JILID 3
Entah kenapa, suasana yang tadinya begitu bersahabat. Menjadi terlihat begitu serius. Sudah tidak ada lagi sendagurau dari para Al Ukh. Padahal, aku tadi tidak bermaksud menyinggung mereka. Aku hanya mengungkapkan isi hati yang ingin mereka ketahui. Kalaulah hanya masalah seperti ini saja, menjadi dongkol dihati. Apalagi masalah-masalah perdebatan yang panjang dalam masalah akhidah, syari’at, hadits, pemahaman Al Qur’an, dll. Pasti perdebatan-perdebatan seperti itu yang membuat perpecahan. Padahal solusinya mudah, menurutku. Tinggal kita tidak usah memperdebatkan hal-hal yang tidak dilarang dalam agama. Jika seseorang tidak melanggar syari’at. Kenapa harus dicari-cari pelanggarannya.
Kalaulah ingin berdebat, yah harus dengan hati yang terbuka. Terbuka dengan hujjah orang lain, terbuka dengan pendapat orang lain, terbuka dengan pemikiran orang lain, selama hal-hal itu tidak menyimpang dari syari’at. Dan yang lebih penting, kita terbuka untuk mencari sebuah kebenaran dari perdebatan. Bukan mencari pembenaran dari pendapat kita sendiri. Jika kita memang mencari pembenaran pendapat kita dalam perdebatan. Pastilah, kita tidak akan pernah mau mendengarkan kebenaran. Karena, pembenaran itulah yang akan memakan egoisme seseorang untuk menafikkan kebenaran dalam perdebatan. Dan akhirnya, dalam perdebatan. Tidak akan pernah selesai, dan akan membuat rasa benci seseorang kepada lawan bicara. Meskipun, lawan bicara berkata benar.
Tak seberapa lama, ustadzah Heni datang. “Assalamualaikum!”
“Walikumsalam!” Jawab kami serentak tanpa dikomando.
“Afwan, ana terlambat! Ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan” Ucap Ustadzah
Heni.
Kami pun tersenyum, dan memaklumi. Karena kami tahu, bahwa ustadzah Heni. Bukanlah seorang ummahat yang sedikit kegiatan. Tetapi, jam-jam produktif yang membuat begitu banyak kegiatan. Sungguh seorang mujahidah sejati. Aku tahu semua itu, karena Ummiku adalah kakak dari ustadzah Heni. Tetapi, teman-teman sekajianku. Belum mengetahui, kalau aku. Adalah saudara ustadzah Heni. Atau dalam kata lain. Ustadzah Heni adalah Bibiku yang telah merawatku semenjak aku kecil. Tetapi aku tidak mau, membuat mereka menjadi tahu. Kalau Ustadzah Heni adalah Bibiku.
“Gimana, sudah lama tadi?” Tanya ustadzah Heni.
“Nggak juga kok Ustadzah! Kami juga lagi membahas masalah yang besar!” Ucap
Wira. Terlihat seperti cari muka.
Ha! Masalah besar? Jadi mereka menganggap masalah kecil ini menjadi besar? Masya Allah! Semoga tidak menghalangi dengan masalah-masalah yang memang seharusnya dikatakan besar. Gumamku dalam hati.
“Ha! Masalah besar? Masalah apa kok sepertinya sangat penting!” Ustadzah Heni terlihat penasaran.
“Iya, masalah tentang menikah!” Jawab Wira lagi.
“Hem! Masalah itu. Yah memang itu masalah besar bagi anti-anti yang masih belum menikah!” Sindir ustadzah Heni, sambil tersenyum.
Hihihi! Maunya pengen cari muka. Eh kesindir sendiri. Masya Allah! Aku kok su’udhan sih!.
“Baik, sebelum membahas masalah besar! Kita buka dulu kajian kita.” Ucap Ustadzah
Heni, bijak.
Sebuah materi kajian diberikan kepada kami. Kami bersama-sama pun menyimak apa yang diberikan oleh ustadzah Heni. Materi tentang Pembersihan Hati. Ini adalah materi yang membuat kami benar-benar tahu akan makna kesucian hati. Kesucian dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang suci. Yang menjadikan aku lebih memaknai kesucian diri. Kesucian untuk selalu menyembah Rabbul izzattih. Tidak ada keraguan didalamnya.
“Bagaimana, ada yang mau bertanya?” Ustadzah Heni memandang kami satu persatu. Semua diam. Semua terlihat mengerti tentang arti kesucian diri. Hanya saja, kesucian
itu sulit untuk dilakukan.
“Hem, kelihatannya semua sudah mengerti yah!” Ucap ustadzah Heni. “Jadi, menjaga kesucian hati. Memang sangat berat untuk diimplementasikan. Namun, jika kita sudah dapat melakukan itu. Maka apapun yang akan kita lakukan, sangat menentramkan hati! Karena perbuatan yang kita lakukan, merupakan perbuatan yang tidak terlepas dari keridhaan Ilahi. Dengan kata lain. Perbuatan yang kita lakukan, akan menjadikan kebaikan bagi kita. Selama perbuatan itu baik menurut syariat. Dan tidak bertentangan!”
Semua mengangguk, Insya Allah tanda mengerti.
“Baik. Untuk masalah besar tadi gimana? Tetap mau dibahas?” Ustadzah Heni dengan senyum membangkitkan tema besar lagi.
“Iya Ustadzah! Masih pelu dilanjutkan.” Ucap Wira antusias.
“Baik. Apa sebenarnya yang menjadi masalah itu!” tanya Ustadzah Heni.
Wira menceritakan pembicaraan yang masih hangat itu. Dengan antusiasnya, sampai kepada hal-hal yang mendetail.
“Ya, seperti itu Ustadzah! Kalau menurut pendapat Ustadzah gimana?” Ucap Wira. Mengakhiri penjelasannya.
“Oh, jadi begitu!” Ustadzah Heni menghela nafas panjang. “Begini sebenarnya, kalau menurut ana. Akhwat mendahului ikhwan dalam berta’aruf, itu sah-sah saja. Hanya saja, budaya timur ini yang membuat kita salah persepsi tentang hal itu. Rasa malu memang sangat harus dipertahankan dalam kepribadian seorang muslim. Bahkan malu itupun adalah sebagian dari iman, bukan! Tetapi, yang paling penting adalah bisa menempatkan rasa malu itu sendiri. Tidaklah seorang muslim yang tidak dapat berlaku proporsional. Semua orang muslim, harus dapat menempatkan sesuatu dengan benar! Karena, jika kita tidak menempatkan sesuatu dengan benar. Maka kita disebut dholim!” Ustadzah Heni tersenyum, dan memandang kami satu persatu. “lalu, apakah akhwat yang mendahului ikhwan berta’aruf itu tidak punya rasa malu? Mungkin kita sering mendengar dan membaca tentang riwayat Ibunda kita, Khadijah! Seorang wanita mulia, yang menikahi manusia paling mulia pula. Mungkin kita berfikir bahwa Siti Khadijah adalah seorang wanita mulia, dan kita tidak setara dengan beliau. Maka kita tidak boleh meniru beliau. Atau karena kita menganggap bahwa yang dinikahi oleh Siti Khadijah adalah seorang yang sangat mulia, sehingga kita memakluminya. Sedangkan sekarang, tidak ada lagi ikhwan yang paling sempurna. Maka sudah tertutup pintu wanita untuk menkhitbah duluan. Wahai ukhti, ingatlah. Bahwa tidak ada seorangpun yang menyamai Rasulullah. Bahkan, jin sekalipun. Lalu, apakah salah jika seorang akhwat menembak ikhwan duluan! Sebuah pertanyaan besar, mungkin!
Tetapi pada dasarnya, Allah memberikan derajat yang sama kepada seluruh hambanya. Baik wanita maupun pria. Tidak ada perbedaan derajatnya. Yang membedakan hanyalah, Iman dan ketaqwaannya! Lalu, hubungannya dengan akhwat nembak duluan? Yaitu, wanita sah-sah saja menembak ikhwan lebih dulu. Dan, sudah ada beberapa contoh, selain Siti Khadijah! Tidaklah wanita lebih rendah derajatnya, jika wanita itu menembak ikhwan duluan. Tetapi, kesiapan seorang wanita untuk menembak ikhwan duluan. Haruslah sangat matang. Disamping kesiapan akhidah dan ilmu, juga harus dikuatkan pada sisi mentalnya. Dan seandainya, ikhwan tidak menerima tembakan akhwat. Maka, harus diingat bahwa niat untuk menembak hanya karena Allah. Bukan karena siapa-siapa. Jadi meskipun ikhwan tidak menerima, akhwat tetap bisa berlapang dada. Karena niatnya, hanya untuk Allah! Ya, meskipun kita tahu. Bahwa, hati seorang wanita sangatlah sensitif untuk masalah yang satu ini! Tetapi minimal, bahwa rasa malu harus ditempatkan pada tempatnya! Akhwat boleh malu, misalkan saat tembakannya tidak diterima oleh ikhwan. Tetapi hal itu tidak memalukan. Perlu diingat, bahwa hal itu bukanlah perbuatan yang memalukan! Atau bahkan merendahkan derajat wanita itu sendiri.
Jadi derajat wanita, tidak akan pernah luntur meskipun tembakannya meleset!” Ustadzah Heni, lagi-lagi melihat kami satu persatu dengan memberikan senyumnya. “malu boleh, asal tahu penempatan malu itu! Ada sebuah contoh dari seorang shahabiah. Dinukilkan dari hadits! Seorang wanita datang kepada Rasulullah, shahabiah itu menghibahkan dirinya, untuk dinikahi oleh Rasulullah. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah hanya terdiam, tidak berkata apapun sampai ketiga kalinya. Lalu tiba-tiba seorang pria berkata kepada Rasulullah ‘Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya!’ Rasulullah mengatakan ‘Apa engkau punya sesuatu?’’ lalu jawab pria itu ‘Aku tidak memiliki apapun ya Rasulullah!’ lalu Rasulullah bertanya ‘Apakah engkau hafal suatu surat dalam Al Qur’an?’ lalu pria itu pun
menjawab ‘Aku hafal ini dan itu!’ lalu Rasulullah, mengatakan ‘pergilah, karena aku telah menikahkanmu dengannya, dengan mahar surat Al Qur’an yang engkau hafal!’ apakah wanita itu menjadi rendah karena tidak dinikahi oleh rasulullah? Ataukah wanita itu rendah karena telah ditolak Rasulullah? Atau wanita itu rendah karena dinikahi oleh orang yang bukan Rasulullah? Apalagi dinikahi dengan mahar yang hanya hafalan Al Qur’an! Apakah wanita itu menjadi hina? Tidak! Shahabiah itu tetaplah seorang shahabiah. Seorang yang derajatnya tidaklah lebih rendah dari shahabiah-shahabiah lainnya! Ada sebuah contoh. Ada sebuah riwayat juga, yang menyatakan, ada seorang yang menikah dengan mahar sepasang sendal yang dipakai oleh orang itu. Dan Rasulullah bertanya ‘Apakah engkau ridha terhadap diri dan hartamu dengan sepasang sendal?’ si wanita itu menjawab ‘Ya.’ Maka Rasulullah membolehkannya.
Dari kisah-kisah seperti tadi. Apakah wanita itu sangat rendah? Hingga dia harus dihargai dengan hanya sepasang sendal! Atau, ada kisah lain yang menyatakan sahabat Rasulullah menikahkan dengan mahar, sebuah cincin besi. Semua ini pernah terjadi! Dan itu, tidak pernah menjadikan rasa malu terhadap para shahabiah- shahabiah. Ini sebuah contoh yang telah dilakukan oleh generasi Rasulullah! Jadi yang terpenting adalah. Rasa malu itu ditempatkan dengan sebenar-benarnya tempat malu itu sendiri. Jika kita telah melakukan kesalahan terhadap syari’at Islam! Baru rasa malu itu timbul. Jika kita melakukan dosa-dosa, baru rasa malu dan derajat yang rendah itu boleh muncul! Tetapi jika, kita tidak melakukan perbuatan yang melanggar syari’at. Maka sesungguhnya, kita tidak perlu merasa malu. Karena itu memang perbuatan yang tidak memalukan!
Hanya karena adat daerah, yang membuat rasa malu itu muncul. Dan persoalan-persoalan yang dianggap tabu dalam adat kita. Maka kita sering terkecoh dengan menempatkan rasa malu itu sendiri! Jadi, jika sebuah perkara yang pada dasarnya tidak dilarang oleh agama. Maka seharusnya, kita tidak usah memperdebatkan atau mencari-cari kesalahan pada hal-hal itu!” Ustadzah Heni mengakhiri penjelasannya dengan sebuah kata-kata yang bijak.
Kami berempat pun, akhirnya mengerti tentang rasa malu itu sendiri. Memang harus ada penempatan dari rasa malu itu. Bukan hanya dengan ego kita, dalam menyatakan sebuah rasa malu. Tetapi pada prinsipnya, rasa malu itupun harus berada pada hal-hal yang sudah ditetapkan. Karena ego kitalah, kita sering menganggap rasa malu itu tidak dapat ditempatkan sebagai mana mestinya. Sebuah contoh, jika kita tidak bisa mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan sebuah daerah. Maka kita akan lebih cenderung untuk malu, jika kita tidak mengikuti kebiasaan mereka. Dengan kata lain, kita malu untuk tidak mengikuti kebiasaan seseorang yang pada dasarnya kebiasaan itu adalah sebuah kebiasaan yang memalukan.
Jadi sungguh besar memang manfaat rasa malu itu sendiri. Sampai-sampai dalam agama Islam, malu merupakan sebagian dari keimanan. Jadi sebagaimana apa yang telah diajarkan dalam agama Islam. Malu, merupakan hal yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Dan setiap muslim harus bisa menempatkan rasa malunya. Tidaklah setiap muslim mengumbar rasa malu itu, hingga menjadi malu-maluin. Atau tidaklah seorang muslim menyimpan terlalu dalam rasa malu, hingga dia tidak mengetahui tempat dimana menyimpan malunya. Maka dari itu, setiap muslim telah diajarkan oleh Allah, dengan memiliki sifat tawadzun. Dengan begitu, kita akan dapat
menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan menempatkan sesuatu dengan tempat yang benar. Bukan asal-asalan, dalam menempatkan.
***
Didalam kamar, aku memikirkan penjelasan yang dikatakan oleh bibiku. Ustadzah Heni. Terekam kuat dalam benakku. Entah kenapa. Malam, tak membuatku larut dalam buaiannya. Aku masih belum bisa untuk menutupkan mata. Aku masih larut dalam alur pikirku yang tak menentu. Tak seberapa lama, terdengar handphoneku berdering.
“Tluuutt…tluutt…”
Dengan malas aku mengambil handphone. Siapa, yach? Malam-malam kok telp!
Terlihat di screen layar handphone Ukhti Reni. “Assalamualaikum, Ukh!” Ucapku “Walaikumsalam!” Jawabnya dari seberang sana.
“Ada apa Ukh? Kok telphon malam-malam! Ada yang penting?”
“Afwan Ukh! Ana ngganggu nggak? Ana ingin ngobrol dengan anti nih!” Ucapnya, terlihat sangat berhati-hati sekali.
“Nggak kok! Emangnya ada apa?”
Reni berhenti sejenak. Dan tak lama terdengar desahan nafas. “Ukh. Ini masalah yang tadi! Masalah tentang akhwat nembak duluan!”
“Memangnya, kenapa Ukh?” Tanyaku penasaran. Jangan-jangan Reni tidak setuju dengan hujjahku dan hujjah bibiku. Ustadzah Heni.
“Ana, percaya sama anti. Dan ana menganggap anti, dapat merahasiakan permasalahan ana!”
“Memangnya, ada permalahan apa ukh?” Tanyaku penasaran.
“Ukh. Ana sebenarnya menyukai salah seorang ikhwan, dari kampus anti!” Sejenak
Reni menghentikan ucapannya. “Anti tahu Akhi Khalid?”
Hah…! Nama itu lagi. Sejenak aku terdiam. Tetapi yang menjadikanku terpukul. Reni juga menyukai Akh Khalid. Kami berdua menyukai ikhwan yang sama. Tetapi, aku yakin tidak hanya aku dan Reni saja yang menyukai ikhwan itu. Pasti banyak juga yang menyukainya.
“Ukhti. Anti kenal nggak?” Ucap Reni, lagi.
Aku sedikit tergagap dari lamunanku. “Akhi Khalid! Akhi Khalid yang mana? Fakultas Hukum atau dari Fakultas Psikologi?” Ucapku. Sedikit, aku buat bingung.
Karena aku pasti yakin, tidak ada yang tidak menyukai Akhi Khalid dari Fakultas
Hukum.
“Hehee… ternyata anti banyak tahu para ikhwan yah!” Ucapnya.
“Ah, nggak juga. Hanya saja, ana kan kenal karena satu organisasi dengan mereka?” Jawabku sedikit memendam rasa malu.
“Oh, iya! Akhi Khalid yang ana kenal, dari Fakultas Psikologi.” “Oh…!” Sedikit hati ini menjadi lega. Entah kenapa.
“Anti, kenal?” Ucapnya sedikit memastikan. “Kenal! Memangnya kenapa?” Tanyaku penasaran.
Akhirnya Reni menceritakan semuanya kepadaku. Dari mulai perkenalannya dengan Khalid Wicaksono. Mahasiswa Fakultas Psikologi. Awal pertemuan mereka cukup unik. Saat Reni sedang berjalan-jalan disebuah toko buku. Reni dan Khalid, berada pada counter yang sama. Counter buku Psikoloagi. Karena memang Reni juga adalah mahasiswa psikologi. Saat mereka sedang mencari-cari buku yang mereka inginkan. Ternyata stock buku itu tinggal satu. Saat Khalid akan mengambilnya, tak disangka Reni pun sedang akan mengambil itu. Tak ayal, tangan mereka mengambil buku yang sama. Sehingga akhirnya Khalid meminta maaf, dan mempersilahkan Reni untuk mengambilnya. Reni pun berfikir, bahwa Khalid ini pasti sudah terbina akhlaknya. Karena sikap dari Khalid, cenderung dimiliki oleh setiap ikhwan. Setelah itu perjumpaan mereka akhirnya berakhir.
Malam setelah perjumpaan. Reni ditelephone oleh seorang Ikhwan. Dan ternyata itu adalah Khalid. Reni sempat terkejut, bagaimana Ikhwan itu bisa mengetahui nomor telephonenya. Akhirnya Khalid menjelaskan, bahwa dia menemukan dompet Reni yang terjatuh didepan toko buku. Tak lama, akhirnya mereka sering berdiskusi masalah-masalah psikologi. Yang sesuai dengan jurusan mereka. Entah kenapa, ada benih-benih yang bergejolak didalam hati Reni. Itulah yang membuat Reni menjadi jarang untuk menerima telephone Khalid. “Ana takut, terjadi cinta yang terlarang! Dan menjauhkan ana dari-Nya.” Kata Reni.
Hingga akhirnya. Diskusi pada kajian tadi siang itu yang membuat Reni menjadi siap untuk menembak Khalid. “Ana siap malu! Dari pada rasa ini, tidak diketahui oleh Akhi Khalid! Entah apa rasanya ini. Karena selama ini, ana belum pernah merasakan yang seperti ini! Mungkin orang akan mengatakan ini cinta, tetapi ana tidak tahu apakah ini benar-benar sebuah kata yang sakral untuk diucapkan. Cinta!” Kata-kata itulah yang terlontar dari mulut Reni. Hingga akhirnya, Reni ingin mencari tahu. Bagaimana tingkah laku Khalid salama ini, yang aku ketahui.
Hem, mujahidah sejati! Gumamku dalam hati. Seorang akhwat yang siap menembakkan sebuah gejolak perasaan batin. Sangatlah tidak mudah. Apalagi di daerah yang mayoritas akhwat-akhwatnya masih memeluk kebudayaan daerah mereka.
“Kalau menurut anti, gimana?” Ucap Reni, mengakhiri ceritanya.
“Hem, anti berani! Allahu Akbar!” Ucapku. Aku benar-benar salut dengan akhwat yang satu ini.
“Bukan itu, yang ana maksud! Apakah ana, tidak melampaui batas?” Ucap Reni, terdengar bingung.
“Tidak. Anti tidak melampaui batas! Itukan juga termasuk Ikhtiar Ukh! Selama cara- cara itu tidak melanggar syar’i. Ana rasa, ana akan mendukung anti. Tapi usul ana, anti harus memberitahukan murabbiah dulu. Biarkan murabbiah anti yang menjadi perantara, bukan anti sendiri. Yah minimal, meminimalkan rasa malu itu sendiri jika ditolak!”
“Oh iya, betul juga anti!” Reni sedikit menghela nafasnya. “Untung Ukh. Kita punya murabbiah yang bisa dikatakan excellent. Ada salah satu Akhwat, teman ana. Dia mempunyai murabbiah yang sangat tidak setuju jika akhwat nembak duluan! Sampai- sampai teman ana itu menjadi malu dengan halaqohnya!”
“Nah itulah Ukh! Yang ana tidak begitu senang. Kenapa kita harus mempersoalkan sesuatu yang tidak melanggar syariat! Hanya karena egoisme semata, syariat kita tafsirkan dengan seenak hati kita sendiri. Termasuk dalam hal ini, perkara akhwat menembak Ikhwan duluan. Sering dikatakan kepada para akhwat yang menembak ikhwan duluan. Dengan kata-kata tidak tahu malulah, karena tidak lakulah, karena kepepetlah, karena mengejar targetlah. Dan banyak Lah-lah lainnya. Jadi ini menurut ana sudah melanggar koridor-koridor yang pernah diterapkan oleh shahabiah- shahabiah Rasulullah. Yang tidak pernah dilarang oleh Rasulullah. Ana menggugat akhwat dan ikhwan. Karena perkara-perkara yang seperti ini.
Ikhwan banyak yang mematok kriteria yang terlalu tinggi bagi para akhwat calon istriknya. Padahal, akhwatkan juga manusia! Sedangkan para akhwat, mereka suka dengan euphoria. Dengan mendambakan ikhwan yang hafalannya bagus, banyak aktif diorganisasi. Sampai-sampai, siap hidup sengsara dengan para ikhwan. Ini merupakan sebuah euphoria yang membuat akhwat-akhwat menjadi terbelenggu. Hingga akhirnya akhwat-akhwat hanya bisa menunggu saja, sedangkan para ikhwan terus mencari kriteria-kriteria yang standart dengan pikiran ikhwan itu sendiri. Bahkan ini menurut ana, sudah diluar jalur tentang koridor-koridor kesyar’ian.
Apalagi ada seorang akhwat yang tidak mau menembak ikhwan duluan. Tetapi dia lebih memilih mengajukan proposal pernikahannya kepada murabbiahnya. Nah, ini kan sama saja! Hanya, beda cara! Kalau saja akhwat tidak ingin menembak ikhwan duluan. Maka seharusnya akhwat itu pun, tidak boleh menngajukan proposal Pernikahan kepada murabbiahnya. Tetapi, harus menunggu sampai ada seorang ikhwan yang melamarnya! Bukan karena ikhwan itu melihat proposal pernikahan si akhwat! Masalah-masalah kecil seperti ini, kadang menjadi besar saat-saat kita membesarkannya. Rasa malu kadang tidak seberapa, dibandingkan rasa sesal dikarenakan tidak mendapatkan apa yang kita harapkannya! Lebih baik kita malu dengan ditolak, daripada kita menyesali dengan apa yang tidak kita dapatkan!” Jelasku, serius.
“Hehe… Anti kok antusias banget!” Ucap Reni.
“Ana kan, hanya menjelaskan Ukh!” Ucapku, kecut. “Yah, yang terpenting. Semua apa yang kita lakukan. Tidak menyimpang dari syari’at! Dan apa yang kita lakukan hanya untuk mencari Ridha Rabbil Izzati!”
“Ya, benar ukhti! Ana setuju dengan semua yang dikatakan oleh ustadzah Heni dan anti. Ana sebenarnya malu, jika ikut nimburng dalam diskusi siang tadi! Kesannya, kok nanti ana kelihatan belain anti! Nanti bisa-bisa nggak baik buat ukhuwah kita. Dikira ada kelompok-kelompokan!”
Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================
0 Komentar