Jilid 9
Dalam kamar. Aku terus membayangkan apa yang telah aku lakukan. Sebuah langkah besar dalam diriku. Langkah yang belum dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Seorang ikhwan, yang dengan dakwahnya dia hidup. Dia lebih terlihat seperti mentari yang ingin menyinari setiap detik kehidupan. Dia lebih seperti langit, yang ingin menaungi orang yang membutuhkan. Aku sangat salut dengannya. Tidaklah sebuah kesalahan besar, jika aku menginginkannya. Aku hanya berusaha untuk mendapatkannya. Berusaha dalam ikhtiar yang pasti dalam ketentuan syar’i.
Sejenak, aku mengambil buku harianku. Buku yang setiap kali selalu menemaniku dalam keriangan serta kedukaan. Sebuah sahabat yang selalu rela menjadi tempat curahan hati. Tiada hal yang dia keluhkan. Meskipun tinta yang aku torehkan kedalam tubuhnya, mungkin menyakitkannya. Tetapi dia diam. Dia tetap tenang. Dia tidak pernah berkeluh dalam setiap tinta yang terlekat erat dalam tubuhnya. Benar-benar sahabat yang setia. Tetapi, dia hanya sebagai pelipur lara, bukan sebagai penyembuh jiwa yang sedang dalam kegundahan.
Sejenak penaku mengalir dalam kekaguman yang tersarang dalam otakku. Menuliskan apa yang telah aku lakukan hari ini.
12 Mei
Hari ini, aku mengambil sebuah langkah besar dalam hidupku. Mungkin inilah sebuah langkah awal yang besar dari sebuah pengambilan keputusan. Tetapi aku tidak yakin. Seorang ikhwan yang tangguh dalam dakwahnya, harus rela menemaniku menggapai kehidupan yang aku impikan. Jantungku sempat berdetak keras, saat-saat mengutarakan maksudku kepada bibiku. Bibiku hanya tersenyum, senang kelihatannya. Entahlah, kenapa beliau seperti itu. Apakah karena aku sudah besar dan bisa mengambil keputusan sendiri? Atau karena aku memilih seorang ikhwan yang memang tepat menjadi pilihan! Entahlah. Tetapi aku sangat ingin sekali mendapatkannya. Mendapatkan seorang ikhwan yang begitu senang dalam setiap dakwahnya.
Sampai sekarang jantungku masih berdesir tak menentu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Hampir-hampir rasa malu mengalahkan semua yang telah aku rencanakan. Padahal aku sudah diharuskan mengetahui penempatan rasa malu itu sendiri. Hem, mungkin manajemen maluku masih sangat kurang. Atau mungkin, aku tidak bisa memanajemen rasa maluku. Hem, entahlah! Pokoknya semua ini sudah terjadi. Malu! Kata itulah yang masih tertanam dibenakku. Tertanam dalam ketidak pastian tempat rasa malu. Malu, adalah sebagian
dari keimanan. Tetapi apakah yang dimaksud rasa malu itu? Apakah rasa malu itu bisa dikategorikan kepada seorang yang ingin berinfaq atau beramal. Sedang dia malu untuk dilihat orang, hingga dia mengurungkan menginfaqkan hartanya? Atau rasa malu adalah, saat seorang wanita yang enggan berjilbab karena dia malu dikatakan sok alim? Apakah rasa malu juga bisa diibaratkan seorang yang akan menolong orang lain yang sedang tersesat. Tetapi dia tidak menjelaskan tempat yang sebenarnya? Karena rasa malu itu sendiri! Hem, entahlah. Mana yang disebut rasa malu!
Padahal, aku yakin. Rasa malu merupakan sebuah penempatan dari sebuah kebenaran itu sendiri. Bukan rasa yang tertanam dalam hati untuk mengatakan, malunya sendiri. Malu seharusnya dapat diterapkan dalam sebuah hal yang bersifat kesalahan. Bukannya malah, malu ditempatkan dalam hakekat kebenaran itu sendiri! Hem, nikmatnya rasa malu. Saat malu sudah ditempatkan dalam tataran tempat rasa malu itu sendiri.
“Zah.. anti sudah tidur apa belum?”
Suara Ummi mengaggetkanku. Aku menutup lembaran buku harian yang selalu menemaniku.
“Belum, Mi! Ummi, masuk aja.” Ucapku.
Setelah membuka pintu kamarku. Ummmi tersenyum saat melihatku. Setelah itu menghampiriku.
Aku pun tersenyum. “Ada apa, Mi?”
“Nggak. Ummi hanya pengen ngobrol sama Zah! Ada waktu kan?” Ucap Ummi dengan senyumnya yang lembut serta membelai lembut rambutku dengan tangan beliau.
Aku hanya mengangguk.
“Zah, nggak sibukkan?” Tanya Ummi lagi.
“Insya Allah, Nggak kok Mi! Emangnya ada apa sih Mi?” Tanyaku penasaran.
“Nggak sih. Ummi hanya pengen memberitahukan sebuah kabar. Entahlah, apakah ini merupakan kabar gembira bagi Zah!”
“Emangnya, kabar gembiranya apa Mi? Apa Abi akan pulang diwaktu dekat? Atau apa Mi?” Tanyaku. Penasaran.
Ummi menggelengkan kepala. “Bukan. Bukan itu kabarnya!” “Lalu, apa Mi!” Tanyaku, antusias.
“Anti, pasti kaget! Tadi siang, ada seorang ikhwan datang kerumah ini.” Ucap Ummi. Seraya tersenyum senang.
Ha! Ikhwan? Apakah benar, dia secepat itu? Benar-benar ini sebuah kabar gembira. Gumamku dalam hati. Senang. “Memangnya, yang datang siang tadi siapa Mi?” Tanyaku penasaran. Bercampur dengan kegembiraan.
“Akhi Lutfi. Teman anti saat masih SMP dahulu! Sekarangkan, dia sudah lulus dari Al-Azhar Kairo, Mesir! Anti ingat? Dia datang kesini untuk berta’aruf sama anti lebih dalam lagi!” Ucap Ummi. Terlihat senang.
Seketika itupun, tubuhku sangat lemas. Sendi-sendi dalam tulang yang ada dalam tubuhku serasa lumpuh. Semuanya ngilu. Bercampur dengan deru jantung yang memburu tanpa asa yang tak menentu. Entah bagaimana aku harus menjelaskan kepada Ummiku. Menjelaskan tentang seorang Ikhwan. Seorang jundi Allah, dalam dakwah yang memberikan keindahan.
Aku hanya diam. Mematung. Dengan masih dibelai oleh tangan lembut Ummi. “Bagaimana, anti menerima?” Tanya Ummi.
Sontak, mengagetkan lamunanku.
“Entahlah, Mi! Ana butuh waktu untuk berfikir.” Ucapku dengan lidah yang keluh. “Hem. Ummi mengerti! Sekarang Ummi tinggal dulu yah.” Ucap Ummi. Terlihat
mengerti tentang kondisiku. Aku hanya mengangguk.
Perasaanku pun berkecambuk. Entahlah, rasa apa yang sedang aku alami sekarang. Semuanya begitu cepat. Perasaan dalam hati begitu menyayat. Kepalaku terasa benar- benar pening sekali.
“Tluuut.... Tluuuut...” Bunyi Hpku. Sekilas aku melihat layar LCD. Nomor yang tidak aku kenal.
Dengan malas aku mengangkatnya. “Halloo...” “Halo, Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam, ini siapa yah?” Tanyaku. Dengan rasa malas yang teramat sangat. “Ini Farah, yah?” Ucapnya. Balik nanya.
“Iya, ini Farah! Ini siapa yah?”
“Ukhti, apa kabarnya? Ini ana, Lutfi!”
Ha! Sekilas aku terkaget. “Oh, iya! Gimana kabarnya Akhi? Katanya sudah lulus yah!” Tanyaku. Basa basi.
“Alhamdulillah! Baru lulus.” “Wah, pasti sudah Hafidz nih!”
“Ah, anti jangan melebih-lebihkan! Afwan ana mau tanya. Boleh?” Ucapnya dengan sopan.
“Iya, silakan!” Ucapku.
“Anti sudah diberitahu oleh Ummi, tentang rencana kedatangan ana tadi siang?” Tanyanya to the point.
“Iya, sudah!” Jawabku singkat. Sedikit malas. “Lalu, bagaimana?”
“Hem. Sebentar ana masih harus mikir-mikir dulu!”
“Apa yang harus dipikirkan, Ukhti! Apa anti sudah punya calon lain?” Ucapnya penasaran.
“Hem. Sebenarnya sih iya! Hanya saja ana belum bicara dengan Ummi tentang
Ikhwan ini.” Jawabku polos.
“Hem. Ukhti, pilihlah dengan ikhwan yang memang disenangi Ummi anti!”
Hem, ikhwan ini gimana sih! Ya pasti, antum yang dipilih Ummi. Ummi aja belum kenal dengan Akhi Khalid! Gumamku dalam hati. “Ya, tidak bisa seperti itu dong Akh! Ana hanya perlu berpikir saja.”
“Apa dia hafidz? Dia lulusan mana?” Ucapnya penasaran, terlihat mendiskriditkan. “Dia belum hafidz. Dan belum lulus kuliah!”
“Hem. Anti seharusnya sudah bisa memilih langsung! Tidak ada yang perlu dipikirkan!” Ucapnya.
“Ana perlu berfikir dulu Akh. Afwan yah! Insya Allah secepatnya, ana akan kasih jawaban.” Ucapku.
“Ya, baiklah!”
“Udah dulu yah, Akh! Udah malam, ana mau tidur.” Selaku, mencoba untuk mengakhiri pembicaraan.
“Oh iya, baiklah! Syukron. Assalamualaikum” “Walaikumsalam” Ucapku. Sambil menekan tuts Hp off.
Aku benar-benar bingung saat ini. Semua kebingungan yang aku rasakan menjadi bercampur aduk dalam rongga fikir yang tak menentu. Kepalaku jadi benar-benar pusing untuk bisa memikirkan semua ini. Aku rebahkan tubuhku, dalam kasur yang selalu menaungi tubuhku untuk beristirahat. Sejenak aku pejamkan mata ini.
***
“Tluuut....Tluuut” dering Hp mengagetkanku saat melakukan tilawah harian. “Assalamualaikum, Bunda!” Ucapku.
“Walaikumsalam. Anti lagi ngapain sekarang?” Tanya bibiku
“Ana lagi tilawah sekarang! Ada apa Bunda?” “Nanti pagi, anti bisa kerumah kan?”
“Jam berapa?” Tanyaku. “Jam 8 pagi! Bisa nggak?”
“Iya, Insya Allah ana bisa! Emang ada apa Bun?” Tanyaku panasaran.
“Anti bisa berta’aruf lebih dalam lagi dengan Akhi Khalid, nanti pagi!” Ucap Bibiku. “Baik, Bunda!” Ucapku. Sedikit agak bingung.
“Baik, kelau gitu anti ana tunggu dirumah jam delapan pagi! Ya sudah, terusin tilawahnya.” Ucap Bibiku. Menyemangati.
“Assalamualaikum.” Salam Bibiku. “Walaikumsalam.”
Sejenak aku tutup Al Qur’an yang berada didepanku. Asa yang menghampiriku, membuat semangat bertilawah pun luntur. Pudar dari semangat yang begitu menggebu. Pilihan yang sangat berat yang harus aku lakukan. Lutfi, seorang hafidz qur’an dengan Khalid, seorang aktifis dakwah. Pilihan yang membuat aku tercengang dengan dua kelebihannya masing-masing. Yaa Allah, pilihkan yang terbaik untukku. Pilihkan yang membuat hatiku tentram karenanya. Pilihkan satu dari kedua dengan akhidah dan akhlak yang menyatu. Yang menjadikanku akan selalu senang dalam berjuang dalam Dien-Mu. Pilihkan Yaa Allah. pilihkan diantaranya. Aku sangat bingung wahai Rabb. Sang pembuat keputusan. Lindungi aku dari pilihan nafsuku!
***
Aku ambil kunci mobilku. Setelah itu bergegas menuju garasi. Saat akan memasuki pintu garasi. Sejenak, aku memberhentikan langkahku. Setelah itu aku mengambil Hpku. Tak lama setelah itu aku menekan tombol Hp.
“Hallo” Ucapnya seorang yang menjawab telphone diujung sana. “Hallo… Asssalamualaikum!” Salamku.
“Walaikumsalam!” Jawabnya. “Akhi Khalidnya ada?” Tanyaku.
“Iya saya sendiri, ini siapa yach?” Jawabnya.
Jantungku sedikit berdesir. Seorang ikhwan pujaan yang sedang aku ajak bicara. “Ini
Farah, Akh!” Jawabku.
“Iya, ada apa Ukh?” Tanya Khalid.
“Gini Akh, ana butuh bantuan antum! Ana kan lagi ada acara ditempat kajian. Nah ana butuh seorang ikhwan untuk mengisi kajian ditempat ikhwannya. Antum bisa nggak Akh? Ana benar-benar meminta tolong sama antum akh? Soalnya ana nggak begitu kenal banyak para ikhwan, selain antum!”
“Kapan, Ukh?” Tanya Khalid. Terdengar semangat. “Nanti, jam delapan!” Kataku.
“Afwan, Ukh. Ana tidak bisa membantu rencana anti! Ana ada janji Ukh” Jawabnya singkat. Terlihat melemah.
“Oh.. kalau gitu afwan yach Akh! Syukron atas waktunya. Assalamualaikum!” Ucapku, bernada seperti sangat kecewa.
“Walaikumsalam” Jawabnya. Terdengar sangat sedih.
Hem, hebat juga nih Ikhwan! Dia benar-benar menepati janjinya. Entah apakah aku harus mengecewakannya! Terlihat begitu besar tanggung jawabnya.
Sebenarnya aku hanya ingin mengetest Khalid. Apakah dia benar-benar akan mendatangi rencana ta’aruf yang memang semula direncanakan. Ini merupakan salah satu pembuktian keseriusan seorang ikhwan untuk mau menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Serta menjadikan sebuah contoh yang baik bagi keluarga. Semoga saja!
Dalam perjalanan. Rongga-rongga fikirku, masih sangat gamang dalam asa yang hilir mudik tak menentu. Entahlah, aku menjadi sangat tidak bersemangat sekali dalam setiap perjalanan yang seharusnya bisa aku nikmati. Kemacetan yang aku hadapi, tidak membuatku sadar akan kebiasan yang harus aku lakukan. Arus yang begitu padat, menyesakkan mata dalam setiap pandangan. Mobil masih terus berjalan, dalam arus yang tak menentu disetiap kemacetan yang terjadi.
Tidak seberapa jauh lagi jaraknya. Rumah paman dan bibiku akan terlihat. Mobilku kini melaju dalam jalan perumahan yang lengang. Dan akan cepat sampai
dalam hitungan menit. Kini tepat, marcedesku sudah sampai didepan rumah. Aku langkahkan kaki ini. Menuju pintu pagar rumah. Semilir angin menerpa pepohonan pekarangan rumah. Sejuk sekali. Suasana yang rindang hadir dalam suasa panas yang menyengat.
“Tok.... tok” Ketukanku dipintu rumah.
Pintu pun terbuka. Bibiku menyambut dengan senyumnya. Pelukan erat seorang saudara muslim pun tidak lupa kami lakukan.
“Kaifa, Ukhti?” Tanya Bibiku.
“Khoir, Alhamdulillah!” Jawabku, singkat.
“Baik, mari kita menuju ruang liqo’! Ustad Fadlan masih sedang berada diruang sebelah. Masih ada pertemuan pengurus masjid perumahan!”
Aku hanya mengekori, bibiku.
“Anti duduk. Disitu dulu yah! Ana mau buat minuman untuk pertemuan pengurus masjid dulu!”
“Iya Bunda. Tafadhol!”
Dalam ruang yang terbelah oleh kain panjang. Yang biasanya disebut sebagai hijab atau tabir. Aku termenung dalam kesendirian. Termenung dalam pilihan yang akan menentukan kehidupanku. Menikah. Sebuah pilihan yang memang harus aku lakukan. Tetapi memilih dua ikhwan yang memiliki karakter berbeda. Bukanlah angan-anganku. Entahlah, apakah aku harus mengingkari perkataan yang aku ucapkan. Atau aku harus menepatinya. Lutfi, merupakan ikhwan yang sangat sempurna dibanding Khalid. Lutfi merupakan seorang ikhwan yang sudah memiliki kemampuan yang sangat berlebih. Disamping dia hafidz dan lulusan Al Azhar Kairo, Mesir. Dia juga sudah mengelola perusahaan milik orangtuanya. Sedangkan Khalid. Mahasiswa yang kalau keman-mana jalan kaki. Dia pun tidak hafidz Al Qur’an. Belum bekerja, bahkan bisa dikatakan mahasiswa kontrakan yang selalu berbagi dengan yang lainnya. Dia terlihat selalu serba kekurangan. Hem. Sangat sulit dalam memilih!
Tak lama aku mendengar ada seorang Ikhwan yang datang. Mengobrol dengan Ammiku. Ustad Fadlan. Setelah itu Ustad Fadlan mempersilahkan untuk duduk dulu di ruang yang lain. Yaitu dibalik tabir yang lain.
“Alhamdulillah, ternyata pikiranku salah! Aku benar-benar mengira kalau itu keluarga si Akhwat. Hem.. pasti aku akan benar-benar kikuk kalau bertemu dengan si Akhwat Sekarang” Ucapnya lirih. Terdengar seperti berbicara sendiri.
Aku msih berdiam diri. Aku tidak berani untuk bersuara apapun. Bahkan untuk menggerakkan badan yang akan menimbulkan suara pun. Aku minimalisir. Agar Khalid tidak tahu kalau aku juga sudah berada didalam ruangan ini. Tidak seberapa lama, aku melihat Bibiku membuka tirai hijab atau tabir.
“Gimana, ustad? Apa sudah selesai!” Ucapnya. Terdengar seperti membuka percakapan.
“Alhamdulillah. Semuanya lancar!” Jawab ustad Fadlan dengan senyum. “Untuk ta’arufnya, jadi nggak ustad?” Tanya Khalid. Sepertinya tidak sabar. Aku hanya tersenyum. Saat Bibiku melihatku dengan senyuman.
“Ya pasti jadi, Akh! Nah akhwatnya kan sudah dari tadi diruang tabir kedua” Jawab
Ustad Fadlan.
Entahlah. Spontan rasanya Khalid langsung terdiam. Aku juga diam saja, aku malu. Aku malu karena sejak dari tadi aku sudah berada disini. Dan mendengar ucapan Khalid.
“Assalamualaikum” Salam Bibiku. “Walaikumsalam” Serempak terdengar jawaban.
“Gimana Bi, apa sudah bisa dimulai proses ta’arufnya” Tanya tanya Bibi, pada ustad
Fadlan.
“Iya, bisa langsung dimulai!” Scap ustad Fadlan. “Silakan Akh Khalid, untuk menanyakan sesuatu hal yang ingin antum tanyakan” Ucap lanjut ustad Fadlan, mempersilahkan.
Khalid menanyaiku dengan beberapa . Mulai dari Nama, kuliah, aktivitas dan lain sebagainya. Alhamdulillah, pertanyaan-pertanyaan yang masih bisa aku jawab dengan mudah.
Sebuah pertanyaan yang membuat mentalku sedikit drop dikatakan Khalid.
“Ana cuma mau mengingatkan anti. Kalau ana, belum kerja! Masih berstatus mahasiswa. Dan keluarga ana tidak begitu kaya. Bisa digolongkan, dari golongan menengah kebawah” Katanya, seperti menaku-nakuti.
Iya, aku tahu. Apakah aku benar-benar harus menerimanya! Entahlah. Aku yang memulai, berarti aku harus teguh dalam berprinsip. Tetap istiqomah! Pikirku. “Akhi, ana pengen menikah dengan antum bukan karena harta antum. Atau bahkan jaminan antum! Kalaulah antum belum bekerja. Asal antum mau, pasti ada pekerjaan buat antum! Ana cuma mengingatkan antum saja. Bahwa antum, tidak akan bisa memberikan ana jaminan kepastian untuk bisa menghidupi ana! Kalaulah ana menikah dengan antum, antum bukanlah penjamin hidup ana. Atau bahkan bisa memberikan nafkah kepada ana! Allahlah yang menjamin rezeki tiap-tiap umatnya. Lalu kenapa kita harus takut untuk melangkah dalam pernikahan, karena alasan soal rezeki atau nafkah. Semua serahkan ke Allah. Kalau ana jadi istri antum, ana siap hidup menderita karena harta. Tetapi berlimpah-limpah keimanan! Dan ingat akh,
menikah juga termasuk salah satu pintu rezeki!” Ucapku dengan pasti. Alhamdulillah, aku bisa!
Sebuah permintaan yang membuatku agak menjadi begitu kikuk. Dikatakan oleh Khalid. Padahal aku ingin sekali tidak memperlihatkan wajahku. Karena aku ingin tidak terlalu mengharapkan ikhwan ini. Tetapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Kalau aku sudah memulai, berarti aku harus konsisten dengan apa yang aku ucapkan.
Bunda hanya melihat. Sepertinya bingung, harus berbuat apa.
Aku mendekat pada Bibiku. “Bunda, boleh!” Bisikku. Agak lama memang. Sehingga terasa suasa agak begitu hening.
Bibiku membuka tabirku, dan memanggil Ustad Fadlan. Tidak seberapa lama, Ustad Fadlan memanggil Khalid. Setelah itu mempersilahkan Khalid untuk melihatku. Melihat calon istrinya. Sejenak saat Khalid melihatku. Aku tertunduk. Malu. Entah seperti apa ekspresi wajahku. Yang ada hanya rasa serba salah saat dipandanginya. Aku sebenarnya juga ingin memandang wajah Khalid. Tetapi entah, kepala ini terasa sangat berat dan mata juga terasa sangat kasat. Hanya tertunduklah aku untuk beberapa saat.
Begitu cepat. Semuanya terasa sudah direncanakan dengan matang. Aku sendiri hanya bisa merasakan kemudahan yang diberikan oleh-Nya. Sesaat setelah itu aku langsung mengucap syukur. Ketenangan jiwa yang aku rasakan begitu nikmat. Tetapi, dilema dua pilihan masih tetap melandaku. Aku tetap harus memilih satu dari dua ikhwan. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi salah satu dari mereka pun bukan seorang yang memang aku kenal dalam kiprah dakwahnya. Tetap, aku harus memilih. Entahlah, rasa bingungku kian memuncak.
Setelah taaruf. Aku langsung mengarahkan mobilku kedaerah kumuh. Mobilku bergerak dalam lalu lintas yang tidak begitu padat. Tetapi panas yang begitu menyengat dalam terik matahari yang garang dalam sinarnya. Terlihat begitu membara. Pasti neraka ribuan kali panasnya daripada ini! Gumamku. Mobilku terus melaju dalam kenyamanan berada didalamnya. Memang, dalam beberapa hari ini. Aku sering menggunakan mobil. Mobilitas dalam kegiatanku akhir-akhir ini sangat tinggi. Jadi terasa efektif bila memang aku memakai kendaraan. Bukan bermaksud hanya untuk kesenangan pribadi.
Sosok seorang berjalan dalam terik panas matahari. Langkah tegap dalam lajunya. Terasa begitu bersemangat. Khalid. Sosok itu masih bersamangat sekali, saat dia harus menghadapi bara panas matahari. Sungguh memang tidaklah sebuah kesalahan jika aku memilihnya. Tetapi sayang, hafalan Al Qu’an dan haditsnya sedikit. Saat aku berdialog dengannya, waktu di LDK dulu. Dia mengatakan “hafal Al Qur’an dan hadits itu memang harus. Tetapi hafal Al Qur’an dan hadits itu lebih wajib untuk diamalkannya! Makanya jika kita sudah hafal salah ayat atau hadits, maka wajib kita untuk melaksanakannya.” Itulah kata-katanya dahulu.
Memang harus disadari. Beberapa aktivis dakwah memang sangat banyak mobilitas kegiatannya. Hingga sangat sedikit waktu yang didapatkannya dalam menghafal Al Qur’an dan Hadits. Ini merupakan sebuah tantangan besar bagi Aktivis
dakwah yang berada dimedan dakwah. Sesuatu yang memang seharusnya dilakukan dalam berdakwah adalah mempunyai kemampuan hafalan yang sangat banyak. Tetapi mengingat keterbatasan waktu yang didapatkan. Maka harus ada salah satu waktu yang dikorbankan. Tidaklah adil, jika seseorang menyatakan tentang para aktivis dakwah. Bahwa mereka tidak mempunyai hafalan yang tinggi. Tetapi, mereka tidak melihat mobilitas kegiatan yang tinggi dari para aktivis dakwah. Para aktivis dakwah lebih mengutamakan ilmu dan amal yang seimbang. Dari pada ilmu yang tinggi tetapi jarang diamalkannya, atau amal yang tinggi tetapi tidak ada ilmunya. Sungguh diantara kedua-duanya, diwajibkan untuk mempunyai keseimbangan.
Mobilku sudah melaju didaerah perkampungan kumuh. Saat aku akan memarkir mobilku. Tak disangka, seorang melihatku dengan sangat tajam. Aku pun melihatnya dengan seksama. Memastikan bahwa apa benar aku mengenalnya. Tak disangka akupun akhirnya mengenalinya, dia adalah para penjahat yang waktu lalu hampir menembakku. Segera mungkin aku langsung menstarter mobilku lagi. Dan langsung melesat jauh, lari dari mereka. Suasana hati yang semula tenang. Kini menjadi sangat risau. Detak jantungku pun kembali tidak beraturan. Disertai istighfar yang entah berapa kali terucap dalam bibirku. Secepat mungkin aku pacu mobilku, meninggalkan daerah itu.
Jilid 10
Setelah memarkirkan mobil digarasi. Aku langsung memasuki kamarku. Detak jantungku masih tetap tidak beraturan. Bertautan antara keringat dingin yang keluar. Aku benar-benar takut sekali. Sejenak, aku mengambil air minum yang akan membasahi kerongkongan. Seteguk air putih, sedikit menetralkan jantungku. Didalam kamar aku pun terpaku. Takut dalam asa yang tak menentu. Bingung dan takut menyatu, membaur dalam diri yang merasa sangat lemah sekali. Penat yang menggapai diri sudah sangat tinggi. Entah kenapa. Aku langsung memencet tombol ON pada Tape.
Tegapkan langkah-langkahmu Lantangkan gema suaramu Dunia Islam memanggilmu Sambutlah dengan semangatmu
Jangan pernah berkeluh kesah Meski bersimbah peluh dan darah Kuatkan kesabaranmu
Jangan pernah kau menyerah
Makar-makar musuh makin bergemuruh
Seruan suci telah memanggilmu
Galang persatuan dengan kekuatan iman
Harta dan jiwa kita serahkan Meraih surgah yang dijanjikan Lebih baik dari dunia seisinya.
IZIS Mengumandang dalam kamarku. Jiwa-jiwa pencari syahid pun timbul kembali. Keberanian yang semula luntur. Bangkit dalam keberanian mencari sebuah kemuliaan. Rindu dengan keberanian para mujahidah yang selalu berkorban. Kini aku harus kembali. Menguatkan ruh jihad nan suci. Meskipun aku seorang akhwat. Tapi bukan berarti aku seorang yang lemah. Aku bisa menjadi seorang Ummu kultsum. Yang kuat dalam mempertahankan agama dan teretorialnya. Aku bisa menjadi Fatimah, yang kuat dalam kehidupan kezuhudannya. Aku pun harus bisa menjadi seorang Aisyah, yang bisa memimpin pasukan-pasukannya. Aku harus bisa menjadi seorang mujahidah. Harus.
“Tluuut...Tluut..” Sejenak bunyi Hpku, mengagetkanku. Terlihat nomor yang tidak dikenal. Hem. Pasti Lutfi!
“Hallo, Assalamualaikum!” Ucapku.
“Walaikumsalam. Ini Mbak Farah yah?” Jawab si penelepon. Seorang laki-laki. “Iya, Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran.
“Mbak, masih ingat dengan saya nggak? Saya Rendra, anak Ibu Inah!” Ucap orang itu.
Rendra, anak Ibu Inah! Pemuda yang sopan itu? HA! Aku teringat. Wajah Rendra persis dengan seorang penjahat yang berada di mobil Jeep itu. Iya, pasti dia!
“Ada apa! Kamu yang waktu itu akan membunuhku kan?” Ucapku ketus.
“Tenang Mbak, tenang! Saya tidak bermaksud membunuh Mbak. Kami saat itu hanya menakut-nakuti Mbak saja. Dan sasaran kami sebenarnya teman Mbak Farah!” Jelasnya.
“Lalu, apa maumu sekarang?” Ucapku keras.
“Mbak tenang. Saya tidak mau apa-apa dari Mbak dan teman Mbak! Saya hanya ingin mengatakan. Bahwa Mbak dan teman Mbak, harus berhati-hati! Si penyewa kami, menyewa seorang preman yang lainnya. Untuk membunuh Mbak Farah dan teman Mbak. Mbak harus berhati-hati!” Ucapnya serius.
“Aku tidak percaya dengan kamu!”
“Mbak harus percaya, dengan apa saya katakan!” Ucapnya, mencoba meyakinkanku. “Apa jaminanku, untuk mempercayaimu?”
“Mbak. Jaminan Mbak Farah mempercayai apa yang saya katakan. Adalah, karena Mbak Farah merupakan guru ngaji Ibu saya! Dan saya tidak akan menyakiti seorang yang berhubungan dengan Ibu saya. Mbak bisa pegang kata-kata saya! Dan saya termasuk orang-orang pengajiannya Bang Jamal. Yang seorang Ustadnya, adalah dari teman kuliah Mbak Farah juga. Khalid nama Ustadnya. Dan saya adalah seorang Muslim” Jelasnya, serius.
“Apa benar?”
“Mbak, saya tidak akan mengatakan ini jika Mbak Farah tidak ada hubungan apa-apa dengan Ibu saya!”
“Baik, Insya Allah aku percaya! Tetapi aku ingin tahu banyak tetang masalah ini. Bisa?”
“Iya, silakan!”
“Siapa yang menyuruh kamu untuk menakut-nakuti kami? Dan apa yang kalian cari sebenarnya?” Tanyaku serius.
“Sebenarnya ini etika pekerjaan Mbak! Kita tidak boleh mengatakan klien yang menyewa kita. Tetapi saya akan mengatakan. Kalau sebenarnya yang menyuruh kami adalah orang-orang dari perusahaan Bapak teman Mbak Farah sendiri. Mereka ingin mencari data-data perusahaan yang membahayakan posisi mereka diperusahaan. Jadi Mbak Farah dan teman Mbak Farah, harus sangat berhati-hati. Karena mereka menyewa, orang-orang yang lebih kejam daripada kami! Mereka tidak segan-segan
membunuh dengan sadis. Saya sarankan, Mbak Farah menyewa bodyguard yang profesional untuk menjaga diri!” Rendra terdengar sangat serius.
“Hem. Insya Allah, sudah ada bodyguard yang akan menjagaku.” Ucapku enteng. “Bagus Mbak. Bodyguard itu darimana Mbak?”
“Bodyguardku adalah seorang pencipta bodyguard. Yang sangat lebih profesional dari ciptaannya! Bodyguardku adalah Allah. Sang pemilik dan pencipta semua yang ada! Aku tidak butuh bodyguard manusia, karena sebenarnya tentara Allah lebih tersebar disetiap tempat!” Kataku tegas.
‘Mbak, saya yakin. Mbak Farah bisa menghadapi mereka! Insya Allah, jika saya melihat mereka menyakiti Mbak Farah. Maka saya akan membantu Mbak Farah!”
“Hem. Terima kasih!”
“Baik. Hanya itu yang ingin saya bicarakan. Maaf telah menganggu waktu Mbak
Farah!”
“Oh, tidak apa-apa. Terima kasih atas informasinya. Ini merupakan sebuah informasi yang sangat berharga!” Ucapku.
“Baik. Kalau gitu, Assalamualaikum” Ucap Rendra, mengakhiri pembicaraan. “Iya, Walaikumsalam.”
Pertempuran akan dimulai. Mereka sedang mencariku. Mereka mencari Dewi dan mencariku. Mereka telah menantang jundi-jundi Allah yang selalu bersiap siaga. Aku harus menelephon Abi sekarang. Secepatnya, aku langsung menekan nomor Hp Abiku.
“Assalamualaikum!” Salamku. “Walaikumsalam. Putriku!” Jawab Abi lembut. “Bi. Kabarnya gimana? Zah kangen!”
“Alhamdulillah, Abi baik-baik aja. Insya Allah dalam beberapa hari, urusan Abi sudah selesai!”
“Bi. Cepat pulang!” Ucapku. Manja.
“Iya. Insya Allah Abi akan pulang cepat! Ada apa Zah? Ummi baik-baik saja kan?” Tanya Abi. Terlihat cemas.
“Alhamdulillah Ummi baik-baik aja! Zah ada masalah Bi!” “Masalah! Apa masalahnya?”
“Bi. Ceritanya panjang. Pokoknya, ada yang ngincer Zah dan teman Zah. Mereka ingin membunuh kami berdua!”
“HA! SIAPA MEREKA?” Abi terlihat sangat kaget.
“Mereka orang-orang suruhan. Mereka ingin mengambil sebuah bukti berupa data. Tentang kasus korupsi disebuah perusahaan! Bi, Zah harus gimana?”
“Anti, tidak boleh takut! Zah, adalah mujahidah yang tidak boleh takut dengan ancaman siapa pun!” Ucap Abi, tegas.
“Tapi, Bi. Apakah Zah sanggup menghadapi mereka?” Ucapku. Sangsi.
“Anti, pasti bisa! Insya Allah, Abi akan telphone para mujahid-mujahid. Insya Allah, mereka yang akan melindungi Zah dan teman Zah! Zah, nggak boleh takut. Mujahidah tidak boleh takut menghadapi kezhaliman. Ini jihad! Katakanlah kebenaran, meskipun anti harus melawan mereka sendirian. Pokoknya anti tidak boleh takut!” Jelas Abi tegas.
“Iya, Bi!”
“Ummi, sudah tahu masalah Zah?” “Belum, Bi!” Ucapku.
“Jangan, memberitahu Ummi! Nanti Ummi jadi khawatir!” “Iya, Bi! Makanya Zah, bilang ke Abi aja” Ucapku. Manja.
“Iya, bagus! Kalau meereka mencoba menantang tentara-tentara Allah! Dengan mengincar para mujahidah-mujahidah. Kita umat Islam, tidak boleh sekalipun takut dengan ancaman mereka. Kebathilan harus kita lawan, sampai syahid yang akan kita dapatkan! Zah, Abi, akan sangat bangga sekali jika Zah dapat mengungkap semua ini.”
“Insya Allah, Bi! Zah akan berusaha”
“Alhamdulillah. Itu baru putri Abi!” Kata Abi. Terdengar bangga. “Abi, bisa aja!” Ujarku.
“Eh. Zah! Gimana, sudah ada calon pengganti Abi belum?” Goda Abi. “Abi!” Ucapku manja.
“Hem. Soalnya, ada yang beritahu Abi! Putri Abi lagi taaruf dengan ikhwan! Berani juga Zah. Mendahului taaruf! Abi dukung aja, kalau memang Ikhwan itu benar-benar baik. Dan bisa menggantikan Abi kelak!” Ucap Abi. Terlihat menyemangati.
“Ya. Ana minta doanya aja Bi! Bisa memilih yang terbaik.”
“Insya Allah, pasti Abi doa’in!” Ucap Abi bijak.
“Ya. Sudah Bi! Nanti kalau ada apa-apa, Zah akan telphon Abi!”
“Iya. Nanti kalau ada apa-apa, Zah telphone Abi aja! Jangan sampai masalah ini diketahui Ummi.”
“Ya, Udah Bi! Assalamualaikum” Ucapku, mengakhiri pembicaraa. “Walaikumsalam.”
Jiwa yang semula luluh. Kini bangkit kembali. Sorak sorai kesyahidan mengalun indah dalam angan-angan. Nikmat. Jalan juang kembali tertanam. Satu dalam tujuan kini telah kembali. Rasa takut pun kian lama kian lari. Bergantikan dengan semangat perjuangan yang sangat tinggi. IZIS pun mengalunkan semangatnya.
Sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita
Jalan yang engkau tempuh sangat panjang Tak sekedar bongkah batu karang Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang Walau tak kita hadapi masanya Tetaplah Al Haq pasti menang
Tanam dihati benih iman sejati Berpadu dengan jiwa Rabbani Tempatnya satu jadi pahlawan sejati Tuk tegakkan kalimat ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh Pastikan asamu semakin meninggi Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi Namun janji Allah yang akan pasti
*** “Tluut...Tluut..” Dering Hpku membangunkanku dari tidur. “Hallo!” Ucapku setelah mengangkat Hp.
“Hallo, Assalamualaikum Ukhti!” “Ini, siapa yah?” Tanyaku.
“Ukhti. Anti tidak menyimpan no Hp ana yah! Ini Lutfi.” “Oh. Iya, Afwan. Ada apa Akh?”
“Bagaimana, keputusannya?”
“Ha? Keputusan apa?” Tanyaku bingung.
“Hem. Anti kok lupa. Itu loh, keputusan untuk menerima ana!” Ucapnya. Terdengar sebal.
“Oh. Iya Afwan! Ana belum memikirkannya Akh! Afwan. Insya Allah, nanti malam antum telphon lagi. Semoga keputusannya sudah ana dapatkan nanti malam!”
“Kenapa anti tidak memutuskannya sekarang saja Ukh!” Ucap Lutfi. Terdengar seperti protes.
“Insya Allah nanti malam, Akh!” Tegasku. “Ya sudah, nanti malam ana telphon anti!” “Iya. Afwan ya Akh! Assalamualaikum”
“Walaikumsalam.” Jawabnya. Terdengar seperti memendam rasa sebal.
Keputusan yang harus aku ambil kini benar-benar sangat sulit. Aku kini harus benar-benar mengambil sebuah keputusan. Aku tidak ingin Ummi tersakiti dengan keputusannku. Tetapi aku juga tidak ingin dipaksa dalam menentukan sebuah pilihan. Rasa penat menghampiriku. Bingung berkecambuk dalam diri. Tak menentu dalam sebuah pilihan yang sama-sama memiliki kelebihan. Sejenak aku bangkit dari kasur. Aku harus membicarakan dengan Ummi! Gumamku dalam hati.
Aku langkahkan kakiku. Menuju kamar Ummi. Dengan degup jantung yang tak beraturan. Aku benar-benar takut mengecewakan Ummi. Pintu kamar sudah berada dihadapan. Sedikit aku mengatur nafas untuk menetralkan degup jantung terus berdegup tak beraturan.
“Ummi...” Panggilku. Sambil mengetuk pintu kamar. “Iya, Zah. Masuk aja!” Jawab Ummi didalam kamar.
Aku buka pintu kamar. Ummi terlihat asyik menyulam diteras kamar.
“Ada, apa putriku?” Tanya Ummi. Sambil melihatku, sembari tetap merajutkan benang-benang dan kain sulaman itu.
“Mi. Zah ingin bicara! Bisa?”
“Tafadhol. Tapi afwan, Ummi sambil menyulam yah!” Kata Ummi, dengan senyum lembutnya.
“Iya. Nggak apa-apa Mi! Mi. Ini masalah Lutfi.” “Kenapa?” Tanya Ummi heran.
“Mi. Zah sudah punya calon!” Ucapku pelan.
Ummi menghentikan sulamannya. Setelah itu melihatku. Entah apa yang tercermin dalam tatapan Ummiku. Sepertinya terlihat kekecewaan yang sangat dalam.
“Zah. Sudah bertaaruf dengan salah satu Ikhwan lebih dahulu!” Ucapku hati-hati. Ummi sedikit mendesah. Setelah itu kembali memfokuskan menyulam. Terlihat raut
muka yang sangat kecewa. “Zah. Kok nggak bilang Ummi dulu sih!” Ucap Ummi. Terlihat protes.
“Afwan Mi.” Sesalku.
“Zah. Ummi menyerahkan semua keputusan kepada Zah! Yang menjalani kehidupan adalah Zah sendiri. Tetapi Ummi ingatkan, bahwa apa yang Zah pilih harus mantap dalam hati Zah. Ummi sebenarnya sudah tahu, saat Zah bertaaruf dengan ikhwan! Tapi, tolong. Beritahu Ummi dulu lain kali! Minimal Ummi lebih dulu tahu.” Kata Ummi. Sambil melihatku dan tersenyum. Tangan lembut Ummi membelai pipiku. “Sudah. Sekarang Zah pikiran siapa yang harus Zah pilih. Kalau belum bisa, sholat istikharah saja!” Ucap lanjut Ummi.
Hatiku yang semula jatuh. Takut Ummi tidak setuju dengan pilihanku. Atau bahkan sakit hati karena aku memilih seorang ikhwan yang bukan dari pilihan Ummi. Kini sudah sirna. Sungguh nikmat mempunyai keluarga yang benar-benar menerapkan aturan-aturan Islam. Bukan ego yang dipakai. Tetapi syariat yang diterapkan, menjadikan kesahajaan dalam semua urusan rumah. Termasuk dalam urusan memilih pasangan hidup.
“Iya. Mi! Terima kasih” Ucapku. Sambil mencium tangan Ummi. Dan langsung memeluk Ummi. Entah apa, kata terima kasih yang pantas untuk diucapkan kepada Ummi. Seorang wanita yang benar-benar mengerti tentang apa yang memang diinginkan oleh putrinya.
“Iya. Sudah, sekarang Zah renungi. Pilih yang menurut Zah paling terbaik menjadi pasangan Zah!”
“Baik. Mi!” Ucapku.
Setelah itu aku langsung masuk kedalam kamarku. Dan duduk dalam kursi malasku. Biasanya aku selalu melakukan itu jika sedang pusing memikirkan sesuatu. Sejenak aku merenung dengan pikiran yang tak kunjung dapat menemukan titik jawaban yang benar. Sejenak aku mengambil mushaf kecil yang berada disamping meja dekat kursi. Aku membuka dan membacanya. Untuk lebih menentramkan diri, dan menjadikan obat dalam penentuan sebuah keputusan. Tak lama. Pikiranku pun kembali mengingat sesuatu. Aku hentikan, tilawahku. Sejenak aku menerawang tentang sebuah keputusan.
Akh Lutfi, merupakan temanku sejak kecil. Keluarganya kaya. Dan dia sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan sangat bagus. Pasti aku tidak akan kekurangan dalam materi jika aku menikahinya kelak. Bacaan Al Qur’annya pun
bagus. Dan dia merupakan hafidz. Sungguh hebat wanita yang akan menikahinya! Kalau Akh Khalid. Merupakan seorang ikhwan yang baru aku kenal dari bangku kuliah. Sepak terjang dakwahnya tidak diragukan lagi. Gaya kepemimpinannya sangat elegan. Kharismatik, meskipun dalam harta dia sangat terlihat kekurangan. Hapalan Al Qur’annya memang tidak banyak. Tetapi, terlihat dia lebih mengamalkan Al Qur’an yang dia sudah tahu dan hafal. Kalau untuk membaca dengan tartil, Akh Khalid lumayan bagus. Meskipun tidak bagus-bagus amat sih! PUSING!
Sejenak penat kembali melanda relung jiwaku yang bingung. Entah sepertinya memang aku harus shalat istikharah. Tapi, tunggu dulu! Sebuah ingatan melintas dalam pikirku. Affan. Satu nama mengingatkanku. Iya Affan benar. Affan. Saudaraku. Dia pernah mengalami hal seperti ini. Oh iya, dan dia pernah cerita kepadaku. Sebuah ilmu telah aku dapatkan. Saudaraku Affan. Pernah mengalami hal kejadian seperti ini. Tetapi dia lebih seperti Akhi Khalid. Aku ingat. Bahwa Affan pernah mengenal seorang Akhwat. Dan mereka pernah saling mengikat tali khitbah. Tetapi sayang, orang tua si Akhwat tidak merestui Affan menjadi menantunya. Tetapi, Affan dan si Akhwat istiqomah dalam meyakinkn orang tua si Akhwat. Hanya sayang, seorang ikhwan lain datang di kehidupan si Akhawat. Si Akhwat melihat ikhwan yang lebih baik dari Affan. Sangat jauh lebih baik.
Si Akhwat akhirnya ragu berhubungan dengan Affan. Si Ikhwan yang terbaik ini sudah mendapatkan restu dari orang tua Si Akhwat. Dengan cara-cara yang seharusnya tidak dipakai oleh seorang muslim. Si Ikhwan akhirnya dapat meluluhkan hati orang tua Si Akhwat. Dan Si Akhwat jadi pindah kelain hati. Berpindah kepada yang lebih baik lagi. Tapi sayang, itu adalah sebuah cara yang hina. Aku mengatakan kepada Affan. Bahwa cara yang dilakukan oleh Si Ikhwan adalah Hina, dan jika Si Akhwat menerima Si Ikhwan itu. Maka keduanya merupakan seorang yang hina. “Bagaimana anti bisa mengatakan itu!” protes Affan, Saat itu.
Aku menjawabnya dengan mengibaratkan sebuah air minum yang sudah dihadapan Affan. Tetapi sayang, Affan dilarang meminum air itu. Meskipun, Affan terlihat sangat kehausan sekali. Lalu tiba-tiba datang seorang Ikhwan, yang dengan berbagai cara. Merayu si pemilik air minum itu, untuk mau diminum oleh Si Ikhwan. Padahal didepan Si Ikhwan ada seorang Ikhwan lain yang sangat lama membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun sudah dihadapan Affan. Akhirnya dengan serta merta air minum itu pun diperbolehkan untuk diminum oleh Si Ikhwan. Berarti dalam kata lain, bahwa air minum itu telah dirampas oleh Si Ikhwan. Dihadapan saudaranya yang memang membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun dengan suka cita mau diminum oleh Si Ikhwan. Bagaimana bukan Hina, seorang yang merampas air minum yang sudah dihadapan orang yang sangat membutuhkan. Dan bagaimana bukan air minum yang hina, saat air minum itu bersuka cita diminum oleh orang yang hina. Hingga seorang yang kehausan itu harus akhirnya menanggung sakit yang teramat dalam.
“Apakah itu, bukan sebuah kehinaan yang sangat hina!” Jelasku kepada Affan waktu itu. Seburuk-buruk seorang Ikhwan, tidak akan menyengsarakan saudara Ikhwan yang lainnya. Atau bahkan merampas sesuatu yang sudah diidam-idamkan seorang ikhwan. Tidaklah seorang Ikhwan yang terbaik, kalau dihatinya tertanam benih-benih cara yang hina. Meskipun seorang ikhwan itu bagus akhidahnya, bagus hafalan Al Qur’annya. Tetapi jika dia melakukan cara yang kotor dan hina. Maka
akhlaqnya tidak lebih rendah dari binatang yang saling berebut dalam mencari makanan. Tetapi aku salut dengan Affan. Aku benar-benar mengagumi salah satu saudaraku itu. Dengan santai, meskipun terlihat pedih dimatanya dan terlihat sakit yang mendalam dihatinya. Dia hanya mengatakan “Sungguh, ana relakan seorang wanita yang ana inginkan. Untuk dijadikan istri oleh seorang ikhwan yang memang membutuhkan. Mungkin saja, Ikhwan itu tidak mempunyai kemampuan, untuk mencari seorang wanita lain! Insya Allah ana akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Itu janji Allah!” Aku saat itu benar-benar kagum dengan ucapan Affan. “Benar. Antum, tidak akan diberikan oleh Allah air yang hina untuk antum minum!” Kataku keras waktu itu. Karena, aku sangat jengkel dengan seorang akhwat yang telah menjadi pengkhianat cinta. Kalaulah cinta Si Akhwat karena Allah. Maka tiada yang hadir selain keistiqomaan dan berjuang untuk meyakinkan orang tuanya. Dan tidaklah menjadikan seorang Akhwat malah berlenggang mencari yang terbaik bagi dirinya. Saat yang terbaik itu adalah sebuah ketidakpastian. Seharusnya Si Akhwat sudah dari dulu memutuskan hubungan dengan Affan. Kalaulah dia ingin mencari Ikhwan yang terbaik. Bukan malah mengikat Affan terus menerus dalam hubungan yang tidak pasti. Hingga Affan benar-benar memperjuangkannya. Tetapi sayang, perjuangan Affan tidak menuai hasil yang baik. “Bukan hasil yang kita cari. Tetapi keridhoan yang kita harapkan dari Allah!” itulah ucapan Affan waktu lalu. Akhwat mana yang rela dan tega meninggalkan seorang Ikhwan yang benar-benar memperjuangankannya. Kecuali seorang akhwat yang memang dirinya mencari kehinaan. Kalaulah memang Si Akhwat bukan seorang yang Hina. Seharusnya Si Akhwat sudah memutuskan Affan sejak ketidaksetujuan orang tua Si Akhwat. Bukan malah menjadikan Affan sebagai pemain pengganti jika tidak ada yang lebih baik dari Affan. Dan kalau ada, Affan dilepaskan begitu saja. Karena sebenarnya ini bisa dikatakan sebuah kekejaman. Dan sangat zhalim.
Tapi Subhanallah. Aku saat itu baru melihat sifat itsar yang selalu didengung- dengungkan dalam sejarah umat Islam. Benar-benar hebat. Memang, kenapa Itsar dikatakan sebagai tingkatan iman yang paling tinggi. Karena memang, melakukan itsar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sangat berat memberikan sesuatu yang kita inginkan kepada orang lain. Kalau bukan seorang yang beriman. Mana mungkin?
Perasaan yang semula kalut kini menjadi lebih tenang. Setelah mengingat seorang ikhwan yang bernama Affan. Memang, tidak ada dalam kepastian dalam sebuah kehidupan. Karena sesungguhnya kepastian itu hanya milik Allah. Maka, jika kita melakukan sebuah hubungan. Kepastian itu adalah rasa kepercayaan seseorang.
Sejenak aku memikirkan dampak jika aku menikah dengan salah satu dari ikhwan itu. Lutfi dan Khalid. Hem, jika aku akan menikah dengan Akhi Lutfi. Insya Allah aku mendapatkan materi yang berkecukupan. Mungkin jika aku menikahi Akhi Lutfi, hafalanku juga akan bertambah. Sejenak aku berfikir lagi. Lalu, jika aku menikahi Akhi Khalid, apakah kami berdua tidak bisa berusaha mendapatkan materi? Lalu apakah jika aku menikah dengan Akhi Khalid hafalanku tidak bisa bertambah juga? Tapi, siapa yang bisa menjamin? Bukankah Allah mudah untuk melenyapkan segala sesuatu! Benar-benar pikiranku kembali penat. Dari relung- relung pikirku yang semula hampir jernih. AKHLAQ! Satu kata yang terlintas dibenakku. Iya benar, akhlaq. Sekarang aku sudah tidak pusing lagi untuk mengambil sebuah keputusan. Karena semuanya sudah jelas. Siapa yang harus aku pilih.
Sejenak ucap syukurku kepada Allah. Aku bukanlah akhwat yang mencari kehinaan dalam keridhoan Allah. Apalagi aku bukan akhwat yang tega, meninggalkan seorang Ikhwan yang memang sudah serius untuk menjalin tali pernikahan kepadaku. Apalagi aku bukan seorang akhwat yang hanya mencari seorang ikhwan yang dikatakan terbaik. Aku bukan mencari ikhwan terbaik dalam wujudnya saja. Tetapi aku mencari ikhwan yang terbaik dalam segala hal. Dalam akhidah, dakwah dan yang tidak kalah pentingnya adalah Akhlaq. Akhidah bisa dibangun dengan pelajaran pengetahuan tentang Rabb. Dakwah bisa dibangun dengan pondasi-pondasi akhidah. Tetapi akhlaq, akhlaq tidaklah semudah mempelajari akhidah dan dakwah. Karena akhlaq adalah mencerminkan jiwa yang suci dan bersih. Yang selalu mencerminkan keindahan dakwah Rasulullah. Akhlaq adalah harga yang paling tinggi untuk dimiliki. Karena untuk menjalankan kata yang dinamakan akhlaq. Harus benar-benar mencerminkan kepribadian Rasulullah. Yaitu ikhlas. Dan itu sangat sulit.
Seorang yang mempelajari Akhidah. Dia hanya mempelajari pondasi-pondasi dakwah. Tetapi jika seorang yang mempunyai akhlaq Islam yang tinggi. Maka dia adalah seorang muslim yang sempurna. Karena pasti, perilaku-perilakunya adalah menurut apa yang dikatakan dalam Al Qur’an dan Sunnah. Bukan hanya keyakinan semata. Dan ciri seorang yang berakhlaq adalah, tidak melakukan sesuatu hal yang bisa menyakitkan orang lain. Tidak melakukan sesuatu perbuatan yang hina. Tidak merampas apa yang dipunyai atau yang diharapkan oleh orang lain. Selalu bersifat lemah lembut. Dan keras jika menantang kezhaliman. Ikhwan seperti inilah yang aku cari.
Tegapkan langkah-langkahmu Lantangkan gema suaramu Dunia Islam memanggilmu Sambutlah dengan semangatmu
Jangan pernah berkeluh kesah Meski bersimbah peluh dan darah Kuatkan kesabaranmu
Jangan pernah kau menyerah
Makar-makar musuh makin bergemuruh
Seruan suci telah memanggilmu
Galang persatuan dengan kekuatan iman
Harta dan jiwa kita serahkan Meraih surgah yang dijanjikan Lebih baik dari dunia seisinya.
IZIS Mengumandang dalam kamarku. Jiwa-jiwa pencari syahid pun timbul kembali. Keberanian yang semula luntur. Bangkit dalam keberanian mencari sebuah kemuliaan. Rindu dengan keberanian para mujahidah yang selalu berkorban. Kini aku harus kembali. Menguatkan ruh jihad nan suci. Meskipun aku seorang akhwat. Tapi bukan berarti aku seorang yang lemah. Aku bisa menjadi seorang Ummu kultsum. Yang kuat dalam mempertahankan agama dan teretorialnya. Aku bisa menjadi Fatimah, yang kuat dalam kehidupan kezuhudannya. Aku pun harus bisa menjadi seorang Aisyah, yang bisa memimpin pasukan-pasukannya. Aku harus bisa menjadi seorang mujahidah. Harus.
“Tluuut...Tluut..” Sejenak bunyi Hpku, mengagetkanku. Terlihat nomor yang tidak dikenal. Hem. Pasti Lutfi!
“Hallo, Assalamualaikum!” Ucapku.
“Walaikumsalam. Ini Mbak Farah yah?” Jawab si penelepon. Seorang laki-laki. “Iya, Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran.
“Mbak, masih ingat dengan saya nggak? Saya Rendra, anak Ibu Inah!” Ucap orang itu.
Rendra, anak Ibu Inah! Pemuda yang sopan itu? HA! Aku teringat. Wajah Rendra persis dengan seorang penjahat yang berada di mobil Jeep itu. Iya, pasti dia!
“Ada apa! Kamu yang waktu itu akan membunuhku kan?” Ucapku ketus.
“Tenang Mbak, tenang! Saya tidak bermaksud membunuh Mbak. Kami saat itu hanya menakut-nakuti Mbak saja. Dan sasaran kami sebenarnya teman Mbak Farah!” Jelasnya.
“Lalu, apa maumu sekarang?” Ucapku keras.
“Mbak tenang. Saya tidak mau apa-apa dari Mbak dan teman Mbak! Saya hanya ingin mengatakan. Bahwa Mbak dan teman Mbak, harus berhati-hati! Si penyewa kami, menyewa seorang preman yang lainnya. Untuk membunuh Mbak Farah dan teman Mbak. Mbak harus berhati-hati!” Ucapnya serius.
“Aku tidak percaya dengan kamu!”
“Mbak harus percaya, dengan apa saya katakan!” Ucapnya, mencoba meyakinkanku. “Apa jaminanku, untuk mempercayaimu?”
“Mbak. Jaminan Mbak Farah mempercayai apa yang saya katakan. Adalah, karena Mbak Farah merupakan guru ngaji Ibu saya! Dan saya tidak akan menyakiti seorang yang berhubungan dengan Ibu saya. Mbak bisa pegang kata-kata saya! Dan saya termasuk orang-orang pengajiannya Bang Jamal. Yang seorang Ustadnya, adalah dari teman kuliah Mbak Farah juga. Khalid nama Ustadnya. Dan saya adalah seorang Muslim” Jelasnya, serius.
“Apa benar?”
“Mbak, saya tidak akan mengatakan ini jika Mbak Farah tidak ada hubungan apa-apa dengan Ibu saya!”
“Baik, Insya Allah aku percaya! Tetapi aku ingin tahu banyak tetang masalah ini. Bisa?”
“Iya, silakan!”
“Siapa yang menyuruh kamu untuk menakut-nakuti kami? Dan apa yang kalian cari sebenarnya?” Tanyaku serius.
“Sebenarnya ini etika pekerjaan Mbak! Kita tidak boleh mengatakan klien yang menyewa kita. Tetapi saya akan mengatakan. Kalau sebenarnya yang menyuruh kami adalah orang-orang dari perusahaan Bapak teman Mbak Farah sendiri. Mereka ingin mencari data-data perusahaan yang membahayakan posisi mereka diperusahaan. Jadi Mbak Farah dan teman Mbak Farah, harus sangat berhati-hati. Karena mereka menyewa, orang-orang yang lebih kejam daripada kami! Mereka tidak segan-segan
membunuh dengan sadis. Saya sarankan, Mbak Farah menyewa bodyguard yang profesional untuk menjaga diri!” Rendra terdengar sangat serius.
“Hem. Insya Allah, sudah ada bodyguard yang akan menjagaku.” Ucapku enteng. “Bagus Mbak. Bodyguard itu darimana Mbak?”
“Bodyguardku adalah seorang pencipta bodyguard. Yang sangat lebih profesional dari ciptaannya! Bodyguardku adalah Allah. Sang pemilik dan pencipta semua yang ada! Aku tidak butuh bodyguard manusia, karena sebenarnya tentara Allah lebih tersebar disetiap tempat!” Kataku tegas.
‘Mbak, saya yakin. Mbak Farah bisa menghadapi mereka! Insya Allah, jika saya melihat mereka menyakiti Mbak Farah. Maka saya akan membantu Mbak Farah!”
“Hem. Terima kasih!”
“Baik. Hanya itu yang ingin saya bicarakan. Maaf telah menganggu waktu Mbak
Farah!”
“Oh, tidak apa-apa. Terima kasih atas informasinya. Ini merupakan sebuah informasi yang sangat berharga!” Ucapku.
“Baik. Kalau gitu, Assalamualaikum” Ucap Rendra, mengakhiri pembicaraan. “Iya, Walaikumsalam.”
Pertempuran akan dimulai. Mereka sedang mencariku. Mereka mencari Dewi dan mencariku. Mereka telah menantang jundi-jundi Allah yang selalu bersiap siaga. Aku harus menelephon Abi sekarang. Secepatnya, aku langsung menekan nomor Hp Abiku.
“Assalamualaikum!” Salamku. “Walaikumsalam. Putriku!” Jawab Abi lembut. “Bi. Kabarnya gimana? Zah kangen!”
“Alhamdulillah, Abi baik-baik aja. Insya Allah dalam beberapa hari, urusan Abi sudah selesai!”
“Bi. Cepat pulang!” Ucapku. Manja.
“Iya. Insya Allah Abi akan pulang cepat! Ada apa Zah? Ummi baik-baik saja kan?” Tanya Abi. Terlihat cemas.
“Alhamdulillah Ummi baik-baik aja! Zah ada masalah Bi!” “Masalah! Apa masalahnya?”
“Bi. Ceritanya panjang. Pokoknya, ada yang ngincer Zah dan teman Zah. Mereka ingin membunuh kami berdua!”
“HA! SIAPA MEREKA?” Abi terlihat sangat kaget.
“Mereka orang-orang suruhan. Mereka ingin mengambil sebuah bukti berupa data. Tentang kasus korupsi disebuah perusahaan! Bi, Zah harus gimana?”
“Anti, tidak boleh takut! Zah, adalah mujahidah yang tidak boleh takut dengan ancaman siapa pun!” Ucap Abi, tegas.
“Tapi, Bi. Apakah Zah sanggup menghadapi mereka?” Ucapku. Sangsi.
“Anti, pasti bisa! Insya Allah, Abi akan telphone para mujahid-mujahid. Insya Allah, mereka yang akan melindungi Zah dan teman Zah! Zah, nggak boleh takut. Mujahidah tidak boleh takut menghadapi kezhaliman. Ini jihad! Katakanlah kebenaran, meskipun anti harus melawan mereka sendirian. Pokoknya anti tidak boleh takut!” Jelas Abi tegas.
“Iya, Bi!”
“Ummi, sudah tahu masalah Zah?” “Belum, Bi!” Ucapku.
“Jangan, memberitahu Ummi! Nanti Ummi jadi khawatir!” “Iya, Bi! Makanya Zah, bilang ke Abi aja” Ucapku. Manja.
“Iya, bagus! Kalau meereka mencoba menantang tentara-tentara Allah! Dengan mengincar para mujahidah-mujahidah. Kita umat Islam, tidak boleh sekalipun takut dengan ancaman mereka. Kebathilan harus kita lawan, sampai syahid yang akan kita dapatkan! Zah, Abi, akan sangat bangga sekali jika Zah dapat mengungkap semua ini.”
“Insya Allah, Bi! Zah akan berusaha”
“Alhamdulillah. Itu baru putri Abi!” Kata Abi. Terdengar bangga. “Abi, bisa aja!” Ujarku.
“Eh. Zah! Gimana, sudah ada calon pengganti Abi belum?” Goda Abi. “Abi!” Ucapku manja.
“Hem. Soalnya, ada yang beritahu Abi! Putri Abi lagi taaruf dengan ikhwan! Berani juga Zah. Mendahului taaruf! Abi dukung aja, kalau memang Ikhwan itu benar-benar baik. Dan bisa menggantikan Abi kelak!” Ucap Abi. Terlihat menyemangati.
“Ya. Ana minta doanya aja Bi! Bisa memilih yang terbaik.”
“Insya Allah, pasti Abi doa’in!” Ucap Abi bijak.
“Ya. Sudah Bi! Nanti kalau ada apa-apa, Zah akan telphon Abi!”
“Iya. Nanti kalau ada apa-apa, Zah telphone Abi aja! Jangan sampai masalah ini diketahui Ummi.”
“Ya, Udah Bi! Assalamualaikum” Ucapku, mengakhiri pembicaraa. “Walaikumsalam.”
Jiwa yang semula luluh. Kini bangkit kembali. Sorak sorai kesyahidan mengalun indah dalam angan-angan. Nikmat. Jalan juang kembali tertanam. Satu dalam tujuan kini telah kembali. Rasa takut pun kian lama kian lari. Bergantikan dengan semangat perjuangan yang sangat tinggi. IZIS pun mengalunkan semangatnya.
Sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita
Jalan yang engkau tempuh sangat panjang Tak sekedar bongkah batu karang Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang Walau tak kita hadapi masanya Tetaplah Al Haq pasti menang
Tanam dihati benih iman sejati Berpadu dengan jiwa Rabbani Tempatnya satu jadi pahlawan sejati Tuk tegakkan kalimat ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh Pastikan asamu semakin meninggi Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi Namun janji Allah yang akan pasti
*** “Tluut...Tluut..” Dering Hpku membangunkanku dari tidur. “Hallo!” Ucapku setelah mengangkat Hp.
“Hallo, Assalamualaikum Ukhti!” “Ini, siapa yah?” Tanyaku.
“Ukhti. Anti tidak menyimpan no Hp ana yah! Ini Lutfi.” “Oh. Iya, Afwan. Ada apa Akh?”
“Bagaimana, keputusannya?”
“Ha? Keputusan apa?” Tanyaku bingung.
“Hem. Anti kok lupa. Itu loh, keputusan untuk menerima ana!” Ucapnya. Terdengar sebal.
“Oh. Iya Afwan! Ana belum memikirkannya Akh! Afwan. Insya Allah, nanti malam antum telphon lagi. Semoga keputusannya sudah ana dapatkan nanti malam!”
“Kenapa anti tidak memutuskannya sekarang saja Ukh!” Ucap Lutfi. Terdengar seperti protes.
“Insya Allah nanti malam, Akh!” Tegasku. “Ya sudah, nanti malam ana telphon anti!” “Iya. Afwan ya Akh! Assalamualaikum”
“Walaikumsalam.” Jawabnya. Terdengar seperti memendam rasa sebal.
Keputusan yang harus aku ambil kini benar-benar sangat sulit. Aku kini harus benar-benar mengambil sebuah keputusan. Aku tidak ingin Ummi tersakiti dengan keputusannku. Tetapi aku juga tidak ingin dipaksa dalam menentukan sebuah pilihan. Rasa penat menghampiriku. Bingung berkecambuk dalam diri. Tak menentu dalam sebuah pilihan yang sama-sama memiliki kelebihan. Sejenak aku bangkit dari kasur. Aku harus membicarakan dengan Ummi! Gumamku dalam hati.
Aku langkahkan kakiku. Menuju kamar Ummi. Dengan degup jantung yang tak beraturan. Aku benar-benar takut mengecewakan Ummi. Pintu kamar sudah berada dihadapan. Sedikit aku mengatur nafas untuk menetralkan degup jantung terus berdegup tak beraturan.
“Ummi...” Panggilku. Sambil mengetuk pintu kamar. “Iya, Zah. Masuk aja!” Jawab Ummi didalam kamar.
Aku buka pintu kamar. Ummi terlihat asyik menyulam diteras kamar.
“Ada, apa putriku?” Tanya Ummi. Sambil melihatku, sembari tetap merajutkan benang-benang dan kain sulaman itu.
“Mi. Zah ingin bicara! Bisa?”
“Tafadhol. Tapi afwan, Ummi sambil menyulam yah!” Kata Ummi, dengan senyum lembutnya.
“Iya. Nggak apa-apa Mi! Mi. Ini masalah Lutfi.” “Kenapa?” Tanya Ummi heran.
“Mi. Zah sudah punya calon!” Ucapku pelan.
Ummi menghentikan sulamannya. Setelah itu melihatku. Entah apa yang tercermin dalam tatapan Ummiku. Sepertinya terlihat kekecewaan yang sangat dalam.
“Zah. Sudah bertaaruf dengan salah satu Ikhwan lebih dahulu!” Ucapku hati-hati. Ummi sedikit mendesah. Setelah itu kembali memfokuskan menyulam. Terlihat raut
muka yang sangat kecewa. “Zah. Kok nggak bilang Ummi dulu sih!” Ucap Ummi. Terlihat protes.
“Afwan Mi.” Sesalku.
“Zah. Ummi menyerahkan semua keputusan kepada Zah! Yang menjalani kehidupan adalah Zah sendiri. Tetapi Ummi ingatkan, bahwa apa yang Zah pilih harus mantap dalam hati Zah. Ummi sebenarnya sudah tahu, saat Zah bertaaruf dengan ikhwan! Tapi, tolong. Beritahu Ummi dulu lain kali! Minimal Ummi lebih dulu tahu.” Kata Ummi. Sambil melihatku dan tersenyum. Tangan lembut Ummi membelai pipiku. “Sudah. Sekarang Zah pikiran siapa yang harus Zah pilih. Kalau belum bisa, sholat istikharah saja!” Ucap lanjut Ummi.
Hatiku yang semula jatuh. Takut Ummi tidak setuju dengan pilihanku. Atau bahkan sakit hati karena aku memilih seorang ikhwan yang bukan dari pilihan Ummi. Kini sudah sirna. Sungguh nikmat mempunyai keluarga yang benar-benar menerapkan aturan-aturan Islam. Bukan ego yang dipakai. Tetapi syariat yang diterapkan, menjadikan kesahajaan dalam semua urusan rumah. Termasuk dalam urusan memilih pasangan hidup.
“Iya. Mi! Terima kasih” Ucapku. Sambil mencium tangan Ummi. Dan langsung memeluk Ummi. Entah apa, kata terima kasih yang pantas untuk diucapkan kepada Ummi. Seorang wanita yang benar-benar mengerti tentang apa yang memang diinginkan oleh putrinya.
“Iya. Sudah, sekarang Zah renungi. Pilih yang menurut Zah paling terbaik menjadi pasangan Zah!”
“Baik. Mi!” Ucapku.
Setelah itu aku langsung masuk kedalam kamarku. Dan duduk dalam kursi malasku. Biasanya aku selalu melakukan itu jika sedang pusing memikirkan sesuatu. Sejenak aku merenung dengan pikiran yang tak kunjung dapat menemukan titik jawaban yang benar. Sejenak aku mengambil mushaf kecil yang berada disamping meja dekat kursi. Aku membuka dan membacanya. Untuk lebih menentramkan diri, dan menjadikan obat dalam penentuan sebuah keputusan. Tak lama. Pikiranku pun kembali mengingat sesuatu. Aku hentikan, tilawahku. Sejenak aku menerawang tentang sebuah keputusan.
Akh Lutfi, merupakan temanku sejak kecil. Keluarganya kaya. Dan dia sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan sangat bagus. Pasti aku tidak akan kekurangan dalam materi jika aku menikahinya kelak. Bacaan Al Qur’annya pun
bagus. Dan dia merupakan hafidz. Sungguh hebat wanita yang akan menikahinya! Kalau Akh Khalid. Merupakan seorang ikhwan yang baru aku kenal dari bangku kuliah. Sepak terjang dakwahnya tidak diragukan lagi. Gaya kepemimpinannya sangat elegan. Kharismatik, meskipun dalam harta dia sangat terlihat kekurangan. Hapalan Al Qur’annya memang tidak banyak. Tetapi, terlihat dia lebih mengamalkan Al Qur’an yang dia sudah tahu dan hafal. Kalau untuk membaca dengan tartil, Akh Khalid lumayan bagus. Meskipun tidak bagus-bagus amat sih! PUSING!
Sejenak penat kembali melanda relung jiwaku yang bingung. Entah sepertinya memang aku harus shalat istikharah. Tapi, tunggu dulu! Sebuah ingatan melintas dalam pikirku. Affan. Satu nama mengingatkanku. Iya Affan benar. Affan. Saudaraku. Dia pernah mengalami hal seperti ini. Oh iya, dan dia pernah cerita kepadaku. Sebuah ilmu telah aku dapatkan. Saudaraku Affan. Pernah mengalami hal kejadian seperti ini. Tetapi dia lebih seperti Akhi Khalid. Aku ingat. Bahwa Affan pernah mengenal seorang Akhwat. Dan mereka pernah saling mengikat tali khitbah. Tetapi sayang, orang tua si Akhwat tidak merestui Affan menjadi menantunya. Tetapi, Affan dan si Akhwat istiqomah dalam meyakinkn orang tua si Akhwat. Hanya sayang, seorang ikhwan lain datang di kehidupan si Akhawat. Si Akhwat melihat ikhwan yang lebih baik dari Affan. Sangat jauh lebih baik.
Si Akhwat akhirnya ragu berhubungan dengan Affan. Si Ikhwan yang terbaik ini sudah mendapatkan restu dari orang tua Si Akhwat. Dengan cara-cara yang seharusnya tidak dipakai oleh seorang muslim. Si Ikhwan akhirnya dapat meluluhkan hati orang tua Si Akhwat. Dan Si Akhwat jadi pindah kelain hati. Berpindah kepada yang lebih baik lagi. Tapi sayang, itu adalah sebuah cara yang hina. Aku mengatakan kepada Affan. Bahwa cara yang dilakukan oleh Si Ikhwan adalah Hina, dan jika Si Akhwat menerima Si Ikhwan itu. Maka keduanya merupakan seorang yang hina. “Bagaimana anti bisa mengatakan itu!” protes Affan, Saat itu.
Aku menjawabnya dengan mengibaratkan sebuah air minum yang sudah dihadapan Affan. Tetapi sayang, Affan dilarang meminum air itu. Meskipun, Affan terlihat sangat kehausan sekali. Lalu tiba-tiba datang seorang Ikhwan, yang dengan berbagai cara. Merayu si pemilik air minum itu, untuk mau diminum oleh Si Ikhwan. Padahal didepan Si Ikhwan ada seorang Ikhwan lain yang sangat lama membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun sudah dihadapan Affan. Akhirnya dengan serta merta air minum itu pun diperbolehkan untuk diminum oleh Si Ikhwan. Berarti dalam kata lain, bahwa air minum itu telah dirampas oleh Si Ikhwan. Dihadapan saudaranya yang memang membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun dengan suka cita mau diminum oleh Si Ikhwan. Bagaimana bukan Hina, seorang yang merampas air minum yang sudah dihadapan orang yang sangat membutuhkan. Dan bagaimana bukan air minum yang hina, saat air minum itu bersuka cita diminum oleh orang yang hina. Hingga seorang yang kehausan itu harus akhirnya menanggung sakit yang teramat dalam.
“Apakah itu, bukan sebuah kehinaan yang sangat hina!” Jelasku kepada Affan waktu itu. Seburuk-buruk seorang Ikhwan, tidak akan menyengsarakan saudara Ikhwan yang lainnya. Atau bahkan merampas sesuatu yang sudah diidam-idamkan seorang ikhwan. Tidaklah seorang Ikhwan yang terbaik, kalau dihatinya tertanam benih-benih cara yang hina. Meskipun seorang ikhwan itu bagus akhidahnya, bagus hafalan Al Qur’annya. Tetapi jika dia melakukan cara yang kotor dan hina. Maka
akhlaqnya tidak lebih rendah dari binatang yang saling berebut dalam mencari makanan. Tetapi aku salut dengan Affan. Aku benar-benar mengagumi salah satu saudaraku itu. Dengan santai, meskipun terlihat pedih dimatanya dan terlihat sakit yang mendalam dihatinya. Dia hanya mengatakan “Sungguh, ana relakan seorang wanita yang ana inginkan. Untuk dijadikan istri oleh seorang ikhwan yang memang membutuhkan. Mungkin saja, Ikhwan itu tidak mempunyai kemampuan, untuk mencari seorang wanita lain! Insya Allah ana akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Itu janji Allah!” Aku saat itu benar-benar kagum dengan ucapan Affan. “Benar. Antum, tidak akan diberikan oleh Allah air yang hina untuk antum minum!” Kataku keras waktu itu. Karena, aku sangat jengkel dengan seorang akhwat yang telah menjadi pengkhianat cinta. Kalaulah cinta Si Akhwat karena Allah. Maka tiada yang hadir selain keistiqomaan dan berjuang untuk meyakinkan orang tuanya. Dan tidaklah menjadikan seorang Akhwat malah berlenggang mencari yang terbaik bagi dirinya. Saat yang terbaik itu adalah sebuah ketidakpastian. Seharusnya Si Akhwat sudah dari dulu memutuskan hubungan dengan Affan. Kalaulah dia ingin mencari Ikhwan yang terbaik. Bukan malah mengikat Affan terus menerus dalam hubungan yang tidak pasti. Hingga Affan benar-benar memperjuangkannya. Tetapi sayang, perjuangan Affan tidak menuai hasil yang baik. “Bukan hasil yang kita cari. Tetapi keridhoan yang kita harapkan dari Allah!” itulah ucapan Affan waktu lalu. Akhwat mana yang rela dan tega meninggalkan seorang Ikhwan yang benar-benar memperjuangankannya. Kecuali seorang akhwat yang memang dirinya mencari kehinaan. Kalaulah memang Si Akhwat bukan seorang yang Hina. Seharusnya Si Akhwat sudah memutuskan Affan sejak ketidaksetujuan orang tua Si Akhwat. Bukan malah menjadikan Affan sebagai pemain pengganti jika tidak ada yang lebih baik dari Affan. Dan kalau ada, Affan dilepaskan begitu saja. Karena sebenarnya ini bisa dikatakan sebuah kekejaman. Dan sangat zhalim.
Tapi Subhanallah. Aku saat itu baru melihat sifat itsar yang selalu didengung- dengungkan dalam sejarah umat Islam. Benar-benar hebat. Memang, kenapa Itsar dikatakan sebagai tingkatan iman yang paling tinggi. Karena memang, melakukan itsar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sangat berat memberikan sesuatu yang kita inginkan kepada orang lain. Kalau bukan seorang yang beriman. Mana mungkin?
Perasaan yang semula kalut kini menjadi lebih tenang. Setelah mengingat seorang ikhwan yang bernama Affan. Memang, tidak ada dalam kepastian dalam sebuah kehidupan. Karena sesungguhnya kepastian itu hanya milik Allah. Maka, jika kita melakukan sebuah hubungan. Kepastian itu adalah rasa kepercayaan seseorang.
Sejenak aku memikirkan dampak jika aku menikah dengan salah satu dari ikhwan itu. Lutfi dan Khalid. Hem, jika aku akan menikah dengan Akhi Lutfi. Insya Allah aku mendapatkan materi yang berkecukupan. Mungkin jika aku menikahi Akhi Lutfi, hafalanku juga akan bertambah. Sejenak aku berfikir lagi. Lalu, jika aku menikahi Akhi Khalid, apakah kami berdua tidak bisa berusaha mendapatkan materi? Lalu apakah jika aku menikah dengan Akhi Khalid hafalanku tidak bisa bertambah juga? Tapi, siapa yang bisa menjamin? Bukankah Allah mudah untuk melenyapkan segala sesuatu! Benar-benar pikiranku kembali penat. Dari relung- relung pikirku yang semula hampir jernih. AKHLAQ! Satu kata yang terlintas dibenakku. Iya benar, akhlaq. Sekarang aku sudah tidak pusing lagi untuk mengambil sebuah keputusan. Karena semuanya sudah jelas. Siapa yang harus aku pilih.
Sejenak ucap syukurku kepada Allah. Aku bukanlah akhwat yang mencari kehinaan dalam keridhoan Allah. Apalagi aku bukan akhwat yang tega, meninggalkan seorang Ikhwan yang memang sudah serius untuk menjalin tali pernikahan kepadaku. Apalagi aku bukan seorang akhwat yang hanya mencari seorang ikhwan yang dikatakan terbaik. Aku bukan mencari ikhwan terbaik dalam wujudnya saja. Tetapi aku mencari ikhwan yang terbaik dalam segala hal. Dalam akhidah, dakwah dan yang tidak kalah pentingnya adalah Akhlaq. Akhidah bisa dibangun dengan pelajaran pengetahuan tentang Rabb. Dakwah bisa dibangun dengan pondasi-pondasi akhidah. Tetapi akhlaq, akhlaq tidaklah semudah mempelajari akhidah dan dakwah. Karena akhlaq adalah mencerminkan jiwa yang suci dan bersih. Yang selalu mencerminkan keindahan dakwah Rasulullah. Akhlaq adalah harga yang paling tinggi untuk dimiliki. Karena untuk menjalankan kata yang dinamakan akhlaq. Harus benar-benar mencerminkan kepribadian Rasulullah. Yaitu ikhlas. Dan itu sangat sulit.
Seorang yang mempelajari Akhidah. Dia hanya mempelajari pondasi-pondasi dakwah. Tetapi jika seorang yang mempunyai akhlaq Islam yang tinggi. Maka dia adalah seorang muslim yang sempurna. Karena pasti, perilaku-perilakunya adalah menurut apa yang dikatakan dalam Al Qur’an dan Sunnah. Bukan hanya keyakinan semata. Dan ciri seorang yang berakhlaq adalah, tidak melakukan sesuatu hal yang bisa menyakitkan orang lain. Tidak melakukan sesuatu perbuatan yang hina. Tidak merampas apa yang dipunyai atau yang diharapkan oleh orang lain. Selalu bersifat lemah lembut. Dan keras jika menantang kezhaliman. Ikhwan seperti inilah yang aku cari.
Jilid 11
“Tluutt.... Tluutt...” Dering Hpku.
Aku letakkan mushaf yang sedari tadi aku lafalkan. Setelah itu, aku ambil Hp yang tidak jauh berada disampingku. “Akhi Lutfi” tulisan yang tertera di LCD Hpku.
“Assalamualaikum” Ucapku. “Walaikumsalam!” Jawabnya. “Iya, Akhi!”
“Gimana kabarnya, Ukhti hari ini!” Tanya Lutfi. Terdengar basa-basi. “Alhamdulillah, baik-baik saja! Kalau antum?” Jawabku. “Alhamdulillah. Sama, ana juga baik-baik saja!”
Sejenak aku diam. Membiarkan, agar Lutfi yang memulai pembicaraan dahulu. Dan memang berhasil.
“Ukhti. Gimana keputusannya?” Tanya Lutfi penasaran.
“Insya Allah, ana sekarang sudah mengambil keputusan! Dan semoga ini baik untuk ana dan untuk antum!”
“Insya Allah, pasti baik!” Sela Lutfi.
Sejenak aku menarik nafas dalam-dalam. Dan menghembuskannya pelan. “Akhi, dari apa yang ana pertimbangkan. Ana akan menerima..!”
“Syukron anti, ana tahu jawabannya! Anti pasti penerima ana! Tidak mungkin seorang yang hafidz tidak diterima pinangannya!” Sela Lutfi lagi.
“Hem. Afwan Akh. Sesungguhnya, Rasulullah itu pantang memotong pembicaraan orang!” Ucapku tegas.
“Oh, iya maaf Ukhti!”
“Sebenarnya, ana sudah bertaaruf dengan ikhwan lain! Ikhwan itu tidak lebih kaya daripada antum, tidak lebih bagus hafalan dan tilawahnya daripada antum. Tetapi, Ikhwan itu mempunyai rasa jihad dalam medan dakwah yang sangat tinggi. Ana sudah pernah merasakan gaya kepemimpinannya. Sudah pernah mengetahui corak dakwahnya, dan sudah mengetahui kegigihannya dalam dakwahnya! Ikhwan itu begitu tegar dengan kemiskinannya. Sifat zuhud yang dia terapkan pada dirinya, tidaklah membuat dia lebih rendah dari ikhwan manapun. Ikhwan itu penuh dengan kasih sayang yang melimpah pada setiap saudara seimannya. Apalagi sifat akhlaq dan ikhlasnya. Subhanallah! Dia tidak ingin memperlihatkan keberhasilan dakwahnya
kepada setiap saudaranya. Karena takut akan sifat riya’, ujub dan takabur yang akan melanda pada dirinya. Dia tidak ingin memperlihatkan sebuah keberhasilan karena jasanya. Tetapi dia lebih memilih, mengatakan keberhasilan itu karena Allah dan hamba-hambanya yang selalu berjuang dimedan dakwah! Ana mengetahui semuanya itu, karena dia adalah ketua ana. Dan benar-benar mengetahui sepak terjang dakwahnya. Meskipun, dia tidak pernah memberitahukannya!”
“Tapi, apakah benar dia bisa sehebat itu dari ana? Apakah dia mempunyai hafalan Al Qur’an yang lebih banyak dari ana, apakah dia mempunyai hafalan hadits yang lebih banyak dari ana? Apakah dia mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari ana? Apakah dia mempunyai itu semua!” Protes Lutfi.
“Tidak. Sungguh, hafalan Al Qur’an dan Hadistnya. Lebih banyak dari Akhi.”
“Tapi, kenapa anti menerimanya. Sedang anti tidak menerima ana. Toh sudah jelas, ana memiliki kemampuan yang lebih baik darinya!” Lutfi terdengar sangat tidak menerima keputusanku.
“Akhi. Sesungguhnya ana menerimanya, karena ana sudah lebih dulu melakukan konsistensi kepada Ikhwan itu! Ana tidak bisa, dengan mudah memutuskan seorang ikhwan yang sudah ana istqomahi. Tidak begitu saja ana bisa menerima seorang yang lebih baik darinya! Karena ini menyangkut akhlaq ana.” Jawabku serius.
“Iya. Tapi ana kan lebih dahulu mengenal anti! Sejak anti masih kecil, kita sudah saling kenal. Dan anti tahu, seberapa besar tingkat keilmuan ana!” Ucapnya sengit.
“Akhi. Ana tahu kelebihan yang ada pada antum. Tetapi, karena kelebihan antum itulah menjadi sebuah alasan bagi ana untuk memilih ikhwan itu. Dia tidak mempunyai kelebihan seperti antum. Dia lebih berhak untuk ana kasihi, dari pada antum yang bergelimang kasih! Antum seharusnya mengerti.” Ucapku tak kalah sengitnya.
“Tidak bisa. Ana tidak akan bisa mengerti! Anti seharusnya tahu, bagaimana cinta ana terhadap anti”
“Iya, ana mengerti. Ana sangat mengerti! Cinta antum terhadap ana, adalah karena Allah. Dan pasti antum akan menerima apa yang Allah berikan kepada antum. Bahkan penolakan ana pun, antum pasti menerimanya. Karena cinta antum karena Allah!” Selaku dengan sengit.
“Tidak. Anti tidak mengerti cinta ana terhadap anti! Anti egois.”
“Akhi. Antum harus ingat. Antum adalah hafidz, seorang yang hafal Al Qur’an. Antum juga sangat banyak hafal hadits. Antum seharusnya menerapkan itu pada diri antum. Bukan hanya mempelajarinya saja!”
“Ukhti. Ana tetap tidak akan menerima penolakan anti. Ini merupakan sebuah penghinaan bagi ana! Ana tidak akan pernah mau menerima penghinaan ini.”
“Akhi. Ini bukan sebuah penghinaan. Tetapi ini keputusan ana! Antum harus mengerti tentang keputusan ana. Ana harap antum harus menerima keputusan ana.” Ucapku pelan.
“Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana sudah anti hina! Lihat saja nanti.” Setelah mengucapkan itu. Lutfi langsung mematikan Hpnya.
Masya Allah. Jadi, keputusanku memang benar! Gumamku. Hafidz dan Hafal hadits, tidak menjamin seseorang mencerminkan apa yang dihafalkannya. Sudah banyak terbukti. Beberapa kasus korupsi pun, ada juga yang dilakukan oleh seorang yang hafidz. Dan dalam kasusku, sudah sangat nyata. Lutfi sangat tidak mencerminkan seorang yang benar-benar mengetahui Al Qur’an dan Hadits. Aku jadi teringat hadits innamal a’malu binniat wa innamal likuri’immanawwa famankhanats hijratahu Ilallah wa Rasullihi fahijratuhu Ilallah wa Rasullihi famankhanats hijratuhi liddunia yusibukha awimra ataini yankhiquha fahijratuhu ilaih maa hajarah ilaih. Hadits inilah yang seharusnya membuat tujuan hidup hanya untuk Allah dan Rasulnya. Bukan karena harta dan wanita yang ingin dinikahinya.
Alhamdulillah ucapku syukur dalam hati. Aku tidak salah memilih. Aku telah memilih mujahid dalam keistiqomahan perjuangannya. Bukan memilih seorang yang cengeng dengan kata-kata cintanya. Meskipun Lutfi seorang yang melebihi Khalid dalam masalah wujudnya. Melebihi masalah hapalan Al Qur’an dan Haditsnya, melebihi kekayaan dan pekerjaannya. Tetapi Khalid, adalah Khalid. Seorang aktivis dakwah yang istiqomah dalam perjuangannya. Seorang yang istimewa dalam kezuhudannya. Seorang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Seorang yang mampu mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama yang diterimanya. Dan Khalid, mampu menerapkan itu semua. Maka tidak salah pilih, aku memilihnya.
Aku bukanlah seorang akhwat yang memilih hanya dengan melihat kepintaran seorang ikhwan. Aku bukanlah akhwat yang suka melihat wujud dari ikhwan. Apalagi aku bukan akhwat yang suka dengan kekayaan seorang ikhwan. Tapi aku adalah seorang akhwat yang istiqomah dengan apa yang aku pilih. Aku adalah akhwat yang lebih suka dengan seorang ikhwan yang memilih jalan dakwahnya dengan ikhlas. Dan aku adalah seorang akhwat, yang memilih ikhwan karena akhlaqnya. Bukan seorang ikhwan yang mudah merampas apa yang dicintai oleh saudaranya sendiri. Apalagi bukan seorang ikhwan, yang menghalalkan cara hanya untuk mendapatkan seorang wanita. Aku bukanlah akhwat seperti itu.
Bersyukurlah diriku. Karena semuanya sudah ditampakkan oleh Allah. Tidaklah semua seorang yang pintar atau hafal Al Qur’an dan hadits. Mampu memahami isi-isi yang terkandung didalamnya. Tidaklah semua seorang yang hafal Al Qur’an dan hadits. Mampu mengamalkan apa yang ada didalamnya. Karena semuanya berujung pada sifat keikhlasann kita. Akhlaq yang baik adalah ciri khas seseorang yang ikhlas dalam berjuang. Sungguh mulia seseorang. Manakalah dirinya mendapatkan rasa itu. Sungguh mulia seseorang yang selalu dalam kezuhudannya. Sungguh mulia seseorang yang tidak menginginkan dunia dan isinya. Tetapi dia lebih memilih Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, alangkah mulianya orang itu. Tidak akan lagi ada rasa takabur, riya’ atau bahkan ujub. Karena sesungguhnya apa yang dia harapkan bukan pada penghargaan manusia. Tetapi lebih memilih dihargai oleh Allah,
hingga Allah memberikan seberkas kasih sayang yang indah didalam diri seseorang itu. Tidak lagi seesorang itu menginginkan apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Tidaklah seseorang itu melakukan sesuatu apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Apalagi melakukan cara-cara yang dihinakan oleh Allah. Maka seseorang itu akan menjadi orang-orang dambaan Rasulullah. Dan itulah kenikmatan sejati. Kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah dalam diri manusia yang ikhlas dan barakhlaq mulia.
“Tok..Tok...Tok... Zah! Anti sudah tidur?” Ketukan dan panggilan Ummi. Mengagetkanku.
“Belum, Mi. Silahkan masuk Mi!” Jawabku.
Setelah membuka pintu kamar. Dengan senyum lembutnya, Ummi mendatangiku. “Gimana, Zah? Sudah diambil keputusannya?” Tanya Ummi.
“Sudah, Mi!” Jawabku. Sambil menganggukkan kepala.
“Lalu, anti milih siapa!” Tanya Ummi lagi. Terlihat penasaran.
Dengan sedikit mendesah pelan. Aku mengatakan “Mi. Zah tidak memilih Lutfi! Zah lebih memilih Ikhwan yang lebih dulu Zah istiqomahi!” Ucapku, sedikit berhati-hati agar Ummi tidak tersinggung.
Ummi tersenyum. Lalu tangan lembutnya membelai rambutku. “Zah. Ummi tidak akan ikut campur urusan Zah dalam memilih calon teman sejati Zah! Apa yang Zah pilih, Ummi akan ikut mendukung dengan pilihan Zah! Lutfi memang kita kenal baik dikeluarga kita. Tetapi bukan berarti Lutfi harus menjadi suami Zah bukan! Ummi hanya suka melihat kelakuan dia kepada Ummi dan kepintaran dia! Hanya itu saja. Meskipun begitu, Ummi tidak akan memaksa Zah untuk menikah dengan Lutfi! Zah pilih sendiri, Ikhwan mana yang membuat Zah terjatuh dalam lembah cinta. Dan membuat Zah bergelimang akan cintanya. Dan selalu akan bersama-sama, dalam menggapai cinta-Nya! Itulah yang terpenting Zah.”
“Mi. Tetapi Zah, telah memilih seorang ikhwan. Yang dia tidak memiliki kepintaran dan kekayaan seperti Akhi Lutfi! Ikhwan ini, tidak lebih banyak hafalannya dibanding Zah. Ikhwan ini tidak mempunyai kekayaan yang sebanyak Akhi Lutfi. Dan Ikhwan ini tidak begitu besar penghasilan pekerjaanya dibanding Akhi Lutfi. Tetapi dia, adalah seorang Ikhwan yang istiqomah dalam medan dakwahnya!” Ucapku.
“Zah. Kepintaran dan kekayaan itu ada pada setiap orang. Mungkin Ikhwan itu tidak sepintar Akhi Lutfi, karena dia tidak melakukan apa yang dilakukan Akhi Lutfi. Tetapi pasti Ikhwan itu, mempunyai kepintaran tersendiri yang Akhi Lutfi tidak mempunyai kepintaran itu! Dan kekayaan, adalah materi yang bisa dicari. Tetapi Zah harus ingat, bahwa seorang yang kaya akan dihisab lebih banyak diakhirat nanti. Ketimbang orang yang tidak mempunyai kelebihan materi! Maka, jika Zah sudah mantap dengan pilihan Zah sendiri. Ummi berpesan, Janganlah ragu-ragu untuk menapaki hari depan dengan kepastian. Karena sesungguhnya kepastian didunia itu
adalah ketidakpastian itu sendiri. Maka jadilah orang-orang yang sudah pasti, karena sesungguhnya Sang Maha Pasti sudah memberikan kepastian kepada kita!”
“Insya Allah, Mi! Ana sudah sangat yakin dengan pilihan Zah.”
“Baik, kapan dia akan mengkhitbah anti?” Tanya Ummi bersemangat. “Ana nggak tahu Mi!” Jawabku Bingung.
“Zah, nggak usah bingung. Pokoknya, jika Abi sudah pulang. Langsung beritahu Ikhwan itu. Bahwa waktu itulah yang paling tepat untuk mengkhitbah Zah. Insya Allah! Dan mungkin bisa saja, Zah langsung dinikahkan oleh Abi!” Ucap Ummi. Sambil sedikit menggoda.
“Ummi..!” Ucapku manja. Sambil memeluk tubuh Ummi.
“Ya. Sudah Ummi mau tidur dulu!” Ucap Ummi sambil melepaskan pelukanku. “Iya Mi!”
Setelah itu, Ummi pun melangkah keluar dari kamarku.
Aku kini sendiri dalam ruang kamarku. Rasa senang yang aku dapatkan, serasa melambungkan hatiku. Aku benar-benar bersyukur, karena telah diberikan seorang Ibu yang begitu perhatian terhadapku. Seorang Ibu yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan. Tidak berdasarkan egoisme keibuan. Aku jadi ingat dengan salah satu Akhwat. Yang dia tidak bisa mengambil sebuah keputusan, lantaran ibunya terlalu mengekang dengan keputusannya. Tetapi, semua itu berdasar pada keputusan akhwat itu sendiri. Jika akhwat itu memang seorang akhwat yang bisa mengkondisikan ruhiyahnya. Maka dia pasti bisa mengkondisikan keluarganya. Tetapi jika ruhiyahnya masih gamang dengan keyakinan dalam dien-Nya. Atau karena ketidakpahaman yang kuat dalam agamanya. Maka, dipastikan akhwat itu tidak bisa mengkondisikan keluarganya. Dan tidak mungkin, dia mengambil sebuah keputusan pada keluarganya. Jika dia tidak memiliki pemahaman agama yang kuat.
***
Pagi hari yang indah. Mentari bersinar dengan kehangatan pagi yang menyenangkan. Setelah selesai berolahraga di sekeliling rumah. Aku nikmati sinar mentari dan dinginnya pagi. Nikmatnya hidup dalam rasa syukur yang teramat dalam. Nikmatnya hidup jika semua karena Allah yang mengatur hidup. Ingatanku pun kembali. Sejenak, aku memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Lutfi. “Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana sudah anti hina! Lihat saja nanti.” Entahlah, kenapa kata-kata itu harus muncul pada sosok seorang Lutfi. Seorang yang tidak pantas mengucapkan kata-kata itu, karena dia merupakan seorang yang sudah mengatahui seluk beluk dari Dien ini. Kenapa harus ucapan yang begitu tidak ikhlas dengan sebuah keputusan yang telah diambil oleh seseorang orang. Memang, sakit jika kita apa yang kita menginginkan sesuatu. Tetapi kita tidak mendapatkan sesuatu itu. Tetapi bukankah keinginan itu tidak harus terpenuhi seterusnya! Adakalanya keinginin kita, tidak harus terpenuhi. Jika apa yang
kita inginkan itu karena Allah. Maka apapun yang kita dapatkan pun, pasti karena Allah. Tetapi jika kita menginginkan sesuatu karena sifat egoisme diri kita. Maka, jika keinginan itu tidak terpenuhi. Kita akan benar-benar merasakan rasa sakit yang sangat dalam. Dan serasa tidak ada obat penyembuh bagi diri kita.
Entahlah, apakah Lutfi sudah tertarbiyah dengan bagus. Ataukah dia sudah mendapatkan materi tarbiyah. Seharusnya, kalau memang dia sudah mendapatkan tarbiyah yang benar-benar baik. Maka Lutfi tidak akan seperti itu. Pasti Lutfi akan ikhlas menerima keputusan yang sudah aku pikirkan. Ataukah, dia bukan dari orang- orang yang tertarbiyah. Lalu kalau seandainya, jika Lutfi bukan dari orang-orang yang menerima pelajaran tarbiyah. Apakah aku bisa hidup berdampingan dengan seorang yang berbeda pola pandang dan pola pikir. Pastilah sifat jalan dakwah kami akan benar-benar saling terhambat. Disalah satu pihak ingin jalan kearah A dan di satu pihak ingin jalan kearah B. Pasti akan menjadi sebuah penghambat bagi langkah dakwah dengan satu sama lainnya. Dan menjadikan tidak terfokus dalam salah satu jalan yang akan ditempuhnya. Ya. Inilah yang harus menjadi sebuah pemikiran ulang bagi kita semua.
“Tluutt... Tluutt..” Lagi-lagi bunyi Hpku berdering. Hingga mengagetkanku. “Halo.” Ucapku.
“Halo. Ini Farah?” Tanya si penelphon.
“Iya benar. Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran. “Far, ini aku. Nova!”
“Oh. Hai, apakabar?”
“Aku baik-baik saja sekarang. Tapi entah nanti!” Jawabnya sedikit cemas. “Oh. Ada apa sebenarnya Nov?” Tanyaku bingung
“Far. Apakah kamu bisa menolong aku!” Ucap Nova. Terlihat sangat bingung. “Insya Allah. Jika memang aku sanggup!”
“Tapi. Apakah benar kamu sanggup?” Tanya Nova.
“Insya Allah. Makanya beritahu masalahnya!” Ucapku sedikit penasaran. “Far. Bisa nggak kamu menolongku lari dari rumah!”
“HA!” Aku bingung.
“Aku ingin lari dari rumahku Far! Apakah kamu bisa menolong?” Tanyanya sekali lagi.
“Sebentar-sebantar. Permasalahannya apa, hingga kamu harus lari dari rumah segala?”
“Ceritanya panjang, Far! Sekarang aku harus lari dari rumah. Nanti setelah kita pergi, aku akan ceritakan semuanya kepadamu!” Jawabnya.
“Apakah memang harus lari dari rumah?” Tanyaku heran. “Iya. Pokoknya harus!” Ucapnya tegas.
“Baik-baik! Aku akan membantumu. Tetapi, kamu harus menceritakan masalahmu kepadaku nanti!”
“Iya. Pasti aku akan menceritakannya!” “Baik. Kita bertemu dimana?”
“Kamu jemput aku digerbang Village of Country. Jam 10 pagi, bisa?” “Ok. Insya Allah, aku akan jemput kamu!”
“Baik. Terima kasih! Aku akan menunggumu disana. Udah yah!” Seketika itu pun, Nova langsung memutuskan pembicaraan.
Entah ada apa lagi ini. Apakah ini juga merupakan cobaan bagiku. Aku tak tahu. Biarlah aku menjalani hidup ini dengan apa yang telah diatur oleh Allah. Jika memang Allah mengatur hidupku harus seperti ini. Maka aku harus bisa menjalani kehidupanku. Aku tidak boleh mengeluh atas apa yang diberikan oleh Allah kepadaku. Mungkin ini adalah sebuah ujian bagiku. Entahlah, tapi aku harap ini ujian bukan azab. Tetapi. Apakah ini bukan jebakan! Selintas pikirku. Iya benar, apakah ini bukan jebakan orang-orang kafir yang akan menculikku! Beberapa hari aku mendapatkan banyak rintangan dalam kehidupan. Aku pun tidak harus langsung mempercayai apa yang Nova katakan, seharusnya. Aku seharusnya menyelidiki dulu tentang Nova. Bukan langsung percaya. Kalau memang ini benar-benar jebakan penculikan. Sudahlah, aku pasrahkan sebuah kepada Allah. Khasbiallah! Ucapku lirih dalam hati.
Aku tidak dapat menolak permintaan seorang yang meminta perlindungan kepadaku. Tidaklah seorang muslim, mengacuhkan permintaan perlindungan orang lain. Bahkan kafir sekalipun, aku harus melindunginya jika dia meminta perlindungan kepadaku. Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. QS. At Taubah 6. Jika seandainya ada rencana jahat kepadaku, aku pun tidak usah khawatir. Allah sudah pasti melindungi hamba-hambanya yang bertakwa. Tidaklah aku harus khawatir, jika harus terjadi apa-apa kepadaku. Karena Allah pasti melindungi setiap hamba-hambanya yang memperjuangkan agama-Nya. Allah pasti melindungi, setiap hamba-hambanya yang memang memilih bermujahadah dalam perjuangan-Nya. Tidak ada sebuah alasan untuk takut terhadap musuh-musuh Allah.
“Tok...Tok...!” Sebuah ketukan pintu kamar terdengar.
“Siapa? Ummi? Bi Iyem?” tanyaku. Tiada jawaban dari si pengetuk kamar.
Dengan malas aku pun menghampiri pintu kamar. Aku buka pintu kamar dengan perlahan-lahan. Saat pintu kamar sudah terbuka. Terlihat sosok pria yang tersenyum kepadaku.
“ABI....!” ucapku sambil mencium tangan Abi. Aku senang dengan kedatangan Abi. Serasa semua beban beratku pun sirnah.
Ummi yang berada disamping Abi, melihat dengan senyuman. “Assalamualaikum!” Ucap Abi.
“Walaikumsalam!” Jawabku. Masih dengan mencium tangan Abi.
“Bi. Waktu ditelphon, Abi bilang masih agak lama pulangnya!” tanyaku dengan manja.
“Sebenarnya sih, masih ada beberapa urusan yang masih belum diselesaikan. Tetapi, Abi sudah kangen masakan Ummi nih!” Ucap Abi. Sambil melirik Ummi.
“Kangan apa Kangen....!” Kataku. “Ih. Zah. Genit!” Ucap Ummi.
Yang Akhirnya diselingi tawa oleh Abi dan Ummi.
“Abi, udah datang! Tinggal proses pengkhitbahannya aja nih. Yang dilanjutkan” Ucap
Ummi. Dengan menggodaku. “Ummi! Zah kan, malu”
“Ih. Emang Zah punya malu!” Ucap Abi. “Abi.” Kataku manja.
“Tidak ada yang perlu kita merasa malu. Selama perbuatan kita masih dalam koridor- koridor syariat!” Ucap Abi. Sambil tersenyum dengan kewibawaan.
“Tentunya, dengan mantap bahwa apa yang kita lakukan adalah memang hal yang benar. Benar menurut hati nurani kita dan benar menurut syariat tentunya!” Sahut Ummi.
“Nah. Zah sudah mengikuti itu semua. Tinggal aplikasi syariatnya yang harus dilakukan!” Ucapku.
“Siipp! Putri kita memang sudah layak untuk menikah.” Ucap Abi. “Iya. Ummi sudah pengen gendong cucu nih!” Sahut Ummi.
“Iya. Zah juga bosen tidur sendirian!” Ucapku sambil nyengir. “Yeee..... Genit!” Ucap Ummi.
Tawa pun kembali merekah dalam kebahagian yang hadir. Abi kini kembali pulang. Waktu yang cukup lama buatku, untuk menghadapi sebuah masalah dengan keputusanku sendiri. Bisanya aku selalu meminta pertimbangan Abi untuk memutuskan suatu masalah yang berat. Tetapi, kepergian Abi. Adalah pelajaran baru buatku. Pelajaran yang diberikan oleh Allah kepadaku. Untuk bisa lebih mandiri dalam hidup. Tidak menggantungkan sesuatu hal kepada mahluk. Meskipun itu adalah Abiku sendiri. Karena sesungguhnya, apa-apa yang kita gantungkan kepada mahluk. Pasti tidak akan kekal. Karena sesungguhnya apapun yang ingin kita gantungkan. Adalah hanya kepada Sang Maha Pemilik Kekuasaan. Yang memberikan naungan kepada seluruh alam. Dan yang memberikan kebaikan pada setiap apa-apa yang diciptakan.
Seiring dengan keriangan dari larutnya kebahagiaan. Aku masih saja mengingat tentang masalah-masalah yang sedang melanda para saudaraku. Terutama Dewi. Semoga Dewi baik-baik saja. Sesungguhnya, apa-apa yang akan kita lakukan. Jika berujung pada hanya penghambaan. Penghambaan kepada Sang pemilik kehidupan. Maka tidak ada yang perlu ditakutkan. Karena sesungguhnya, ketakutan kita adalah manakalah Sang Pemilik Kehidupan. Mengacuhkan kita dari masalah- masalah yang diberikan-Nya. Karena sesungguhnya setiap permasalahan, ujian ataupun cobaan. Adalah rasa kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rabb kita kepada setiap hambanya. Jika kita sabar. Insya Allah, akan ada berita gembira kepada orang- orang yang sabar.
Aku letakkan mushaf yang sedari tadi aku lafalkan. Setelah itu, aku ambil Hp yang tidak jauh berada disampingku. “Akhi Lutfi” tulisan yang tertera di LCD Hpku.
“Assalamualaikum” Ucapku. “Walaikumsalam!” Jawabnya. “Iya, Akhi!”
“Gimana kabarnya, Ukhti hari ini!” Tanya Lutfi. Terdengar basa-basi. “Alhamdulillah, baik-baik saja! Kalau antum?” Jawabku. “Alhamdulillah. Sama, ana juga baik-baik saja!”
Sejenak aku diam. Membiarkan, agar Lutfi yang memulai pembicaraan dahulu. Dan memang berhasil.
“Ukhti. Gimana keputusannya?” Tanya Lutfi penasaran.
“Insya Allah, ana sekarang sudah mengambil keputusan! Dan semoga ini baik untuk ana dan untuk antum!”
“Insya Allah, pasti baik!” Sela Lutfi.
Sejenak aku menarik nafas dalam-dalam. Dan menghembuskannya pelan. “Akhi, dari apa yang ana pertimbangkan. Ana akan menerima..!”
“Syukron anti, ana tahu jawabannya! Anti pasti penerima ana! Tidak mungkin seorang yang hafidz tidak diterima pinangannya!” Sela Lutfi lagi.
“Hem. Afwan Akh. Sesungguhnya, Rasulullah itu pantang memotong pembicaraan orang!” Ucapku tegas.
“Oh, iya maaf Ukhti!”
“Sebenarnya, ana sudah bertaaruf dengan ikhwan lain! Ikhwan itu tidak lebih kaya daripada antum, tidak lebih bagus hafalan dan tilawahnya daripada antum. Tetapi, Ikhwan itu mempunyai rasa jihad dalam medan dakwah yang sangat tinggi. Ana sudah pernah merasakan gaya kepemimpinannya. Sudah pernah mengetahui corak dakwahnya, dan sudah mengetahui kegigihannya dalam dakwahnya! Ikhwan itu begitu tegar dengan kemiskinannya. Sifat zuhud yang dia terapkan pada dirinya, tidaklah membuat dia lebih rendah dari ikhwan manapun. Ikhwan itu penuh dengan kasih sayang yang melimpah pada setiap saudara seimannya. Apalagi sifat akhlaq dan ikhlasnya. Subhanallah! Dia tidak ingin memperlihatkan keberhasilan dakwahnya
kepada setiap saudaranya. Karena takut akan sifat riya’, ujub dan takabur yang akan melanda pada dirinya. Dia tidak ingin memperlihatkan sebuah keberhasilan karena jasanya. Tetapi dia lebih memilih, mengatakan keberhasilan itu karena Allah dan hamba-hambanya yang selalu berjuang dimedan dakwah! Ana mengetahui semuanya itu, karena dia adalah ketua ana. Dan benar-benar mengetahui sepak terjang dakwahnya. Meskipun, dia tidak pernah memberitahukannya!”
“Tapi, apakah benar dia bisa sehebat itu dari ana? Apakah dia mempunyai hafalan Al Qur’an yang lebih banyak dari ana, apakah dia mempunyai hafalan hadits yang lebih banyak dari ana? Apakah dia mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari ana? Apakah dia mempunyai itu semua!” Protes Lutfi.
“Tidak. Sungguh, hafalan Al Qur’an dan Hadistnya. Lebih banyak dari Akhi.”
“Tapi, kenapa anti menerimanya. Sedang anti tidak menerima ana. Toh sudah jelas, ana memiliki kemampuan yang lebih baik darinya!” Lutfi terdengar sangat tidak menerima keputusanku.
“Akhi. Sesungguhnya ana menerimanya, karena ana sudah lebih dulu melakukan konsistensi kepada Ikhwan itu! Ana tidak bisa, dengan mudah memutuskan seorang ikhwan yang sudah ana istqomahi. Tidak begitu saja ana bisa menerima seorang yang lebih baik darinya! Karena ini menyangkut akhlaq ana.” Jawabku serius.
“Iya. Tapi ana kan lebih dahulu mengenal anti! Sejak anti masih kecil, kita sudah saling kenal. Dan anti tahu, seberapa besar tingkat keilmuan ana!” Ucapnya sengit.
“Akhi. Ana tahu kelebihan yang ada pada antum. Tetapi, karena kelebihan antum itulah menjadi sebuah alasan bagi ana untuk memilih ikhwan itu. Dia tidak mempunyai kelebihan seperti antum. Dia lebih berhak untuk ana kasihi, dari pada antum yang bergelimang kasih! Antum seharusnya mengerti.” Ucapku tak kalah sengitnya.
“Tidak bisa. Ana tidak akan bisa mengerti! Anti seharusnya tahu, bagaimana cinta ana terhadap anti”
“Iya, ana mengerti. Ana sangat mengerti! Cinta antum terhadap ana, adalah karena Allah. Dan pasti antum akan menerima apa yang Allah berikan kepada antum. Bahkan penolakan ana pun, antum pasti menerimanya. Karena cinta antum karena Allah!” Selaku dengan sengit.
“Tidak. Anti tidak mengerti cinta ana terhadap anti! Anti egois.”
“Akhi. Antum harus ingat. Antum adalah hafidz, seorang yang hafal Al Qur’an. Antum juga sangat banyak hafal hadits. Antum seharusnya menerapkan itu pada diri antum. Bukan hanya mempelajarinya saja!”
“Ukhti. Ana tetap tidak akan menerima penolakan anti. Ini merupakan sebuah penghinaan bagi ana! Ana tidak akan pernah mau menerima penghinaan ini.”
“Akhi. Ini bukan sebuah penghinaan. Tetapi ini keputusan ana! Antum harus mengerti tentang keputusan ana. Ana harap antum harus menerima keputusan ana.” Ucapku pelan.
“Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana sudah anti hina! Lihat saja nanti.” Setelah mengucapkan itu. Lutfi langsung mematikan Hpnya.
Masya Allah. Jadi, keputusanku memang benar! Gumamku. Hafidz dan Hafal hadits, tidak menjamin seseorang mencerminkan apa yang dihafalkannya. Sudah banyak terbukti. Beberapa kasus korupsi pun, ada juga yang dilakukan oleh seorang yang hafidz. Dan dalam kasusku, sudah sangat nyata. Lutfi sangat tidak mencerminkan seorang yang benar-benar mengetahui Al Qur’an dan Hadits. Aku jadi teringat hadits innamal a’malu binniat wa innamal likuri’immanawwa famankhanats hijratahu Ilallah wa Rasullihi fahijratuhu Ilallah wa Rasullihi famankhanats hijratuhi liddunia yusibukha awimra ataini yankhiquha fahijratuhu ilaih maa hajarah ilaih. Hadits inilah yang seharusnya membuat tujuan hidup hanya untuk Allah dan Rasulnya. Bukan karena harta dan wanita yang ingin dinikahinya.
Alhamdulillah ucapku syukur dalam hati. Aku tidak salah memilih. Aku telah memilih mujahid dalam keistiqomahan perjuangannya. Bukan memilih seorang yang cengeng dengan kata-kata cintanya. Meskipun Lutfi seorang yang melebihi Khalid dalam masalah wujudnya. Melebihi masalah hapalan Al Qur’an dan Haditsnya, melebihi kekayaan dan pekerjaannya. Tetapi Khalid, adalah Khalid. Seorang aktivis dakwah yang istiqomah dalam perjuangannya. Seorang yang istimewa dalam kezuhudannya. Seorang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Seorang yang mampu mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama yang diterimanya. Dan Khalid, mampu menerapkan itu semua. Maka tidak salah pilih, aku memilihnya.
Aku bukanlah seorang akhwat yang memilih hanya dengan melihat kepintaran seorang ikhwan. Aku bukanlah akhwat yang suka melihat wujud dari ikhwan. Apalagi aku bukan akhwat yang suka dengan kekayaan seorang ikhwan. Tapi aku adalah seorang akhwat yang istiqomah dengan apa yang aku pilih. Aku adalah akhwat yang lebih suka dengan seorang ikhwan yang memilih jalan dakwahnya dengan ikhlas. Dan aku adalah seorang akhwat, yang memilih ikhwan karena akhlaqnya. Bukan seorang ikhwan yang mudah merampas apa yang dicintai oleh saudaranya sendiri. Apalagi bukan seorang ikhwan, yang menghalalkan cara hanya untuk mendapatkan seorang wanita. Aku bukanlah akhwat seperti itu.
Bersyukurlah diriku. Karena semuanya sudah ditampakkan oleh Allah. Tidaklah semua seorang yang pintar atau hafal Al Qur’an dan hadits. Mampu memahami isi-isi yang terkandung didalamnya. Tidaklah semua seorang yang hafal Al Qur’an dan hadits. Mampu mengamalkan apa yang ada didalamnya. Karena semuanya berujung pada sifat keikhlasann kita. Akhlaq yang baik adalah ciri khas seseorang yang ikhlas dalam berjuang. Sungguh mulia seseorang. Manakalah dirinya mendapatkan rasa itu. Sungguh mulia seseorang yang selalu dalam kezuhudannya. Sungguh mulia seseorang yang tidak menginginkan dunia dan isinya. Tetapi dia lebih memilih Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, alangkah mulianya orang itu. Tidak akan lagi ada rasa takabur, riya’ atau bahkan ujub. Karena sesungguhnya apa yang dia harapkan bukan pada penghargaan manusia. Tetapi lebih memilih dihargai oleh Allah,
hingga Allah memberikan seberkas kasih sayang yang indah didalam diri seseorang itu. Tidak lagi seesorang itu menginginkan apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Tidaklah seseorang itu melakukan sesuatu apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Apalagi melakukan cara-cara yang dihinakan oleh Allah. Maka seseorang itu akan menjadi orang-orang dambaan Rasulullah. Dan itulah kenikmatan sejati. Kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah dalam diri manusia yang ikhlas dan barakhlaq mulia.
“Tok..Tok...Tok... Zah! Anti sudah tidur?” Ketukan dan panggilan Ummi. Mengagetkanku.
“Belum, Mi. Silahkan masuk Mi!” Jawabku.
Setelah membuka pintu kamar. Dengan senyum lembutnya, Ummi mendatangiku. “Gimana, Zah? Sudah diambil keputusannya?” Tanya Ummi.
“Sudah, Mi!” Jawabku. Sambil menganggukkan kepala.
“Lalu, anti milih siapa!” Tanya Ummi lagi. Terlihat penasaran.
Dengan sedikit mendesah pelan. Aku mengatakan “Mi. Zah tidak memilih Lutfi! Zah lebih memilih Ikhwan yang lebih dulu Zah istiqomahi!” Ucapku, sedikit berhati-hati agar Ummi tidak tersinggung.
Ummi tersenyum. Lalu tangan lembutnya membelai rambutku. “Zah. Ummi tidak akan ikut campur urusan Zah dalam memilih calon teman sejati Zah! Apa yang Zah pilih, Ummi akan ikut mendukung dengan pilihan Zah! Lutfi memang kita kenal baik dikeluarga kita. Tetapi bukan berarti Lutfi harus menjadi suami Zah bukan! Ummi hanya suka melihat kelakuan dia kepada Ummi dan kepintaran dia! Hanya itu saja. Meskipun begitu, Ummi tidak akan memaksa Zah untuk menikah dengan Lutfi! Zah pilih sendiri, Ikhwan mana yang membuat Zah terjatuh dalam lembah cinta. Dan membuat Zah bergelimang akan cintanya. Dan selalu akan bersama-sama, dalam menggapai cinta-Nya! Itulah yang terpenting Zah.”
“Mi. Tetapi Zah, telah memilih seorang ikhwan. Yang dia tidak memiliki kepintaran dan kekayaan seperti Akhi Lutfi! Ikhwan ini, tidak lebih banyak hafalannya dibanding Zah. Ikhwan ini tidak mempunyai kekayaan yang sebanyak Akhi Lutfi. Dan Ikhwan ini tidak begitu besar penghasilan pekerjaanya dibanding Akhi Lutfi. Tetapi dia, adalah seorang Ikhwan yang istiqomah dalam medan dakwahnya!” Ucapku.
“Zah. Kepintaran dan kekayaan itu ada pada setiap orang. Mungkin Ikhwan itu tidak sepintar Akhi Lutfi, karena dia tidak melakukan apa yang dilakukan Akhi Lutfi. Tetapi pasti Ikhwan itu, mempunyai kepintaran tersendiri yang Akhi Lutfi tidak mempunyai kepintaran itu! Dan kekayaan, adalah materi yang bisa dicari. Tetapi Zah harus ingat, bahwa seorang yang kaya akan dihisab lebih banyak diakhirat nanti. Ketimbang orang yang tidak mempunyai kelebihan materi! Maka, jika Zah sudah mantap dengan pilihan Zah sendiri. Ummi berpesan, Janganlah ragu-ragu untuk menapaki hari depan dengan kepastian. Karena sesungguhnya kepastian didunia itu
adalah ketidakpastian itu sendiri. Maka jadilah orang-orang yang sudah pasti, karena sesungguhnya Sang Maha Pasti sudah memberikan kepastian kepada kita!”
“Insya Allah, Mi! Ana sudah sangat yakin dengan pilihan Zah.”
“Baik, kapan dia akan mengkhitbah anti?” Tanya Ummi bersemangat. “Ana nggak tahu Mi!” Jawabku Bingung.
“Zah, nggak usah bingung. Pokoknya, jika Abi sudah pulang. Langsung beritahu Ikhwan itu. Bahwa waktu itulah yang paling tepat untuk mengkhitbah Zah. Insya Allah! Dan mungkin bisa saja, Zah langsung dinikahkan oleh Abi!” Ucap Ummi. Sambil sedikit menggoda.
“Ummi..!” Ucapku manja. Sambil memeluk tubuh Ummi.
“Ya. Sudah Ummi mau tidur dulu!” Ucap Ummi sambil melepaskan pelukanku. “Iya Mi!”
Setelah itu, Ummi pun melangkah keluar dari kamarku.
Aku kini sendiri dalam ruang kamarku. Rasa senang yang aku dapatkan, serasa melambungkan hatiku. Aku benar-benar bersyukur, karena telah diberikan seorang Ibu yang begitu perhatian terhadapku. Seorang Ibu yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan. Tidak berdasarkan egoisme keibuan. Aku jadi ingat dengan salah satu Akhwat. Yang dia tidak bisa mengambil sebuah keputusan, lantaran ibunya terlalu mengekang dengan keputusannya. Tetapi, semua itu berdasar pada keputusan akhwat itu sendiri. Jika akhwat itu memang seorang akhwat yang bisa mengkondisikan ruhiyahnya. Maka dia pasti bisa mengkondisikan keluarganya. Tetapi jika ruhiyahnya masih gamang dengan keyakinan dalam dien-Nya. Atau karena ketidakpahaman yang kuat dalam agamanya. Maka, dipastikan akhwat itu tidak bisa mengkondisikan keluarganya. Dan tidak mungkin, dia mengambil sebuah keputusan pada keluarganya. Jika dia tidak memiliki pemahaman agama yang kuat.
***
Pagi hari yang indah. Mentari bersinar dengan kehangatan pagi yang menyenangkan. Setelah selesai berolahraga di sekeliling rumah. Aku nikmati sinar mentari dan dinginnya pagi. Nikmatnya hidup dalam rasa syukur yang teramat dalam. Nikmatnya hidup jika semua karena Allah yang mengatur hidup. Ingatanku pun kembali. Sejenak, aku memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Lutfi. “Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana sudah anti hina! Lihat saja nanti.” Entahlah, kenapa kata-kata itu harus muncul pada sosok seorang Lutfi. Seorang yang tidak pantas mengucapkan kata-kata itu, karena dia merupakan seorang yang sudah mengatahui seluk beluk dari Dien ini. Kenapa harus ucapan yang begitu tidak ikhlas dengan sebuah keputusan yang telah diambil oleh seseorang orang. Memang, sakit jika kita apa yang kita menginginkan sesuatu. Tetapi kita tidak mendapatkan sesuatu itu. Tetapi bukankah keinginan itu tidak harus terpenuhi seterusnya! Adakalanya keinginin kita, tidak harus terpenuhi. Jika apa yang
kita inginkan itu karena Allah. Maka apapun yang kita dapatkan pun, pasti karena Allah. Tetapi jika kita menginginkan sesuatu karena sifat egoisme diri kita. Maka, jika keinginan itu tidak terpenuhi. Kita akan benar-benar merasakan rasa sakit yang sangat dalam. Dan serasa tidak ada obat penyembuh bagi diri kita.
Entahlah, apakah Lutfi sudah tertarbiyah dengan bagus. Ataukah dia sudah mendapatkan materi tarbiyah. Seharusnya, kalau memang dia sudah mendapatkan tarbiyah yang benar-benar baik. Maka Lutfi tidak akan seperti itu. Pasti Lutfi akan ikhlas menerima keputusan yang sudah aku pikirkan. Ataukah, dia bukan dari orang- orang yang tertarbiyah. Lalu kalau seandainya, jika Lutfi bukan dari orang-orang yang menerima pelajaran tarbiyah. Apakah aku bisa hidup berdampingan dengan seorang yang berbeda pola pandang dan pola pikir. Pastilah sifat jalan dakwah kami akan benar-benar saling terhambat. Disalah satu pihak ingin jalan kearah A dan di satu pihak ingin jalan kearah B. Pasti akan menjadi sebuah penghambat bagi langkah dakwah dengan satu sama lainnya. Dan menjadikan tidak terfokus dalam salah satu jalan yang akan ditempuhnya. Ya. Inilah yang harus menjadi sebuah pemikiran ulang bagi kita semua.
“Tluutt... Tluutt..” Lagi-lagi bunyi Hpku berdering. Hingga mengagetkanku. “Halo.” Ucapku.
“Halo. Ini Farah?” Tanya si penelphon.
“Iya benar. Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran. “Far, ini aku. Nova!”
“Oh. Hai, apakabar?”
“Aku baik-baik saja sekarang. Tapi entah nanti!” Jawabnya sedikit cemas. “Oh. Ada apa sebenarnya Nov?” Tanyaku bingung
“Far. Apakah kamu bisa menolong aku!” Ucap Nova. Terlihat sangat bingung. “Insya Allah. Jika memang aku sanggup!”
“Tapi. Apakah benar kamu sanggup?” Tanya Nova.
“Insya Allah. Makanya beritahu masalahnya!” Ucapku sedikit penasaran. “Far. Bisa nggak kamu menolongku lari dari rumah!”
“HA!” Aku bingung.
“Aku ingin lari dari rumahku Far! Apakah kamu bisa menolong?” Tanyanya sekali lagi.
“Sebentar-sebantar. Permasalahannya apa, hingga kamu harus lari dari rumah segala?”
“Ceritanya panjang, Far! Sekarang aku harus lari dari rumah. Nanti setelah kita pergi, aku akan ceritakan semuanya kepadamu!” Jawabnya.
“Apakah memang harus lari dari rumah?” Tanyaku heran. “Iya. Pokoknya harus!” Ucapnya tegas.
“Baik-baik! Aku akan membantumu. Tetapi, kamu harus menceritakan masalahmu kepadaku nanti!”
“Iya. Pasti aku akan menceritakannya!” “Baik. Kita bertemu dimana?”
“Kamu jemput aku digerbang Village of Country. Jam 10 pagi, bisa?” “Ok. Insya Allah, aku akan jemput kamu!”
“Baik. Terima kasih! Aku akan menunggumu disana. Udah yah!” Seketika itu pun, Nova langsung memutuskan pembicaraan.
Entah ada apa lagi ini. Apakah ini juga merupakan cobaan bagiku. Aku tak tahu. Biarlah aku menjalani hidup ini dengan apa yang telah diatur oleh Allah. Jika memang Allah mengatur hidupku harus seperti ini. Maka aku harus bisa menjalani kehidupanku. Aku tidak boleh mengeluh atas apa yang diberikan oleh Allah kepadaku. Mungkin ini adalah sebuah ujian bagiku. Entahlah, tapi aku harap ini ujian bukan azab. Tetapi. Apakah ini bukan jebakan! Selintas pikirku. Iya benar, apakah ini bukan jebakan orang-orang kafir yang akan menculikku! Beberapa hari aku mendapatkan banyak rintangan dalam kehidupan. Aku pun tidak harus langsung mempercayai apa yang Nova katakan, seharusnya. Aku seharusnya menyelidiki dulu tentang Nova. Bukan langsung percaya. Kalau memang ini benar-benar jebakan penculikan. Sudahlah, aku pasrahkan sebuah kepada Allah. Khasbiallah! Ucapku lirih dalam hati.
Aku tidak dapat menolak permintaan seorang yang meminta perlindungan kepadaku. Tidaklah seorang muslim, mengacuhkan permintaan perlindungan orang lain. Bahkan kafir sekalipun, aku harus melindunginya jika dia meminta perlindungan kepadaku. Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. QS. At Taubah 6. Jika seandainya ada rencana jahat kepadaku, aku pun tidak usah khawatir. Allah sudah pasti melindungi hamba-hambanya yang bertakwa. Tidaklah aku harus khawatir, jika harus terjadi apa-apa kepadaku. Karena Allah pasti melindungi setiap hamba-hambanya yang memperjuangkan agama-Nya. Allah pasti melindungi, setiap hamba-hambanya yang memang memilih bermujahadah dalam perjuangan-Nya. Tidak ada sebuah alasan untuk takut terhadap musuh-musuh Allah.
“Tok...Tok...!” Sebuah ketukan pintu kamar terdengar.
“Siapa? Ummi? Bi Iyem?” tanyaku. Tiada jawaban dari si pengetuk kamar.
Dengan malas aku pun menghampiri pintu kamar. Aku buka pintu kamar dengan perlahan-lahan. Saat pintu kamar sudah terbuka. Terlihat sosok pria yang tersenyum kepadaku.
“ABI....!” ucapku sambil mencium tangan Abi. Aku senang dengan kedatangan Abi. Serasa semua beban beratku pun sirnah.
Ummi yang berada disamping Abi, melihat dengan senyuman. “Assalamualaikum!” Ucap Abi.
“Walaikumsalam!” Jawabku. Masih dengan mencium tangan Abi.
“Bi. Waktu ditelphon, Abi bilang masih agak lama pulangnya!” tanyaku dengan manja.
“Sebenarnya sih, masih ada beberapa urusan yang masih belum diselesaikan. Tetapi, Abi sudah kangen masakan Ummi nih!” Ucap Abi. Sambil melirik Ummi.
“Kangan apa Kangen....!” Kataku. “Ih. Zah. Genit!” Ucap Ummi.
Yang Akhirnya diselingi tawa oleh Abi dan Ummi.
“Abi, udah datang! Tinggal proses pengkhitbahannya aja nih. Yang dilanjutkan” Ucap
Ummi. Dengan menggodaku. “Ummi! Zah kan, malu”
“Ih. Emang Zah punya malu!” Ucap Abi. “Abi.” Kataku manja.
“Tidak ada yang perlu kita merasa malu. Selama perbuatan kita masih dalam koridor- koridor syariat!” Ucap Abi. Sambil tersenyum dengan kewibawaan.
“Tentunya, dengan mantap bahwa apa yang kita lakukan adalah memang hal yang benar. Benar menurut hati nurani kita dan benar menurut syariat tentunya!” Sahut Ummi.
“Nah. Zah sudah mengikuti itu semua. Tinggal aplikasi syariatnya yang harus dilakukan!” Ucapku.
“Siipp! Putri kita memang sudah layak untuk menikah.” Ucap Abi. “Iya. Ummi sudah pengen gendong cucu nih!” Sahut Ummi.
“Iya. Zah juga bosen tidur sendirian!” Ucapku sambil nyengir. “Yeee..... Genit!” Ucap Ummi.
Tawa pun kembali merekah dalam kebahagian yang hadir. Abi kini kembali pulang. Waktu yang cukup lama buatku, untuk menghadapi sebuah masalah dengan keputusanku sendiri. Bisanya aku selalu meminta pertimbangan Abi untuk memutuskan suatu masalah yang berat. Tetapi, kepergian Abi. Adalah pelajaran baru buatku. Pelajaran yang diberikan oleh Allah kepadaku. Untuk bisa lebih mandiri dalam hidup. Tidak menggantungkan sesuatu hal kepada mahluk. Meskipun itu adalah Abiku sendiri. Karena sesungguhnya, apa-apa yang kita gantungkan kepada mahluk. Pasti tidak akan kekal. Karena sesungguhnya apapun yang ingin kita gantungkan. Adalah hanya kepada Sang Maha Pemilik Kekuasaan. Yang memberikan naungan kepada seluruh alam. Dan yang memberikan kebaikan pada setiap apa-apa yang diciptakan.
Seiring dengan keriangan dari larutnya kebahagiaan. Aku masih saja mengingat tentang masalah-masalah yang sedang melanda para saudaraku. Terutama Dewi. Semoga Dewi baik-baik saja. Sesungguhnya, apa-apa yang akan kita lakukan. Jika berujung pada hanya penghambaan. Penghambaan kepada Sang pemilik kehidupan. Maka tidak ada yang perlu ditakutkan. Karena sesungguhnya, ketakutan kita adalah manakalah Sang Pemilik Kehidupan. Mengacuhkan kita dari masalah- masalah yang diberikan-Nya. Karena sesungguhnya setiap permasalahan, ujian ataupun cobaan. Adalah rasa kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rabb kita kepada setiap hambanya. Jika kita sabar. Insya Allah, akan ada berita gembira kepada orang- orang yang sabar.
Jilid 12
Aku melihat Nova sedang duduk disebuah taman didaerah Village of Country. Raut mukanya terlihat murung dan tampak gelisah. Wajah putihnya pun bagaikan lukisan Monalisa. Tetapi Monalisa, tak secantik Nova. Aku mencari tempat parkir. Untuk memarkir mobilku.
Setelah mendapatkan tempat parkir. Aku langsung turun dari mobil. Sekali- sekali, aku mengamati daerah perumahan elit ini. Tetap bersikap waspada. Bergegas aku langsung menuju taman Village of Country. Nova masih duduk sendirian, dengan sikap kewaspadaan. Nova terlihat sudah melihatku. Dia mengangkatkan tangannya, seraya memanggilku. Langsung saja aku mendatangi dia. Tetapi, Nova langsung berlari kearahku. Terlihat sangat tergesa-gesa.
“Farah. Kita harus cepat keluar dari sini!” Ucap Nova. Saat sudah berada didepanku. “Kenapa harus terburu-buru?” Tanyaku bingung.
“Sudah, tidak ada waktu untuk menjelaskannya disini!” Ucap Nova. Dengan memegang tanganku.
“Ini sebenarnya, ada apa sih Nov?”
“Sudahlah. Ayo kita pergi! Tidak ada waktu, untuk aku jelaskan disini.” Nova menarik tanganku.
Dan kita pun bergegas pergi meninggalkan taman itu.
Segera aku tancap gas dengan sedikit cepat. Meninggalkan rona-rona keindahan taman yang ditata rapi oleh para pengembang perumahan. Tetapi, tidak seindah apa yang telah diciptakan Ilahi. Taman-taman surga yang akan membuat kita terlena dan lupa dengan siksa dunia. Taman-taman surga yang akan membuat kita akan lupa dengan beratnya cobaan yang diberikan oleh-Nya. Taman-taman surga, yang memberikan kenikmatan bagi setiap penghuninya. Sungguh keindahan yang tidak akan pernah tercipta oleh manusia. Bahkan untuk memikirkannya sekalipun. Tidak akan mampu untuk menembusnya. Menembus taman-taman surga yang nikmat nian untuk dihuninya. Nikmat yang tidak akan pernah bisa terpikirkan oleh manusia. Nikmat yang tidak akan mampu untuk digapai didunia. Nikmat yang tidak akan mampu dipikirkan dalam otak manusia. Sungguh kenikmatan yang tiadatara. Kenikmatan yang telah dijanjikan oleh-Nya. Jannah-jannah Ilahi. Jannah-jannah untuk para mujahid dan mujahidah. Jannah-jannah untuk para pembela agama-Nya. Jannah-jannah para pemegang syariat-Nya. Pengusung kebenaran yang tak akan luput dari surga Ilahi.
“Kita mau kemana sekarang?” Tanyaku. Sambil menyetir.
“Terserah kamu, Far. Pokoknya, ketempat yang menurut kamu aman!” Ucap Nova. “Hem. Nggak ada Nov, nggak akan ada tempat yang aman!” Ucapku lirih.
“Apa?” Nova sedikit kaget mendengar ucapanku. “Kenapa?” Tanyaku balik.
“Apa benar, nggak ada tempat yang aman?” “Tidak ada!” Jawabku.
“Jika kamu, memang benar-benar tidak mempunyai tempat yang aman. Sudah tamatlah riwayatku!” Nova berucap sambil terlihat putus asa.
“Iya, Nov. Tidak akan ada tempat yang aman. Sesungguhnya, Allah tetap mengawasi kita! Kita tidak akan pernah bisa menemukan tempat yang aman. Bahkan kelubang semut pun. Kita tidak akan pernah bisa aman! Karena Allah mengawasi kita. Tetapi, kalau tempat yang aman. Yang tidak diketahui oleh manusia. Insya Allah, aku ada!”
“Oh. Aku kira kamu nggak punya tempat yang aman!” Ucap Nova. Sudah terlihat sedikit lebih tenang.
Aku hanya tersenyum.
Aku mengemudi dengan kecepatan sedang. Jalan-jalan yang lapang, menjadi sangat menguntungkan. Menguntungkan, karena aku bisa memacu mobilku dengan santai. Tanpa harus terkena macet yang melelahkan. Tetapi sayang, jalan beraspal ini begitu terjal. Terjal, karena banyak lubang-lubang jalan yang tak terurusi. Entah kemana pajak yang setiap hari dibayar oleh para pemakai jalan. Hingga akhirnya, jalan-jalan yang seharusnya mulus dari lubang-lubang aspal yang rusak. Sudah tidak harus dilihat lagi. Hingga akhirnya, para pengendara pun tidak khawatir pada setiap perjalanan mereka. Tidak khawatir dengan rasa was-was, saat mengemudi. Dan terjerembab kedalam lubang aspal, yang akhirnya menyebabkan kecelakaan.
Mobilku tetap melaju dengan kecepatan sedang. Seperti biasanya. Aku tidak mau memacu kendaraanku dengan kecepatan yang tak wajar. Meskipun, mobilku dengan mudah aku pacu sesuai dengan apa yang aku inginkan. Bahkan cepat sekalipun. Mobilku bisa menuruti permintaanku. Tetapi, aku bukanlah pengendara yang tidak mengerti tentang aturan berlalu-lintas yang baik dan benar. Aku adalah orang Islam yang taat menjalankan perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah yang termasuk dengan kemaslahatan bersama. Perintah yang memang dapat menambah pengetahuanku tentang keteraturan dalam kehidupan. Meskipun, perintah lalu-lintas bukan ajaran dari syariatku. Tetapi, bukan berarti peraturan lalu-lintas bukan dari syariatku. Karena sesungguhnya, esensi dari syariat Islam. Juga tertuang dari perintah untuk dapat memberikan kemaslahatan bersama. Karena pada dasarnya. Kemaslahatan bersama dalam mewujudkan sebuah keindahan dalam keteraturan kehidupan. Adalah merupakan, syariat-syariat Islam.
Maka, aku memang harus benar-benar bisa menyadari tentang ini semua. Sadar akan aturan-aturan tentang kemaslahatan yang dimaksud dalam syariat. Hingga akhirnya aku sadar akan kemaslahatan yang memang seharusnya aku lakukan. Karena sesungguhnya, bukanlah sebuah hal yang besar. Jika kita menuruti aturan-aturan yang
memang memberikan kemaslahatan bagi setiap orang. Tanpa harus mengorbankan aturan-aturan yang sudah ada dan sudah diterapkan dalam Islam. Hingga, aku harus bisa melakukan dan melaksanakan aplikasi peraturan yang sudah ditentukan. Karena peraturan itu adalah untuk kepentingan kemaslahatan bersama.
“Tluuut...Tliit....” Dering Hpku.
Aku langsung menekan tombol handsfree. “Ukhti Dewi” tertulis di LCD Hpku. “Assalamualaikum Ukh!” Ucapku.
“Walaikumsalam”
“Gimana Ukh! Anti baik-baik saja?” Tanyaku langsung.
“Mbak. Ana bisa ketemu Mbak nggak, sekarang!” Ucapnya. Seperti memendam sesuatu dihatinya.
“Anti sekarang dimana?” “Ana sekarang di kampus!”
“Ana jemput sekarang, gimana?” Tanyaku. “Iya Mbak! Jemput didepan aja.”
“Iya. Ana langsung kesana! Assalamualaikum” “Walaikumsalam!”
Setelah itu aku langsung saja aku menuju kampus Dewi. Sejenak, Nova terdiam. Terlihat dia bertanya-tanya.
“Ada apa, Nov?” Tanyaku. Disela-sela menyetir.
“Kita mau kemana, Far?” Nova terlihat agak bingung.
“Aku mau jemput adikku dulu! Dia sekarang lagi dikampusnya.” Ucapku dengan senyum.
“Hem. Kok kelihatannya ada masalah Far?”
“Insya Allah, semoga masalah itu bisa terselesaikan!” “Benar. Berarti memang ada masalah!” Desak Nova. “Masalahnya, sangat kompleks Nov!” Jawabku sekenanya.
“Far, apakah setiap muslim itu harus membantu saudaranya?” Tanya Nova. Seketika itu.
Aku mengangguk. “Apakah, wajib?”
Aku hanya mengangguk. Sambil tersenyum, aku jelaskan. “Nov. Sesungguhnya, wajib bagi seorang muslim membantu saudaranya! Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda. ‘Laa yu’ minu akhadukum khatta yukhibba ilakiihi maa yukhibbu linafsih’ yang artinya. ‘Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’ Jadi, jika ada seorang muslim yang memerlukan bantuan. Maka kewajiban muslim lainnya, adalah membantu!”
“Far. Aku salut. Aku benar-benar salut dengan semua aturan yang ditetapkan dalam Islam. Apalagi, sepertinya sangat mudah sekali seorang umat Islam menghafal Al Qur’an. Bahkan perkataan seorang Nabinya pun. Terlihat sangat mudah dihafal!” Ucap Nova. Dengan mata yang berbinar-binar.
“Nov. Dalam Q.S. Al Hijr. Ayat 9. Allah berfirman. ‘Inna nakhnu najjalnaddzikra wa innalahu lakhafiduun’ Yang artinya. ‘Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya’ Jadi Al Qur’an itu, benar-benar dijaga oleh Allah keaslihannya. Karena jaminannya penjagaannya dari Allah. Bagaimana Allah menjaganya? Pastilah dengan memudahkan penghafalan Al Qur’an dan hadits-hadits, dan memudahkan lafal-lafalnya agar terlihat indah dan bermakna! Dengan salah satu cara seperti itulah, Allah memberikan penjagaan kepada Al Qur’an!”
“Sungguh, sangat mengesankan! Apakah kamu, bisa mengajari aku Far?” Tanya
Nova. Terlihat berharap.
“Insya Allah!” Jawabku. Sambil tersenyum.
Kampus Dewi sudah terlihat. Aku tinggal memutar untuk bisa memasuki area depan kampus. Seseorang akhwat terlihat sedang duduk-duduk disalah satu halte bus. Sesegera mungkin aku langsung menghampirinya. Dengan tepat berhenti didepannya. Akhwat itu tersenyum. Dia adalah Dewi. Yang dengan wajah bingungnya setia menungguku.
“Assalamualaikum.” Ucapnya, sembari langsung membuka belakang mobil. Setelah tahu kalau kursi depan ada sudah berpenghuni.
“Walaikumsalam.” Jawabku, menyambut.
“Afwan Mbak, ana merepotkan Mbak lagi!” Ucapnya langsung.
“Ukhti. Ana nggak mau anti ngomong seperti itu! Ingat.” Ucapku menekankan. “Iya, Mbak. Afwan.”
Setelah itu aku langsung menancap gas. Pergi meninggalkan halte bus.
“Gimana, Ukh? Apakah sudah ada titik terang?” Ucapku.
“Hem. Mbak, ana rasa masih sulit! Masih sangat sulit Mbak.” Dewi terlihat bingung. “Yah! Memang sulit, Ukh! Tapi, anti tetap harus bersabar dan tetap memohon kepada
Allah. Anti ingatkan...”
Dengan seketika itu pun. “BERSABAR DAN SHOLAT!” Ucapku dan Dewi. Bersamaan, dan lalu tersenyum.
“Insya Allah, Mbak! Pasti.” Ucap Dewi.
“Eh, iya. Ini kenalin, temanku Nova!” Ucapku.
Setelah Nova dan Dewi berkenalan. Tiba-tiba, Nova mengatakan.
“Mungkin, alangkah lebih baiknya jika aku duduk di belakang aja deh. Biar Dewi duduk didepan!”
“Nggak usah! Mbak. Biar Mbak Nova aja yang duduk didepan!” Ucap Dewi.
“Ah. Nggak enak! Kayaknya, yang pantas duduk didepan adalan Dewi.” Ucap Nova, sedikit berharap.
“Jangan, gitu Nov! Kamu tetap duduk didepan aja. Jangan ada perasaan seperti itu!” Ucapku.
“Tapi kelihatannya nggak enak banget, gitu loh!” Ucap Nova, dengan tersenyum. “Bukan nggak enak Nov. Hanya kamu risih aja! Dikelilingi oleh para jilbabers kaya
kita!” Ucapku. bercanda. “Kalau kamu duduk dibelakang. Malahan, kesannya kayak
kamu itu aku culik!” Ucapku lanjut. Yang akhirnya membuat kami tertawa. “Mbak Farah!” Panggil Dewi.
“Iya, Ukh!”
“Mbak, ana kemarin ditelephon sama penjahat-penjahat itu!” Ucap Dewi. Terlihat seperti gelisah.
“Iya? Lalu mereka bilang apa?” Tanyaku penasaran.
“Mereka tetap mengancam, Mbak! Ana takut. Tadi ana bilang sama nenek, kalau ana mau nginep dirumah teman. Ana, takut kalau para penjahat itu tahu rumah nenek. Ana nggak mau ada apa-apa dengan nenek, jika ana tetap tinggal dirumah nenek!”
“Kalau begitu, anti ikut ana! Kita sembunyi, ditempat yang Insya Allah tidak akan diketahui oleh mereka!”
“Baik!”
“Nanti anti, tinggal sama Nova! Biaya hidup, semua ana yang tanggung.” Ucapku tegas.
“Mbak, ana terlalu merepotkan!” Ucap Dewi.
“Iya. Far. Aku kayaknya sudah terlalu merepotkan kamu!” Sahut Nova. “Kalian jangan ngomong begitu! Semua ini hanya karena Allah!” Ucapku.
Sejenak, suasana menjadi didalam mobil. Terhenyak. Kata-kata Rabb muncul dengan sendirinya. Dengan mudahnya, dan dengan kekuatan hati yang tulur untuk menyebutnya. Hingga, setiap yang mendengar pun. Harus tertunduk mengagumi-Nya.
“Tapi. Tetap ada syaratnya!” Ucapku, memecahkan keheningan. “Apa, Far?” Tanya Nova.
“Iya, apa Mbak?” Sahut Dewi juga.
“Harus sering-sering, bersihin genteng and nguras sumur yah!” Ucapku, bercanda. “Yee.....” serentak, jawaban yang tidak dikomando meluncur dari Nova dan Dewi.
Suasana pun kembali ceriah. Meskipun, terdapat aral-aral yang melintang didalam setiap diri Nova dan Dewi. Nova sendiri, sampai sekarang aku masih belum tahu. Masalah apa yang sedang menggelayuti hatinya. Hingga-hingga, dia harus lari dari rumahnya dengan kegalauan yang terpendam. Dan Dewi, entah bagaiaman perasaan hatinya sekarang. Masalah-masalah yang sangat berat, masih bercokol dalam hatinya.
Mobilku pun terus melaju. Menuju tempat yang harus dituju. Tempat yang nyaman untuk dihuni. Yang dapat memberikan perasaan tenang para penghuninya. Yang dapat memberikan ketentraman, pada jiwa-jiwa yang berada didalamnya. Tempat yang akan membuat setiap manusia rindu untuk memilikinya. Tetapi, rumah itu bukan tempat tinggal. Hanya rumah yang akan membina menjadi tempat tinggal idaman yang lainnya. Rumah yang akan memberikan keindahan kepada rumah-rumah berikutnya. Membuahkan rumah yang berisi kedamaian dan ketentraman dalam sebuah kehidupan. Karena rumah itu adalah, rumah yang memang diperuntukkan untuk berkhalwat dengan Yang Maha Memberi ketenangan. Allah SWT.
Saat-saat mobilku melaju dengan nyaman. Di jalan tol yang sedikit bergelombang. Menuju area puncak pegunungan. Indah, karena didepan adalah sebuah gunung berdiri dengan gagahnya. Tetapi tetap terasa panas. Tak disangka, aku melihat sebuah mobil sedan dari arah belakang. Melaju dengan sangat kencang. Sering kali mobil itu membunyikan klakson. Seraya mengingatkanku untuk untuk minggir, memberi jalan untuk dia lewat. Aku pun, meminggirkan sedikit mobilku.
Mempersilahkan mobil yang terburu-buru itu untuk melewatiku. Dengan cepat, mobil itu sudah sampai disamping mobilku. Kita pun melaju dengan kecepatan yang sama. Aku sedikit bingung dengan ulah pemudi itu.
Kaca cendela pintu mobil pun terbuka. Terlihat seseorang berkacamata hitam, mengacungkan sebuah benda. Dan berteriak-teriak “CEPAT MINGGIR KAMU!”
Dengan sangat tercengang, aku melihat benda yang diacung-acungkan kepadaku. HA! PISTOL. Teriakku dalam hati
“MBAK, DIA BAWA PISTOL!” Teriak Dewi keras.
Dengan cepat, aku pun menancap pedal gas lebih dalam lagi. Seketika itu pun, aku melesat cepat. Mobilku pun dengan cepatnya mendahului mereka. Terlihat dikaca spion belakang. Mereka pun, menancap gasnya. Berusaha mengejarku. Kejar-kejaran antara dua mobil pun berlangsung. Dewi terlihat sangat panik. Nova juga terlihat panik, tetapi masih terlihat bisa mengontrol diri.
“Bagaimana, ini? Apa yang harus kita lakukan?” Ucap Dewi. Bingung.
“Ukh. Telephon polisi! Barangkali, polisi nanti bisa menghadang mereka dipos tol selanjutnya!” Ucapku. Sedikit lebih memerintah.
“Jangan! Jangan lapor polisi. Aku nanti bisa celaka.” Ucap Nova.
“Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan?” Ucapku bingung. Sambil berkonsentrasi menyetir.
“Far, aku mohon. Jangan telephon polisi! Kamu harus bisa, lolos dari mereka. Kalau kita lapor polisi, maka aku akan kembali kerumah. Dan imanku taruhannya!” Ucapnya serius.
Aku sontak kaget dengan ucapan Nova. “Apa maksudmu, Nov?” Tanyaku.
“Far, pokoknya kamu harus bisa lolos dari mereka! Tekadku sudah bulat, aku mau menjadi seorang muslim. Mungkin mereka anak buah papaku, yang ingin membawaku kembali!” Ucap Nova.
Aku bagaikan mendengar sebuah guntur yang menggelegar. Perasaanku sangat tidak karuan. Rasa senang bercampur dengan kekalutan, kebingungan dan bahkan ketakutan. Tetapi, semua itu telah dikalahkan oleh rasa senangku yang mendalam. Aku harus bisa lolos dari mereka! Kataku dalam hati.
Seketika itu pun aku langsung menancap gas lebih dalam lagi. Mobilku pun melaju cepat. Penjahat-penjahat itu pun, mengikutiku dengan kecepatan yang sama cepatnya denganku. Tak ayal, kejar-kejaran dalam kecepatan tinggi pun berlangsung. Beberapa kali, aku berkelit dari mobil para penjahat itu. Mereka, terlihat sangat terlatih dalam menjalankan rencana mereka. Sesekali, mereka hampir bisa memaksaku untuk keluar dari jalur tol. Tetapi, aku pun dengan sekuat tenaga. Dan dengan bantuan Allah, bisa menghindar dari sergapan mereka.
“DUA.....AAAAR” Tetapi, sebuah suara letusan pistol pun terdengar.
Aku panik. “APA ADA YANG TERKENA TEMBAKAN?” Teriakku. Kepada Nova dan Dewi.
“Aku nggak apa-apa Far!” Ucap Nova.
“Tenang, Mbak. Pelurunya hanya mengenai jok belakang. Ana nggak apa-apa!” Ucap
Dewi.
Hem. Kalian ingin mencoba merasakan kekuatan para mujahidah Allah yah! Gumamku dalam hati. Seraya mencengkramkan tanganku distir mobil. Dan dengan lebih dalam lagi, aku injak pedal gas mobil. Mobilku pun melaju dengan kecepatan yang tinggi. Para penjahat itu hanya bisa mengikutiku dari belakang. Dengan mendahului mobil-mobil yang ada didepanku. Aku pun, melesat cepat. Klakson pun, tidak lupa untuk aku kumandangkan. Memberitahukan tentang, kuatnya mujahidah Allah. Mobilku terus melesat cepat.
Tetapi, saat aku sedang berada dijalur kanan. Sebuah truk menghalangi jalanku. Aku tidak bisa berbelok kekiri, karena ada sebuah bis. Kini aku diantara kedua kendaraan yang besar-besar itu. Aku terpojok. Dari kaca spion belakang. Aku pun melihat para penjahat itu dengan cepat menuju kearahku. Klakson pun aku bunyikan terus-terusan. Entahlah, mungkin supir bus jengkel. Hingga, dia pun mengklakson balik. Suara klakson yang memekakan telinga. Tetapi, dengan cepat pun. Bus itu melaju mendahului truk. Hingga akhirnya aku bisa langsung berbelok kearah kiri. Suasana begitu sangat menegangkan. Dari arah belakang, terlihat seorang penjahat yang berada dimobil sedan itu. Memempersiapkan tembakan berikutnya. Aku tidak bisa langsung melaju cepat. Karena, aku kini terhalang oleh sebuah mobil jeep yang berada didepan. Ingin aku langsung membelokkan kearah kanan. Tetapi, sedan para penjahat itu pun. Melesat cepat. Langsung berada disamping kanan mobilku. Tepat disampingku, seorang penjahat menodongkan pistolnya kearahku.
Kini aku tepat berada disamping pistol, yang diarahkan kepadaku. Dzikir pun selalu terucap dalam hati dan mulutku. Jantungku berdetak hebat. Tiada yang dapat aku lakukan lagi. Kini tinggal menunggu waktu yang tak pasti. Kematian yang akan aku hadapi. Hingga semoga, kesyahidan yang akan aku raih. Bukan, ini bukan syahid! Syahid bukanlah putus asa. Aku tidak boleh berputus asa, masih banyak jalan untuk bisa selamat dari cobaan ini! Aku harus bisa. Selama aku masih bisa melawan, maka aku harus melawan. Syahid bukan berarti berdiam diri menunggu ajal. TIDAK, AKU HARUS MELAWAN Teriakku dihati. Dan seketika itu pun,
“CEPAT, PASANG SABUK PANGAMAN!” Teriakku. Pada Nova dan Dewi.
Entah, sepersekian detik. Aku langsung menginjak pedal rem dan mengaktifkan rem tangan dengan sangat keras. Mobilku pun berhenti seketika. Dan seketika itu pun, kami hampir terpelanting kedepan. Beruntung, Allah masih menyelamatkan kami, dan kami memakai sabuk pengaman. Alhamdulillah! Untung juga, tidak ada mobil yang persis berada dibelakangku. Para mobil penjahat itu pun, nyelonong mendahului mobilku. Sekilas, mereka menembakkan pistolnya. Dan Alhamdulillah, peluru itu tidak mengenai kami. Melesat entah kemana.
Dengan jantung yang masih berdegup keras. Aku langsung mengemudikan mobilku dengan kecepatan normal. Dan melaju dilajur kiri. Tetapi, tak disangka. Sedan penjahat itu melaju dengan cepat. Dari yang sebaliknya. Mereka menantang arus jalan. Mereka tepat dibagian kiri jalan. Tepat berada didepan kami. Aku sangat gugup. Mereka terlihat akan menabrakkan mobilnya. AKU HARUS BISA! Teriakku keras dalam hati. Dengan cepat pula, aku tancap pedal gas. Dan kami pun melesat cepat. Searah dengan para penjahat itu, mobilku pun terlihat siap untuk menantang mereka. Jarak kami pun sudah semakin dekat. Kami hampir akan bertabrakan. Jika para penjahat itu tidak membelokkan kesamping kiri jalan. Hem. Segitu saja nyali kalian! Kalian takut akan kematian. Sedangkan kami, memang mencari kematian itu! Kematian yang kami cari, adalah kematian berlandaskan perjuangan. Bukan bunuh diri, atau kekonyolan dalam kematian.
Terlihat dari kaca spion. Para penjahat itu membelokkan mobil mereka. Dan mereka pun langsung melesat menyusul kami. Pedal gas pun aku tancap. Dengan dzikir dan keberanian. Aku pun tidak takut akan maut yang akan menjemput. Jika memang waktunya menjemput. Tetapi, aku tidak akan pernah menyerah. Kejar- kejaran pun terjadi lagi. Dengan cepat, kami melesat. Diantara mobil-mobil yang lainnya. Begitu pula para penjahat. Mereka terlihat sangat berambisi untuk menghabisi kami. Entah, mereka sudah dibayar berapa. Sepertinya, bayaran mereka sama artinya dengan menebus nyawa mereka. Mereka tidak berfikir tentang neraka yang akan menghanguskan mereka. Mereka hanya memikirkan dunia, yang padahal hanya menipu mereka.
Suara mesin mobil sedan para penjahat begitu keras. Tidak seperti suara mesin mobilku yang tidak begitu terdengar. Meskipun kecepatan yang aku gunakan sangat cepat. Beberapa kali, para penjahat-penjahat itu hampir berada disampingku. Tetapi, jika aku menambah kecepatan. Mereka pasti tertinggal. Banyaknya mobil-mobil sering menguntungkan kami. Tetapi juga, tidak sedikit yang merugikan kami. Karena hampir-hampir, para penjahat itu mendapatkan kami.
Sebuah mobil, berada didepanku. Dan disamping kiri pun ada sebuah mobil yang menghalangi jalanku. Kini aku terpojok lagi. Klakson, aku bunyikan berulang- ulang. Tetapi, mereka masih saja tidak bergeming. Mobil-mobil itu tidak menghiraukan klakson yang aku bunyikan. Dan seketika itu pun, sedan para penjahat itu sudah berada disamping kiriku. Setelah membuka cedela pintu mobil. Mereka tersenyum. Ada rasa kemenangan yang mereka rasakan. Kemenangan yang mereka kira akan membuat mereka menjadi seorang yang menang. Dari arah cendela pintu mobil yang ada dibelakang. Terlihat, seseorang menodongkan senjata laras panjang. HA, itu adalah M16. Senjata yang telah membunuh para mujahid dan mujahidah. Senjata yang dipakai oleh orang-orang yang bengis. Dan haus akan dara!. Senjata yang telah memberondongkan pelurusnya, hanya untuk kesenangan belaka. Untuk menujukkan kekuatan mereka. Padahal, mereka tak ubahnya senjata murahan yang akan tetap kami lawan. AKU BISA MENGHADAPI KALIAN!
Para penjahat itu, tertawa. Terlihat rasa kemenangan didiri-diri mereka. Mereka tak tahu akan kepastian kemenangan para tentara Allah. Hingga wajah-wajah mereka pun terlihat bengis dalam tatapan yang sangat haus akan kematian. Aku tanamkan dalam hati, AKU TIDAK TAKUT! ALLAH HU’AKBAR. Mereka sudah
mengarahkan senjata laknat itu kepada kami. Hingga jika diberondongkan peluru- peluru itu. Paling tidak, ada satu peluru yang bisa mengenai kami. Aku ingin menghentikam mobilku. Tetapi, dibelakang pun ada sebuah mobil. Jika aku menghentikan mobilku, pasti aku akan tertabrak dari belakang dengan keras. Kini aku hanya berharap kepada Allah. Tanpa usaha apapun. Karena semua usaha yang aku lakukan pun, sudah sangat maksimal. Tinggal menunggu pertolongan, atau kesyahidan.
Saat mereka sudah siap akan menembakkan senjata itu. Dari arah tengah, muncul sebuah mobil Jeep yang besar. Langsung saja mobil itu, menghalangi bidikan mereka kepada kami. Ucapku syukur atas pertolongan-Nya. Tetapi yang aku herankan. Jeep itu dengan cepat dan keras. Membelokkan kemudinya kearah kiri. Kearah para penjahat itu.
“BRUUUAAAAKKK...” Langsung saja, mobil sedan para penjahat itu terpelanting kekiri.
Sedan para penjahat itu pun berhenti seketika dijalur kiri. Mereka terlihat tidak dapat meneruskan pengejaran untuk menangkapku. Jeep itu akhirnya berjalan pelan. Terlihat seperti melindungiku. Ucapku syukur berkali-kali. Tiada kata yang pantas diucapkan selain pujian dan rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Maha Pelindung. Yang melindungi kami dari segala marabahaya. Yang dapat membinasakan kita karena kecongkakan dan kesombongan. Tetapi, sungguh Allah telah membuktikan janjinya. Janji untuk menolong para mujahid dan mujahidah. Para pejuang yang menegakkan ajaran agamanya. Menegakkan dan mengagungkan syari’at-Nya. Janji memberikan pertolongan, yang tak akan pernah kita duga. Sungguh pertolongan yang tak terduga.
Aku pun dengan cepat meninggalkan arena pertempuranku. Arena yang membuat degup jantungku tak beraturan. Arena yang telah membuatku mengingat Allah dengan kepastian janjinya. Yang akan selalu aku rindukan kembali. Medan pertempuran dalam jihad abadi.
Setelah mendapatkan tempat parkir. Aku langsung turun dari mobil. Sekali- sekali, aku mengamati daerah perumahan elit ini. Tetap bersikap waspada. Bergegas aku langsung menuju taman Village of Country. Nova masih duduk sendirian, dengan sikap kewaspadaan. Nova terlihat sudah melihatku. Dia mengangkatkan tangannya, seraya memanggilku. Langsung saja aku mendatangi dia. Tetapi, Nova langsung berlari kearahku. Terlihat sangat tergesa-gesa.
“Farah. Kita harus cepat keluar dari sini!” Ucap Nova. Saat sudah berada didepanku. “Kenapa harus terburu-buru?” Tanyaku bingung.
“Sudah, tidak ada waktu untuk menjelaskannya disini!” Ucap Nova. Dengan memegang tanganku.
“Ini sebenarnya, ada apa sih Nov?”
“Sudahlah. Ayo kita pergi! Tidak ada waktu, untuk aku jelaskan disini.” Nova menarik tanganku.
Dan kita pun bergegas pergi meninggalkan taman itu.
Segera aku tancap gas dengan sedikit cepat. Meninggalkan rona-rona keindahan taman yang ditata rapi oleh para pengembang perumahan. Tetapi, tidak seindah apa yang telah diciptakan Ilahi. Taman-taman surga yang akan membuat kita terlena dan lupa dengan siksa dunia. Taman-taman surga yang akan membuat kita akan lupa dengan beratnya cobaan yang diberikan oleh-Nya. Taman-taman surga, yang memberikan kenikmatan bagi setiap penghuninya. Sungguh keindahan yang tidak akan pernah tercipta oleh manusia. Bahkan untuk memikirkannya sekalipun. Tidak akan mampu untuk menembusnya. Menembus taman-taman surga yang nikmat nian untuk dihuninya. Nikmat yang tidak akan pernah bisa terpikirkan oleh manusia. Nikmat yang tidak akan mampu untuk digapai didunia. Nikmat yang tidak akan mampu dipikirkan dalam otak manusia. Sungguh kenikmatan yang tiadatara. Kenikmatan yang telah dijanjikan oleh-Nya. Jannah-jannah Ilahi. Jannah-jannah untuk para mujahid dan mujahidah. Jannah-jannah untuk para pembela agama-Nya. Jannah-jannah para pemegang syariat-Nya. Pengusung kebenaran yang tak akan luput dari surga Ilahi.
“Kita mau kemana sekarang?” Tanyaku. Sambil menyetir.
“Terserah kamu, Far. Pokoknya, ketempat yang menurut kamu aman!” Ucap Nova. “Hem. Nggak ada Nov, nggak akan ada tempat yang aman!” Ucapku lirih.
“Apa?” Nova sedikit kaget mendengar ucapanku. “Kenapa?” Tanyaku balik.
“Apa benar, nggak ada tempat yang aman?” “Tidak ada!” Jawabku.
“Jika kamu, memang benar-benar tidak mempunyai tempat yang aman. Sudah tamatlah riwayatku!” Nova berucap sambil terlihat putus asa.
“Iya, Nov. Tidak akan ada tempat yang aman. Sesungguhnya, Allah tetap mengawasi kita! Kita tidak akan pernah bisa menemukan tempat yang aman. Bahkan kelubang semut pun. Kita tidak akan pernah bisa aman! Karena Allah mengawasi kita. Tetapi, kalau tempat yang aman. Yang tidak diketahui oleh manusia. Insya Allah, aku ada!”
“Oh. Aku kira kamu nggak punya tempat yang aman!” Ucap Nova. Sudah terlihat sedikit lebih tenang.
Aku hanya tersenyum.
Aku mengemudi dengan kecepatan sedang. Jalan-jalan yang lapang, menjadi sangat menguntungkan. Menguntungkan, karena aku bisa memacu mobilku dengan santai. Tanpa harus terkena macet yang melelahkan. Tetapi sayang, jalan beraspal ini begitu terjal. Terjal, karena banyak lubang-lubang jalan yang tak terurusi. Entah kemana pajak yang setiap hari dibayar oleh para pemakai jalan. Hingga akhirnya, jalan-jalan yang seharusnya mulus dari lubang-lubang aspal yang rusak. Sudah tidak harus dilihat lagi. Hingga akhirnya, para pengendara pun tidak khawatir pada setiap perjalanan mereka. Tidak khawatir dengan rasa was-was, saat mengemudi. Dan terjerembab kedalam lubang aspal, yang akhirnya menyebabkan kecelakaan.
Mobilku tetap melaju dengan kecepatan sedang. Seperti biasanya. Aku tidak mau memacu kendaraanku dengan kecepatan yang tak wajar. Meskipun, mobilku dengan mudah aku pacu sesuai dengan apa yang aku inginkan. Bahkan cepat sekalipun. Mobilku bisa menuruti permintaanku. Tetapi, aku bukanlah pengendara yang tidak mengerti tentang aturan berlalu-lintas yang baik dan benar. Aku adalah orang Islam yang taat menjalankan perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah yang termasuk dengan kemaslahatan bersama. Perintah yang memang dapat menambah pengetahuanku tentang keteraturan dalam kehidupan. Meskipun, perintah lalu-lintas bukan ajaran dari syariatku. Tetapi, bukan berarti peraturan lalu-lintas bukan dari syariatku. Karena sesungguhnya, esensi dari syariat Islam. Juga tertuang dari perintah untuk dapat memberikan kemaslahatan bersama. Karena pada dasarnya. Kemaslahatan bersama dalam mewujudkan sebuah keindahan dalam keteraturan kehidupan. Adalah merupakan, syariat-syariat Islam.
Maka, aku memang harus benar-benar bisa menyadari tentang ini semua. Sadar akan aturan-aturan tentang kemaslahatan yang dimaksud dalam syariat. Hingga akhirnya aku sadar akan kemaslahatan yang memang seharusnya aku lakukan. Karena sesungguhnya, bukanlah sebuah hal yang besar. Jika kita menuruti aturan-aturan yang
memang memberikan kemaslahatan bagi setiap orang. Tanpa harus mengorbankan aturan-aturan yang sudah ada dan sudah diterapkan dalam Islam. Hingga, aku harus bisa melakukan dan melaksanakan aplikasi peraturan yang sudah ditentukan. Karena peraturan itu adalah untuk kepentingan kemaslahatan bersama.
“Tluuut...Tliit....” Dering Hpku.
Aku langsung menekan tombol handsfree. “Ukhti Dewi” tertulis di LCD Hpku. “Assalamualaikum Ukh!” Ucapku.
“Walaikumsalam”
“Gimana Ukh! Anti baik-baik saja?” Tanyaku langsung.
“Mbak. Ana bisa ketemu Mbak nggak, sekarang!” Ucapnya. Seperti memendam sesuatu dihatinya.
“Anti sekarang dimana?” “Ana sekarang di kampus!”
“Ana jemput sekarang, gimana?” Tanyaku. “Iya Mbak! Jemput didepan aja.”
“Iya. Ana langsung kesana! Assalamualaikum” “Walaikumsalam!”
Setelah itu aku langsung saja aku menuju kampus Dewi. Sejenak, Nova terdiam. Terlihat dia bertanya-tanya.
“Ada apa, Nov?” Tanyaku. Disela-sela menyetir.
“Kita mau kemana, Far?” Nova terlihat agak bingung.
“Aku mau jemput adikku dulu! Dia sekarang lagi dikampusnya.” Ucapku dengan senyum.
“Hem. Kok kelihatannya ada masalah Far?”
“Insya Allah, semoga masalah itu bisa terselesaikan!” “Benar. Berarti memang ada masalah!” Desak Nova. “Masalahnya, sangat kompleks Nov!” Jawabku sekenanya.
“Far, apakah setiap muslim itu harus membantu saudaranya?” Tanya Nova. Seketika itu.
Aku mengangguk. “Apakah, wajib?”
Aku hanya mengangguk. Sambil tersenyum, aku jelaskan. “Nov. Sesungguhnya, wajib bagi seorang muslim membantu saudaranya! Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda. ‘Laa yu’ minu akhadukum khatta yukhibba ilakiihi maa yukhibbu linafsih’ yang artinya. ‘Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’ Jadi, jika ada seorang muslim yang memerlukan bantuan. Maka kewajiban muslim lainnya, adalah membantu!”
“Far. Aku salut. Aku benar-benar salut dengan semua aturan yang ditetapkan dalam Islam. Apalagi, sepertinya sangat mudah sekali seorang umat Islam menghafal Al Qur’an. Bahkan perkataan seorang Nabinya pun. Terlihat sangat mudah dihafal!” Ucap Nova. Dengan mata yang berbinar-binar.
“Nov. Dalam Q.S. Al Hijr. Ayat 9. Allah berfirman. ‘Inna nakhnu najjalnaddzikra wa innalahu lakhafiduun’ Yang artinya. ‘Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya’ Jadi Al Qur’an itu, benar-benar dijaga oleh Allah keaslihannya. Karena jaminannya penjagaannya dari Allah. Bagaimana Allah menjaganya? Pastilah dengan memudahkan penghafalan Al Qur’an dan hadits-hadits, dan memudahkan lafal-lafalnya agar terlihat indah dan bermakna! Dengan salah satu cara seperti itulah, Allah memberikan penjagaan kepada Al Qur’an!”
“Sungguh, sangat mengesankan! Apakah kamu, bisa mengajari aku Far?” Tanya
Nova. Terlihat berharap.
“Insya Allah!” Jawabku. Sambil tersenyum.
Kampus Dewi sudah terlihat. Aku tinggal memutar untuk bisa memasuki area depan kampus. Seseorang akhwat terlihat sedang duduk-duduk disalah satu halte bus. Sesegera mungkin aku langsung menghampirinya. Dengan tepat berhenti didepannya. Akhwat itu tersenyum. Dia adalah Dewi. Yang dengan wajah bingungnya setia menungguku.
“Assalamualaikum.” Ucapnya, sembari langsung membuka belakang mobil. Setelah tahu kalau kursi depan ada sudah berpenghuni.
“Walaikumsalam.” Jawabku, menyambut.
“Afwan Mbak, ana merepotkan Mbak lagi!” Ucapnya langsung.
“Ukhti. Ana nggak mau anti ngomong seperti itu! Ingat.” Ucapku menekankan. “Iya, Mbak. Afwan.”
Setelah itu aku langsung menancap gas. Pergi meninggalkan halte bus.
“Gimana, Ukh? Apakah sudah ada titik terang?” Ucapku.
“Hem. Mbak, ana rasa masih sulit! Masih sangat sulit Mbak.” Dewi terlihat bingung. “Yah! Memang sulit, Ukh! Tapi, anti tetap harus bersabar dan tetap memohon kepada
Allah. Anti ingatkan...”
Dengan seketika itu pun. “BERSABAR DAN SHOLAT!” Ucapku dan Dewi. Bersamaan, dan lalu tersenyum.
“Insya Allah, Mbak! Pasti.” Ucap Dewi.
“Eh, iya. Ini kenalin, temanku Nova!” Ucapku.
Setelah Nova dan Dewi berkenalan. Tiba-tiba, Nova mengatakan.
“Mungkin, alangkah lebih baiknya jika aku duduk di belakang aja deh. Biar Dewi duduk didepan!”
“Nggak usah! Mbak. Biar Mbak Nova aja yang duduk didepan!” Ucap Dewi.
“Ah. Nggak enak! Kayaknya, yang pantas duduk didepan adalan Dewi.” Ucap Nova, sedikit berharap.
“Jangan, gitu Nov! Kamu tetap duduk didepan aja. Jangan ada perasaan seperti itu!” Ucapku.
“Tapi kelihatannya nggak enak banget, gitu loh!” Ucap Nova, dengan tersenyum. “Bukan nggak enak Nov. Hanya kamu risih aja! Dikelilingi oleh para jilbabers kaya
kita!” Ucapku. bercanda. “Kalau kamu duduk dibelakang. Malahan, kesannya kayak
kamu itu aku culik!” Ucapku lanjut. Yang akhirnya membuat kami tertawa. “Mbak Farah!” Panggil Dewi.
“Iya, Ukh!”
“Mbak, ana kemarin ditelephon sama penjahat-penjahat itu!” Ucap Dewi. Terlihat seperti gelisah.
“Iya? Lalu mereka bilang apa?” Tanyaku penasaran.
“Mereka tetap mengancam, Mbak! Ana takut. Tadi ana bilang sama nenek, kalau ana mau nginep dirumah teman. Ana, takut kalau para penjahat itu tahu rumah nenek. Ana nggak mau ada apa-apa dengan nenek, jika ana tetap tinggal dirumah nenek!”
“Kalau begitu, anti ikut ana! Kita sembunyi, ditempat yang Insya Allah tidak akan diketahui oleh mereka!”
“Baik!”
“Nanti anti, tinggal sama Nova! Biaya hidup, semua ana yang tanggung.” Ucapku tegas.
“Mbak, ana terlalu merepotkan!” Ucap Dewi.
“Iya. Far. Aku kayaknya sudah terlalu merepotkan kamu!” Sahut Nova. “Kalian jangan ngomong begitu! Semua ini hanya karena Allah!” Ucapku.
Sejenak, suasana menjadi didalam mobil. Terhenyak. Kata-kata Rabb muncul dengan sendirinya. Dengan mudahnya, dan dengan kekuatan hati yang tulur untuk menyebutnya. Hingga, setiap yang mendengar pun. Harus tertunduk mengagumi-Nya.
“Tapi. Tetap ada syaratnya!” Ucapku, memecahkan keheningan. “Apa, Far?” Tanya Nova.
“Iya, apa Mbak?” Sahut Dewi juga.
“Harus sering-sering, bersihin genteng and nguras sumur yah!” Ucapku, bercanda. “Yee.....” serentak, jawaban yang tidak dikomando meluncur dari Nova dan Dewi.
Suasana pun kembali ceriah. Meskipun, terdapat aral-aral yang melintang didalam setiap diri Nova dan Dewi. Nova sendiri, sampai sekarang aku masih belum tahu. Masalah apa yang sedang menggelayuti hatinya. Hingga-hingga, dia harus lari dari rumahnya dengan kegalauan yang terpendam. Dan Dewi, entah bagaiaman perasaan hatinya sekarang. Masalah-masalah yang sangat berat, masih bercokol dalam hatinya.
Mobilku pun terus melaju. Menuju tempat yang harus dituju. Tempat yang nyaman untuk dihuni. Yang dapat memberikan perasaan tenang para penghuninya. Yang dapat memberikan ketentraman, pada jiwa-jiwa yang berada didalamnya. Tempat yang akan membuat setiap manusia rindu untuk memilikinya. Tetapi, rumah itu bukan tempat tinggal. Hanya rumah yang akan membina menjadi tempat tinggal idaman yang lainnya. Rumah yang akan memberikan keindahan kepada rumah-rumah berikutnya. Membuahkan rumah yang berisi kedamaian dan ketentraman dalam sebuah kehidupan. Karena rumah itu adalah, rumah yang memang diperuntukkan untuk berkhalwat dengan Yang Maha Memberi ketenangan. Allah SWT.
Saat-saat mobilku melaju dengan nyaman. Di jalan tol yang sedikit bergelombang. Menuju area puncak pegunungan. Indah, karena didepan adalah sebuah gunung berdiri dengan gagahnya. Tetapi tetap terasa panas. Tak disangka, aku melihat sebuah mobil sedan dari arah belakang. Melaju dengan sangat kencang. Sering kali mobil itu membunyikan klakson. Seraya mengingatkanku untuk untuk minggir, memberi jalan untuk dia lewat. Aku pun, meminggirkan sedikit mobilku.
Mempersilahkan mobil yang terburu-buru itu untuk melewatiku. Dengan cepat, mobil itu sudah sampai disamping mobilku. Kita pun melaju dengan kecepatan yang sama. Aku sedikit bingung dengan ulah pemudi itu.
Kaca cendela pintu mobil pun terbuka. Terlihat seseorang berkacamata hitam, mengacungkan sebuah benda. Dan berteriak-teriak “CEPAT MINGGIR KAMU!”
Dengan sangat tercengang, aku melihat benda yang diacung-acungkan kepadaku. HA! PISTOL. Teriakku dalam hati
“MBAK, DIA BAWA PISTOL!” Teriak Dewi keras.
Dengan cepat, aku pun menancap pedal gas lebih dalam lagi. Seketika itu pun, aku melesat cepat. Mobilku pun dengan cepatnya mendahului mereka. Terlihat dikaca spion belakang. Mereka pun, menancap gasnya. Berusaha mengejarku. Kejar-kejaran antara dua mobil pun berlangsung. Dewi terlihat sangat panik. Nova juga terlihat panik, tetapi masih terlihat bisa mengontrol diri.
“Bagaimana, ini? Apa yang harus kita lakukan?” Ucap Dewi. Bingung.
“Ukh. Telephon polisi! Barangkali, polisi nanti bisa menghadang mereka dipos tol selanjutnya!” Ucapku. Sedikit lebih memerintah.
“Jangan! Jangan lapor polisi. Aku nanti bisa celaka.” Ucap Nova.
“Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan?” Ucapku bingung. Sambil berkonsentrasi menyetir.
“Far, aku mohon. Jangan telephon polisi! Kamu harus bisa, lolos dari mereka. Kalau kita lapor polisi, maka aku akan kembali kerumah. Dan imanku taruhannya!” Ucapnya serius.
Aku sontak kaget dengan ucapan Nova. “Apa maksudmu, Nov?” Tanyaku.
“Far, pokoknya kamu harus bisa lolos dari mereka! Tekadku sudah bulat, aku mau menjadi seorang muslim. Mungkin mereka anak buah papaku, yang ingin membawaku kembali!” Ucap Nova.
Aku bagaikan mendengar sebuah guntur yang menggelegar. Perasaanku sangat tidak karuan. Rasa senang bercampur dengan kekalutan, kebingungan dan bahkan ketakutan. Tetapi, semua itu telah dikalahkan oleh rasa senangku yang mendalam. Aku harus bisa lolos dari mereka! Kataku dalam hati.
Seketika itu pun aku langsung menancap gas lebih dalam lagi. Mobilku pun melaju cepat. Penjahat-penjahat itu pun, mengikutiku dengan kecepatan yang sama cepatnya denganku. Tak ayal, kejar-kejaran dalam kecepatan tinggi pun berlangsung. Beberapa kali, aku berkelit dari mobil para penjahat itu. Mereka, terlihat sangat terlatih dalam menjalankan rencana mereka. Sesekali, mereka hampir bisa memaksaku untuk keluar dari jalur tol. Tetapi, aku pun dengan sekuat tenaga. Dan dengan bantuan Allah, bisa menghindar dari sergapan mereka.
“DUA.....AAAAR” Tetapi, sebuah suara letusan pistol pun terdengar.
Aku panik. “APA ADA YANG TERKENA TEMBAKAN?” Teriakku. Kepada Nova dan Dewi.
“Aku nggak apa-apa Far!” Ucap Nova.
“Tenang, Mbak. Pelurunya hanya mengenai jok belakang. Ana nggak apa-apa!” Ucap
Dewi.
Hem. Kalian ingin mencoba merasakan kekuatan para mujahidah Allah yah! Gumamku dalam hati. Seraya mencengkramkan tanganku distir mobil. Dan dengan lebih dalam lagi, aku injak pedal gas mobil. Mobilku pun melaju dengan kecepatan yang tinggi. Para penjahat itu hanya bisa mengikutiku dari belakang. Dengan mendahului mobil-mobil yang ada didepanku. Aku pun, melesat cepat. Klakson pun, tidak lupa untuk aku kumandangkan. Memberitahukan tentang, kuatnya mujahidah Allah. Mobilku terus melesat cepat.
Tetapi, saat aku sedang berada dijalur kanan. Sebuah truk menghalangi jalanku. Aku tidak bisa berbelok kekiri, karena ada sebuah bis. Kini aku diantara kedua kendaraan yang besar-besar itu. Aku terpojok. Dari kaca spion belakang. Aku pun melihat para penjahat itu dengan cepat menuju kearahku. Klakson pun aku bunyikan terus-terusan. Entahlah, mungkin supir bus jengkel. Hingga, dia pun mengklakson balik. Suara klakson yang memekakan telinga. Tetapi, dengan cepat pun. Bus itu melaju mendahului truk. Hingga akhirnya aku bisa langsung berbelok kearah kiri. Suasana begitu sangat menegangkan. Dari arah belakang, terlihat seorang penjahat yang berada dimobil sedan itu. Memempersiapkan tembakan berikutnya. Aku tidak bisa langsung melaju cepat. Karena, aku kini terhalang oleh sebuah mobil jeep yang berada didepan. Ingin aku langsung membelokkan kearah kanan. Tetapi, sedan para penjahat itu pun. Melesat cepat. Langsung berada disamping kanan mobilku. Tepat disampingku, seorang penjahat menodongkan pistolnya kearahku.
Kini aku tepat berada disamping pistol, yang diarahkan kepadaku. Dzikir pun selalu terucap dalam hati dan mulutku. Jantungku berdetak hebat. Tiada yang dapat aku lakukan lagi. Kini tinggal menunggu waktu yang tak pasti. Kematian yang akan aku hadapi. Hingga semoga, kesyahidan yang akan aku raih. Bukan, ini bukan syahid! Syahid bukanlah putus asa. Aku tidak boleh berputus asa, masih banyak jalan untuk bisa selamat dari cobaan ini! Aku harus bisa. Selama aku masih bisa melawan, maka aku harus melawan. Syahid bukan berarti berdiam diri menunggu ajal. TIDAK, AKU HARUS MELAWAN Teriakku dihati. Dan seketika itu pun,
“CEPAT, PASANG SABUK PANGAMAN!” Teriakku. Pada Nova dan Dewi.
Entah, sepersekian detik. Aku langsung menginjak pedal rem dan mengaktifkan rem tangan dengan sangat keras. Mobilku pun berhenti seketika. Dan seketika itu pun, kami hampir terpelanting kedepan. Beruntung, Allah masih menyelamatkan kami, dan kami memakai sabuk pengaman. Alhamdulillah! Untung juga, tidak ada mobil yang persis berada dibelakangku. Para mobil penjahat itu pun, nyelonong mendahului mobilku. Sekilas, mereka menembakkan pistolnya. Dan Alhamdulillah, peluru itu tidak mengenai kami. Melesat entah kemana.
Dengan jantung yang masih berdegup keras. Aku langsung mengemudikan mobilku dengan kecepatan normal. Dan melaju dilajur kiri. Tetapi, tak disangka. Sedan penjahat itu melaju dengan cepat. Dari yang sebaliknya. Mereka menantang arus jalan. Mereka tepat dibagian kiri jalan. Tepat berada didepan kami. Aku sangat gugup. Mereka terlihat akan menabrakkan mobilnya. AKU HARUS BISA! Teriakku keras dalam hati. Dengan cepat pula, aku tancap pedal gas. Dan kami pun melesat cepat. Searah dengan para penjahat itu, mobilku pun terlihat siap untuk menantang mereka. Jarak kami pun sudah semakin dekat. Kami hampir akan bertabrakan. Jika para penjahat itu tidak membelokkan kesamping kiri jalan. Hem. Segitu saja nyali kalian! Kalian takut akan kematian. Sedangkan kami, memang mencari kematian itu! Kematian yang kami cari, adalah kematian berlandaskan perjuangan. Bukan bunuh diri, atau kekonyolan dalam kematian.
Terlihat dari kaca spion. Para penjahat itu membelokkan mobil mereka. Dan mereka pun langsung melesat menyusul kami. Pedal gas pun aku tancap. Dengan dzikir dan keberanian. Aku pun tidak takut akan maut yang akan menjemput. Jika memang waktunya menjemput. Tetapi, aku tidak akan pernah menyerah. Kejar- kejaran pun terjadi lagi. Dengan cepat, kami melesat. Diantara mobil-mobil yang lainnya. Begitu pula para penjahat. Mereka terlihat sangat berambisi untuk menghabisi kami. Entah, mereka sudah dibayar berapa. Sepertinya, bayaran mereka sama artinya dengan menebus nyawa mereka. Mereka tidak berfikir tentang neraka yang akan menghanguskan mereka. Mereka hanya memikirkan dunia, yang padahal hanya menipu mereka.
Suara mesin mobil sedan para penjahat begitu keras. Tidak seperti suara mesin mobilku yang tidak begitu terdengar. Meskipun kecepatan yang aku gunakan sangat cepat. Beberapa kali, para penjahat-penjahat itu hampir berada disampingku. Tetapi, jika aku menambah kecepatan. Mereka pasti tertinggal. Banyaknya mobil-mobil sering menguntungkan kami. Tetapi juga, tidak sedikit yang merugikan kami. Karena hampir-hampir, para penjahat itu mendapatkan kami.
Sebuah mobil, berada didepanku. Dan disamping kiri pun ada sebuah mobil yang menghalangi jalanku. Kini aku terpojok lagi. Klakson, aku bunyikan berulang- ulang. Tetapi, mereka masih saja tidak bergeming. Mobil-mobil itu tidak menghiraukan klakson yang aku bunyikan. Dan seketika itu pun, sedan para penjahat itu sudah berada disamping kiriku. Setelah membuka cedela pintu mobil. Mereka tersenyum. Ada rasa kemenangan yang mereka rasakan. Kemenangan yang mereka kira akan membuat mereka menjadi seorang yang menang. Dari arah cendela pintu mobil yang ada dibelakang. Terlihat, seseorang menodongkan senjata laras panjang. HA, itu adalah M16. Senjata yang telah membunuh para mujahid dan mujahidah. Senjata yang dipakai oleh orang-orang yang bengis. Dan haus akan dara!. Senjata yang telah memberondongkan pelurusnya, hanya untuk kesenangan belaka. Untuk menujukkan kekuatan mereka. Padahal, mereka tak ubahnya senjata murahan yang akan tetap kami lawan. AKU BISA MENGHADAPI KALIAN!
Para penjahat itu, tertawa. Terlihat rasa kemenangan didiri-diri mereka. Mereka tak tahu akan kepastian kemenangan para tentara Allah. Hingga wajah-wajah mereka pun terlihat bengis dalam tatapan yang sangat haus akan kematian. Aku tanamkan dalam hati, AKU TIDAK TAKUT! ALLAH HU’AKBAR. Mereka sudah
mengarahkan senjata laknat itu kepada kami. Hingga jika diberondongkan peluru- peluru itu. Paling tidak, ada satu peluru yang bisa mengenai kami. Aku ingin menghentikam mobilku. Tetapi, dibelakang pun ada sebuah mobil. Jika aku menghentikan mobilku, pasti aku akan tertabrak dari belakang dengan keras. Kini aku hanya berharap kepada Allah. Tanpa usaha apapun. Karena semua usaha yang aku lakukan pun, sudah sangat maksimal. Tinggal menunggu pertolongan, atau kesyahidan.
Saat mereka sudah siap akan menembakkan senjata itu. Dari arah tengah, muncul sebuah mobil Jeep yang besar. Langsung saja mobil itu, menghalangi bidikan mereka kepada kami. Ucapku syukur atas pertolongan-Nya. Tetapi yang aku herankan. Jeep itu dengan cepat dan keras. Membelokkan kemudinya kearah kiri. Kearah para penjahat itu.
“BRUUUAAAAKKK...” Langsung saja, mobil sedan para penjahat itu terpelanting kekiri.
Sedan para penjahat itu pun berhenti seketika dijalur kiri. Mereka terlihat tidak dapat meneruskan pengejaran untuk menangkapku. Jeep itu akhirnya berjalan pelan. Terlihat seperti melindungiku. Ucapku syukur berkali-kali. Tiada kata yang pantas diucapkan selain pujian dan rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Maha Pelindung. Yang melindungi kami dari segala marabahaya. Yang dapat membinasakan kita karena kecongkakan dan kesombongan. Tetapi, sungguh Allah telah membuktikan janjinya. Janji untuk menolong para mujahid dan mujahidah. Para pejuang yang menegakkan ajaran agamanya. Menegakkan dan mengagungkan syari’at-Nya. Janji memberikan pertolongan, yang tak akan pernah kita duga. Sungguh pertolongan yang tak terduga.
Aku pun dengan cepat meninggalkan arena pertempuranku. Arena yang membuat degup jantungku tak beraturan. Arena yang telah membuatku mengingat Allah dengan kepastian janjinya. Yang akan selalu aku rindukan kembali. Medan pertempuran dalam jihad abadi.
Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================
0 Komentar