Jilid 13
“Tluutt....Tluut” Dering Hpku. Abi
“Assalamualaikum, Bi!” Ucapku, setelah menekan tombol Call.
“Walaikumsalam! Anti sekarang ada dimana?” Tanya Abiku langsung. Terdengar seperti nada kegelisahan.
“Zah sekarang ada di Villa, Bi!”
“Besok, anti pulang yah! Ada pertemuan keluarga. Ini tentang pernikahan anti!” “Hem. Baik Bi! Insya Allah, Zah pagi-pagi akan langsung pulang Bi!”
“Zah, disana sama siapa?” Tanya Abi penasaran.
“Sama Dewi, dan Nova! Zah, tadi siang hampir dibunuh oleh para penjahat itu Bi!” Ucapku. Dengan nada agak takut.
“Iya. Abi sudah tahu! Insya Allah, akan selalu ada pertolongan dari para jundi-jundi Allah. Anti tidak boleh takut! Ingat, Allah lah yang akan memberikan pertolongan kepada anti. Maka tetap berserah kepada Allah! Beranikan diri untuk menghadapi peperangan dengan para musuh-musuh kebenaran.” Ucap Abi tegas.
“Abi, tahu dari mana?” Tanyaku penasaran.
“Zah, tidak perlu tahu. Siapa yang telah memberi tahu Abi! Pokoknya, Zah harus tetap tsabat dalam perjuangan.”
“Iya Bi. Insya Allah, Zah akan tetap teguh dalam perjuangan melawan para musuh- musuh kebenaran!” Ucapku.
“Ya sudah, anti sekarang istirahat. Besok anti pulang!” Ucap Abi. “Iya, Bi. Insya Allah, ana besok pulang!”
“Ya. Hati-hati ya Zah! Assalamualaikum” Ucap Abi.
“Iya, Bi. Walaikumsalam.”
Nova, terlihat membuka pintu kamarnya. Dan langsung datang kearahku. Wajah kusutnya sudah mulai ceria. Semoga dia sudah melupakan kejadian tadi siang! Gumamku dalam hati. Dewi pun, terlihat membuka kamarnya. Dan langsung berjalan menuju kearahku. Mereka berdua langsung duduk, disampingku. Yang saat itu, aku sedang melihat siaran tv.
“Bagaimana, keadaan kamu Nov?” Tanyaku.
“Untunglah, sekarang agak mendingan! Udah nggak setakut waktu siang tadi.” Ujarnya.
“Kalau, anti gimana Ukh?” Tanyaku kepada Dewi. “Alhamdulillah, ana juga baik-baik aja Mbak!” Jawabnya.
“Kita baru, mengalami kejadian yang mungkin baru pertama kali dalam masa hidup kita. Kejadian yang harus berkejar-kejeran dengan mobil yang saling menggunakan kecepatan tinggi. Kayak difilm-film. Tapi, hidup kita bukan sebuah film yang akan mengetahui menang dan kalahnya sebuah kebenaran. Kita masih hidup dalam kenyataan hidup kita.”
Sejenak suasana menjadi hening.
“Ehm. Gitu aje dipikirin! Pikirin noh, kite-kite ini mau mati masuk surge ape nerake? Nah, lu bedua tinggal pilih. Pan, sude ade pilihannye!” Candaku. Dengan dialek bawa betawi.
Keceriaan kembali memuncar dalam diri kami masing-masing.
“Eh. Nov, kamu belum menceritakan tentang masalah kamu!” Ucapku. Meminta penjelasan.
“Hem. Iyah! Entahlah, sebenarnya ini masalah pribadiku sih. Tetapi, kalau kamu mengetahui. Aku akan menepati janjiku untuk menceritakannya.”
Nova menceritakan tentang permasalahan-permasalahannya. Decap kagumku, pun tertuju pada Nova. Ternyata, Nova sudah mempelajari Islam sejak lama. Hanya saja dia masih belum yakin dengan persoalan-persoalan dalam Islam yang beberapa membuat dia bingung. Hingga akhirnya dia melihat artikelku, yang ternyata sama dengan pertanyaannya selama ini. Sebuah jawaban yang tanpa harus ditanyakan. Setelah itu dia yakin dengan kebenaran Islam. Dan Nova pun, mengucapkan dua kalimat syahadat dengan disaksikan langsung oleh Allah SWT. Yang akhirnya, dia belajar sholat tanpa harus ada yang membimbing. Dia belajar mengaji, tanpa guru yang mengajarinya. Nova masih takut untuk memberitahukan identitas keislamannya. Karena dia termasuk anak dari pembesar seorang pendeta didaerahnya. Hingga akhirnya, Nova terpergok saat sedang melakukan sholat maghrib. Oleh keluarganya. Dan, langsung dia dikurung dalam kamarnya. Hukuman-hukuman pun sering diberikan kepadanya. Bahkan Nova, pernah dipukuli habis-habisan oleh Papanya.
Tetapi, dengan kekuatan keimanannya. Nova tetap, melakukan sholat meskipun didalam hati. Karena setiap waktu dia selalu dijaga oleh seorang bodyguard wanita, yang diberikan wewenang untuk menghajar Nova. Jika Nova diketahui melakukan sholat. Hingga Nova pun tidak bisa leluasa dalam melakukan sholatnya. Bahkan tidak bisa melakukan gerakan sholat. Sampai akhirnya, Nova memutuskan untuk lari dari rumah. Berbekal pertolongan dari Hendra. Seorang teman aktivis UK3nya. Meskipun Hendra tahu, kalau Nova sudah keluar dari agamanya. Tetapi, Hendra tetap mau memberikan bantuannya. Karena, bagi Hendra. Agama bukanlah sebuah keyakinan yang harus dipaksakan. Tetapi agama, adalah unsur yang membimbing manusia dari kehidupannya.
Hingga akhirnya, Nova pun bisa kabur dari tempat terlaknat itu. Setelah itu, dia memberanikan diri untuk menelephonku. Meminta bantuan seorang muslim yang lainnya. Meskipun saat itu dia ragu, apakah aku mau menolongnya apa tidak. Tetapi, saat aku bersedia menolongnya. Keyakinan dia pun semakin bertambah. Bahwa, seorang muslim memang mempunyai keterikatan yang erat dengan saudara muslim yang lainnya. Meskipun saat itu, dia belum mengatakan keimanannya kepada siapapun tentang kekuatan kepercayaannya terhadap Islam. Dia meyakini pertolongan Allah yang pasti akan datangnya. Sampai akhirnya, saat aku akan menjemput Dewi. Dia menanyakan hal yang menurut Nova, adalah rasa persaudaraan yang sangat tinggi. Yang belum pernah dia temukan dan dapatkan dari agamnya yang terdahulu.
Nova juga pernah menceritakan tentang cara-cara dia dahulu. Untuk memurtadkan orang Islam. Bahkan, Nova pernah menyamar sebagai seorang akhwat. Yang sedang membantu pengajian semu, didesa binaanku. Disebut pengajian semu, karena kyai yang diundang juga bukan kyai Islam. Tetapi, seorang pendeta yang mempelajari Islam. Dan akhirnya, menyamar sebagai seorang kyai. Dia pun menyamar sebagai seorang akhwat. Yang pada saat itu, hampir terpergoki oleh dua ikhwan aktivis LDK. Hingga akhirnya, dia merasa malu. Malu dengan cara-cara kotor yang dilakukannya. Hingga akhirnya, dia terketuk untuk mempelajari Islam lebih dalam. Dan memahami makna dan isinya. Untuk mengetahui sebuah pertanyaan yang dahulu pernah tertancap didalam hatinya. “Kenapa, kita sangat memusuhi umat Islam. Hingga akhirnya kita pun seperti ingin menghanguskan ajaran mereka! Ada apa sebenarnya dengan ajaran mereka?”
Dan akhirnya pun. Nova banyak sekali membeli buku-buku Islam. Dia mempelajari sendiri, dan mencari kesalahan dalam kebenaran-kebenaran agama Islam. Yang setelah sekian lama dia pelajari. Akhirnya, dia menumukan sebuah kesalahan terbesar bagi umat Islam. Yaitu, umat Islam sangat rapuh dalam kepercayaannya terhadap Tuhannya. Karena mereka tidak mengetahui kebenaran- kebenaran yang telah tersurat dan tersirat dalam ajaran Islam. Hingga akhirnya, umat Islam tidak mengetahui jati diri mereka yang sebenar-benarnya. Jati diri seorang muslim yang bisa dikatakan kebenaran dari seorang Muslim. Nova, terketuk hatinya. Dengan kebenaran-kebenaran Islam. Yang pernah dia pertanyakan kebenarannya. Sampai akhirnya, Nova mengakui adanya kebenaran dalam Islam. Dan siap mengikuti apa-apa yang telah diataur dalam Islam. Hanya karena dia masih tinggal dengan orang tuanya. Dia takut menunjukkan jati dirinya sebenarnya. Yaitu, seorang mualaf.
Puncaknya, Nova kabur dari rumah. karena dia diancam dibunuh. Jika tidak mau kembali kepada ajaran agamanya yang lama. Dan Nova, yakin. Bahwa Papanya tidak akan tinggal diam jika Nova kabur dari rumah. Pasti, Papanya akan mencarinya kemana pun dia pergi. Dan Nova pun curiga, orang-orang yang hampir membunuh kami. Adalah suruhan dari Papanya.
“Sebenarnya sih! Aku tidak hanya bertanya kepadamu saja tentang Islam, Far! Tetapi aku juga pernah bertanya dengan seorang mantan ketua LDK. Khalid namanya! Pasti kamu kenal” Ucap Nova, seraya mengakhiri ceritanya.
Ah, ikhwan itu lagi! Sungguh benar-benar kuat dakwahnya! Ucapku dalam hati. “Ehm. Mas Khalid yah?” Goda Dewi. Sambil melirikku.
Aku hanya melotot kearah Dewi, sambil mencubi pinggangnya. “ADUH. Sakit Mbak!” Jerit Dewi.
“Ha! Ada apa nih?” Tanya Nova. Sedikit terlihat menyelidik. “Nggak, ada apa-apa kok Nov!” Ucapku.
“Pasti, Khalid pacar kamu yah Far?” Selidik Nova.
“Astaghfirllah. Nov, dalam Islam kita dilarang untuk berpacaran! Karena itu akan membuat kemudharatan bagi diri kita sendiri!” Ucapku, tegas.
“Ih, gitu aja loh kok ngambek!” Ucap Nova. Terlihat mengejek.
“Iya. Dalam Islam nggak ada pacaran, yang ada langsung menikah kan Mbak!” Ujar
Dewi, sambil melihatku. Terlihat menggoda. “Ah. Kalian berdua ini, ngomongin apaan sih!” Seketika itupun, kami tertawa.
Terlihat ada yang aneh dalam tatapan Nova. Tatapan mata yang terlihat cemburu. Tetapi, terlihat sangat pasrah dengan apa yang nanti dia dapatkannya.
Setelah itu. Ganti Dewi yang menceritakan permasalahannya. Menceritakan semua yang pernah kami hadapi. Termasuk saat-saat aku ditodong pistol tepat dikepalaku. Nova terlihat begitu kagum dengan keberanianku. Berkali-kali dia memujiku. Padahal keimananku tidak sebanding dengan apa yang diperkirakan Nova. Aku tidak begitu berani saat itu. Seberani aku melawan para penjahat-penjahat itu tadi siang. Dewi pun, berkali-kali sering memuji-mujiku. Aku menjadi sangat menderita dengan pujian-pujian yang diberikan oleh dua wanita ini. Pujian yang bisa menjatuhkanku kepada lembah kenistaan. Kenistaan rasa ujub, riya’ dan takabur yang kan menyebabkan masuknya aku kedalam jahanam. Tidaklah sebuah pujian yang berlebihan, membuat terlena seorang insan. Hingga dia harus masuk kedalam tungku
panas yang membara, membakar tubuh dengan mudahnya. karena rasa ujub, riya’ dan takaburnya. Yaa Allah, lindungi aku dari itu semua!
Nova aku janjikan untuk dapat bersyahadat kembali. Dengan persaksian seorang ulama. Nova terlihat sangat gembira dengan apa yang aku janjikan. Serta tak lupa, aku akan mengajarinya tentang tatacara seorang muslimah dalam bergaul, berpakaian dan berakhidah serta tak lupa. Menjadikan Nova, menjadi seorang muslimah yang berakhlaq mulia. Insya Allah!
***
Aku langsung masuk kedalam rumah. Setelah seharian menyetir dari puncak sampai rumah. Jantungku berdegup, seiring langkah kakiku melangkah dalam setiap jengkal rumah ini. Perasaan yang tak menentu berada dihatiku. Senang, malu, takut semuanya membaur menjadi satu. Membaur dalam rasa hati yang begitu terpatri. Entah bagaimana nanti, pertemuanku dengan seorang ikhwan. Dalam ikatan khitbah yang akan dilangsungkan. Senang, tetapi hatiku benar-benar berdegup kencang. Takut, tetapi begitu senang. Serasa aku merasakan kesanangan yang tiadatara. Kejadian-kejadian yang membuat pusing diriku. Kini menjadi tidak ada artinya. Semua bagaikan aku lupakan. Semua bagaikan cerita masa lalu yang sudah berakhir. Kini lembaran baru yang akan aku dapatkan. Lembaran pernikahan dengan seorang ikhwan. Seorang pejuang dan pujangga dakwah. Yang selalu teguh dalam jalan dakwahnya. Selalu bersamangat dalam jalan kebenaran-Nya. Meskipun tingkat hafalan Qur’an dan Sunnahnya tak seberapa. Tetapi, pemahaman dalam agamanya pun. Patut dipertimbangkan.
Seorang ikhwan yang bisa membuat hatiku luluh. Luluh karena sengatan energi dakwahnya. Sungguh, selama aku bergelut dalam aktivitas dakwah. Aku baru melihat seorang ikhwan yang mempunyai khans sendiri dalam gaya dakwahnya. Sifat seorang ikhwan yang tidak semaunya sendiri. Mempunyai kerendahan hati yang tinggi. Mampu memposisikan dirinya sebagai seorang yang berpengetahuan. Adakalanya bersuara dalam kritikan. Tetapi adakalanya diam tanpa perlu berbicara apa-apa. Hanya untuk bisa menghormati orang lain. Semangat dakwah yang tinggi, yang selalu ingin memperbaiki diri. Mempunyai rasa persaudaraan yang tinggi. Tutur katanya pun sangat diatur agar tidak menyinggung atau bahkan menyakiti saudaranya yang lain. Ucapan kehormatan pun sering terlantun dalam mulutnya kepada senior- seniornya. Tidak pernah dia menyebut nama seorang yang lebih tua darinya dengan hanya menyebutkan namanya saja. Bahkan menyebut nama seorang juniornya pun, dengan sangat ramah. Dia berusaha agar tidak menyakiti perasaan juniornya, saat dipanggilnya.
Sungguh beruntung jika memiliki ikhwan seperti Khalid. Tak semudah mendapatkan seorang ikhwan sepertinya. Banyak para ikhwan yang hanya mempelajari cara berdakwah dan berjuang dalam dakwah. Tetapi, sangatlah sedikit seorang ikhwan yang mengamalkan karakteristik dakwah dalam akhlaq yang dimiliki oleh Rasulullah. Akhlaq yang begitu mulia. Menjaga agar sesama saudaranya tidak tersinggung dengan apa-apa yang akan dilakukannya. Sungguh sangat jarang sekali. Seharusnya itulah yang menjadi rujukan para pendakwah kita. Para mujahid dan mujahidah yang giat dalam dakwahnya. Tidak hanya asal dalam berdakwah. Yang dalam aktivitasnya hanya terlihat seremonial saja. Seperti halnya berjenggot, berjilbab
besar dan lain sebagainya. Padahal akhlaq mereka belum terbina dengan benar. Belum tertarbiyah dengan bagus. Hingga akhirnya menjadikan mereka terlihat lebih eksklusif. Padahal dakwah mempunyai pembeda dalam kegiatannya. Mempunyai keluwesan dalam geraknya. Mempunyai ketepatan dalam keputusannya. Dan mempunyai keramahan dalam perbuatannya. Inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap para aktivis dakwah.
“Assalamualaikum.” Ucapku. Saat melihat Abi, Ummi dan Bunda sedang berkumpul diruang keluarga.
“Walaikumsalam!” Serentak jawaban salam tanpa dikomando.
Abi langsung mendatangiku. “Zah, nggak apa-apa kan!” Bisik Abi.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Abi terlihat khawatir, tetapi tidak ingin
Ummi sampai mengetahui kekhawatirannya.
“Udah sekarang Zah nunggu sama Ummi dan Bunda. Menunggu sang mujahid, tiba!” Kata Abi. Menggoda.
Aku hanya sedikit manyun, sambil memperlihatkan kemanjaanku. Abi tersenyum.
Setelah itu aku langsung mencium tangan Ummi dan Bunda. “Anti, dari mana saja?” Tanya Ummi.
“Zah, dari villa Mi. Nganterin Dewi, katanya pengen refreshing!” “Hem. Sekarang, Dewi masih disana?” Tanya Ummi lagi.
“Iya. Dewi masih disana!”
“Anti, sudah siap kan?” Tanya Bunda. Sambil memegang pundakku. “Insya Allah, Bunda!”
“Ingat. Kalau sudah berumah tangga, sifat kekanak-kanakannya harus dihilangkan. Manja sama suami, boleh. Tetapi, tidak boleh kekanak-kanakan!” Nasehat Ummi.
“Iya. Biasanya, suami itu paling seneng kalau para istri itu bermanja-manjaan dengan suami. Apalagi kalau suami yang dimanjain, pasti lebih seneng! Tetapi, suami juga biasa paling nggak seneng. Kalau istri terlalu kekanak-kanakan!” Bunda pun ikut menimpali nasehat.
Aku hanya bisa mengangguk. Sambil menundukkan pandangan. Jantungku semakin berdetak tak beraturan.
“Zah. Keluarga sudah sepakat, kalau nanti acara khitbahnya. Juga langsung akadnya!” Ucap Bunda.
HA! Aku langsung menatap Bunda. Bunda hanya tersenyum. Dan saat aku tatap Ummi. Ummi juga tersenyum, seraya menganggukkan kepala menyetujui apa yang diucapkan Ummi. Secepat inikah? Entah perasaan apa yang berada dibenakku. Rasa senang, takut, malu bercampur baur lebih dalam. Aku merasakan ada rasa kesenangan yang sangat tinggi, tetapi rasa takut itu pun tak kalah tingginya.
Ummi menggengam tanganku. Lalu mengatakan “Zah, melangsungkan pernikahan dengan cepat itu lebih baik, daripada mengulur-ngulur waktu pernikahan! Ummi sudah sangat setuju, saat Bunda memberitahukan ikhwan yang bernama Khalid itu! Meskipun, Khalid bukanlah orang kaya. Tetapi keluarga kita memandang Khalid sebagai pejuang dakwah. Karena itu lebih mulia ketimbang kekayaan yang berlimpah.”
Setetes bening kristal berjatuhan dari mataku. Derai kristal yang mencair dimataku pun bertautan menyembur keluar. Aku langsung memeluk Ummi. Tiada kata yang dapat aku ucapkan. Selain ucapan terima kasih yang besar terhadap kedua orang tuaku. Entah kenapa haru itu begitu menggebu ingin menunjukkan eksistensinya pada tangisku. Aku benar-benar bersyukur, mempunyai keluarga yang begitu mengerti tentang kebutuhan anaknya. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman. Yang ada hanya pilihan untuk mengerjakan kebaikan. Kekayaan yang aku miliki, tidak sebanding dengan kenikmatan mempunyai keluarga yang begitu mengerti.
Aku sangat kaget. Rencananya hanya melangsungkan acara khitbah. Malahan, menjadi akad nikah. Sungguh berita yang menggembirakan buatku. Tiada rintangan terjal dalam keluargaku untuk menggapai sang pejuang dan pujangga dakwah. Kini seorang mujahid itu akan menjadi milikku. Aku akan mempunyai seorang pelindung yang akan selalu menyertaiku dalam setiap dakwahku. Seorang mujahid yang dihadiahkan Allah, hanya untukku. Yang akan selalu bersama-sama dalam menjalani medan dakwah. Yang akan selalu memperbaiki diri dalam setiap jalan-Nya. Yang akan selalu saling memberikan motivasi untuk perjuangan dakwah. Perjuangan yang tidak akan mudah untuk dihadapi. Meskipun, sulit. Tetapi jika dijalani bersama, maka kenikmatan dalam berdakwah pun akan begitu terasa. Tidak persoalan yang tidak terselesaikan. Berat atau pun ringan sebuah persoalan, jika dipikirkan berdua dengan suami. Maka semua persoalan itu akan mudah untuk diselesaikan. Insya Allah!
“Assalamualaikum!”
Terdengar suara salam. Ammi! Pikirku. Pasti, Ammi membawa Akhi Khalid. Detak jantungku pun, semakin tak karuan. Rasa senang datang, tetapi masih ada rasa malu dan ketakutan. Lututku serasa lemas, sulit untuk digerakkan. Aku ingin berkata, tetapi mulut ini keluh untuk mengucapkan sepatah kata.
Ummi melihatku dengan tatapan sayang. Dipegang tanganku dengan remasan jari jemarinya. Menyiratkan tentang kekuatan. Aku hanya tersenyum. Tetapi entahlah, senyumanku sepertinya keluh.
Terdengar lamat-lamat. Pembicaraan Abi dengan Ammi, Ustad Fadlan. Sekali terdengar tawa. Badanku semakin lemas, seiring dengan detak jantung yang tak beraturan. Aku akan menikah sekarang! Hari ini juga, aku akan menikah dengan seorang ikhwan yang memang aku impikan. Apakah ini bukan mimpi? Jika ini benar- benar mimpi, jangan bangunkan aku!
“Zahra, Anakku.” Panggil Abi.
Suara Abi yang memanggil kami, mengagetkanku. “Iya, Abi!” Jawabku.
“Bagaimana? Sudah siap!” Tanya Abi. “Sudah, Abi! Ana sudah siap.” Jawabku.
“Assalamualaikum! Maaf saya terlambat!” Ucap seseorang yang terdengar baru masuk ruangan.
“Walaikumsalam! Anda datang pada waktu yang tepat.” Ucap Abi. “Khalid, ini adalah petugas dari KUA. Yang akan mengurus pernikahan kalian sekarang juga termasuk sekaligus dari penghulu kalian!” Jelas Abi.
“Baik. Kalau semua sudah siap!” ucap penghulu itu. “saya harap untuk pengantin wanita dan prianya duduk didepan saya. Untuk saksi dari laki-laki, silakan duduk disebelah kiri saya. Dan untuk wali dari perempuan, silakan duduk disebelah kanan saya.”
HA! Aku harus duduk disamping Akh Khalid. Aku sedikit tergagap. Lututku terasa sedikit lemas untuk bisa melangkahkan kaki ini. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak pernah membayangkan sampai sejauh ini. Apalagi membayangkan duduk bersanding dengan Khalid. Jantungku terus berdegup tak beraturan. Dengan berdzikir, aku terus menundukkan pandangan.
Hingga penghulu itu mengatakan. “Baik, tirukan kata-kata saya!” ucap penghulu itu. “Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.”
Sambil bersalaman dengan Abi. Khalid melafalkan ucapan sakral itu. “Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal….”
Khalid terlihat sangat gugup. Hingga dia tidak bisa mengatakan kalimat sakral itu. “Baik kita ulangi sekali lagi.” Ucap Penghulu itu. “Dengan ini, saya Khalid
Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.”
“Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbahl dengan mas kawin….” Khalid benar-benar gugup. Dia tidak dapat melafalkannya dengan lancar.
Seketika itu. Suasana menjadi hening.
“Hem…! Alhamdulillah” sela ustad Fadlan. Mengagetkan. “Alhamdulillah, dengan begini kita tahu. Bahwa Khalid memang belum pernah menikah!”
Tawa pun meledak dari ruangan ini. Tetapi aku sendiri tertunduk malu. Aku malu untuk menertawakan calon suamiku. Meskipun aku juga ingin tertawa, tetapi aku malu jika aku tertawa. Maka aku menertawakan diriku sendiri.
“Khalid, tenanglah. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu!” Ucap Abi. Dengan kebijaksanaannya.
“Bagaimana? Mau diulang?” Ucap Penghulu itu.
Ya pasti mau dong. Masa nggak diulang sih! Kalau nggak diulang kan nggak sah. Nah kalau nggak sah batal nikahnya. Hem, enaknya! Hihi... Gumamku.
Terlihat dan terdengar lirih, Khalid mengucapkan “Bismillah”
“Baik, kita ulang.” Ucap Penghulu itu lagi. “Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.”
“Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.” Ucap Khalid lancar.
Alhamdulillah. Terasa plong dihati. Bagaikan terlepas dari belenggu yang merantaiku selama puluhan tahun. Tetapi, jantungku masih berdegup tak karuan.
Selanjutnya Penghulu itu mempersilahkan Abi untuk mengikuti kata-katanya. “Untuk wali pengantin wanita, tolong tirukan saya. Saya terima nikahnya anak saya yang bernama Farah Zahrani dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.” Seketika itu pandangan ustad Hanafi kepadaku terlihat sangat serius. Abi Hanafi memegang tangan Khalid erat. Seraya mengatakan Aku serahkan anakku, untuk berjuang bersamamu. Jagalah ia, jangan kau sakiti dia.
“Saya resmikan pernikahan pasangan pengantin ini.” Ucap Penghulu.
Alhamdulillah. Semua sudah berakhir. Masa sendiriku kini telah berubah. Dakwahku kian bertambah. Semangatku kian memuncar, dengan adanya suami disisiku. Alhamdulillah Yaa Allah. Kuatkanlah hati kami untuk selalu berpegang tegu kepada tali ajaran-Mu.
Terlihat tetesan air mata mengalir dari sendu dari suamiku. Khalid. Entah apa yang membuatnya meneteskan air matanya. Kebahagiaankah?
“Anakku, sekarang engkau resmi menjadi suami dari anakku. Apakah yang engkau risaukan sekarang!” Tanya Abi, kepada Suamiku.
“Ustad, sungguh ana sangat berbahagia sekali menikahi seorang bidadari. Tidak pernah terlintas sedikitpun rasa kecewa. Tetapi Ustad, sayangnya kebahagiaan ana tidak dapat dirasakan oleh kedua orang tua ana yang berada didesa.” Ucapnya.
Selintas derai air mataku pun mengalir. Rasa haruku menyaksikan seorang anak yang begitu menyayangi kedua orang tuanya. Aku tidak tega untuk melihat suamiku menangis. Spontan aku memalingkan muka dengan tertunduk. Suamiku, sungguh engkau benar-benar seorang ikhwan dambaanku!
“Anakku, janganlah kamu memanggilku dengan sebutan Ustad! Aku lebih senang jika engkau memanggil Abi! Anakku, kebahagian anak adalah kebahagian orang tua. Abi yakin, orang tua antum disana sangat berbahagia. Meskipun tidak menyaksikan kebahagiaanmu, tapi Abi yakin. Mereka sekarang juga merasakan kebahagiaan itu.” Jelas Abi bijaksana.
Derai air mataku semakin menjadi. Mendengar ungkapan Abi. Sungguh aku tidak bisa membayangkan, jika aku menikah tanpa disaksikan oleh orang tuaku. Pastilah amat menyakitkan.
Jilid 14
“Akhi!” Panggilku dengan lembut. Entah aku bingung harus memanggil apa. Serasa aku malu untuk mengucapkannya.
“Iya Istriku!” Jawab Suamiku.
“Apa boleh, ana memanggil antum Kanda!” Ucapku. Dengan keberanian dari rasa malu yang tinggi untuk mengucapkannya.
“Tafadhol! Anti mau panggil ana apa aja. Ana senang kok. Selama yang memanggil adalah anti!” rayu Suamiku.
Subhanallah. Suamiku sudah bisa merayuku. Dahulu dia begitu dingin terhadapku. Bahkan untuk menatapku dia sangat malu. Sekarang, dia merayuku! Oh, sungguh benar-benar indah tali pernikahan itu.
“Dinda! Apakah anti senang menikah dengan ana?” Tanya Suamiku.
Kanda, jika seandainya antum tahu betapa besar rasa cinta ana kepada antum! Pasti antum tidak akan pernah menanyakan pertanyaan itu! Gumamku dalam hati. Aku hanya tersenyum. Lalu memegang tangan Suamiku. Aku mencium tangan kanannya, lalu aku sentuhkan tangannya dipipiku seraya membelai lembut dipipiku. Sungguh indah.
“Dinda. Ana mau tanya!” Katanya. Terlihat hanya ingin membuka percakapan. “Apa itu, Kanda?”
“Dinda. Ana bingung dengan pernikahan kita? Sangat cepat. Ana kaget!” Ucapnya yang memang terlihat bingung.
Aku tersenyum. “Kanda, mungkin antum ingat bahwa menyegerakan pernikahan itu adalah hal yang terbaik. Tetapi memang bukan terburu-buru. Apakah antum ingat. Bahwa dalam hadist. Rasulullah bersabda. ‘Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan menjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.’ Ana dan Ustad Fadlan, meyakinkan Abi. Bahwa antum adalah seorang yang benar-benar dapat dipercaya. Dan sesungguhnya ana sudah lama mencintai antum. Tapi ana ingin menutupi semuanya. Ana malu terhadap Allah. Karena ana mencintai ikhwan yang seharusnya tidak berada di hati ana. Tetapi kini kanda sudah menjadi suami ana” jelasku sedikit manja, sambil menyandarkan kepala didada suamiku.
“Dinda ana juga sangat mencintai antum. Alhamdulillah, Allah benar-benar mengabulkan doa ana untuk memiliki salah satu bidadari-Nya.” Katanya dengan membelai kepalaku yang masih terbalut jilbabnya.
“Kanda, ana sangat mencintai antum” ucapku dengan manja.
“Ana juga mencinta anti, sayang!”
Seketika itu pun, Suamiku langsung memelukku. Aku malu. Langsung saja aku mematikan lampu kamar.
***
Aku belai mesra wajah suamiku. Sungguh aku sangat beruntung mendapatkannya. Disaat-saat tidur pun, wajahnya sangat indah. Yaa Allah terima kasih, engkau memberikan mujahidmu kepadaku!
“Kanda. Bangun!” Ucapku lembut dan lirih.
Sedikit demi sedikit mata Suamiku terbuka. Terlihat dia sangat menikmati belaian kemesraanku. Sedikit kecupan mesra dikeningnya, aku hadiahkan kepada suamiku.
“Kanda, sayang. Bangun. Sudah Shubuh! Kanda mandi dulu ya!” Ucapku lembut. “Mandi, ya sayang! Kalau mandi berdua, gimana?” Godanya.
“Ih, sudah berani nakal ya sekarang!” Ucapku. Sambil mencubit hidungnya. Lalu menariknya dari kasur.
Selesai sholat shubuh kami berjalan-jalan di taman kompleks. Sangat menyenangkan. Karena aku bisa berjalan mesra dengan Suamiku. Tak lupa disertai cubitan-cubitan mesra diantara kami berdua. Mungkin itu yang membuat iri beberapa burung pipit yang melihat kami berdua. Beriak dan berarak kicau meraka. Sangat menambah kemesran kami berdua. Sepertinya burung-burung itu, mengelu-elukan kami berdua.Tetapi aku tetap harus bisa menjaga image dihadapan kedua orang tauku. Sebenarnya sich, biar nggak malu. Belum pernah aku sebahagia ini.
***
“Dinda. Kanda balik dulu kekontrakan yach! Ana mau mengambil beberapa barang- barang ana yang ada disana!” Ucap Suamiku mesra.
“Dinda, Ikut!” Ucapku manja.
“Dinda, sayang. Jangan dulu! Setelah walimatul. Baru anti bisa ana ajak kemana- mana. Biar nggak terjadi fitnah maksud ana!”
“Tapi, Dinda pengen disamping Kanda terus!” Rayuku manja. Sambil memegang lengan kanan Suamiku.
“Sayang. Kanda nggak lama kok! Nanti juga balik lagi.” Katanya sembari membelai mesra pipiku yang lembut.
“Iya udah. Tapi Kanda, ana yang ngantar Kanda ya! Ana nggak mau, Kanda berjalan kaki!” Ucapku Manja.
“Hem… sayang. Berjalan kaki itu kan kebiasaan Kanda! Ana nggak, ujug-ujug setelah menikah dengan anti langsung lupa dengan kebiasaan” Ucapnya dengan senyum.
“Tapi, Kanda. Ana nggak mau, melihat Kanda capek!” Ucapku dengan manja.
“Insya Allah, Kanda nggak akan capek-capek banget kok! Paling-paling kalau capek, kan ada Dinda yang mijitin!”
Aku tersenyum simpul sambil memeluknya. “Ya, udah! Kanda kan nggak punya HP. Ana beliin nih buat Kanda!” Sambil aku tunjukkan Siemens yang terbaru. “Kanda nggak boleh menolak. Karena ini adalah pemberian istri, Kanda!” Ucapku sedikit memaksa.
Suamiku hanya tersenyum. Sambil menganggukkan kepalanya. Lalu mencubit mesra daguku. Indah.
***
“Tluutt....Tluutt...!” Dering Hpku. Ukhti Dewi tertulis dilayar LCD Hp. “Assalamualaikum, Ukh!”
“Walaikumsalam, Mbak!”
“Ada apa, Ukh?” Tanyaku khawatir.
“Mbak, ana mau tanya. Kami boleh memasak nggak Mbak disini!” “Hihi... Anti kayak bukan rumah sendiri aja! Ya tentu boleh dong.” “Ok. Syukron Mbak!”
“Kalau anti kehabisan uang, telphon ana yah!” Ucapku.
“Insya Allah, Mbak! Ana sudah terlalu merepotkan Mbak Fara.”
“Nggak kok. Justru kalau Anti nggak merepotkan ana, malah ana yang bingung. Hehe..!” Candaku.
“Mbak Farah, bisa aja!”
“Nova bagaimana, baik-baik aja kan!”
“Alhamdulillah, Mbak Nova baik-baik aja! Sekarang lagi belajar membaca Al
Qur’an.”
“Alhamdulillah. Kita harus melindunginya Ukh!”
“Iya, Mbak. Pasti! Ya sudah Mbak, segitu dulu. Ana mau memasak dulu!” “Ok. Yang enak yah!”
“Siip... Dah Mbak Farah. Assalamualaikum.” “Walaikumsalam.”
Memasak! Hem, sebuah tugas yang penting dilakukan seorang Istri. Aku memasak dulu ah, buat suami tercinta! Gumamku dalam hati. Sambil tersenyum senang. Tapi, seketika itu pun, entah kenapa. Kerinduanku kepada Suamiku begitu besar. Padahal, baru saja ditinggal. Entahlah, rasa sayangku begitu besar kepadanya. Aku benar-benar mencintainya. Aku ambil Hpku. Aku tuliskan Sms, untuk Suamiku.
Kanda, ana kangen. Kanda kangen nggak sama Dinda?. Langsung saja aku kirim. “SMS, dikirim”
Setelah itu aku langsung memasuki dapur. Ruang yang hanya aku gunakan kalau sedang ingin memasuki saja. Tetapi kini aku harus selalu memasukinya. Harus selalu memasak demi Suami tercinta. Selintas setelah masuk kedapur. Aku bingung, mau masak apa. Dan bahan-bahan apa aja perlu aku persiapkan untuk memasak. Hem ini kesalahanku, kenapa aku tidak pernah meminta Ummi atau Bi Iyem mengajari aku memasak! Huh, sulit juga jadi Ibu rumah tangga. Kalau aku beli masakan diluar, kayaknya nggak etis deh! Masa suamiku makan masakannya orang lain sih! Benar- benar sebuah kesalahan yang besar. Harusnya memang aku bisa memasak, toh memasak juga termasuk berdakwah. Berdakwah menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan menjadi seorang istri yang sangat dicintai oleh suaminya. Entah, sekarang aku sangat bingung!
Ummi datang menghampiriku. Seraya tahu akan kegundahanku. “Zah, ingin memasak yah!” Ucap Ummi dengan lembut.
“Iya..!” Ucapku sendu.
“Apa kata Ummi, dulu. Anti akan bingung jika nggak bisa memasak! Malah anti bilang, pengen beli makanan diluar saja!”
“Iya, Mi. Itukan dulu. Sekarang kan berbeda!” Ucapku, masih dengan kemanjaan. “Hem. Ya sama aja!”
“Ummi...!”
“Ya, udah. Ayo kita memasak sekarang!” Ajak Ummi bijaksana.
Entah apa yang terlihat diwajahku. Pokoknya, aku benar-benar senang sekali. Kesenangan seorang istri yang mendapatkan kemudahan dalam belajar memasak. Beberapa bahan-bahan memasak, yang aku tidak kenali. Sedikit demi sedikit sudah aku kenali dengan baik. Memasak ternyata menyenangkan. Hanya karena aku malas
belajar saja, sehingga dulu aku anggap memasak itu membosankan. Padahal, memasak bagaikan ilmu yang pasti dapat kita ketahui. Dan hasilnya pun, dapat kita ketahui kenikmatannya. Enak apa nggak enak. Itulah yang menjadi hasil seorang yang memasak. Jika enak, berarti dia suda berhasil mempelajari cara memasak dengan baik. Tetapi, jika nggak enak berarti harus belajar lebih giat lagi dalam mempelajari cara memasak.
Semua masakan sudah matang. Tinggal menyediakannya saja. Aku langsung menghidangkannya dimeja makan. Hari pertama memasak, spesial untuk sang suami. Menyenangkan. Kini tinggal menunggu datangnya Suami tercinta.
“Assalamualaikum.” Terdengar ucapan salam.
Suamiku datang! Dengan bergegas aku langsung menyambutnya. “Walaikumsalam. Kanda… lama banget sich!” sergahku. Sambil berlari memeluknya.
“Kanda kan nggak lama-lama banget, sayang.” Jawab suamiku. Sambil senyum, tak lupa untuk mencubit sayang hidungku.
“Wah… yang pengantin baru. Mesra banget!” Goda Ummi. Mengagetkan kami berdua.
“Ummi… jangan gitu dong! Kan Farah jadi malu.” Ujarku, sambil ganti memeluk
Ummi.
Ummi tersenyum. “Khalid, antum udah makan siang?”
Terlihat ada rasa malu pada diri Suamiku. Untuk menjawab pertanyaan Ummi. Hanya anggukan kepalanya saja yang dia berikan.
“Kanda, gimana sich! Ana kan nunggu Kanda. Kok malah makan diluar! Kanda kan udah punya rumah. Kalau mau makan ya dirumah. Nggak boleh diluar. Kalau makan diluar itu, ajak-ajak Dinda. Huh!” Kataku sedikit kesal.
“hehe… ana baru tahu kalau dinda cerewet!” ucapnya sambil senyum. Tak lupa membelai pipiku.
“Khalid, antum belum tahu! Kalau Farah anaknya cerewet banget?” Kata Ummi sambil tersenyum.
“Ummi… buka rahasia aja!” Kataku. Sambil memeluk Ummi dari belakang. “Kalau gitu Kanda tetap harus makan dirumah! Dinda udah siapin semuanya dimeja makan!”
“Hem… disiapin apa disuapin.” Kata Suamiku sambil tersenyum. “Maunya…?” Godaku.
Setelah itu aku langsung menggandeng tangan suamiku. Mengajaknya keruang makan.
Saat kami sedang makan. Aku menatap Suamiku. Entah kenapa, aku begitu haru saat menatapnya.
Tak seberapa lama. “Kanda. Apakah Kanda mencintai Dinda?” Ucapku.
Suamiku hanya diam. Menatapku dalam tatapan yang terlihat penuh dengan rasa cintanya. Tapi aku belum puas jika hanya tatapan itu yang diberikannya.
“Kanda… jawab dong!” Kataku kesal. Karena melihat Suamiku diam saja.
Suamiku tersenyum. Entahlah, saat dia tersenyum rasanya begitu dalam menusuk hatiku. “Dinda. Kenapa anti menanyakan itu! Padahal, nyata-nyata Allah telah memberikan bidadari tercantik didunia ini kepada ana. Ana tidak akan pernah, tidak mencintai anti! Sungguh Allah telah memberikan rasa cinta yang teramat dalam kepada ana, untuk mencintai anti!”
“Tapi, Kanda. Kenapa Kanda, masih malu-malu terhadap ana. Dan juga, kenapa Kanda tidak menjadikan rumah ini adalah rumah Kanda juga? Ana tadi melihat raut muka Kanda. Kanda malu untuk mengatakan, sesuatu. Kanda malu untuk makan bersama dirumah ini!” Ucapku serius.
“Afwan Dinda. Ana memang malu tadi! Ana belum memberikan nafkah sama sekali kepada anti!” Suamiku tertunduk lesu. Dengan masih memegang sendok dan garpunya.
“Ana ikhlas. Antum memang belum dapat memberikan nafkah kepada ana saat ini! Tetapi ana merasa antum telah memberikan nafkah batin ana dengan sangat berlebih.” Aku sedikit menarik nafas dalam-dalam. “Kanda. Ana sayang sekali sama Kanda! Ana sudah tidak butuh lagi materi. Insya Allah, ana sudah sangat berlebih untuk materi. Meskipun Kanda, hanya memberikan ana uang seribu rupiah saja. Ana rasa, Kanda telah memberikan nafkah materi yang sudah berlebih kepada ana.”
Suamiku hanya menggangguk. “Hem… kalau limar ratus rupiah gimana?” Godanya. “Yee… nawar!” Ucapku. Aku menghela nafas sambil menundukkan kepala. “Kanda.
Ana nggak mau antum seperti tadi! Kanda harus ingat, semua yang ada disini adalah keluarga Kanda! Kita bukan orang lain!”
“Insya Allah. Iya Dinda! Ana juga merasa bahwa ana berada dirumah sendiri. Ana merasakan kehangatan keluarga, dirumah Dinda.” Suamiku tersenyum. “Ini Dinda yang masak yach?” Selanya.
“Yee… kok mengalihkan perhatian sich!” Ucapku sewot. “Iya ini ana yang masak! Khusus special buat antum!” Jawabku kalem. Sambil senyum simpul.
“Hem, pantes!”
“Pantes? kenapa? Ada yang salah? Nggak enak yach!” Aku kaget dan agak bingung. Aku takut kalau masakanku tidak enak.
“Hem… enak sich! Lebih enak lagi, kalau Dinda belajar memasak lagi! Hehe…” Jawabnya.
Aku memeluk suami, lalu berkata. “Afwan ya Kanda, kalau masakan ana nggak enak. Ana memang baru belajar memasak!”
“Nah. kalau begini masakan anti lebih enak lagi.” Ucapnya.
“Yee… maunya!” Ucapku sambil melepaskan pelukan. Lalu berganti dengan mencubitan.
Selesai makan kami pun membahas masalah konsep-konsep walimatul pernikahan kami. Termasuk dalam masalah musik. Kami memang harus benar-benar sangat selektif dalam memilih musik-musik yang akan ditampilkan. Yah, nasyid memang pilihan terbaik kami. Tetapi, lucu juga. Suamiku mempunyai usul yang agak konyol. Mintanya diputar nasyid yang bertema harroki.
”Nanti bukan dikira nikahan. Malah dikira mau demonstrasi! Atau yang lebih parah. Dikira ngomporin orang untuk berjihad.” Ucapku
Kenikmatan tersendiri, mempunyai seorang Suami. Yang bisa mengerti dan menyayangi dengan kelembutan perilakunya. Jalan dakwah menjadi lebih ringan saat- saat kita mempunyai seorang yang dapat memberikan pengayoman dalam kelembutan.
***
Pesta pernikahan yang kami selenggarakan, mungkin terlihat tidak meriah. Tetapi, mempunyai kesan tersendiri bagi kami berdua. Bukan kemeriahann pesta yang kami harapkan. Tetapi keridhoan Allah lah yang kita cari. Dan alangkah lebih baik lagi, jika dana alokasi pernikahan bisa dibuat untuk memberikan santunan kepada para orang-orang yang belum beruntung. Daripada harus menciptakan pesta pernikahan dengan besar, tetapi kita mengacuhkan orang-orang yang tidak beruntung disekitar kita.
Beberapa teman-temanku hadir. Mereka pun ikut membantu dalam pelaksanaan pesta pernikahanku. Senang rasanya! Tetapi, mata ini melihat seorang ikhwan yang menatapku dengan tajam. Dia berjalan kearahku, padahal sudah ada hijab untuk wanita dan laki-laki. Tetapi, dia tetap berjalan kearahku. Dengan cepat pun, aku langsung memanggil Suamiku. Dengan hanya memberikan isyarat agar Suamiku mendekat. Dengan cepat suamiku langsung mendekat kearahku. Lutfi, seorang ikhwan yang menatap tajam kearahku. Masih berjalan kearahku. Ada gundah dan aral yang mengganjal hatinya. Atau bahkan amarah yang memuncak berada dikepalanya. Dia semakin mendekat.
Suamiku terlihat mengetahui gelagat kerisauanku. “Sabarlah, Adinda. Tak akan lama!” Bisiknya lembut.
Aku hanya mengangguk.
Lutfi datang menyalami suamiku dengan tatapan amarahnya. “Kau beruntung, mendapatkan seorang wanita seperti Farah! Tapi, ingat. Tidaklah aku akan berhenti begitu saja membiarkan kebahagian kalian.” Ucapnya penuh benci.
Suamiku tersenyum. “Sungguh ujian terberat, adalah menikah dengan seorang bidadari! Sungguh cobaan yang kuat manakalah hati tidak bertautan dengan keimanan. Lisan berucap benar, hati mengikari kebenaran. Sungguh besar adzab Allah yang akan diberikan! Kita harus menerima sebuah keputusan, seperti menerima sebuah kemenangan. Berat rasanya jika menerima keputusan jika tidak berkenan dihati kita. Tetapi lebih berat menerima kemenangan, yang disitu terselip kesombongan!” Ucap Suamiku dengan masih menjabat tangan Lutfi.
Seketika itupun, Lutfi tertunduk. Ada haru diwajahnya. “Ukhti, sungguh anti memilih seorang ikhwan yang tepat!” Ucapnya. Dan berlalu meninggalkan kami tanpa berpamitan. Terselip sebuah penyesalan dalam dirinya. Penyesalan telah lalai dari aturan Tuhannya.
Suamiku tersenyum kepadaku, senyumnya lembut. Ada sebuah keikhlasan dihatinya. Sebuah rasa yang jarang dimiliki oleh manusia.
“Kanda. Apakah Kanda cemburu?” Tanyaku.
“Sebenarnya ana cemburu, tetapi bukan itu yang seharusnya ada dihati ana! Ana menyesal menikahi seorang wanita yang telah dicintai oleh Ikhwan yang lain. Sungguh pasti besar rasa sakitnya, pasti sangat sakit! Alangkah lebih baiknya jika anti dulu memberitahukan Akhi itu kepada ana!” Ucapnya penuh penyesalan.
Subhanallah! Aku memang tidak salah pilih! Bisikku dalam hati. “Kanda, sesungguhnya ana memilih Kanda, adalah karena rasa keikhlasan yang teramat besar didiri Kanda. Terselip sebuah keimanan yang kuat dalam hati Kanda! Jika ana memberitahukan Ikhwan itu kepada Kanda. Pasti Kanda akan lebih memilih Itsar daripada menikahi ana. Ana tidak mau itu!”
“Tetapi, alangkah lebih baiknya jika itsar yang itu diutamakan!” Bantahnya, dengan sedikit berbisik.
“Tidak. Sesungguhnya ini adalah takdir! Ana memilih Kanda, dengan pertimbangan akhidah dan akhlak Kanda. Bahkan, rasa itsar yang Kanda miliki itulah. Yang menjadikan rasa cinta ana kepada Kanda begitu besar! Sulit menemukan manusia seperti Kanda. Jika sudah didapat, ana tidak akan melepaskannya. Kecuali Allah yang akan mengambilnya dari ana!” Kataku serius.
Suamiku menggenggam erat jemariku. “Dinda, sesungguhnya. Ana sangat mencintai Dinda! Rasa kecintaan ana begitu besar, hingga ana berusaha untuk melupakan Dinda dari pandangan Ana. Sungguh saat itu, ana berpikir. Tidak layaklah seorang ikhwan seperti ana, bersanding dalam mahligai perjuangan dakwah. Dalam satu ikatan kokoh memegang erat tali-tali agama Allah. Hingga bahkan kita gigit dengan graham kita! Tetapi sungguh, ana tidak pernah berfikir akan bisa menikahi anti. Akan bisa memiliki anti, memiliki anti sepenuhnya. Menjadikan anti, halal buat ana dan Ana halal buat anti!”
Kata-kata suamiku membuatku merinding. Ucapannya begitu sangat meninggikanku. Membuat aku semakin mencintainya. Yaa Allah, kenapa engkau memberikanku rasa cinta ini yang amat kuat kepada suamiku. Yaa Allah, kenapa engkau memberikannya kepadaku! Yaa Allah, sadarkan aku jika rasa cinta ini sudah sangat berlebih. Hingga menjauhkan diriku kepada-Mu. Sadarkan aku yaa Allah! “Kanda. Sesungguhnya ana pun berpikir seperti apa yang Kanda pikir dahulu! Berpikir tentang sempurnanya seorang ikhwan. Keteguhan seorang ikhwan dalam berdakwah. Yang tidak pernah luntur dalam ghirohnya! Ana mencintai Kanda. Tetapi dalam hati ana mengatakan, tidak layaklah seorang ikhwan yang sempurna itu menjadi pendamping hidupku. Tetapi, ana mengazamkan dalam diri. Meng-ikhtiarkan dalam usaha untuk bisa menjadikan Kanda sebagai seorang pendamping hidup dan dakwah!”
“Dan akhirnya?” Sela candanya.
“Dan Akhirnya, Kanda pun jadi milik ana sepenuhnya! Karena Ikhtiar kita memang hanya untuk Allah. Semua usaha kita memang karena Allah. Bukan karena yang lain!”
“Eh. Kok kalian marah ngobrol sendiri. Banyak tamu, ayo ditemuin dulu! Nanti aja mesra-mesraannya!” Tegur Abi.
Kami berdua tersenyum malu. Dan langsung menemui para tamu undangan. Saat suamiku bertemu dengan teman-temannya. Dia terlihat sangat senang sekali. Ada kebahagian yang terlihat tak akan bisa terlukiskan. Kegembiraan seorang ikhwan yang menyambut ikhwan yang lainnya. Sesekali terdengar celetukan dari para ikhwan yang lucu-lucu. Sungguh hari yang menggembiarakan. Kami begitu senang dengan walimahan yang tidak begitu meriah dalam pestanya. Tetapi mempunyai kesan yang medalam dari lubuk hati ini.
Tak lupa aku pun mendatangi teman-teman akhwatku.
Reni, Resti, Wira teman-teman liqo’ku. Juga ada Erni and the gank jilbabersnya. “Anti, mendahului ana!” Ucap Reni.
“Hehe.... menyegerakan pernikahan itu kan sunnah Ukh!” Jawabku canda. “Menyegerakan apa emang kebelet!” Sela Erni.
“Hihi... ya beda tipis lah! Tapi kan nggak apa-apa. Kenapa harus malu, kalau kita mengerjakan sunnah!” ucapku.
“Iya deh. Ana juga pengen niru anti. Pengen niru yang cepet-cepet ituloh!” Canda
Erni.
“Eh. Anti jangan salahh, bukan cepet-cepet! Tapi menyegerakan. Ingatloh, kalau menyegerakan dan cepet-cepet itu beda! Kesannya kalau cepat itukan keburu-buru, dan itu tidak boleh. Karena terburuh-buruh itu temannya syaitan.” Ucap Resti.
“Seeppp!” Jawabku.
“Makanya, harus disegerakan!” Sela Wira.
“Ok. Kita langsung menyegarakan sekarang ya Ukh!” Ucap Resti. “Menyegerakan apanya?” Tanya Erni.
“Menyegerakan makan kue-kue hidangan. Kasihan, kue ini kita acuhkan. Padahal kuenya sudah pengen disegerakan!” Gurau Resti.
Serentak kami pun tertawa.
Tawa riang seorang Al Ukh. Yang selalu terbahagiakan dalam kesedihan maupun kedukaan. Sayang, Dewi dan Nova tidak bisa hadir. Mereka hanya bisa mengucapkan selamat lewat telphon saja. Dan beberapa teman-teman cyber liqo’ pun. Pada kirim SMS. Memang ikatan ukhuwah sangatlah kuat manakalah Dien sebagai landasannya. Semua terasa menjadi saudara kita. Karena, sesungguhnya semua muslim itu bersaudara.
Jilid 15
Malam yang berhiaskan bulan. Bertaburan bintang yang mengelilingi keindahan malam. Suasana malam dijalan ini begitu sepi. Hanya beberapa mobil dan motor yang silih berganti lewat dalam jalan ini. Bersama malam, dan keremangannya. Aku berjalan dengan Suamiku. Berjalan dengan beriringan. Bagaikan seorang permaisuri yang diiringi oleh rajanya. Berjalan bergandengan diselingi oleh beberapa bintang yang bertaburan. Bulan pun menyinari dengan tidak segarang matahari. Cahayanya yang redup menyinari kami dengan keindahannya. Riang rasa kemesraan pada setiap jalan kita. Layaknya seorang muda-mudi yang kasmaran. Tetapi memang, kami adalah muda-mudi yang kasmaran. Tetapi telah terbalut dalam kasih sayang yang sakral, suci dalam pandangan Ilahi. Bukan muda-mudi yang bergelimang dengan kemaksiatan dalam setiap kasih sayang yang haram bagi mereka berdua.
Delapan bulan sudah, aku mengarungi kemesran dalam bahtera rumah tangga berbalut dakwah. Indah. Tiada aral yang begitu menyakitkan, saat onak-onak duri itu menghadang. Tetapi kami menganggapnya itu adalah sebuah bumbu penyedap dalam rasa kasih sayang. Pertengkaran kecil yang berujung dengan kasih sayang pun, sering terjadi. Setiap kami melakukan pertengaran itu, kami langsung bermuhasabah bersama. Mencari jalan yang terang dala setiap jalan yang diberikan-Nya. Cemburu kadang menyelip dalam balutan rasa kasih sayangku. Tetapi, Suamiku dengan mesranya menghiburku dengan rayuannya. Sungguh, aku tidak butuh dengan rayuannya. Tetapi aku tidak akan menolak jika Suamiku merayuku, meninggikanku sebagai seorang wanita yang memang layak untuk dirayu dan ditinggikan. Karena aku Istrinya. Aku sering membaca, banyak para ikhwan yang menikah. Sulit untuk merayu dalam balutan hiburan untuk istrinya. Tetapi, untuk ikhwan yang satu ini. Sangatlah berbeda. Suamiku tidak pernah malu dengan rayuannya, meskipun memang Suamiku tidak merayu dengan rayuan murahan. Tetapi, rayuan-rayuan yang ditujukan kepadaku dengan kata-kata dakwah yang mesra. Malah membuatkan semakin sangat mencintainya.
Rasulullah sangat senang merayu para istrinya. Terbukti, Suamiku pun menerapkannya kepadaku. Dan memang, aku begitu senang dengan rayuannya. Dengan hiburan yang begitu menentramkan hati dan jiwaku. Tidaklah seorang Suami yang membiarkan istrinya tanpa sedikit rayuan kemanjaan kepada istrinya. Kecuali suami itu beku dalam hatinya dan hilang rasa kasih sayangnya. Dan Suami seperti itu sangat dibenci oleh Rasulullah dan para sahabat. Karena wanita itu adalah mahluk yang mulia, maka muliakanlah dengan kemuliaannya. Dan arahkan wanita itu dengan kemuliaan akhlaknya. Ingatkanlah dia jika lupa akan jalan-Nya. Jangan engkau hukum wanita itu dengan balasan hukuman yang tidak setara dengan tindakan kesalahannya. Maka itulah sebenar-benar suami yang mulia. Dan yang memuliakan istrinya. Hingga istrinya pun memuliakan suaminya. Dan suami dan istri itu pun, memuliakan keluarganya. Hingga keluarga itu adalah keluarga mulia dihadapan-Nya. Maka saling memuliakanlah!
Saat kami sedang berjalan. Menikmati indahnya malam penuh bintang dan sinar rembulan. Suamiku menghentikan langkahnya. Suamiku menetapku penuh arti. Tatapan yang tajam tapi penuh kasih sayang. Aku jadi heran dengan apa yang dilakukan suamiku.
“Ada apa, sayang?!” Tanyaku. Dengan membelai lembut pipinya.
Suamiku tetap diam, sambil menatapku penuh rasa sayang. Aku semakin mesra membelaikan lembut tanganku kepipinya.
“Ayo dong, sayang! Ada apa sich? Kenapa Kanda menatap Dinda seperti itu?” Seruku memohon jawaban.
“Nggak ada apa-apa, kok! Ana hanya beruntung mempunyai istri, dinda?” Jawabnya. “Nggak! Bukan Antum yang beruntung, Kanda! Tetapi ana. Ana sudah sangat lama
sekali memandam rasa simpati yang membuahkan cinta. Yang sangat lama. Ana sangat mencintai Kanda!” Ucapk, sambil memeluknya dengan erat. Butiran air mengalir dimataku.
Suamiku mengusap pipiku dengan lembut. “Dinda, sayang. Ana juga sangat mencintai anti dari dulu!” Ucapnya tersenyum. “Sayang, sudah yach! Nggak enak kalau dilihat orang!” lanjutnya.
Seketika itu pun aku langsung melepaskan pelukanku. Sambil menoleh kekiri dan kekanan. Aku malu. Tetapi untung, insya Allah tidak ada yang melihat kami. Karena malam memang ini benar-benar sepi. Kami hanya berteman dengan bulan dan bintang yang bersinar. Dan suara-sauara binatang malam yang menyanyi riang. Kutatap wajah Suamiku. Teduh, dalam balutan kesahajaan seorang ikhwan. Indah sekali. Senyumnya pun merekah indah. Senyuman seorang ikhwan yang sangat mencintai Istrinya. Lembut.
Malam ini begitu menyenangkan. Bersama seorang suami yang sangat menyayangi. Balutan-balutan kasihnya, terus tersedu dalam balutan kelembutan. Wajahnya begitu syahdu memukau diriku. Hingga-hingga rasa hati selalu bertautan dalam balutan kasihnya. Entahlah, apakah ini yang dinamakan cinta? Atau mungkin sebuah peresaan yang memang dan seharusnya dimiliki oleh seorang istri. Perasaan seorang istri yang selalu akan mencintai suaminya. Yang tak segan untuk membicarakan kebaikan suaminya, dan menutup rapat aib suaminya. Hingga pedang menyentuh leher, dan kematian jadi awal kebangkitan. Aib suami tak akan pernah terlepas dari mulut yang membisu, terjaga meskipun dengan taruhan nyawa.
“Hem…. Ternyata kita bertemu disini. Khalid!” Ucap seseorang. Yang berada dikeremangan malam.
Aku terperanjat. Kaget. Mataku memandangi pemilik suara itu. Dendam terdengar dari mulutnya. Siapa dia?
Dari keremangan malam. Muncul enam orang dengan perawakan yang besar-besar. Binar cahaya lampu malam tak seberapa menyinari mereka. Hingga mereka hanya terlihat seperti bayangan hitam. Tetapi saat mereka melangkahkan kakinya. Tepat berada diatas lampu jalan. Sosok-sosok itu terlihat dengan jelas. Terlihat ada rasa benci yang mencokol dihati mereka. Benci yang begitu dahsyat, hingga wajah mereka pun terlihat sangat beringas untuk segera menerjang suamiku. Ada apa ini?
“Aku sudah lama mencarimu. Khalid!” Ucap sosok tak dikenal itu.
Suamiku terlihat bersiap siaga. Sosok yang lembut, kini menjadi singa yang lapar. Wajahnya tersirat kebencian saat melihat sosok enam tubuh yang tidak aku kenal. Tangan suamiku mengepal keras. Matanya menatap tajam kearah sosok-sosok yang tidak aku kenal. Ada kebencian yang mendalam, dihati suamiku. Kebencian yang terlihat mencuat bagaikan Khalid bin Walid yang siap untuk berperang. Menantang sikap-sikap bengis yang congkak dengan kesombongan.
Enam orang itu mendakati kami berdua. Dengan senyuman yang menjijikkan. Mereka bagaikan iblis-iblis yang lapar untuk memakan orang. Iblis-iblis laknat yang berambisi untuk memaksa orang masuk kedalam neraka jahanam. Jelas sekali, dendam mereka membara dalam balutan kekuatan iblis yang mencengram tubuh mereka. Wajah-wajah bengis itu semakin lama semakin mendekat.
Dengan sigap, Suamiku menggandeng tanganku erat. Terlihat mengisyaratkan agar aku dibelakangnya. “Dinda. Nanti Dinda harus lari! Ana akan hadapi mereka.” Bisiknya lirih.
Aku menggelengkan kepala. “Kanda. Ana nggak akan meninggalkan Kanda sekarang!” bisikku lirih.
“Harus. Anti harus meninggalkan ana nanti! Ini permintaan ana.” Bisiknya lirih sambil mencengkeram tanganku. Ada kekhawatiran yang mendalam saat dia menatapku. Matanya terlihat mengharapkan aku untuk lari.
Aku tetap menggelengkan kepala, menatapnya khawatir. Biarkan, aku disisimu
Kanda! Bisikku lirih dalam hati.
“HAI! Khalid. Kamu sembunyikan dimana gadis itu?” Bentak orang itu.
Wajah suamiku terlihat bingung dengan pertanyaan sosok yang tidak aku kenal itu. “Apa maksudmu, Efendi!” Ucapnya.
“Hah…! Berlagak, nggak tahu lagi.” Bentak sosok yang tidak aku kenal itu. “Kepung, mereka! Jangan lupa, ambil gadisnya! Hahaa…” Perintahnya dengan bengis.
Jantungku pun berdegup kencang. Pertarungan pun tak terelakkan. Suamiku bersiaga penuh, dengan sikapnya tak kalah gagahnya dengan sosok Khalid bin Walid yang sesungguhnya. Wajahnya garang bagaikan akan melumat para sosok yang tidak dikenal itu. Tangannya mengepal, dengan kesigapannya.
Spontan. Seorang yang berada dibelakangku, menyerangku. Aku bingung, tak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Suamiku langsung menerjangnya dengan tendangannya.
“BUUKKK....”
Seketika itu pun, orang itu terjungkal kebelakang. Seorang yang lainnya, menyerang
Suamiku dengan pukulan. Tetapi, dengan mudahnya Suamiku langsung mematahkan
serangannya. Dibalasnya dengan pukulan yang membuat hidung orang itu patah. Selintas darah para penjahat itu memuncar dari hidungnya. Dia, berteriak kesakitan. Dengan sigap, kembali suamiku langsung menyerang seseorang yang berada disampingku. Tendangan dan pukulan Suamiku, membuata para penjahat itu terjungkal.
“Sayang…! Lari….. cepat!” Teriak Suamiku. Keras.
Aku pun spontan langsung berlari. Tetapi, seorang penjahat terlihat akan memegang lenganku. Aku takut. “BUKK....” Tendangan Suamiku, menerjang penjahat yang akan memegangku.
“Jangan pernah menyentuh wanita suci ini dengan tangan kafirmu!” Ucap Suamiku. Dengan tatapan tajam, penuh kemurkaan.
Aku pun dengan mudah berlari meloloskan diri. Langkahku sedikit terhenti, melihat Suami berjuang sendiri. Aku ingin kembali, tetapi aku malah takut nanti malah tambah menyusahkannya. Tetapi tekadku sudah bulat, langkahku pun kembali menuju arena pertempuran.
“SAYANG LARI, INI PERINTAH!” Teriak keras Suamiku.
Aku takut. Aku takut terjadi apa-apa terhadap Suamiku. Tetapi aku juga tidak boleh melanggar perintah Suamiku. Lariku sudah menjauh dari arena pertempuran. Aku hanya bisa melihat, dari jauh perjuangan dalam pertarungan yang dilakukan oleh Suamiku. Sungguh benar-benar hebat. Suamiku dengan mudahnya menghajar para penjahat-penjahat itu. Para penjahat-penjahat itu terlihat sangat kewalahan dalam menghadapi tentara Allah yang satu ini. Suamiku. Aku benar-benar tidak salah pilih. Seorang mujahid yang telah lama aku nanti. Memang benar-benar mujahid sejati. Gerakan-gerakan beladiri Suamiku. Menerjang dan bagaikan menerkam para penjahat-penjahat itu. Tetapi, aku teringat dengan Dewi dan Nova. Ha! iya, bagaimana keadaan mereka? Tanyaku dalam hati.
Aku pun langsung berlari. Selintas aku tidak ingin meninggalkan Suamiku. Allah pasti melindungi para mujahidnya yang satu ini! Ucapku dalam hati. Dan langsung, aku pun berlari. Memanggil taksi yang melintas. Dan langsung pergi meninggalkan arena pertempuran. Ada seseorang yang lebih patut aku lindungi saat ini. Yaitu Dewi dan Nova. Taksi pun langsung melaju kencang. Malam tidak menghambatku dalam jalanku yang akan terus melaju. Perasaan khawatir pun sedikit hinggap pada diriku. Mengkhawatirkan mujahidku yang sedang bertempur saat ini. Rasa takut terus hinggap dalam batin yang meronta akan terjadi sesuatu yang buruk jika menimpa Suamiku. Segera, aku langsung menelephon polisi. Memberitahukan keberadaan Suamiku yang sedang dikeroyok oleh penjahat-penjahat bengis yang berwajah congkak dengan kesombongan.
***
“Far, itu mungkin Efendi. Seseorang yang ditugasi Papaku untuk mencariku! Karena hanya Efendi yang mengenal Khalid. Dan tahu kalau Khalid juga mengenalku.” Ucap Nova. Serius.
“Jadi, bagaimana sekarang?” Ucap Dewi.
“Hem. Kalau begitu, kita disini saja sekarang. Sambil melihat-lihat kondisi dahulu! Jika keadaan sudah aman, baru kita bisa keluar dari Villa ini!”
“Iya. Tetapi, bagaimana kondisi Mas Khalid gimana Mbak?” Tanya Dewi. Terlihat khawatir.
“Iya. Ana juga nggak tahu! Ana takut terjadi apa-apa dengannya!” Aku bingung. “Kalau gitu. Gimana jika Farah telephon rumah saja?” Usul Nova.
“Nggak. Kalau bisa, kita disini benar-benar harus merahasiakannya dari siapapun! Selama persoalan belum tuntas benar!” Jawabku. Sedikit aku menghela nafas. “Oh iya. Aku beritahu Abi aja! Beliau kan sudah tahu masalah ini!” Bergegas aku langsung mengambil Telephon. Dan menelephon, Abi. Memberitahukan kondisiku saat ini baik-baik saja. Aku pun, tak lupa untuk menanyakan kondisi Suamiku.
“Assalamualaikum!” Salamku.
“Walaikumsalam. Zah?” Ucap Abi. Terlihat gembira, dan khawatir. “Iya Bi. Ini Zah!” jawabku.
“Zah. sekarang dimana? Keadaan Zah, bagaimana?”
“Bi. Zah ada di Villa kita. Keadaan Zah baik-baik saja. Keadaan Mas Khalid gimana
Bi?” Balikku bertanya.
“Zah. Khalid tertusuk dibagian punggungnya!” “HA!” Aku kaget.
“Zah. Tenang! Sekarang sudah baik-baik saja. Hanya belum sadarkan diri!”
Badanku terasa lemas. Lututku terasa lunglai, berat sekali untuk menahan beban tubuhku. Setelah mendengar Suamiku tertusuk. Semua ini salahku! Kenapa aku meninggalkannya! Kenapa aku meninggalkan Suamiku dimedan pertempuran itu! Semua itu salahku. Memang salahku!
“Zah. Dengar Abi. Khalid sudah tidak apa-apa! Hanya belum sadarkan diri saja. Anti harus kuat! Ingat, anti harus kuat!” Ucap Abi. Mengulangi ucapannya. Seraya memberikan semangat kepadaku.
“Bi. Zah takut!”
“Zah. Abi tidak ingin, Zah larut dalam ketakutan itu! Ingat, Zah adalah mujahidah. Seorang mujahidah tidak boleh takut atau bahkan menyerah dengan ujian yang
diberikan oleh Allah! Zah, harus ingat itu! Sekarang, rencana Zah apa?” Ucap Abi dengan bijaksana.
“Sebenarnya, Zah ingin disini dulu. Sambil melihat-lihat kondisi! Tetapi, kayaknya
Zah harus menemani Mas Khalid dirumah sakit!” Kataku, khawatir.
“Zah. Tetap pada rencana anti! Khalid sudah tidak apa-apa. Biar Abi dan Ummi yang menjaganya. Lanjutkan rencana anti! Insya Allah. Jundi-jundi Allah telah siap untuk selalu melindungi anti!” ucap Abi. Tegas.
“Baik. Bi! Bi, Zah ingin beli mobil disini! Untuk kendaraan Zah dan teman-teman” Ucapku pasrah.
“Zah, silakan beli mobil! Tapi ingat yah, sekarang. Zah, harus lebih berhati-hati dengan orang. Ingat!”
“Iya, Bi! Sudah ya Bi! Zah mau istirahat dahulu.”
“Hem. Iya, ingat jaga kondisi. Jangan sampai Zah sakit! Udah, ya. Assalamualaikum!” Ucap Abi.
“Walaikumsalam!” Ucapku.
***
Taruna ini memang cocok untuk kendaraan pengintai. Tidak percuma aku membelinya. Bodynya pun, pas untuk melakukan pengintaian diwilayah-wilayah yang rawan. 1 milyar bukan uang yang sedikit untuk mobil Taruna ini. Dilengkapi dengan kaca Hitam anti peluru serta bercat hitam dan bodynya pun, bagaikan tank tempur yang tak akan hancur meskipun dibom sekalipun. Dilengkapi senjata listrik yang bisa mematikan mesin mobil. Dan komputer yang secara otomatis dapat mengetahui jumlah orang yang berada dimobil ataupun dirumah, dengan sensor inframerahnya yang bisa menembus tembok dan baja sekalipun. Sungguh kendaraan safety yang lumayan mahal. Aku memesan kendaraan ini, hanya untuk perlindungan diri. Dan tidak dijual bebas dinegeri ini. Biasanya, kendaraan seperti ini dipakai oleh karyawan Bank yang akan menyetor atau mengambil uang. Atau pun para bos-bos besar yang banyak duit.
Terasa lucu juga. Aku mengintai seseorang, yang malah bukan musuhku. Tetapi, mengintai suamiku yang sedang dilanda gundah yang mendalam. Aku ingin melihat seberapa besar rasa gundah itu. Seberapa besar rasa cintanya kepadaku. Apakah rasa kasih sayang dan gundahnya kepadaku, lebih besar daripada cintanya kepada Sang pemilik kehidupan. Jikalau itu yang terjadi, maka aku akan bersedia melepaskan Suamiku. Lebih baik, aku meninggalkannya. Daripada aku menjadi beban ujian yang berat baginya. Tetapi, jika sebaliknya. Aku tidak akan pernah mau meninggalkannya. Karena sesungguhnya, rasa cinta yang terpatri kepada Sang Maha Pecinta. Tidak akan pernah habis dimakan usia. Tetapi, jika seorang mencintai bukan karena Sang Maha Pecinta. Lambat laun, cintanya akan habis termakan oleh usia yang mengerutkan kulit-kulit ini.
Memang suamiku terlihat begitu sangat gundah. Tetapi aku sangat bersyukur. Rasa cintanya masih lebih besar dalam cintanya kepada-Nya. Hingga aku benar-benar sangat mencintainya. Uhibbuka fillah yaa Akhi! Bisikku lirih dalam hati. Saat melihat Suamiku berjalan kearahku. Tetapi, dia tidak akan mengira kalau aku berada didepannya. Aku terus mengintainya. Intaian dalam rasa kasih sayang yang mendalam. Intaian yang menginginkan ketidak ada rasa kekhawatiran. Itulah intinya.
Saat-saat berat bagi suamiku. Menjadikanku lebih belajar tentang rasa cinta. Menjadikanku lebih dewasa dalam urusannya. Dan menjadikanku lebih paham dengan permasalah-permasalahan yang akan menjadikan aku lebih paham dan dewasa. Dalam mengambil segala keputusan. Bukan bermaksud aku menginginkan kekhawatiran suamiku saat aku meninggalkannya sekarang. Apalagi bermaksud menentang perintahnya. Tidak, sama sekali tidak ada pikiran itu dalam hatiku. Aku akan setia melakukan perintah-perintah Suamiku. Bahkan jika aku harus mati untuk melaksanakan perintah Suamiku. Aku bersedia. Tetapi, untuk saat ini. Biarlah aku yang menyelesaikan masalahku yang sudah ada sebelum Suamiku berada di sisiku. Aku tidak mau merepotkannya. Aku tidak mau membuat dia semakin banyak permasalahan, karena permasalahan yang sangat rumit ini. Afwan ya Akhi! Maafkan aku Kanda!”
Setelah melihat-lihat kondisi Suamiku. Aku langsung kembali ketempat persembunyian. Tempat yang tenang dalam pengasingan. Tempat yang indah dalam hiasan lukisan Sang Maha Pembuat kehidupan. Yang mengada-adakan keindahan sebelum ada. Dan yang akan membuatku selalu berucap dan berdecak kagum tentang keindahan panorama alam yang telah dibuat-Nya.
***
“Hem. Boring juga nih disini terus! Ukh, kita ke Taman Dayu yuk?” Ajakku. Kepada Nova dan Dewi. Selama enam bulan, Nova sudah tertempa dalam balutan bingkai Islam. Kini, Nova kembali menjadi seorang wanita yang suci. Dengan balutan jilbab yang menutup rapat tubuhnya. Menutup segala apa-apa yang memang harus ditutupinya. Hingga terlihat bagai sebuah mutiara yang terbungkus kuat dan rapat dari karang penutupnya. Hingga nanti, mutiara itu hanya untuk seorang yang berhak menerimanya. Suaminya.
“Kayaknya, ide bagus tuh Mbak! Ana juga agak bosen disini terus” Jawab Dewi. “Tapi, Ukh! Apakah aman, saat kita berada diluar rumah?” Tanya Nova, terlihat
khawatir.
“Yah, memang nggak aman Ukh! Tapi, bosen juga disini terus!” Ucapku. “Mbak. Mana ada sih tempat yang aman didunia ini?” Ujar Dewi.
“Iya. Biarkan Allah yang melindungi kita! Dan kita tetap waspada, meskipun dengan kebahagian saat kita berada diluar!” Ucapku.
“Iya. Terserah kalian lah!” Jawab Nova. Terlihat ada yang mengganjal dihatinya.
“Ukhti, anti kenapa?” Tanyaku. Dengan memegang tangan Nova.
“Nggak tahu, hari ini ana kayaknya khawatir banget! Sepertinya akan ada kejadian yang akan menimpa kita” Jawab Nova, dengan tertunduk lesu.
“Santai aja, Ukh! Serahkan semuanya kepada Allah. Insya Allah, pasti akan terselesaikan dengan baik. Ok!” Ucapku. Menghiburnya.
Nova haya mengangguk, dan tersenyum. Tetapi, masih terlihat tersimpan aral yang menggajal dihatinya.
Kami pun bertiga berangkat ke Taman Dayu. Tempat pariwisata yang berada didekat Villa. Suasana pegunungan yang sejuk, dan ditambah rindangnya pepohonan. Membuat suasana menjadi begitu nyaman. Sejenak, keberkahan dalam keindahan suasana Taman. Menjadikan kami lupa dengan peristiwa-peristiwa yang membuat luka. Kami benar-benar menikmati kesejukan dan kenikmatan dalam suasana yang diberikan Allah kepada wilayah ini. Tadabbur kami, seraya membuat kami memang sangat kecil dihadapan-Nya. Luka-luka yang tergores dalam ujian yang kami hadapi. bagaikan musnah ditelan keindahan alam ini. Sungguh besar keagungan yang telah diciptakan-Nya. Maha Agung yang begitu dahsyat dalam membuat alam ciptaan-Nya. Tiada yang patut untuk dinafikkan dalam seluruh keindahan alam ini. Kecuali, manusia yang tidak mempunyai jiwa-jiwa tautan antara Rabbani dan hatinya.
Udara yang segar, dingin dan bersih. Dambaan bagi setiap manusia yang ingin menghirupnya. Aku, Dewi dan Nova. Berjalan-jalan, menyusuri beberapa bukit yang menjulang. Kami terus berjalan bersama hawa dingin yang menyejukkan. Sering kali aku merapatkan jaketku, karena hawa dingin yang menyengat tubuh. Banyak para orang tua yang membawa anak-anaknya berlibur ditaman ini. Anak-anak itu riang dalam permainan mereka. Mereka mempunyai dunia mereka sendiri. Mempunyai rasa keindahan pada sisi-sisi pikir mereka. Sungguh suci jiwa-jiwa mereka. Yang masih belum tahu sisi kekotoran dunia. Mereka masih menegakkan kebenaran dalam bingkai keluguan. Anak-anak itu mempunyai kemampuan dalam menikmati kebenaran. Menikmati indahnya dunia dengan tidak adanya kebohongan. Jiwa-jiwa yang menjadikan mereka masih tetap berpegang dalam bingkai hati kebenaran dalam keadilan. Nikmat benar, mahluk yang disebut anak-anak itu.
Beberapa kali terlihat pedagang asongan yang menjualkan barang dagangannya. Makanan, mainan, cinderamata menjadi barang dagangan yang dipasarkan oleh pedagang asongan ditaman wisata ini. Ada yang memakai gerobak dorong, ada yang dipanggul atau dipikul. Perjuangan yang sangat berat untuk menghidupi diri mereka sendiri dan keluarganya. Tetapi, para pedagang itu tetap terlihat begitu bersemangat. Ditolaknya dagangan mereka, bukan berarti mereka harus menyerah begitu saja. Tetapi, mereka dengan cepat menawarkan barang-barang kepada calon pembeli yang lainnya. Ada semangat yang luar biasa didiri mereka. Semangat untuk hidup dalam perjuangannya, dapat kita ambil contoh. Mereka pun terlihat tidak berputus asa dengan dagangannya. Yang terlihat malahan semangat yang menggebu-gebu. Seraya motto Pantang menyerah dalam susah yang berkepanjangan. Menjadi pola hidup para pedagan asongan itu. Merupakan semangat yang sangat luar biasa. Patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi, saat-saat kami sedang berjalan-jalan. Menikmati keindahan alam. Nova, memegang tanganku dengan erat.
“Ukh. Itukan Efendi!” Ucapnya, seraya menunjukkan seseorang yang sedang berjalan kearah kami.
“HA! Benar dia, Efendi. Lari Ukh!” Ucapku, saat melihatnya.
Seketika itu pun kami bertiga berlari kearah mobil. Saat-saat kami berlari, ternyata banyak orang yang ingin mengejar kami. Ada beberapa orang yang berjas hitam dan berdasi bercorak cerah berwarna putih pun, mengejar kami. Pakaian mereka sangat rapi sekali. Mereka seperti orang-orang yang mengejar kami saat di tol. Kami pun akhirnya berlari sekuat tenaga kami. Jarak antara mobil dan kami ternyata masih jauh. Dari arah depan pun, ada seseorang yang sudah menghadang.
“UKH, BELOK KIRI!” Teriakku. Yang disitu terlihat ada jalan setapak kecil, kearah hutan.
Dengan cepat kami bertiga berlari kedalam hutan.
“KITA BERPENCAR!” Teriakku. Karena dengan berpencar mereka akan bingung untuk menangkap kami. Pikirku.
Akhirnya kami pun berpencar saat berlari kedalam hutan. Entahlah, aku tidak tahu ini daerah mana. Pokoknya aku harus lari dan selamat dari kejaran para penjahat itu. Aku pun terus masuk kedalam lebatnya hutan. Semakin kedalam, hingga aku sendiri tidak tahu arah yang benar. Beberapa orang masih terus mengejarku. Dan tak pelak, mereka pun berani menembakkan pistolnya saat didalam hutan. Untung saja, peluru-peluru itu hanya mengenai pohon-pohon jati yang menjulang tinggi. Kakiku sudah semakin berat untuk melangkah, jalan yang menanjak serasa membuatku berat untuk terus berlari. Sebuah pohon besar pun menjadi pilihan tempat persembunyian. Dengan terus berdzikir, aku mencoba untuk bersembunyi dibalik pohon besar. Terdengar suara seseorang yang berlari. Segera saja aku langsung menyembunyikan diri. Para penjahat itu, sejenak mereka berhenti. Dengan jantung yang berdegup tak beraturan. Aku beranikan diri untuk mengintip dari celah-celah pohon jati. Para penjahat itu terlihat mencariku. Tak lama mereka pun pergi, setelah mereka tidak mengetahui keberadaanku. Alhamdulillah!
Saat aku akan keluar dari pohon Jati.
“Mau kemana, kamu?” Ucap seseorang yang sudah berada didepanku. Dengan memegang pistolnya.
“Apa mau kalian?” Ucapku.
“Aku hanya menginginkan data-data itu! CEPAT SERAHKAN.” Bentaknya.
Aku bingung. Hem, ini kesempatanku. Aku akan bohongi dia! Pikirku dalam hati. Aku harus bisa keluar dari hutan dan sergapan para penjahat itu dulu. “Baik. Tetapi aku harus mengambilnya dimobil dulu!” Jawabku.
“Baik. Ayo cepat!” Perintahnya.
Aku dan penjahat itu berjalan menuju mobil. Ternyata lariku memang sangat jauh dari wilayah tempat wisata. Saat aku berjalan, terasa sangat jauh dari tempat wisata.
***
Dewi dan Nova pun, ternyata sudah tertangkap oleh penjahat-penjahat itu. Setelah kami menghampiri mereka. Tetapi tidak lama, Efendi datang dengan beberapa anak buahnya.
“HAI! SERAHKAN MEREKA KEPADA KAMI” Teriak Efendi. Garang. “SIAPA KAMU?” Teriak penjahat itupun. Tidak kalah kerasnya.
“Tidak perlu kau tahu siapa aku. Pokoknya serahkan mereka kepada kami!” Jawab
Efendi.
“Kalian mau cari perkara dengan kami?” Sergah para penjahat itu. Dengan mengarahkan pistolnya kearah Efendi.
“Hem. Kalian kira kami takut kepada kalian!” Ucap Efendi dengan congkaknya. Dengan mengeluarkan pistol dan mengarahkanya kepada para penjahat itu.
Segerombolan penjahat-penajahat dan gerombolan Efendi. Saling menodongkan pistonya. Mereka ternyata tidak saling mengenal. Sekilas mereka diam. Mereka saling melotot satu sama lainnya.
”Baik! Kalau itu mau kalian. Kami akan melepaskan wanita-wanita ini!” Ucap. Salah satu penjahat.
Efendi tersenyum atas kemenangannya. “Begitu, memang lebih baik!” Ucap Efendi. Akhirnya penjahat itu pun meninggalkan kami. Dan sekarang, Efendi yang memegang
kekuasannya.
“Dasar, wanita-wanita binal! Berani-berani kalian melawan kami.” Ucap Efendi dengan sombongnya.
Kami bertiga masih terdiam. Terpaku dalam dzikir kami masing-masing. Bermunajat dan memohon pertolongan kepada Allah.
“Sudah Bos, kita bunuh mereka disini!” Ucap anak buah Efendi.
“Enak saja, dibunuh! Setelah kita susah mendapatkannya, lalu kita langsung membunuhnya? Sebaiknya, kita nikmati tubuh wanita ini satu persatu. Baru kita bunuh!” Ucap anak buah Efendi yang lainnya.
“Iya, benar!” Ucap Efendi. Dengan senyuman yang menjijikkan.
Masya Allah! Yaa Allah tolong kami. Dengan erat, kami bertiga berpegangan tangan. Walau pun nyawa melayang, ruh kembali kepada Ilahi. Asal kita hidup dalam keadaan suci, lebih baik kita mati pula dengan keadaan suci! Tekadku dalam hati.
Para anak buah Efendi memegangi kami. Mereka ingin mendapatkan sesuatu yang kami miliki. Tetapi, aku tidak akan pernah tinggal diam untuk menjaganya. Selamanya. Karena itu adalah milik Allah. Maka harus diberikan kepada mahluk yang diridhoi oleh Allah. Kami bertiga pun berontak, tetapi. Apalah daya, tubuh seorang wanita. Dipegangi oleh tangan-tangan kuat dalam kebengisan dan kehinaan. Tangan- tangan kotor yang menjijikkan. YAA ALLAH, TOLONG KAMI!
“DOR.... DOOR...DOOORR!” Terdengar rentetan tembakan.
Anak buah Efendi pun, limbung dan berjatuhan. Mereka terkena peluru-peluru yang telah dimuntahkan. Efendi terlihat ketakutan. Semua anak buahnya berjatuhan. Kini tinggal Efendi yang terpaku sendiri. Dia tidak berani lari. Karena, ternyata para penjahat itu tidak dengan mudahnya melepaskan kami dari tangan Efendi.
“Hei. Bagaimana? Masih mau melawan kami!” Ucap Seorang penjahat itu. Dengan menenteng senapan M16 ditangannya. Lalu menodongkan, tepat dikepala Efendi.
Efendi sangat ketakutan. Pistol yang berada ditangannya pun, dijatuhkan. Seraya dia menyerah dan menundukkan kepalanya. “Iya. Ampun-ampun! Saya menyerah. Jangan bunuh saya!”
“Hahaha.... dasar pengecut! Kami kira, kalian adalah para profesional. Ternyata, kalian hanya amatiran!” Ucap Penjahat itu. Sambil tetap menodongkan senjatanya kearah kepala Efendi.
Efendi hanya bisa meminta ampun. “Saya menyerah! Ampuni saya!” Ucap Efendi. Mengemis dalam keinginannya untuk diampuni.
“Kami akan melepaskanmu!” Ucap penjahat itu.
“Iya, terima kasih. Saya akan menyerahkan ketiga wanita binal itu kepada kalian!” Ucap Efendi, dengan mulut bisanya.
Penjahat itu tersenyum. “Terima kasih! Saya akan melepaskanmu sekarang.” Ucap
Penjahat itu. Efendi tersenyum. “DOOORR....”
Efendi pun jatuh. Badannya sudah tak bernyawa. Wajahnya mati dalam ekspresi yang menakutkan. Efendi ditembak tepat dikepalanya.
“Aku sudah melepaskanmu! Hahahaa....” Ujar penjahat itu. “Sekarang. Serahkan data-data itu!” Penjahat itu kini menodongkan senjatanya kearah kami.
“Kami tidak mempunyai data-data itu!” Ucap Dewi ketakutan.
“Hem. Jadi kalian membohongi kami yah!” Sergah penjahat yang lainnya.
“Sudah. Kita bunuh saja mereka sekarang!” Ucap penjahat yang menodongkan senjatanya kepada kami.
Lebih baik kematian, yang memberikan kesyahidan. Daripada harus terenggut kesucian kami sebagai seorang wanita yang dimuliakan-Nya.
“Sreett..... Srupp..” Sebuah pisau. Menancap tepat berada di jantung penjahat yang menodongkan senjatanya kepadaku.
“AH!..... Awas ada yang menyerang kita.” Ucap penjahat itu. Yang langsung limbung, dan terjatuh.
Seketika itu pun. Para penjahat-penjahat itu menghujamkan rentetan tembakan yang membabi buta. Mereka tidak mengetahui seseorang yang menyerang mereka. Satu lagi, seorang penjahat jatuh terkena lemparan pisau. Tepat dijantungnya. Seakan- akan, seorang pelempar itu sangat ahli sekali melemparkan pisau.
“Sudah bunuh saja wanita itu. Cepat!” Perintah seorang penjahat yang berkacamata hitam.
Dengan cepat salah satu penjahat mengarahkan M16nya kepada kami.
Tetapi, sebuah belati tertancap tepat berada di tangan penjahat yang akan menembak kami. Tepat berada diurat jari-jemari penjahat itu. Sehingga penjahat itu pun tidak bisa menembakkan senjatanya kepada kami.
Lalu, munculullah lima orang. Dari belakang para penjahat-penjahat itu. Dengan cepat lima orang yang tidak dikenal itu menyerang para penjahat dengan cepat. Para penjahat itupun terkaget, hingga mereka tidak menyadari kalau senjata mereka sudah tidak berpeluru lagi. Para orang-orang tidak dikenal itu pun, menyerang dengan sangat cepat. Gerakan mereka bagaikan sekumpulan orang-orang yang sudah terlatih. Para penjahat itu dengan mudah diterjang oleh hujaman serangan para orang- orang yang tidak kami kenal. Serangan itu sangat cepat sekali. Para orang-orang tidak dikenal itu bagaikan sekumpulan tentara-tentara yang bertempur dimedan laga. Jiwa kesatria mereka muncul dengan dahsyatnya serangan mereka.
Akhirnya para penjahat dan orang yang tidak dikenal itu pun bertarung dengan sengit. Hingga-hingga dengan cepat orang-orang yang tidak dikenal itu dapat mematahkan serangan para penjahat itu. Sergapan orang-orang yang tidak dikenal itupun bisa melupuhkan para penjahat dengan serangannya. Para orang-orang tidak dikenal itu sangat ganas dalam penyerangannya. Wajah-wajah mereka bagaikan menantang maut yang akan menimpanya. Tetapi mereka tidak takut sama sekali.
Setelah orang-orang tidak dikenal itu dapat melumpuhkan para penjahat. Salah satu orang tidak dikenal, datang kepada kami.
“Ukhti. Jangan takut. Allah beserta kita! Allah beserta orang-orang yang berjuang dalam agamnya! Kami adalah Jundi-jundi Allah.” Ucapnya. Seraya teduh dalam pandangannya.
Benar-benar hebat. Mereka garang menghadapi kezhaliman. Tetapi, mereka akan sangat berkasih sayang dengan saudara seimannya. Itulah, para jundi-jundi Allah.
“Syukron!” Ucapku.
Akhirnya kami pun diantar untuk langsung menuju mobil. Dengan pengawalan seorang jundi-jundi Allah. Sungguh benar-benar pertolongan yang diberikan oleh Allah benar-benar nyata. Benar-benar membuat kita akan teringat akan janji-janji Allah. Sungguh, Allah tidak akan pernah lupa dengan janji-janjinya. Janji untuk menolong para mujahid dan mujahidah Allah yang berjuang dalam menegakkan agamannya.
Jilid 16
Setelah kejadian itu. Semua pun terungkap. Para penjahat itu mengakui kalau mereka adalah suruhan orang-orang dari perusahan tempat kerja Papanya Dewi. Untuk mencuri data-data perusahaan yang sebenarnya. Rencana kejahatan mereka akhirnya terungkap. Beberapa direksi yang tersangkut dengan kasus korupsi diperusahaan tempat kerja Papanya Dewi. Ditahan dengan beberapa bukti yang sudah ditemukan oleh para polisi. Dewi pun, akhirnya bisa kembali kekeluarganya.
Semua masalah sudah terselesaikan. Tinggal kini Nova. Seorang Akhwat yang telah belajar banyak tentang keindahan Islam. Harus hidup sendirian jika aku meninggalkannya. Jikalau Dewi mempunyai keluarga dan masalah. Tetapi, Nova mempunyai masalah tanpa keluarga yang akan melindunginya.
“Sekarang, anti bagaimana?” Tanyaku kepada Nova.
“Entahlah Ukh! Ana sudah tidak mempunyai siapa-siapa sekarang!” Ucapnya. Sekilas wajahnya terlihat haru, air matanya berlinang dalam beberapa tetes yang berjatuhan.
Aku pegang erat tangannya. “Ukh. Apakah anti menyesal mengikuti Islam?” Tanyaku.
Nova menatapku. Matanya terlihat tajam, dalam linangan air mata yang berjatuhan. “Ana tidak akan pernah menyesal. Bahkan, ana sangat bersyukur mengikuti Islam! Tetapi, keluarga ana masih bergelimang dengan kekafiran. Ana takut mereka akan memasuki neraka jahanam!” Ucapnya. Dengan nafas yang sesenggukkan karena tangisnya.
“Ukh. Anti tidak usah khawatir. Karena ini sesungguhnya takdir Allah! Berdoalah Ukh, agar keluarga anti diberi hidayah oleh Allah! Ukhti, sesungguhnya rasa kebersaudaraan Islam sangatlah erat. Ana adalah keluarga anti!” Ucapku, sambil memegang tangannya.
“Terima kasih ya Ukh. Atas semuanya!” Ucap Nova. Sambil memelukku.
Kami pun akhirnya berderai dengan tangisan. Dalam pelukan saudara yang mengagungkan. Agung kerana kami menganggunkan keagungan-Nya.
“Ukh. Anti ikut ana yah, nanti!” Pintaku kepada Nova. Mengajak menjadi bagian dari keluargaku.
“Apa ana, tidak merepotkan anti?”
“Ana tidak akan pernah merasa direpotkan. Justru ana beruntung, beruntung dengan mempunyai seorang saudara mujahidah yang lainnya!”
“Tapi, Suami anti. Bagaimana?”
“Insya Allah, Suami ana akan senang menerima anti!”
Nova terlihat berfikir. Memikirkan tawaran yang aku ajukan.
“Ukhti. Sudahlah, anti tidak usah berfikir lagi! Pokoknya Anti ikut dengan ana.” Pintaku sedikit memerintah.
Nova hanya mengangguk. Dan senyum dalam derai tangisnya pun mengembang. “Syukron, yaa Ukhti!”” Ucapnya, lirih.
Aku tersenyum dengan ucapan tulusnya.
Akhirnya Nova bersedia untuk ikut denganku. Ikut dengan keluarga barunya. Keluarga yang menjadikan dia sebagai seorang manusia. Seorang hamba Allah yang akan istiqomah dalam jalan-Nya. Menjalani semua yang digariskan dalam aturan- Nya. Menjadikan kenikmatan dalam ibadah yang tiada henti. Menjadikan ibadah adalah kebutuhan. Kebutuhan yang menjadikan terus-menerus rindu dalam balutan kasih sayang-Nya. Indah dan nikmat dalam tindakan yang akan selalu diridhoi-Nya.
Besok aku akan membawa Nova. Nova akan menjadi keluarga baru bagiku. Seorang yang harus aku lindungi dalam kesukarannya. Dan seorang yang harus aku gembirakan dalam kesusahannya. Dan seorang yang harus aku sayangi saat kebahagiaannya. Semua itu harus aku lakukan, karena Nova kini menjadi saudaraku. Bahkan jika aku harus membagi cintaku kepadanya. Membagi kasih sayang Suamiku bersamanya. Aku siap melakukan itu. Iya benar! Kenapa tidak aku jadikan saja Nova menjadi adikku. Menjadi seorang istri dari suamiku! Itu malah lebih baik. Pasti Nova aku lebih terlindungi. Selama ini aku merasakan kasih sayang teramat dalam yang diberikan oleh Suamiku. Kini aku harus rela membaginya. Membagi dengan saudaraku sendiri. Selintas pikirku.
Tapi? Apakah aku mampu membagi kasih sayang Suamiku dengan wanita lain! Apakah aku bisa bertahan dengan seorang yang membagi cintanya? Apakah aku mampu? Selintas onak pikirku pun mengembang datang dengan tak diundang. Tetapi, aku harus mampu. Aku harus mau dan bersedia membagi cinta Suamiku. Demi saudaraku! Demi seorang akhwat yang memang membutuhkan rasa kasih sayang dan perlindungan. Demi membagi kebahagian dengan saudara dalam naungan kesatuan Islam! Aku harus merelakan cinta Suamiku, untuk dibagi. Aku harus mau, toh Suamiku pun telah membagi cintanya. Dan aku tidak pernah cemburu. Malah aku semakin bertambah mencitainya. Aku kan, tidak mencintai Suamiku dalam wujudnya! Aku mencintai Suamiku karena-Nya! Lalu, kenapa aku mesti berat untuk membagi cintanya lagi. Jikalau cinta Suamiku karena Sang Maha Pecinta. Maka aku tidak perlu khawatir jika Suamiku tidak mencitaiku. Karena sudah jelas-jelas, pasti Suamiku akan terus mencitaiku. Karena sesungguhnya cinta Suamiku, adalah karena-Nya! Dan aku mencitai Suamiku pun, karena-Nya! Jika Suamiku mencitai aku karena Allah, aku pun demikian. Aku mencintai Suamiku pun, karena Allah. Dan aku mencintai Nova pun karena Allah. Lalu kenapa aku harus berberat diri untuk membagi cinta Suamiku. Cinta kami kan karena Allah, dan cinta Nova pun. Pasti karena Allah! Lalu kenapa aku harus tidak rela jika Suamiku bisa membagikan rasa cintanya. Membagikan kasih sayangnya. Yang untuk dibagikan kepada akhwat yang membutuhkan! Aku harus mau! Pikirku kerasa dalam diri.
Dilema dalam hatiku, menyeruak keluar. Rasa segan untuk melepaskan cinta Suamiku begitu kuat. Tetapi, rasa ikhlas pun. Sama kuatnya. Aku bingung dalam penentuan egoisme dan syariat. Penentuan dalam halal dan keegoisan. Semua terpatri dalam pikir yang tak menentu. Semua terajut dalam pikir yang membalutkan kegundahan. Keragu-raguan datang menerpa dalam keyakinan yang begitu dalam. Aku menjadi sangat ragu dalam keputusanku sendiri. Padahal, aku adalah seorang akhwat yang biasa bergelut dengan aturan-aturan Islam. Tetapi, dilema dalam hati berbalut kegoisan diri. Datang mempengaruhi dengan serangan bertubi-tubi untuk menafikkan aturan-aturan Ilahi. Semua begitu cepat.
Pikirku terpatri dalam dua keputusan yang satu sisi membangkitkan gundah dihati. Tapi apakah ada, seorang wanita yang mau dimadu! Ucapku, egois dalam hati. Nova adalah seorang teman, juga saudara yang sudah aku kenal. Tetapi, rasa memilikinya sebagai seorang saudara. Ternyata masih sangat tipis. Ucapan saudara yang selalu aku dengung-dengungkan kepadanya dan umat muslim yang lainnya. Harus tersibak dengan keegoisan diri. Egois karena tidak mau membagi cinta sang Suami. Padahal mungkin, ini adalah ujian dari Allah. Untuk membuktikan rasa keterikatan saudara satu dengan saudara yang lainnya. Ujian untukku, tentang rasa saling berbagi dengan saudara yang lainnya. Perasaan membagi dalam bentuk kasih sayang membagi cinta Suami. Tetapi, bukankah seorang istri yang merelakan suaminya untuk menikah lagi. Tidak lain adalah balasan surga yang akan dijanjikan- Nya! Selama ini, aku melihat perilaku Suamiku sangat adil dalam urusan apapun. Apakah tidak mungkin, jika aku membagi cintanya. Akan memberikan rasa keadilan yang memang benar-benar tercipta. Karena selama ini, yang aku rasakan tentang keadilan Suamiku. Hanya bisa aku rasakan seorang diri, tanpa memberikan takaran yang sesuai dengan rasa adil itu sendiri. Seandainya aku memberikan takaran yang sesuai, dengan mengikhlaskan Suamiku untuk menikahi Nova. Pastilah aku tahu,tentang arti makna keadilan! Aku harus bisa menerima Nova sebagai istri kedua Suamiku. Aku mencintai Suamiku, aku pun mencintai Nova. Aku mencintai keduanya, karena aku mencintai-Nya!
Aku langsung teringat dengan bahwa keputusan ini adalah keputusan yang tidak ringan. Langsung saja aku menelephone Abi.
“Assalamualaikum.” “Walaikumsalam.” Jawab Abi.
“Bi, Zah pengen ngobrol!” Kataku.
“Ada masalah yang penting ya Zah!” Abi terdengar gusar.
“Bi. Zah ingin Mas Khalid menikahi Nova! Boleh nggak Bi?” “HA! Anti serius?” Abi terlihat kaget.
“Iya. Ana sangat serius, ana kasihan dengan kondisi Nova. Ana harus menolongnya!”
Sejenak Abi terdiam. “Hem. Kalau itu memang itu menurut anti terbaik. Abi menyetujui saja.
“Kalau Ummi, gimana Bi?”
“Alhamdulillah Zah memang sudah sangat dewasa sekarang, Ummi meridhoi apa yang memang menjadi keputusan anti. Ummi yakin, anti sudah memikirkannya sangat dalam!” Kata Ummi. Yang ternyata ikut mendengarkan telphoneku.
“Terima kasih, Abi dan Ummi sangat baik dalam mendidik dan membentuk kepribadian Zah! Assalamualaikum” Setalah itu aku langsung menutup telphon.
***
Dalam perjalanan pulang. Aku mencoba mengobrol dengan Nova. Membicarakan tentang niatku. Niat tentang membagi cinta sang Suami. Membagi kasih sayang yang dimiliki Suami. Membagi keadilan yang dimiliki sang Suami. Dan ujian bagi Suamiku, untuk dapat berlaku adil dalam kehidupannya.
“Ukh!” Panggilku ke Nova. “Iya, ada apa Ukh?”
“Boleh ana meminta sesuatu, dari anti?” Kataku, hati-hati.
Nova melihatku. Mata sayu, terasa ada sebuah rasa heran didirinya. “Ukh. Seandainya saja, anti meminta nyawa ana sekarang. Ana akan berikan kepada anti, sekarang juga!” Ucapnya.
“Benarkah, Ukh!”
“Wahai saudaraku, apa yang akan engkau minta dari saudaramu yang dho’if ini?” “Apakah anti benar-benar bersedia menuruti permintaan ana?” Tanyaku, meyakinkan. “Ukhti. Insya Allah, ana siap menuruti apapun yang anti minta!” Tegasnya. “Benarkah!” Ucapku, mencoba meyakinkan kembali.
“Iya, Ukhti! Sebenarnya apa sih yang anti minta dari ana?” Ucap Nova, terlihat tidak sabar.
“Ehm. Ukhti, ana minta anti mau menjadi Istri dari Suami ana!” “HA! Anti jangan bercanda?” Nova terlihat sangat kaget. “Sungguh, ana benar-benar meminta anti!”
Nova membisu. Tiada yang terucap dari bibir indahnya. Matanya menerawang kedepan. Tatapannya kosong.
“Ukhti. Apakah anti tidak mau menuruti permintaan saudara anti sendiri! Atau memang Suami ana tidak pantas untuk anti?” Ucapku sedikit menyesal.
“Bukan-bukan, ana tidak mengatakan itu! Ukhti, apakah anti benar-benar sudah mempertimbangkan hal ini!”
“Ana sudah sangat mempertimbangkan ini! Sungguh sebuah kehormatan yang sangat besar bagi ana. Jika anti mau menerima permintaan ana!”
Nova kembali terdiam. Terselip kebimbangan pada dirinya.
“Ukhti. Sesungguhnya tidak ada maksud apapun dari ana. Ana hanya menginginkan anti untuk menjadi seorang Istri bagi Suami ana, hanya karena ana sangat menyayangi anti! Ana sayang sekali terhadap Suami ana, tetapi ana juga tidak boleh menafikkan bahwa ada seorang akhwat yang perlu perlindungan seorang laki-laki. Seorang Suami yang akan memberikan perlindungan kepada Istrinya! Ana hanya mengenal seorang Ikhwan, yang menurut ana sangat terbaik. Yaitu, Suami ana! Ana rela untuk membagi kasih sayang Suami ana kepada anti. Meskipun ada cemburu dalam diri ana, tetapi ana tidak boleh menjadikan rasa cemburu itu sebagai penghalang ana untuk mencari surga yang akan diberikan oleh Allah! Ana mencinta anti karena Allah. Begitu juga, ana mencintai Suami ana karena Allah! Maka dengan itu, ana ridho untuk membagi kasih sayang Suami ana. Karena cinta kita, adalah karena Allah semata!” Jelasku, pasti. Meskipun sedikit berat dalam hati. Aku sedikit menghela nafas “Apakah anti bersedia, menjadi Istri Suami ana?” Pintaku, lanjut.
“Apakah, ana harus menerima permintaan anti?” Nova terlihat sangat bingung untuk menjawabnya.
“Tidak. Sesungguhnya, anti mempunyai pilihan sendiri. Ana hanya menawarkan sebuah permintaan. Dan mungkin sulit buat untuk menerima hal ini!”
“Ukhti. Seperti apa kata anti! Ana mempunyai pilihan sendiri. Dan jika memang anti tidak keberatan dengan pilihan ana. Ana sangat berterima kasih sekali!” Sejenak, Nova menghela nafas panjang. “Ana memilih, menerima permintaan anti! Sebuah kehormatan besar, yang anti berikan kepada ana. Ana tidak bisa menolaknya. Meskipun nanti, jika suatu saat ada ketidakadilan yang diberikan kepada ana oleh Akhi Khalid! Ana akan menerima dengan keluasan diri ana. Ana siap menerima itu! Tetapi jika ada sebuah ketidakadilan yang diberikan oleh Akhi Khalid kepada Anti, maka ana yang akan langsung menuntut ketidakadilan itu!”
“Insya Allah, Ukh! Ana juga akan menuntut jika ada ketidakadilan yang dilakukan oleh Suami ana kepada anti. Syukron, Ukh!” Kataku, sambil melihat wajah Nova. Ada kesanangan dalam hatiku, tetapi ada sesuatu yang meronta juga dalam batin ini.
Nova hanya mengangguk. Wajahnya seperti menahan rasa haru dan kebahagiaan yang mendalam.
Mobilku terus melaju. Menyibak rona-rona belenggu yang menghampar dari hati. Kalbuku merasa senang dengan keputusan Nova untuk menerima permintaanku. Tetapi, ada rasa lain yang mengganjal dalam hati. Untuk tidak mau menerima.
Ganjalan itu sebenarnya sangat kuat, menjadikan diri begitu egois dalam pandangan syari’at. Tetapi, aku langsung menepisnya. Rasa kebahagiaanku untuk menerima Nova, ternyata lebih aku pilih. Meskipun sangat berat dihati, tetapi kalbu ini menerima dengan keluasan Ilahi. Yaa Allah, aku tunggu Jannah-Mu!
***
Kini aku sudah berada didepan rumahku. Rumah yang menyimpan kenangan indah. Kenangan yang sampai kapanpun tak akan terlupa. Kenangan yang akan melekat dalam jiwa dan kalbu ini. Tetapi, kenangan itu akan membawa kenangan- kenangan yang lainnya. Kenangan itu akan kembali membuat kenangan indah yang lainnya. Menjadikan kenangan yang lebih indah lagi.
Aku langsung memasuki halaman pekarangan depan. Tanpa harus memencet bel terlebih dahulu. Aku ingin memberikan kejutan kepada Suamiku. Aku ingin memasak-masakan yang sudah banyak aku pelajari. Aku tahu, saat ini Suamiku sedang tidak dirumah. Suamiku sedang mengisi kajian di kampus. Ini saatnya aku benar-benar memberikan kejutan kepadanya. Saat dia pulang dengan letih dan capek yang menghampirinya. Maka, dia akan memakan masakan yang sudah aku sediakan. Dan aku akan membelainya mesra, dalam balutan kasih sayang yang teramat dalam. Kehangatan dan kelembutan yang sudah lama tak dia dapatkan. Harus aku bayar saat ini. Aku tidak akan lagi menyembunyikan masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Aku akan selalu berbicara kepadanya tentang masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Tidak akan lagi ada masalah-masalah yang akan aku hadapi sendiri. Karena sesungguhnya, semua masalah dan kebahagiaan. Harus aku berikan kepada seorang yang telah aku pilih dalam mendampingiku. Mendampingi dalam menyelesaikan cobaan dan mendampingi dalam kebahagiaan.
Saat pintu rumah aku bukan. Bi Iyem, terperanjat kaget dengan kemunculanku. “Masya Allah! Mbak Zah. Mbak kemana saja? Mbak sehat-sehat aja kan? Mas Khalid
sangat sedih loh, saat Mbak nggak ada dirumah?.....” “Bi. Udah-udah!” Selaku. Sambil memeluknya.
Selintas, sebuah tangisan luluh dalam pundakku. Derai dalam haru seorang pembantu. Sedikit aku melepaskan pelukanku. Bi Iyem serasa tidak mau melepaskan pelukanku. Ada rasa kangen mendalam pada diri Bi Iyem.
“Bi. Sudah, Zah sudah disini!” Bisikku halus.
Sedikit demi sedikit, Bi Iyem melepaskan pelukannya. Wajahnya terselip kebahagiaan. Matanya berbinar terang.
“Mbak, Bibi kangen Mbak Zah. Rumah jadi sepi, saat Mbak Zah tidak ada! Ummi pergi ke Mesir sama Abi. Mas Khalid, selalu duduk sendirian didepan teras lantai atas! Pokoknya sepi sekali. Tetapi, bacaan Al Qur’an tetap ada dirumah ini. Mas Khalid yang membaca dengan lantunan suara yang sangat sedih! Bibi jadi sering nangis kalau mendengar Mas Khalid baca Al Qur’an!” Ucap Bi Iyem dengan sesenggukan karena tangisnya.
“Insya Allah, Zah tidak akan kemana-mana lagi!” Ucapku dengan melihat Bi Iyem. Sambil tersenyum. “Oh ya, Bi. Ini teman Zah, namanya Nova! Nova nanti akan tinggal disini.” Ucapku lanjut.
Bi Iyem tersenyum. Sambil mengangguk hormat.
“Bi. Zah ingin masak. Pengen buat kejutan untuk Mas Khalid!” Kataku. Agak tersipu, malu.
“Iya. Semua sudah komplit, Mbak Zah mau masak apa saja silakan!”
“Bi. Tolong semua barang-barang Zah, diangkati dikamar Zah yah! Maaf Bi Zah langsung kedapur, jadi nggak bisa bantu Bibi!” Ucapku, sembari menunjuk dimobil.
“Iya, Mbak. Tidak apa-apa, Biar Bibi aja yang bawa!” Bi Iyem langsung menuju mobil, untuk mengambil barang-barang yang ada dimobil.
Aku langsung menuju dapur. Tidak sabar untuk langsung segera memasak-masakan untuk Suami tercinta.
***
Disela-sela memasak. Aku dan Nova berbincang-bincang ringan.
“Ukh, anti kalau dirumah dipanggail Zah?” Tanya Nova tampak heran.
“Iya. Zah, itu kepanjangan dari Zahra! Biar lebih gampang, disingkat Zah aja.” “Hem. Ana panggil Ukhti Zah boleh nggak? Biar kesannya kayak adek dan kakak!” “Anti nggak usah panggil ana Ukhti Zah. Anti panggil ana Mbak aja yah. Soalnya,
anti kan nanti jadi adik ana!” Kataku menggoda, sambil mencubit pinggang Nova.
“Ih. Anti!” Ucapnya, malu-malu.
Aku hanya tersenyum melihat saudaraku yang satu ini.
“Ukh. Anti sama pembantu, kok akrab banget! Apa Anti nggak takut, nantinya tidak dihormati?” Tanya Nova, disela-sela menggoreng ayam.
“Ukh. Dalam Islam, kita harus bersikap baik kepada siapa pun. Bahkan sama pembantu sekali pun. Dalam Islam sangat melarang perbudakan. Makanya, dalam setiap hadits sering dikatakan, bahwa Allah paling suka melihat hambanya yang membebaskan budaknya! Dan, pembantu kita saat ini. Mereka bukanlah seorang budak yang dapat kita atur dengan semau kita sendiri! Pembantu mempunyai kebebasan sendiri, seperti layaknya kita! Tetapi, tetap. Rasa hormat dan menghormati harus saling tertanam pada setiap diri kita. Jadi kita menghormati pembantu, dan begitu pula sebaliknya. Pembantu dengan sendirinya akan menghormati kita. Jika pembantu tidak hormat kepada kita. Mungkin karena kita memang tidak
menghormatinya! Tetapi, sunnatullah. Bahwa seorang yang menabur benih kebaikan. Maka dia akan mendapatkan kebaikan itu pula!” Jelasku.
Acara memasak kami sudah selesai. Semua masakan kini tinggal dihidangkan dimeja makan. Bergegas kami pun dengan cepat menghidangkanya. Agar nanti semua makanannya sudah siap untuk disantap, saat Suamiku datang. Berbagai macam masakan sudah tersedia semuanya. Masakan yang terlihat sangat lezat-lezat untuk dinikmati. Hari ini, aku benar-benar ingin memberikan masakan yang sangat spesial bagi Suamiku. Masakan yang akan membuat Suamiku kembali meraih kebahagiaannya. Meraih kebahagiaan ditemani oleh istri yang setia dalam setiap jalan dakwahnya. Dan juga untuk mensyukuri atas kenikmatan dan perlindungan yang kami dapatkan, atas perlindungan-Nya. Dan menjadikan kebahagiaan yang besar buatku, karena telah kembali kerumah yang penuh dengan kebahagiaan. Rumah yang selalu dihaisi oleh keindahan kebahagian yang nyata. Kebahagian yang bukan pada kebahagian semu belaka. Tetapi kebahagiaan yang pada hakikatnya adalah kebahagiaan Ilahi Rabbi. Kebahagiaan atas apa yang selalu kami lakukan hanya karena perintah-Nya. Perintah yang harus selalu diikuti karena memang kebutuhan, dan larangan yang akan selalu kita patuhi karena ketakutan kemudharatan. Sungguh, akan menjadi keluarga yang sangat bahagia jika apa yang telah diatur dan ditetapkan- Nya. Menjadi sebuah jalan hidup dan pedoman hidup bagi kita semua. Bagi manusia seluruh alam semesta ini.
Saat aku sedang akan mengambil air minum. Terdengar seseorang yang masuk kedalam ruang makan. Jangan-jangan, Suamiku sudah datang! Pikirku. Aku langsung mengintip seseorang yang baru datang itu. Ternyata benar, Suamiku sudah datang. Langkahnya gontai, terlihat malas sekali. Wajahnya terlihat sangat letih, seperti sangat tidak bersemangat sekali. Kasihan mujahidku!
Sejenak langkahnya terhenti. Saat melihat makanan yang berada dimeja makan. Dia melihat semua makanan itu, lada senyum diwajahnya. Senyumnya yang indah itu kembali.
“Seandainya Istriku berada disini, dan memakan makananan ini bersamaku. Pasti sangat membahagiakanku!” Ucapnya. Terdengar lirih.
Suamiku, aku disini! Bisikku lirih dalam hati. Sejenak aku masih mengintipnya dari ruang dapur. Suamiku menarik kursi meja makan. Setelah berdoa, dia langsung menyantap makanan-makanan yang aku sediakan. Rasa senang, gembira dan bahagia bercampur aduk didalama diriku. Suamiku begitu lahap memakan makanan yang telah aku masakkan untuknya. Berdesir hatiku, Pasti engkau begitu tersiksa Suamiku! Aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa haru dan kangen yang begitu bertubi- tubi.
“Enak nggak, Kanda!” Ucapku, dengan memeluknya dari belakang.
Suamiku terpana saat dia menatapku. Matanya begitu tajam, seakan tidak percaya dengan kedatanganku. Mulutnya keluh, terlihat sulit untuk mengucap.
“Jawab dong, Kanda! Enak nggak, masakan Dinda!” Ucapku, dengan penuh kemanjaan.
Lagi-lagi dia hanya terdiam. Rasa ketidakpercayaan masih hinggap didalam dirinya. Rasa kebahagian yang terpendam pun, terlihat muncul dari balik tatapan matanya. Aku merasakan kegembiraannya yang dalam. Tetapi, dia masih terdiam. Dia masih terpana dengan kedatanganku.
Butiran intan jernih pun mengalir disela-sela sudut mataku. Ada haru dalam hatiku, rasa bahagia yang tak akan terlukis dengan kata, bahkan dengan kanvas dan pelukis yang terkenal sekali pun. Tak akan pernah bisa. Aku merindukanmu, Suamiku!
“Kanda, kok diem aja sich? Dinda kangen!” Ucapku, masih dengan penuh manja. “A..pa benar…. A..pa benar. Apakah ana tidak bermimpi!” Ucapnya, terbata-bata. “Kanda, afwan. Ana meninggalkan Kanda! Ana sangat mencintai Kanda! Ana benar-
benar telah membuat kanda tersiksa! Maaf kan Dinda, Kanda!” Tangis kebahagiaan
pun mengalir dipelupuk mataku.
“Dinda, ana kangen sekali! Ana benar-benar sangat lemah, saat Dinda tidak berada disisi”
“Iya, afwan Kanda! Ana, sangat menyesal”
Suamiku menatapku dengan penuh kemesraan. Rasa kebahagian dari balik hatinya, mencuat hingga meluapkan kegembiraan yang sangat dalam.
“Dinda! Apakah dinda tidak apa-apa?” Tanya Suamiku, penasaran. “Alhamdulillah ana baik-baik saja!” Ucapku sambil menggelengkan kepala. “Anti selama ini dimana? Apakah anti benar-benar telah diculik oleh Efendi?”
Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepala lagi. “tidak kanda! Ceritanya panjang. Nanti saja ceritanya. Ana mau memperkenalkan seseorang!”
“Siapa, dinda?” tanyanya, terlihat penasaran. “Ukhti, mari masuk saja!” panggilku kepada Nova.
Tak lama Nova pun datang. Wajahnya tertunduk, terasa ada rasa malu yang tersingkap dihatinya. Ada pula rasa kegembiraan yang terpancar dari dirinya. Entahlah, kenapa kegembiraan itu terlihat begitu jelas pada mata batinku.
“Kanda, kenalkan. Ukhti Nova!” Kataku, memperkenalkan.
Saat Suamiku mendengar nama Nova. Dia langsung menatap Nova tajam. Ada yang aneh dalam tatapannya. Dengan begitu seksama, Suamiku melihat Nova. Ada sesuatu tanya yang terlihat dari dirinya.
“Assalamualaikum…!” Salam Nova.
“W..alaikumsalam!” Jawab Suamiku, terdengar gagap saat menjawab salam Nova. “Kenapa, Suamiku!” Tanyaku manja. Berlagak seperti cemburu.
“Ah, tidak. Ana hanya teringat seorang teman saja!” Jawabnya sekenanya.
Iya, pasti antum ingat Kanda! Gumamku dalam hati. “Teman, apa teman!” Godaku. Sambil mencubit pinggangnya.
“Iya, teman!” Ucapnya sambil tersenyum. Terlihat sakit.
Nova tersenyum, terlihat rasa malu didirinya. Tetapi juga ada sebuah rasa cemburu yang selintas aku lihat pada dirinya. Cemburu untuk ingin cepat-cepat sepertiku. Mungkin.
***
Saat malam menjelang. Menapaki keindahan yang pernah berlalu dalam kehidupan. Kini malam itu tiba dengan kebahagiaan. Malam telah menjadikan keindahannya kembali datang. Malam membuat kita menjadi lebih mendewasakan apa yang disebut dengan hubungan pernikahan. Nikah merupakan hubungan sakral yang berisi tentang rasa cinta dan keindahan. Tetapi, cinta dan keindahan itu diselingi dengan riak onak duri yang akan menusuk jika kita tidak berhati-hati. Pernikahan adalah kebahagian yang akan membuat seseorang lebih hidup dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hidup dalam kekuatan cinta yang berisi tentang keindahan-Nya. Gambaran keindahan surga, walaupun gambaran itu terlihat sangat buram. Tetapi masih tetap menyenangkan dan membahagiakan. Karena keindahan surga tak layak untuk dapat kita gambarkan dengan kekuatan otak kita. Apalagi kekuatan akal kita yang sering kali tertipu dengan penglihatan mata kita.
Malam ini benar-benar kegembiraan yang terlantun dalam keindahan. Melodi- melodi cinta yang menyenandungkan keindahan. Melodi-melodi memori yang tertanam dalam otak pada keindahan cinta. Benar-benar nikmat, kasih sayang yang diberikan oleh-Nya kepadaku. Hingga dihadiahkannya Mujahid sejati untukku. Aku belai Suamiku dengan kelembutan. Setelah sekian lama dia tidak mendapatkan belaian kasih sayangku. Sekian lama dia bersabar dalam ujian dan cobaan. Dan kini aku harus memberikan hadiah yang tidak akan pernah ada habisnya hadiah itu. Aku harus memberikan kepadanya. Memberikan kepada Suamiku tercinta, sebuah hadiah yang sangat istimewa.
“Kanda. Kanda kangen nggak sama dinda?” Ucapku dengan manja.
“Dinda, ana begitu benar-benar tersiksa saat anti menghilang! Ana benar-benar tidak bersemangat sekali dalam menjalani semua aktivitas. Bahkan menjalani hidup!”
“Iya, Dinda tahu!”
“Ha! Dinda tahu?” Ucapnya penasaran.
“Selama ini, Dinda hanya pergi sebentar. Saat Kanda menghadapi Efendi dan kawan- kawannya. Ana benar-benar takut. Saat itu ana mencemaskan kanda. Tapi setelah ana lari. Ana malah teringat dengan ukhti Nova. Sebenarnya ana sudah lama membina ukhti Nova. Hanya saja, ana masih merahasiakannya. Ukhti Nova lari dari rumah itu pun atas usul ana. Sekarang ukhti Nova tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ana takut jika nanti ukhti Nova pulang. Malah tambah parah keadaannya.”
“hem jadi akhirnya, anti rela mengorbankan ana!” Ucapnya dengan sambil memalingkan muka. Terlihat marah.
“Kanda. Bukan begitu maksud ana!” Kataku dengan membelai pipinya. “Ana rasa, kalau Kanda lebih mampu menghadapi musibah daripada ukhti Nova! Jadi ana berani meninggalkan Kanda sebentar saja.”
“Hem, lalu selama ini anti ada dimana?”
“Ana berada dirumah kita yang kedua! Selama ini ana terus memantau kanda. Kanda kemana, dimana, sama siapa. Ana mengetahui segalanya. Apalagi saat kanda berada dirumah sakit. Ana tetap memantau kanda.”
“Wah Dinda, berbakat juga jadi spionase yach!” Ujarnya bercanda.
Aku tertawa kecil. “Ana hanya menjaga Suami aja kok, Kanda! Oh, ya. Ana baru tahu, kalau Kanda benar-benar pintar beladiri! Kanda, kok tidak pernah cerita kalau Kanda bisa beladiri?”
“Siapa dulu, Kanda!” Ucapnya, sambil menepuk dada.
“Iya, siapa dulu. Suami Dinda!” Sahutku, dengan berasandar didadanya. “Kanda, sayang. Dinda ingin meminta tolong! Bisa nggak?” Kataku lanjut.
“Apa, sayang!”
“Boleh nggak ukhti Nova tinggal disini!” Tanyaku dengan sangat menjaga ucapan. “Loh, itu kan terserah anti. Ini kan rumah anti!”
“Kanda sayang! Ini rumah kita, bukan hanya rumah ana” Ucapku agak kesal.
“Afwan sayang, iya-iya. Ini rumah kita!” Jawabnya, sambil membelai mesra rambutku.
Senyumnya kembali merekah. Sambil kembali bersandar didadaku. “Kanda, apa boleh ukhti Nova tinggal disini?” Tanyaku lagi.
“Iya boleh dong, Dinda!”
“Maksud ana, boleh nggak ukhti Nova tinggal di rumah ini!” Kataku sekali lagi. Aku bingung untuk mengatakan dengan sejelasnya.
“Iya sayang, boleh!” Jawabnya, mempertegas.
“Bukan itu, maksud ana!” Kataku, kesal karena ketidaktahuannya tentang maksudku. Setelah sedikit mendesah, aku mengatakan “maksuda ana, Kanda mau nggak menjadi suami ukhti Nova!”
“Ha…!” seketika itu pun Suamiku terperanga. Serasa tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
“Kanda! Mau nggak?” Ucapku, seraya menggoyang-goyangkan badannya.. Dengan tetap bersifat manjanya.
“Apa, maksud anti?” Katanya heran.
“Tidak ada maksud apapun! Ana hanya ingin Kanda menikahi ukhti Nova. Itu aja!” Jawabku.
“Sayang-sayang, anti nggak apa-apa kan?” Ucapnya penasaran. Dengan memperhatikan wajahku, sambil memegangi kepalaku.
“KANDA! Ana nggak kenapa-napa.” Kataku dengan nada sedikit keras.
Sesaat Suamiku terdiam. Dia memandangku dengan tajam. Terlihat tanya dalam lubuk hatinya.
Aku menarik nafas panjang. Terasa sesak menyumpal dada. “Kanda, ana hanya ingin menjadi muslimah yang baik! Muslimah yang menyayangi saudara sendiri! Ana nggak ingin menjadi akhwat yang egois. Ana ingin membagi kebahagiaan yang ana miliki bersama Kanda. Dengan membaginya kepada akhwat lain! Kanda, sungguh ana tidak kenapa-napa. Ana tidak punya penyakit yang kronis apalagi bosan terhadap kanda. Sehingga dengan mudah ana mau melepaskan Kanda. Kanda, ana memang sangat menyayangi Kanda. Ana sangat bahagia bersama Kanda. Tetapi, saat-saat kebahagian yang kita pupuk bersama. Ada segolongan akhwat, yang tidak merasakan kebahagiaan kita. Mungkin ini berat bagi ana. Dan memang itu sangat berat bagi ana. Untuk mengikhlaskan Kanda membagi rasa kasih sayang, yang Kanda punyai. Kanda, sesungguhnya semua ini ana lakukan, karena ana sayang terhadap saudara ana yang lain. Ana ingin akhwat lain, juga merasakan kebahagiaan kita. Kanda, sesungguhnya poligami itu juga termasuk rahmat dari Allah, dan merupakan sebuah langkah dakwah. Dan apakah Kanda lupa, bahwa surga adalah jaminan bagi wanita yang mengikhlaskan suaminya untuk menikah lagi!” Aku sedikit tertunduk. Tak terasa butiran-butiran intan yang berada mata berjatuhan. Berat rasanya, tetapi aku harus bisa mengatakannya.
Ada sedikit gundah tercurat dimata Suamiku. Dia tertunduk lesu, dalam balutan kebingungan yang mendalam. “Sayang, ana takut. Ana takut, jika ana tidak bisa berlaku adil!”
Aku memeluknya erat. “Kanda, ana yakin antum bisa berlaku adil. Sesungguhnya, penilaian adil dan tidaknya. Hanya ana yang bisa merasakannya. Saat bersama Kanda,
ana semakin yakin. Bahwa Kanda bisa berlaku adil. Ya, meskipun Kanda tidak dapat berlaku adil masalah hati. Tetapi yang penting adil dalam pandangan syari’at sudah Kanda jalani. Ana sangat ikhlas membagi kasih sayang yang Kanda punyai!”
“Sayang, ini sangat berat!”
“Kanda, ana akan membantu mengingatkan Kanda. Jika suatu saat Kanda akan berbelok arah jalan. Ana siap menjadi jaminan!”
“Hem..!” Ucapnya dengan desahan yang teramat berat.
“Mau, ya! Jika memang Kanda menyayangi Dinda. Ana mohon, Kanda bersedia!” Paksaku. Jemari-jemariku memegang erat jemarinya. Untuk memberikan kekuatan sebuah permintaan yang sangat sulit untuk bisa diterimanya. Mungkin.
Suamiku memandangku, dia tersenyum. Tetapi terlihat senyuman yang sangat berat sekali. Tak lama Suamiku menganggukkan kepala, menandakan persetujuannya. Tetapi, lagi-lagi terlihat sangat berat sekali. Serasa ini adalah permintaan yang sangat berat baginya. Gundah yang disiratkan dalam wajahnya, masih terlihat sangat jelas.
“Terima kasih Kanda, sayangku!” Ucapku lirih. Meskipun sesak didada ini menerpa bertubi-tubi. Mana ada wanita yang merelakan Suaminya untuk menikah lagi! Tapi aku harus bisa, ini jalan kesurga. Gumamku lirih dalam hati.
“Lalu, apa kata Abi dan Ummi nanti? Apa Beliu berdua akan menyetujui permintaan
Anti?” Tanya Suamiku, terlihat sangat bingung.
“Abi sudah mengatakan, ‘Terserah jalan yang Anti pilih, jika itu baik menurut antimaka lakukanlah.’ Dan Ummi mengakatan ‘Alhamdulillah, anakku sudah dewasa. Dan sekarang menjadi wanita yang hebat!’ Itulah ucapan beliau berdua” Ucapku dengan senyum.
“Ha… Anti sudah mengatakannya! Berarti selama ini Abi dan Ummi tahu keberadaan, Dinda?” Tanyanya, semakin terlihat bingung.
“Iya! Abi dan Ummi sudah tahu lama keberadaan ana. Saat hari kelima, Kanda dirawat dirumah sakit. Ana langsung menghubungi Abi dan Ummi untuk tidak khawatir tentang keberadaan ana. Dan tetap, keberadaan ana tidak boleh diberitahukan kepada siapapun. Termasuk Kanda!” Jelasku.
Suamiku hanya terbengong.
***
Pernikahan pun telah dilaksanakan. Saat akad dinyatakan oleh Suamiku. Berdesir hati ini ingin berontak. Berontak karena ada rasa cemburu yang mendalam dalam hati. Inginku berteriak, menyuarakan rasa cemburu ini. Rasa sesak yang bertubi dalam lubuk hati. Sesak yang terus menyerang dalam diri hingga bagaikan menghambatku untuk bernafas. Tetapi, sungguh Allah telah memberikan kekuatan yang Maha Dahsyat kepadaku. Kekuatan yang diberikan kepada seorang istri yang
ikhlas, melepas saparuh kasih sayang suaminya untuk dibagi dengan wanita lain. Saat sekilas suamiku melihatku, ada tatapan yang sangat teduh. Dalam, menyentuh lubuk hatiku. Serasa tatapannya mengingatkan tentang cintanya kepadaku. Tatapan yang membuatku teduh dan teguh dalam pendirianku. Tatapan yang membuatku semakin mencintainya. Tatapan itu begitu indah, merasuk dalam jiwa. Hingga tubuhku bergetar. KANDA... AKU SANGAT MENYAYANGIMU! TAK AKAN KULEPAS CINTAKU KEPADAMU MESKIPUN CINTAMU TAK SEUTUH YANG DULU! Teriakku dalam hati.
NB: Teruntuk wanita, yang akan menjadikan aku sebagai suami yang setia dalam mengarungi bahtera pernikahan yang dilingkupi kebahagiaan dan diselingi dengan penderitaan. Akhirat tujuan kekal kita, wahai yang akan mendampingiku dengan setia. Aku tak tahu namamu dan aku tak tahu dimana engkau berada. Tapi aku yakin engkau pasti ada. Hanya untukku. Yaa Allah, bimbing aku agar bisa menumakan bidadari pendampingku. (Ikhwan Jomblo’s)
BIOGRAFI
Penulis mempunyai nama pena Blackrock1/Jaisy01, nama pena ini diambil berdasarkan kebiasaan pada saat Blackrock1 sebagai nama Chatter si penulis dahulu. Blackrock1 merupakan sebuah nama yang berarti “Batu Hitam” dengan maksud sebagai penafsiran bahwa Batu Hitam atau Blackrock ini merupakan Hajjar Aswad yang ada di Mekkah, yaitu sebagai batu pemersatu umat Muslim sedunia. Dan angka satu diambil karena berdasarkan penafsiran bahwa agama yang haq di dunia ini hanya “1” yaitu ISLAM. Karya Blackrock1 di terbitkan di Deteksi Jawa Pos dan majalah Khazanah sebagian besar untuk kalangan sendiri termasuk dimedia kampus. Berikut biografi lengkap tentang Blackrock1 :
Nama Pena : Blackrock1/Jaisy01
Nama : Fajar Agustanto
Alamat : Jl. Kepodang 56 Larangan Candi Sidoarjo JATIM
61271
No Telp : 081330261804
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki – laki
Motto : Semangatku adalah jihadku dan jihadku adalah gerakku, gerakku adalah kekuatanku, kekuatanku adalah Allahu Akbar.
Email : Fajar212000@yahoo.com
Tokoh Idola :
- Muhammad Saw, Hasan Al Banna, Nashirudin Al bani, Yusuf
Qaradhawi
- Kh. Ahmad Dahlan, Muhammad Natsir, Buya Hamka.
Hobi :
- Beladiri
- Berorganisasi
- Mengoperasikan Komputer
- Menulis
Pengalaman Org :
- Sekretaris PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat Ubhara Surya 2002 - 2003
- Sekretaris DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Hukum
Ubhara Surya 2002 - 2003
- Menristek BEM Ubhara Surya 2003 - 2004
- Ketua FMM (Forum Mahasiswa Muslim) Ubhara Surya 2003 -
2004
- Sekretaris UKKMI (Unit Kerohanian Keagamaan Mahasiswa
Islam) Ubhara Surya 2003 – 2004
- Kabid Pengkaderan Organisasi DPM (Dewan Perwakilan
Mahasiswa) Fakultas Hukum Ubhara Surya 2003-2004
- Anggota KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================
0 Komentar