yang mengingatkanku, tentang ilmu itu. Berarti kamu yang lebih paham dari aku!” Ucapnya merendah.
“Ah, Mbak Vita suka merendah!” Ucapku. Yang akhirnya membuat kami berdua tersenyum.
“Eh, tukeran no Hp yuk!” Usul Vita. “Ok! No Mbak berapa?”
“081234238483! Kalau kamu berapa Far!” “081323137485!”
“Wah, kamu enak diajak ngobrol Far! Kapan-kapan kita ngobrol lagi yah!” Vita sambil memasukkan lagi Hpnya kedalam tasnya.
“Mbak Vita juga! Iya, aku tunggu ngobrolnya kapan-kapan.”
“Eh, aku mau turun nich! Sudah dekat. Ok yah.” Vita terlihat menekan bel. “Iya hati-hati Mbak!”
Angkot sudah berhenti. Saat, Vita akan turun. “Assalamualaikum!” Salamku kepada
Vita.
Vita terlihat gelagapan melihatku. “Wa…laikumsalam!” Vita tersenyum. Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
Ironis memang. Banyak umat Islam yang lupa atau bahkan enggan mengucapkan sebuah salam keselamatan kepada saudara muslim lainnya. Contohnya Vita. Masih banyak Vita-Vita yang lain dinegeri ini. Mereka mengaku Islam, tetapi tata cara kehidupan mereka. Tidak mencerminkan keIslamannya. Mereka lebih mudah memakai hal-hal yang berbau tidak Islami. Dan mereka merasa bahwa hal-hal yang Islami itu, adalah aneh baginya. Entahlah siapa yang dapat disalahkan. Mereka hidup seperti itu karena ketidak tahuan mereka, atau ketidak mautahuan mereka. Atau mungkin juru dakwahnya yang kurang aktif dalam mendakwahkan hal-hal yang Islami. Atah bahkan juru dakwahnya sendiri, tidak Islami. Mungkin juga juru dakwah nya malu untuk mengatakan hal-hal yang Islami. Kemungkinan juga, hal-hal yang berbau Islami itu, hanya diibaratkan dengan sholat, puasa, zakat, naik haji. Itu saja? Entahlah. Hanya Allah, yang dapat mengetahui itu semua. Dan hanya Allah, yang dapat menyalahkannya. Bukan manusia. Manusia hanya mahluk yang diutus Allah untuk saling mengingatkan tentang hukum-hukum Allah. Jika hukum Allah dilanggar oleh manusia. Maka, bukan kesalahan yang ditujukan kepada manusia yang bersalah. Tetapi manusia, hanya bisa mengingatkan kepada manusia yang bersalah. Dengan cara, menjalankan hukum-hukum Allah tentunya.
Angkot sudah melaju kembali, berjalan bagaikan kura-kura laut. Anggap saja ini safari murah! Gumamku dalam hati. Karena angkot berjalan sangat pelan sekali. Matahari, masih bersinar terik. Memamerkan panasnya kepada manusia. Seakan-akan, mengisyaratkan bahwa dineraka akan jauh lebih panas dari pada teriknya sekarang.
“CIIITT….” Angkot berhenti mendadak. Seketika itupun, aku dan penumpang lainnya hampir terjungkal. Astaghfirllah ucapku lirih dalam hati.
“BRENGSEK…. Bisa bawa mobil apa nggak!” Teriak seorang anak yang berseragam sekolah SMA, sepertinya menantang sopir angkot. Suzuki Baleno merahnya, bagaikan sebuah keperkasaan jiwanya.
Sopir angkot hanya duduk diam. Seperti tersirat ketakutan yang teramat dalam. Wajahnya mengisyaratkan penyesalan. Sopir angkot mengangguk-anggukkan kepala dan tangannya, seraya mengisyaratkan perminta maaf.
Anak sekolahan itu maju, dan menggedor pintu samping supir angkot. “BANGSAT…! Mau lo.” Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
“Maaf…. Saya minta maaf!” Ucap supir angkot.
“AWAS, lo!” Anak sekolahan itu kembali kemobilnya. Gayanya, bagaikan seorang jagoan yang telah memenangkan sebuah pertempuran. Berdecit keras mobil Suzuki Baleno itu. Seketika itu, dengan cepat berjalan melesat kembali.
“HUH! Dasar anak orang kaya. Kalau bukan anak orang kaya, sudah gue jadiin
berkedel.” Gerutu sopir Angkot.
Masya Allah ucapku saat melihat semua itu terjadi. Memang, seharusnya sopir angkot meminta maaf kepada anak SMA itu. Karena telah memotong jalan seenaknya sendiri. Memang, sering kali sopir angkot seenaknya sendiri kalau mengemudi. Aku, dulu juga hampir menabrak angkot yang supirnya memberhentikan mobil seenaknya.
Tetapi, tidak juga dibenarkan seorang anak yang tidak hormat kepada orang yang lebih tua. Sikap anak SMA tadi sangat keterlaluan juga. Dengan sok jagoan, dan kata-kata makian yang membuat panas telinga. Itu sudah menunjukkan, pendidikan orang tuanya tidak merasuk dalam diri anak itu. Atau bahkan orang tuanya tidak pernah mendidik anak itu dengan ajaran akhlak yang baik. Hem, entahlah.
JL. Diponegoro, Angkot tepat berhenti disisi jalan. Aku pun melangkah turun. Dan berjalan menuju rumah ustadzah Heni. Sudah kebiasaan juga. Meskipun agak jauh, tetapi disetiap jalan aku merasakan sebuah kenikmatan tersendiri. Dzikir-dzikir dalam perjalanan pun, selalu terucap. Atau bahkan muraja’ah-muraja’ah pun selalu dapat aku lakukan. Karena aku yakin, disetiap jalanku Allah memberikan pahala dan keberkahan-Nya. Tetapi jika aku memakai mobil sendiri. Pasti aku tidak dapat melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan. Karena jika aku mengendarai mobil sendiri. Sudah dipastikan aku harus selalu berkonsentrasi dalam mengemudi. Atau, aku akan dengan cepat sampi ditempat tujuan. Dan itu membuat, dzikir-dzikirku, muraja’ahku. Tidak benar-benar maksimal.
Langkahku terus disertai dengan teriknya matahari. Sinarnya memancarkan kedahsyatan Penguasa alam. Menyiratkan sebuah hakekat tentang kehidupan yang akan datang. Kehidupan yang akan dilalui oleh setiap manusia. Kehidupan yang kekal dalam kehidupan kedua manusia. Kehidupan yang akan menentukan, tempat kehidupan selanjutnya. Tempat yang akan memisahkan, antara kenikmatan dan kesengsaraan. Tempat yang memisahkan, antara perbuatan kebaikan dan perbuatan keburukan. Tempat yang akan menjadikan manusia menjadi sadar. Sadar akan perbuatan kebaikan dan perbuatan keburukan. Bagi manusia yang telah melakukan perbuatan baik, melakukan perintah yang diturunkan oleh-Nya. Maka tempat kembalinya, adalah sebaik-baik tempat kembali. Jannah. Tetapi bagi manusia yang melakukan perbuatan keburukan. Maka manusia itu akan mendapatkan tempat, seburuk-buruknya tempat kembali. Neraka jahanam. Dan bagi manusia yang telah tersadar akan keburukan perbuatannya. Telah terlambat.
Siang ini memang begitu terik. Peluh pun bercucuran, saat-saat kaki ini terus berjalan. Melangkah dalam setiap aral yang melintangi jalan-jalan aspal. Tak jarang aku melihat fatamorgana bermunculan. Karena panas terik matahari, yang membakar aspal. Sungguh, panas seperti itu tidak ada apa-apanya dari pada panasnya neraka. Kakiku terus melangkah, hingga akhirnya aku pun tiba disebuah rumah. Rumah yang asri nan rindang. Membuat sebuah pandangan yang menyenangkan. Tersirat, bahwa si pemilik rumah adalah seorang yang mencintai keindahan. Mencintai kesejukan, dan yang paling indah. Adalah, mencintai sang Maha Keindahan.
Beberapa motor sudah terparkir dipekarangan rumah yang rindang itu. Pohon mangga dan pohon jambu air yang rindang. Membuat suasana semakin benar-benar sejuk. Tak jarang aku dan teman-teman lebih sering duduk dibawah pohon-pohon itu.
Nikmat sekali. Serasa kenikmatan surga turun kedunia. Tetapi aku yakin, kenikmatan itu tidak ada secuil bahkan. Daripada kenikmatan surga.
Aku buka pagar rumah. Dan melangkahkan kaki masuk kedalam rumah. “Assalamualaikum” Salamku pada seisi rumah.
“Walaikumsalam” Serentak jawaban dari seisi rumah
“Masuk, Ukh!” Ucap Reni.
Aku segera masuk kedalam rumah. Tak lupa, berjabat tangan dengan pelukan persaudaraan.
“Ana, telat yah?” Tanyaku
“Nggak kok, Ukh! Kita aja yang nyampainya duluan.” Jawab Resti. “O..h!”
“Ustadzah Heni masih belum pulang dari ngajarnya! Jadi dari pada diam kita ngobrol- ngobrol aja.” Ucap Wira.
Hem, kok ngobrol sih. Daripada ngobrol kan mending tilawah, muraja’ah atau dzikir. Hem, akhwat! Semoga aja nggak ghibah! Aku tersentak dari lamunku. Saat Resti memegang tanganku, sambil mengatakan.
“Ukhti, anti sampai kapan kuat berjalan!” “Maksud anti?” Aku sedikit bingung.
“Iya. Maksudnya, anti sampai kapan kuat berjalan dari jalan besar keperumahan ini! Belum lagi, panasnya minta ampun.” Ucap Wira.
Wah kok pada ngomongin aku nich! Jangan-jangan, dari tadi cuma ngobrolin aku! Wah, aku kok jadi su’udhon sich. Semoga saja, nggak ngobrolin aku! Gumamku dalam hati. “Oh itu, Insya Allah sampai kapan pun ana kuat berjalan kemana pun! Kalau hanya dari sini sampai jalan besar, itu kan biasa. Yah, sambil berjalan kaki. Dzikir tidak pernah berhenti!” Ucapku sambil tersenyum.
“Ih, anti aneh! Kenapa mesti jalan kaki? Kan, kita bisa naik motor atau mobil sambil berdzikir! Apalagi, apa anti nggak takut hitam! And nanti, para ikhwan pada nggak mau loh ta’aruf dengan anti!” Ucap Wira, sambil tersenyum dan mengerdipkan sebelah matanya.
“Iya. Apalagi, anti kan sudah punya mobil! Mending itu aja dipakai, dari pada menyulitkan diri sendiri! Bukan berarti, dakwah itu harus selalu sulit loh Ukh! Kalau ada kemudahan, pakai saja kemudahan itu.” Sahut Resti.
“Hem,” aku tersenyum. “Yah memang, bisa saja kita berdzikir saat kita mengendarai motor atau mobil. Tapi kalau ana sendiri, ana tidak bisa seperti itu. Ana jadi nggak
konsen untuk berdzikir saat mengendarai kendaraan. Takut nabrak! Dan untuk masalah dakwah pun, ana merasa enakkan berjalan kaki. Yah itung-itung, bisa merasakan menjadi kaum dhuafa yang tidak punya apa-apa! Dan cara seperti itu yang menurut ana dapat membangkitkan rasa zuhud dalam diri ana sendiri! Menurut ana, bahwa kemudahan dalam berdakwah itu adalah dalam cara atau strategi dalam melakukan ekspansi dakwah. Bukan dalam seorang yang ingin membuat motivasi bagi dirinya untuk dapat selalu merasakan kehidupan kaum-kaum dhuafa. Dalam artian, memberikan sebuah kepekaan dalam diri untuk selalu menyayangi saudara- saudara kita yang tidak beruntung. Dan menurut ana, itu lebih baik! Daripada ana harus mengambil kemudahan-kemudahan itu, hanya untuk kepuasan diri ana sendiri. Atau dalam kata lain, ana memanfaatkan kemudahan hanya karena ingin kulit ana bisa tetap putih dan mulus selamanya. Nggak! Ana nggak mau itu! Tidak ada mahluk mana pun yang bisa menjamin itu! Selain sang Maha penjamin kehidupan. Toh, jika takdir menyatakan kulit putih dan mulus ana hilang. Maka secara otomatis, meskipun ana menjaga agar kulit putih dan mulus ana tidak hilang. Pasti dengan cara apapun, kulit putih dan mulus ini akan hilang!” Aku sedikit menghela nafas, lalu melanjutkan perkataanku “pada dasarnya, jika ada seorang ikhwan yang tidak mau berta’aruf dengan ana! Ya, kenapa ana harus menunggu ta’aruf ikhwan. Mending ana, yang berta’aruf duluan ke ikhwan!” Ucapku sambil senyum.
Terlihat wajah-wajah yang sangat heran pada Al Ukh, yang berada disekitarku. Meraka merasa tidak percaya, aku mengatakan seperti itu.
“Masya Allah, Ukh! Apa anti nggak malu berta’aruf duluan dengan ikhwan?” Ucap
Wira.
“Ukhti, dimana rasa malu anti! Pernyataan anti seperti itu, membuat kami malu. Akhwat, harus punya harga diri yang lebih ketimbang ikhwan. Biarlah ikhwan yang mendahului kita, dalam masalah yang satu ini!” Ucap Resti
“Ukhti. Apakah anti ingat Ibunda Khadijah?” Ucapku.
Dengan cepat Wira menyela pembicaraanku. “Selalu Ibunda Khadijah yang dijadikan alasan, oleh para akhwat untuk hal-hal yang seperti itu! Ukhti harus ingat, bahwa Ibunda Khadijah adalah wanita yang mulia, dan beliau pun meminang orang yang paling mulia didunia! Nah kita? Siapa kita? Apakah kita semulia ibunda Khadijah? Atau adakah Ikhwan semulia Rasulullah? Kalau ada ikhwan seperti Rasulullah, ana pun akan bersedia untuk melakukan cara yang dipakai ibunda Khadijah!”
Aku tersenyum. “Al Ukh! Apakah kita tidak pernah merasa dimuliakan oleh Allah? Apakah cara yang dibolehkan menurut Allah, tidak kita lakukan. Hanya karena harga diri kita! Lalu apa bedanya kita dengan orang-orang ammah pada umumnya? Yang merasakan bahwa harga diri atau pun adat istiadat rasa malu itu lebih besar ketimbang hal-hal yang dibolehkan didalam syariat! Jika seperti itu, maka dengan sendirinya kita pun telah menafikkan hal-hal yang bersifat benar dan dibolehkan! Lalu apa bedanya kita dengan wanita-wanita ammah? Apakah kita merasa bahwa harga diri kita lebih tinggi dari pada ikhwan! Apakah itu benar? Atau hanya, kita yang memasang tarif itu? Apakah kita tidak akan kecewa, jika ada seorang ikhwan. Yang bagus dalam akhidah, cakap dalam kegiatan dakwahnya. Dan kita tertarik dengan dia. Apakah kita hanya
diam, mengharap ikhwan itu datang dengan sendiri tanpa ikhtiar kita. Tentunya, ikhtiar yang dibolehkan menurut syariat!”
“Ya udah kita nanti menanyakan hal ini ke Ustadzah Heni! Gimana?” Ucap Reni. Yang dari tadi hanya diam. Sepertinya menyimpan sesuatu hal, didalam maksud pembicaraan masalah ini!
Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================
0 Komentar