JILID 7
“Tluut…Tliit….” Suara sms Hp mengagetkanku.
Febrianti. Tertulis dalam layar LCD. “Mbak, anti dmn? Nggak ngechat! Tmn2 lg nungguin. Pngen tausyiah dari Mbak Farah. Cepat ya Mbak!” Pesan SMSnya.
Masya Allah, aku lupa. Hari ini kan ada liqo’ di teman-teman chatting! Segera mungkin aku langsung menghidupkan komputer. Tak perlu beranjak dari tempat tidur. Karena dengan hanya menekan remote. Maka komputer dengan sendirinya langsung merestart. Segera aku mengambil jilbabku, untuk aku kenakan. Sejenak windows xp mengeluarkan wajah cantikku. “Afwan, sudahkah anda membaca basmalah? Kalau sudah, tolong diisi password untuk menuju tampilan XPnya. Syukron. Wassalam!” Bunyi tampilan otomatis dalam komputer.
Segera mungkin aku connect keinternet. Memasang camera dengan bagus. Dan langsung menuju ke chatcam. Tak lama aku sudah menuju keteman-teman cyber liqo’. Unik sebenarnya, saat kami bertemu dalam dunia cyber. Beberapa akhwat adalah adik kelasku, teman-temannya Dewi. Dan yang lainnya, adalah teman-teman cyber chatku. Karena kebanyakan mereka kuliah diluar negeri. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk selalu berhubungan dengan cara seperti ini. Beberapa teman- teman chattingku. Malahan dulu adalah seorang non muslim. Yang begitu tertarik dengan Islam. Hanya saja, mereka tidak dapat belajar tentang Islam lebih dalam. Karena mereka diwilayah negeri orang-orang kafir. Sehingga alternatifnya adalah, dengan chatting. Ada dua versi chatting yang dikembangkan dalam liqo’anku. Yaitu, chatcam dan chatvoice. Dua-duanya langsung terhubung dalam satu channel chatting. Sehingga dengan mudah, jika seorang yang tidak mempunyai camera. Tetap bisa mendengarkan suara para chatter.
“Assalamualaikum!” beruntun, suara-suara para chatter. Terlihat Febri, tetap dengan wajah imutnya dan jilbab besarnya. Lalu ada Ine dengan jilbab trendynya. Ada Ratna, Asih, Fenti, Maya, Desti, dan banyak lagi. Juga beberapa teman-teman chatvoice yang hanya menunjukkan inisial atau nama-namanya saja.
“Walaikumlalam.”
“Mbak Farah, kok telat ada apa?” Tanya Desti.
“Ana lagi kecapean! Satu hari yang melelahkan plus menegangkan serta menguras pikiran!” Ucapku senyum.
“Emang, lagi ada kegiatan yah Mbak?” Tanya Febri.
“Iyah, bisa dibilang begitu!” Ucapku. Kegiatan yang telah membuat jantung begitu keras dalam detakannya. Gumamku.
“Enak yah, Mbak! Kalau di Indonesia. Masih bisa melakukan dakwah sesukanya!” Ucap Febri dengan senyum simpulnya.
“Iya! Kalau kita disini nggak bisa seenaknya, melakukan kegiatan-kegiatan yang berbau religius ditempat umum! Bisa-bisa ditangkap karena mengganggu masyarakat!” Sahut Ratna.
“Apalagi disini! Bisa-bisa langsung dikira teroris.” Sela Asih, sengit.
“Memang, banyak negera-negara yang katanya menjunjung hak asasi. Tetapi seorang yang melakukan hak asasinya malah dilarang. Banyak para akhwat Perancis yang telah keluar dari universitas terkenal. Hanya karena mereka berjilbab! Padahal, untuk masuknya sangat sulit.” Ucap Fenti.
“Woi, kasih hak bicara dong! Jangan hanya yang punya webcam aja, yang bicara!”
sela Anggi yang berada di chatvoice.
“Ih, siapa yang memotong hak bicara! Anti saja, yang tidak mau bicara.” Seru Ine. Yang membuat teman-teman akhirnya tertawa.
“Iya, kalau disini juga susah untuk kegiatan yang berbau religius! Di Ausy, malah ada salah satu akhwat yang diludahin saat mau berangkat kuliah.” Ucap Anggi semangat.
“Siapa yang nanya!” sela Ine. “Yee….” Ucap Anggi, bersungut.
“Hehehe…. Sudah-sudah! Anti berdua ini kok kaya’ apaan.” Selaku. Mendamaikan.
“Biasa, Mbak! Anggi dan Ine itukan kucing dan tikus. Ngeong…… Citcit…..!” ledek
Asih.
“Iya, ana kucingnya. Ukhti Ine tikusnya! Hehe…” ucap Anggi. “Yee.. ana yang kucingnya. Anti tikusnya!” Seru Ine.
“Hehe… kok rebutan jadi binatang sih! Emang nggak enak yah jadi manusia?”
ucapku bercanda.
“Iya, nih. Ukhti Asih ituloh yang mulai, Mbak!” Jawab Anggi.
“Iya, ini gara-gara Ukhti Asih!” Sahut Ine.
“Loh-loh… kok malah ana sih yang disalahin!” ucap Asih. Tidak terima.
Seluruh chatter pun tertawa. Sungguh keterikatan ukhuwah yang telah menjadikan kami bisa begitu dekat. Entah darimana asal mereka. Apa warna kulit mereka, bahasa apa yang mereka pakai. Selama dalam naungan Islam. Mereka adalah saudara. Hingga sampai-sampai, para room dichatting. Merasakan kenikmatan persaudaraan itu. Perkara kecil bisa dibesar-besarkan, tetapi tidak menjadi besar. Perkara besar tidak dibesar-besarkan malah kalau bisa dipermudah dan diperkecil. Karena ikatan ukhuwah kita yang kuat. Sampai-sampai bagaikan seorang adik kakak. Pertikaian kecil, merupakan bumbu-bumbu yang akan mempererat persaudaraan.
“Hehe…. Ya sudah! Gimana kita mulai sekarang?” selaku.
Sejenak mereka pun sedikit demi sedikit bisa mengatur dirinya. Suara riuh canda tawa mulai sedikit demi sedikit mereda. Mereka memulai memfokuskan dalam bermuhasabah pada setiap dirinya.
“Tafadhol, Mbak!” Ucap Febri, mempersilahkan aku memberikan materi. “Alhamdulillah. Insya Allah, untuk hari ini kita membahas materi akhlak dan ikhlas!”
sejenak aku mengela nafas. “Akhlak. Bisa dikatakan sebagai adab. Atau perilaku tentang budi pekerti. Dalam kamus bahasa. Beberapa orang mengatakan, bahwa akhlak adalah sebuah perilaku budi pekerti yang diambil dari sebuah kebudayaan. Tetapi, Akhlak dalam Islam. Bukan dari kebudayaan orang Arab. Tetapi, lebih dicenderungkan dalam kebudayaan manusia. Budi pekerti manusia yang universal. Dan akhlak dalam Islam, adalah karakter dominan Rasulullah! Yaitu, seorang yang ramah, adil, baik. Intinya, kesempurnaan manusia yang ada dunia. Hanyalah pada Rasulullah!” dalam layer monitor. Teman-temanku mendengar secara pasti taujih yang aku sampaikan. Rasa ketidaktahuan, atau rasa ingin memperkuat keimanan. Terlihat dari setiap wajah-wajah dalam monitor. Tidak terkecuali, teman-teman yang hanya bisa mendengar melalui chatvoice.
Setiap hal, yang mendetail masalah akhlak dan ikhlas. Aku sampaikan dengan jelas. Aku ingin tidak ada yang tersisa lagi dalam setiap penyampaian materiku. Hingga menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Atau ilmu yang hanya setengah- setengah saja. Dengan pasti, aku memberikan materi-materi itu. “Alhamdulillah. Baik, ada yang perlu ditanyakan” ucapku diakhir penjelasan.
Sejenak para chatter diam. Berfikir dan merasapi taujih yang aku sampaikan. Wajah mereka tertunduk, mengharap keikhlasan dengan perbuatan yang mereka lakukan. Perbuatan yang entah mereka lakukan. Aku tidak tahu.
“Mbak, ana mau tanya!” ucap Desti. Membuyarkan lamunan para chatter. “Iya, tafadhol Ukh!” jawabku.
“Mbak, ana mau tanya tentang keIkhlasan. Apakah seorang yang melakukan sebuah pekerjaan. Tetapi dia melakukan itu dengan senang hati, tetapi karena menginginkan sesuatu selain Allah! Apakah itu juga dinamakan Ikhlas?”
“Seorang yang melakukan perbuatan, tetapi didasari untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang bukan berdasarkan pada Allah. Juga termasuk Ikhlas! Tetapi, keikhlasan itu hanya pada sesuatu yang diinginkannya saja. Dan dia tidak mendapatkan pahala ikhlas yang diberikan oleh Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, diriwayatkan oleh Ahmad. “Sebaik-baik usaha adalah usaha tangan seorang pekerja apabila ia mengerjakannya dengan tulus.” Jadi semua itu, mempunyai nilai keikhlasan sendiri- sendiri. Jika seseorang meniatkan dirinya untuk Allah, maka Allah lah yang akan menjadi tujuannya. Dan pahala yang akan didapatkannya. Sedangkan, jika seorang meniatkan untuk hal-hal yang lain. Selain Allah. Maka, hanya hal itu saja yang akan didapatkannya!” jelasku.
“Lalu, cara untuk ikhlas atau menjaga ikhlas dalam dakwah bagaimana Mbak? Kadang, ana sangat ikhlas sekali untuk mengadakan kegiatan. Tetapi, saat kegiatan itu tidak sesuai dengan harapan. Keihlasan ana menjadi pupus!” tanya Maya.
“Iya, kadang kita benar-benar sangat bersemangat dalam beradakwah. Dan kadang kala kita menjadi luntur atau futur. Saat-saat apa yang kita harapkan tidak tercapai. Atau kita bosan dengan kegiatan tersebut! Mungkin, kita perlu merefiu kembali jalan dakwah yang kita lakukan. Saat kita melakukan sebuah kegiatan. Dengan harapan, bahwa kegiatan itu akan mencapai target yang ingin kita capai. Tetapi sayang, beberapa teman-teman kita banyak yang tidak datang dalam kegiatan tersebut. Biasanya membuat kita menjadi pesimis dengan berlangsungnya kegiatan dengan bagus! Atau panitia kegiatan banyak yang datang terlambat. Itu juga, salah satu yang membuat keikhlasan menjadi luntur!
Pernah ada seorang akhwat, melakukan kegiatan yang sudah sangat dirancang dengan matang. Lalu, pada saat pelaksanaan kegiatan. Banyak akhwat-akhwat panitia yang terlambat hadir atau bahkan tidak hadir. Akhwat ini bingung. Peserta sudah sanagt membludak. Tetapi, panitia banyak yang tidak hadir. Akhirnya akhwat ini menelephon seorang akhwat yang belum hadir. Sebuah percakapan terjadi,
Akhwat A : Ukhti, anti dimana? Peserta sudah banyak. Anti tolong kemari dong!
Akhwat B : Afwan ana tidak bisa hadir. Ana ada keperluaan!
Semoga anti dan teman-teman bisa mengatasi sendiri. (Ucapnya dengan enteng, tidak ada penyesalan sama sekali)
Akhwat A : Anti kok nggak bilang saat syuro’. Kalau seperti ini kan kasihan Al Ukh yang lain. (Ucapnya, sedikit agak emosi)
Akhwat B : Iya, Afwan. Ana hari ini ada teman yang lagi main kerumah. Jadi nggak bisa ninggal! Semoga anti tetap niat ikhlas anti tidak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah)
Akhwat A : Masya Allah, Ukh! Anti kan bisa ajak teman anti disini! (Ucapnya agak tegas, dengan nada yang meninggi. Sedikit terlihat emosi)
Akhwat B : Afwan, nggak enak. Nanti ganggu anti dan teman- teman. Lebih baik, anti dan teman-teman tetap istiqomah dijalan dakwah. Dan tetap, semoga niat anti nggak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah. Seperti ingin menasehati)
Akhwat A : TAHU APA ANTI TENTANG ISTIQOMAH DAN IKHLAS. (Ucapnya dengan keras. Setelah itu menutup telephon)
Baik. Sekarang siapa yang salah” ucapku. Sambil melihat satu persatu Al Ukh, Halaqoh Cyber Liqo’.
Mereka terlihat bingung. Sesekali ada yang mengatakan salah satu yang salah. Tetapi ada juga, yang menyalahkan kedua akhwat itu. Dengan alasan, akhwat satu yang menelphon tidak mempunyai kesabaran untuk menghadapi Akhwat yang ditelephon. Lalu akhwat yang ditelephon, tidak mempunyai rasa persaudaraan yang kuat kepada akhwat yang lainnya. Tetapi, lebih banyak yang diam. Tidak berkomentar, atau menungguku untuk lebih dalam menjelaskan persoalan ini.
“Iya! Dalam kasus tadi. Kita dapat mengambil sebuah ibroh atau hikmahnya. Memang, niat ikhlas itu sangat diharapkan untuk tidak keluar dari dalam niat kita. Tetapi, ada penyebab yang membuat niat ikhlas itu keluar. Yaitu, dengan cobaan seperti apa yang terjadi dalam kasus tadi! Seorang, yang sudah ikhlas dalam hatinya. Akhirnya ternodai oleh saudaranya sendiri! Ikhlas, bukan berarti tidak butuh bantuan. Ikhlas, bukan berarti bertindak sendirian. Dan seharusnya, untuk menjaga keikhlasan sesama saudara. Maka saudara yang lainnya, pun harus ikut menjaga niat keikhlasan dalam perjuangan saudaranya. Bukan malah, membiarkan saudaranya berjuang sendiri. Lalu dengan seenaknya, saudara yang lainnya mengatakan tentang keikhlasan. Keikhlasan tentang saudara yang lainnya. Ini berarti, menjadikan tumbal saudara kita sendiri!” Aku sedikit menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. “Maka, untuk menjaga niat ikhlas kita. Seharusnya, sikap kita adalah tidak mementingkan hasil dari apa yang kita kerjakan. Cukuplah usaha yang kita jalankan, sesuai dengan apa yang memang seharusnya. Tidak usah begitu mengharapkan hasil yang sempurna. Tetapi, tetap ada hasilnya! Dan cukuplah Allah, yang memberikan hasil dari kita. Cukuplah kita, berikhtiar dengan usaha yang kita lakukan.”
“Iya, ana juga setuju kalau seperti itu Mbak!” Ucap Desti. “Ana jadi lebih mengerti sekarang!” Sahut Anggi.
“Sama, ana juga!” Ucap Febri.
“Syukron Mbak! Ana jadi lebih tenang, dengan penjelasan yang Mbak Farah sampaikan!” Ucap Ine.
“Sama, ana juga!” Ucap beberapa teman-teman yang lain.
“Alhamdulillah. Kalau seperti ini kan, ana jadi nggak lebih mudah menjelaskannya!”
ucapku. Sambil bercanda.
“Mbak, ana mau tanya!” Ucap Anggi. “Tafadhol!” Jawabku.
“Mbak, ana di sini sering bertemu dengan saudara kita yang lainnya. Di Australia, ada beberapa harokah-harokah Islam yang banyak. Termasuk ada juga, beberapa yang menyebutkan diri dari golongan pengikut ulama salaf. Anehnya, kadang kami saling berdebat. Untuk mempertahankan harakah kita masing-masing! Mengunggul- unggulkan apa yang kita kerjakan. Dan tak jarang, kata hujatan pun meluncur untuk salah satu harakah. Suasana ini baru ana alami disini, Mbak! Saat di Indonesia, ana tidak begitu sering melihat harakah-harakah lain. Dan tidak pernah mendengar hujatan-hujatan yang menyakitkan! Tapi disini, semuanya bisa dilakukan. Mengunggul-unggulkan golongan mereka, merupakan hal biasa disini. Pantas saja, banyak para jamaah yang terlihat tidak begitu menyatu. Membaur dalam kerangka ukhuwah yang erat! Mereka lebih memilih, bergabung dengan orang-orang yang sealiran dengan mereka!” Ungkap Anggi.
“Hem. Iya, memang. Inilah yang menjadi persoalan serius dalam umat Islam! Banyak para harakah, organisasi, aliran dalam Islam. Yang menyerukan tentang persatuan. Hanya saja, persatuan yang mereka inginkan lebih bersifat penyatuan. Bukan persatuan yang menginginkan kesatuan. Di Indonesia pun, sering terjadi. Mereka lebih menonjolkan harakah atau organisasi mereka. Persatuan, sering digembar- gemborkan dalam setiap harakah atau organisasi. Tetapi sayangnya. Persatuan yang mereka inginkan, lebih bersifat menyatukan harakah atau organisasi lain kedalam harakah atau organisasinya sendiri. Ini yang membuat menjadikan persatuan tidak terjaga dengan baik. Beberapa cemoohan, hujatan dan celaan harakah atau organisasi satu dengan yang lainnya! Sepertinya, kita terhambat dengan pola perjuangan harakah dan organisasi yang mementingkan diri mereka sendiri.
Ana pernah berdialog dengan satu aktivis harakah selain kita. Mereka dengan mudah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati. Akhlak mereka menjadi bias, dengan ashabiyah yang mereka punyai! Beberapa kali, ana mengelus dada. Saat berbicara dengan mereka. Ana mencoba sabar dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. Bahkan, ada sebuah harakah yang menghina seorang ulama besar. Hasan Al Banna. Seorang ulama yang begitu masyhur dalam dakwahnya, harus dihina dan fitnah. Kasihan. Bahkan, isu yang digemborkan adalah. Hasan Al Banna merupakan seorang yang membela orang-orang Israel. Membela kaum-kaum Yahudi! Padahal, semua tahu. Bahwa banyak kader-kader Hasan Al Banna yang diterjunkan untuk turut berperang saat Israel menyerang Palestina. Dan bahkan, hampir-hampir saja. Kader-kader Hasan Al Banna dapat mengalahkan pasukan Israel. Kalau pada saat itu, Anwar Saddat seorang presiden Mesir yang zhalim itu tidak menangkapi kader-kader Hasan Al Banna!
Ironis, seorang kader yang menunjukkan eksistensinya dalam dunia Islam. Harus dipenjarakan dan dibunuh oleh orang-orang munafik. Tetapi hebatnya, kader-
kader Hasan Al Banna tidak pernah mengeluh dalam setiap perjuangannya. Dan bahkan, mereka tidak melakukan sebuah kemakaran terhadap negaranya. Meskipun saat itu mereka sudah sangat di zhalimi! Sangat hebat. Bahkan, saat kader-kader Hasan Al Banna di penjara. Mereka berfikir, penjara itu adalah bagian dari rihlah mereka! Saat mereka berada diruang penjara bawah tanah, hingga mereka tidak bisa melihat tangannya sendiri karena gelap. Tapi, sungguh sangat mengesankan. Mereka dengan bergantian meramaikan penjara bawah tanah itu, dengan muraja’ah Al Qur’an. Subhanallah! Dan Hasan Al Banna adalah seorang pembesar, yang mengakui. Bahwa Indonesia, adalah negara yang berdaulat! Yang pada saat itu, tidak ada negara yang berani mengakui kemerdekaan Indonesia.
Ana sangat salut dengan perjuangan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna. Meskipun, ana pun tidak menafikkan ada ulama-ulama lain. Selain Hasan Al Banna. Tetapi, ana lebih menyukai dan mengagumi para ulama-ulama besar. Dengan penghormatan dan bukan penghinaan. Ulama manapun! Selama ulama itu dalam koridor syariat yang benar, maka ana akan mengagumi mereka. Karena, ana tidak ingin bertaklid dengan salah satu ulama. Karena ulama adalah manusia, mempunyai kesalahan dan dosa! Tetapi, kebenaran itulah yang seharusnya kita ambil dari setiap para ulama-ulama! Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para ulama. Seharusnya kita pun memahami, bahwa ulama juga manusia. Bukan lantas menyalahkan seluruh ajarannya, hingga menafikkan ajaran keberanan-Nya!
Adapun saat kita dihina. Maka jangan sekali-kali, kita membalas hinaan mereka dengan balik menghina! Karena sesungguhnya, kehinaan itu akan kembali kepada seorang penghina. Dan sekarang, sudah bukan jamannya lagi untuk berdebat dengan sesama muslim! Selama muslim itu benar dalam pandangan syariat, melakukan perbuatan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, melakukan perbuatan yang tidak dilarang oleh Rasulullah. Maka kita, tidak usah saling membenarkan atau menyalahkan! Kita ingat, musuh bersama kita sekarang bersatupadu memerangi kita. Mereka sedang menyiapkan senjata-senjata mereka. Sejata materil, Pun senjata propaganda perpecahan umat. Maka kita jangan sampai tertipu daya dengan propaganda itu. Adakalanya, saat kita berdebat. Janganlah mencari pembenaran, tetapi carilah kebenaran untuk kemaslahatan. Bukan kebanaran abstrak yang kolot harus dilakukan. Karena, kita harus ingat. Bahwa jaman terus berubah, banyak aturan- aturan Rasulullah yang tidak mengatur dalam aturan jaman yang akan datang. Dalam konteksnya, ijtihad-ijtihad yang dilakukan ulama satu dengan ulama yang lainnya. Tidaklah boleh saling membuat perpecahan diantara umat Islam!
Kita ingat bahwa sesungguhnya, sebuah persatuan dalam Islam akan terjadi. Manakala semua umat Islam mengerti apa yang dilakukannya masing-masing. Usaha- usaha untuk saling mengingatkan antara sesama Islam. Harus dilakukan. Tetapi dengan cara bahasa yang santun, tidak menyakitkan hati seorang yang akan kita beri pengingatan kembali. Banyak cara agar persatuan Islam dapat kembali, salah satunya seperti yang ana sebutkan tadi. Karena jika kita terlena dengan perang kita sendiri, sedangkan ada musuh bersama yang sedang mengintai kita. Yang sekarang sedang melakukan persiapan untuk menghancurkan umat Islam. Sekarang, sudah saatnya kita harus bangun dari tidur kita dengan mimpi-mimpi buruk perpecahan umat Islam. Akan menjadi sebuah kehancuran, saat-saat kita masih terbuai dengan mimpi-mimpi berdebat dengan sesama Islam. Jangan-jangan, saat kita terbangun dari tidur. Para musuh Islam, sudah menodongkan senjata dihadapan kita! Apalagi, saat kita
terbangun. Ternyata kita sudah berada dipenjara-penjara musuh Islam. Atau, jangan- jangan. Malah saat kita terbangun, kita sudah berada diakhirat. Dibangunkan oleh malaikat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang kita lakukan untuk Dien kita ini! Dibangunkan oleh malaikat, saat kita diakhirat. Karena pada saat kita sedang tertidur, musuh-musuh Islam telah menjatuhkan bom-bom mereka. Sehingga, kita tidak sadar bahwa kita telah meninggal. Kita telah berad diakhirat, karena kebodohan kita memerangi umat Islam sendiri!
Apakah kita rela memerangi saudara kita sendiri? Apakah kita memang menginginkan kehancuran umat Islam? Ataukah, karena kita ingin menunjukkan kebenaran yang pada dasarnya hanya ingin memenangkan sebuah perdebatan? Masya Allah. Kita sekarang sedang dilanda dengan berbagai hinaan, cercaan dari umat yang lain. Apakah kita harus saling menghina umat Islam sendiri! Inilah yang memang seharusnya koreksi bagi kita. Meskipun, saudara-saudara kita menghina dengan perkataan yang menyakitkan hati. Cukuplah Allah, mengetahui apa yang kita inginkan. Hanyalah Allah, yang biar membuktikan niat dan cara kita tidak seperti yang mereka duga. Dan biarkanlah hujatan-hujatan itu, Allah yang menjawabnya!
Maka seharusnya kita, berlapang dada dalam menerima pengingatan yang menyakitkan. Berusaha berlapang dada dengan hinaan yang mereka ucapkan. Berusaha untuk istiqomah dalam kekuatan yang kita bangun dan kita satukan. Kita tidak usaha memaksa mereka untuk mengikuti cara-cara kita. Kita tidak memaksa mereka mengikuti pola perjuangan yang sedang kita jalankan. Tidaklah sakit hati, jika saat kita dihina oleh mereka. Sehingga kita menjadi terhina. Semua itu harus kita pupuk dalam diri kita. Sehingga kita tidak merasa rendah dibanding mereka! Kita harus ingat. Bahwa saat dijaman Rasulullah. Perjuangan-perjuangan yang dilakukan bersifat mengikuti apa yang diperintahkan oleh Beliau (Rasulullah). Tetapi disaat jaman setelah Rasululllah. Kita menjadi ingat, bahwa banyak perbedaan pendapat yang terjadi pada beberapa sahabat Rasulullah.
Namun, perbedaan itu tidak menjadikan sebuah perpecahan umat. Malah menambah semangat untuk memperjuangkan Dien kita ini. Sehingga kita bisa melihat, bagamaina Abu Bakar dengan Umar saat berbeda pendapat. Kita ingat tentang Utsman dan Ali yang berbeda pendapat. Mereka tetap menyatukan diri dalam satu naungan. Meskipun mereka mempunyai perbedaan yang mencolok. Bahkan kita lihat Khalid bin Walid saat berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab. Tidaklah menjadikan perbedaan itu meretakkan hubungan ukhuwah mereka. Mereka tetap dalam koridor-koridor perjuangan yang pasti. Dan tidak saling menyalahkan atas perbuatan yang dilakukan setiap sahabat. Dan tidaklah terdapat hujatan, hinaan, atau bahkan cemoohan dan celaan kepada mereka. Bahkan mereka dengan sangat berlapang dada, saling memuliakan saudaranya saat terjadi perbedaan pendapat. Ini merupakan sebuah contoh yang bagus. Ini merupakan sebuah kekuatan ukhuwah yang harus kita jalankan. Bukan malah menjadikan sebuah perbedaan sebagai hal yang menakutkan. Bahkan menjadikan rival saudara kita sendiri, saat mereka berbeda pendapat dengan kita.
Ini merupakan perkara yang besar yang harus kita hadapi. Yang harus kita pahami. Yang harus kita mengerti. Bukan hanya sekedar memaksakan diri untuk mengatakan kepada saudara kita. Bahwa kitalah yang paling besar dan berjasa dalam memperjuangkan agama kita ini. Bahkan mengatakan, kitalah yang paling benar
dalam setiap cara perjuangan yang kita lakukan. Jangan! Cara-cara yang kita gunakan harus tetap sesuai dengan koridor-koridor yang sudah ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah. Dan bila terjadi sebuah cara yang lain, selama cara itu tidak merugikan atau bahkan menyimpang dari ajaran. Maka seharusnya kita tidak ada sebuah celaan terhadap sesuatu cara baru tersebut. Atau dengan kata lain, kita mudah mengatakan sebuah kebid’ahan kepada saudara kita.
Pemahaman dan pengertian sesama saudara Islam. Sangat wajib dilakukan. Bukan celaan dan pembenaran yang menjadikan umat Islam berjaya. Tetapi lebih didasari dengan kerendahan hati, kelembutan bertutur kata, kemulian akhlak kepada setiap saudara umat Islam yang seharusrnya ditunjukkan. Insya Allah, seperti itu. Wallahu’alam.” Jelaku penjang lebar.
“Mbak, lalu cara-cara untuk tidak terprovokasi untuk saling menghujat bagaimana?” Tanya Febri.
“Insya Allah. Hujatan, celaan, cemoohan dan perbuatan yang lain. Yang menimbulkan rasa sakit hati seorang yang mendengarkan. Timbul karena adanya sebab-sebab yang ditumbulkan dari beberapa faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor Internal lebih dipengaruhi oleh hati kita sendiri. Faktor eksternal, lebih dipengaruhi oleh sebuah stimulan atau pembangkit dari perkatan tersebut. Seperti halnya, berdebat dengan argumentasi atau hujjah yang menginginkan orang harus mengerti dengan apa kita maksud. Memaksakan kehendak seseorang saat kita berdiskusi untuk mengikuti cara yang kita lakukan. Tidak mau mengerti dengan hujjah atau argumentasi orang lain. Dengan contoh sebab-sebab seperti itulah yang akan membuat kita menjadi melakukan hujatan, celaan, cemoohan dan perbuatan lain yang tidak enak untuk didengar. Yang paling terpenting, kita tidak usah berdebat dengan orang-orang muslim. Karena pada dasarnya, perdebatan itu dilarang oleh Allah. Selain berdebat dengan cara yang baik dan dilakukan kepada orang-orang kafir. Allah tahu, bahwa perdebatan itu adalah bumbu perpecahan. Maka Allah melarang kita berdebat. Seperti dalam Qur’an Surat Al Ankabut 46. ‘Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.’ Sehingga Allah memberitahukan sebuah perdebatan hanya untuk para Ahli Kitab dan orang-orang zalim. Bukan untuk sesama orang-orang Islam!” jelasku.
“Lalu, bagaimana cara yang terbaik dalam berdakwah tanpa harus berdebat Mbak?” Tanya Ine.
“Ana belum tahu cara yang terbaik. Karena masing-masing mempunyai versi cara terbaik bagi dirinya sendiri!” Ucapku senyum. Setelah menghela nafas, aku lanjutkan penjelasanku “kalau menurut ana sih, cara yang terbaik dalam berdakwah agar terhindar dari perdebatan yang membuat hati kita menjadi panas dingin, keringat dingin mengalir, detak jantung yang tidak beraturan, nafas yang tersengal, dan membuat sorot mata kita tajam bagaikan akan menerkam sebuah mangsa didepan. Adalah, dengan cara tidak melakukan sebuah perdebatan. Atau menghindari hal-hal yang berbau perdebatan. Karena, kita harus yakin. Masih banyak cara yang lain dari pada harus berdebat dengan egoisme setiap masing-masing pembicaranya! Dengan
tidak menuruti hawa nafsu untuk berdebat, maka kita sudah menghindari perpecahan umat Islam. Dan dengan begitu dakwah kita, Insya Allah akan lebih mudah. Seseorang diingatkan, tidak harus didebat dengan kebenaran yang benar. Tetapi cukuplah diri seseorang yang mengingatkan itu melakukan apa yang diucapkan. Sehingga itu yang menjadi contoh bagi orang yang akan diingatkan! Dan ada beberapa hal yang harus kita pahami. Bahwa dakwah, bukan berarti tugas seorang saja. Tetapi setiap umat muslim, berhak dan wajib untuk berdakwah. Dengan mendakwahkan ajaran-ajaran yang memang tidak diragukan lagi kebenarannya! Bagaimana?” Ucapku
Mereka mengangguk setuju.
“Lalu, Mbak. Cara dakwah seperti apa yang menurut Mbak Farah bagus?” Tanya
Ratna.
“Cara dakwah yang bagus? Hem, ana pernah dengar dari salah satu ikhwan. Akhi Khalid namanya, ikhwan ini mengatakan saat dia ditanya seperti itu. Dengan satu kalimat. Cara dakwah yang bagus adalah bersyi’ar seperti Jamaah Tagbliq, berakhidah seperti para Salafi, dan berakhlaq dan ikhlas seperti Ikhwanul Muslimin. Tetapi, bukan berarti satu dengan yang lainnya bertentangan atau memiliki kekurangan. Tidak. Kita hanya mengambil cara-cara yang terbaik, yang pernah dilakukan oleh mereka. Dan tidak mengkotak-kotakan satu dengan yang lainnya. Jadi itulah cara dakwah yang menurut ana bagus!” sedikit, aku menghela nafas. Setelah itu mengatakan. “Baik, sudah malam nih! Bagaimana kalau liqo’ kali ini kita akhiri saja?” Tawarku.
“Hem, disini masih jam sepuluh pagi Mbak!” Ucap Ratna.
“Yee... anti di Amrik. Kalau disini mah, sudah jam 10 malam!” Sergahku sambil tersenyum.
Beberapa para chatter pun tersenyum. Entah termasuk para chatvoice juga. Aku tak tahu, karena aku tidak melihat mereka tersenyum.
“Iya, kalau Mbak Farah ingin off dulu silakan! Terima kasih banyak atas taujihnya. Insya Allah, kami mendapatkan ilmu yang belum kami dapat.” Ucap Febri.
“Ok, ana Off dulu yah. Ana udah capek banget nih! Sebelumnya, ana minta maaf jika taujih ana ada yang tidak berkenan dihati anti semua. Baik, ana off dulu. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Serempak jawaban para chatter tanpa dikomando.
Setelah itu aku langsung menshoutdown komputer.
JILID 8
“Insya Allah, ana siap menikah dengan anti!”
Aku terbangun dari tidurku. Jantungku berdetak cepat tidak karuhan. Keringatku mengucur deras. Sejenak aku mengingat mimpi yang menghampiriku. Tidak mungkin! Gumamku lirih. Sejenak air mataku mengalir. Entah mimpi tadi adalah sebuah kebahagiaan, atau sebaliknya. Aku tidak tahu!
Suara adzan shubuh menggema dalam keheningan pagi. Masya Allah, malamku terlewat lagi. Tahajjudku, tertinggal kembali. Begini, kalau tidak ada suami yang membangunkan! Ucapku dalam hati. Seraya tersenyum. Segera aku bangun dari peraduan kasur busa yang empuk. Bergerak menuju kamar mandi. Setelah berwudhu, aku langsung mengambil jilbab dan mukenaku. Sesegara mungkin aku keluar dari kamar, mengajak ummi untuk langsung kemasjid. Ternyata Ummi sudah berada menungguku. Untuk berangkat bersama-sama kemasjid. Tentunya, tidak lupa mengajak bi Iyem untuk sholat berjamaah ke masjid.
Memang dahulu ada ketentuan, seorang wanita dilarang untuk pergi kemasjid. Tapi bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, mungkin saat dijaman itu jalan-jalan masih gelap. Dan ditakutkan terjadi sesuatu hal kepada para wanita. Karena itu, sekarang banyak ahli fikih yang menyatakan boleh seorang wanita sholat berjamaah dimasjid. Setiap berjalan dalam langkah menuju Baitullah. Aku teringat dengan Abi. Kangen. Sudah enam bulan, Abi berada di Mesir. Mengurusi perusahaan yang baru dibelinya disana. Hem. Rasanya aku ingin bercerita banyak kepada Abi. Tetang mimpiku tadi malam!
Seperti biasanya, setelah sholat shubuh. Amalan pertama, membaca al ma’tsurat yang kedua tilawah dan menghapal hadits serta Al Qur’an. Lalu berolah raga. Sedikit meregangkan otot-otot yang kaku. Gerakan-gerakan beladiri yang pernah aku pelajari. Aku ulang kembali, hitung-hitung menghapalnya lagi. Memang seharusnya para akhwat juga harus belajar beladiri. Kalau teringat peristiwa lalu. Seharusnya aku sudah dapat membekuk para penjahat itu. Meskipun mereka membawa pistol, seharusnya aku lebih berani dengan merebut pistolnya. Jika seandainya aku sudah bisa dan terlatih dalam berbeladiri. Pastilah dengan mudah aku merebut pistol itu. Tapi sayang, rasa takut teramat dalam yang sudah melandaku. Ya Allah, azamkan pada diriku untuk lebih berani!
Aku teringat saat masih belajar beladiri. Para Al Ukh, sering aku ajak untuk ikut latihan. Tetapi sayang, banyak para Al Ukh yang menolak berlatih beladiri. Dengan alasan yang bermacam-macam. Seperti halnya, bahwa Akhwat sudah tidak jamannya lagi berlatih beladirilah, sekarang jamannya sudah tidak memakai beladirilah, sekarang perangnya memakai otaklah. Entah seribu satu macam alasan yang digunakan oleh para Al Ukh, untuk tidak mengikuti latihan beladiri. Padahal, Rasulullah sudah mengingatkan kita, bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah. Kuat dalam artian, adalah kuat dalam segala hal. Kuat hartanya, kuat fisiknya, kuat akal fikirannya. Dan kuat dalam hal yang lainnya. Ini yang seharusnya menjadi pengingat kita. Bahwa Rasulullah senang dalam bergulat (beladiri) untuk melatih ketangkasan geraknya, Rasulullah menganjurkan kita untuk
bisa berenang atau sering berenang, dalam artian. Bahwa Rasulullah menginginkan keseimbangan dalam kehidupan kita. Lalu Rasulullah menyerukan untuk berlatih memanah. Rasulullah menyerukan itu, agar kita lebih bisa memfokus dalam satu target yang tepat dalam berdakwah. Sambil mengukur dan mengetahui jarak sasaran yang tepat dalam berdakwah. Semua itu punya alasan. Bukan seperti kita yang selalu beralasan. Jika seorang akhwat bisa beladiri, maka akhwat itu Insya Allah akan lebih terjaga dalam geraknya. Bukan hanya pintar beladiri, tapi akhwat pun tidak harus gaptek. Semua hal seharusnya diimbangi. Bukan hanya salah satu saja.
***
Sejenak saat aku membaca surat Faathir 11. “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” Aku jadi teringat mimpiku. Yaa Allah, seandainya engkau memang benar-benar menjodohkannya kepadaku. Maka aku akan senang sekali, tetapi aku juga tahu. Bahwa keinginan dan kesenangan-Mu jauh lebih aku senangi!
Aku bingung. Bingung dalam rasa ketertarikan kepada seorang ikhwan. Aku tidak melihat wajahnya, yang aku lihat geliat dakwahnya. Sungguh sangat memukau. Dia begitu bersemangat dalam berdakwah. Ketegasan dalam memimpinnya pun sudah aku rasakan. Seorang leadership yang begitu hebat. Sangat hebat menurutku. Entah aku melihat dengan nafsuku atau karena dia bisa memperlihatkan kemuliaan akhlaknya. Aku sangat bingung. Apakah aku harus mendahuluinya untuk memberitahukan maksudku ini? Tapi aku malu! Tidak, aku tidak boleh malu. Ini bukan sebuah rasa malu. Walaupun aku nanti ditolak, biarkan. Tapi, ini bukanlah rasa malu. Aku harus seperti shahabiah yang lainnya. Meskipun ditolak, tapi ini bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah, seorang akhwat yang hanya memendam rasa cintanya dan hanya bisa berharap tanpa ada usaha yang pasti untuk menggapainya! Aku harus bisa menggapainya.
Aku langsung menyambar HP dan kunci mobilku. Dengan cepat aku bergegas langsung menuju mobil. Didalam mobil aku langsung menelephon bibiku. Ustadzah Heni.
“Hallo!” Ucap Bibiku.
“Hallo, Assalamualaikum. Bunda!” Salamku. Panggilan Bunda merupakan panggilan kesayangku kepada Bibiku. Karena sejak masih kecil aku sudah disuruh untuk memanggil Bunda. Tetapi, kalau ditempat kajian aku tidak mau memperlihatkan kedekatanku dengan Bibiku. Biar kesannya nanti, bukan hanya aku yang memiliki beliau.
“Walaikumsalam, Zah! Ada apa nih?” Tanyanya.
“Ana pengen ketemu, Bunda! Sekarang, Bunda ada dimana?” Tanyaku balik.
“Ana masih ngajar, setengah jam lagi ana sudah selesai! Anti datang disekolahan aja yah!” Jawabnya.
“Ok, Bunda. Ana sekarang meluncur kesana!” Ucapku sedikit manja. “Iya, ana tunggu!”
“Assalamualaikum!” Ucapku. “Walaikumsalam!”
Dengan segera aku langsung bergegas di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Insan
Mulia.
***
“Wah, ini ada apa? kok kelihatannya ada masalah yang besar!” Ucap Bibiku.
“Nggak juga, sih Bunda! Ana mau silahturahmi ke Bunda aja.” Jawabku enteng. Tetapi menyiratkan sesuatu yang terpendam.
Bibiku tersenyum. “Hem, mana mungkin hanya silahturahmi. Pasti ada yang lainnya.” Goda bibiku.
“Hehe... Bunda tahu aja!”
“Anti sudah ana asuh sejak masih bayi! Jadi ana tahu sifat anak sendiri dong!” Ucapnya menghibur. Seraya membelai kepalaku.
“Ana mau tanya, Bunda! Tentang Ukhti Reni!” “Ada apa, dengan Ukhti Reni?”
“Ana pernah ngobrol dengan Ukhti Reni, kalau dia ingin menembak duluan. Sudah belum Bunda?” Tanyaku.
“Oh, itu. Alhamdulillah, sudah! Tetapi, jangan memberitahu teman-teman anti dahulu. Ini masih dalam proses. Ana bersyukur, ada akhwat yang seberani itu!”
“Hem, lalu si Ikhwan menerima nggak Bunda?”
“Insya Allah, dari taarufnya. Si Ikhwan menerima! Memangnya kenapa?” “Oh... nggak apa-apa kok Bunda!” Jawabku, sedikit tergagap.
“Nggak apa. Apa, nggak apa-apa?” Goda Bibiku.
“Hehe... nggap apa-apa kok Bunda! Ana hanya pengen meniru Ukhti Reni.” Jawabku. Sedikit tersenyum malu.
“HA..! Alhamdulillah, sekarang Farah Zahrani sudah besar! Sudah dapat menentukan pilihannya sendiri.” Ucap Bibiku. Terlihat kaget tetapi tersenyum senang.
“Boleh, nggak Bunda?”
“Ya, tentu boleh dong. Tetapi, tetap harus diseleksi dulu akhidahnya. Meskipun anti yang memilih. Ana nggak mau anti menikah dengan seorang ikhwan yang akhidahnya tidak lebih baik dari anti!”
“Insya Allah. Pilihan ana ini cocok kok buat keluarga kita!”
“Hem. Tetapi anti juga harus ingat. Jika dia tidak menerima anti, anti tidak boleh merasa sangat malu. Malu boleh tetapi harus tetap dikontrol. Agar tidak menjadikan rasa malu itu menjadi futur dalam berdakwah!”
“Iya, Bunda!” Jawabku singkat. Sambil masih memperlihatkan sedikit rasa malu. “Lalu, Ikhwan mana yang terpilih untuk menjadi pendamping sang Bidadari?” Goda
Bibiku lagi.
Aku masih senyum dengan memendam rasa malu yang teramat sangat. “Akhi Khalid. Akhi Khalid Hendriansyah.” Jawabku singkat.
“Alhamdulillah. Anti memilih seorang Akhi yang memang tidak salah untuk dipilih! Tetapi anti sudah bilang ke Ummi belum?”
“Belum, Bunda. Insya Allah nanti, setelah ini!”
“Hem. Ya sudah, biar ana yang nanti bicara dengan Ummi! Anti persiapkan mental saja dulu.”
“Iya, Bunda!”
“Nanti, ana akan bilang ke ustad Fadlan. Ammi anti! Biar diurus semuanya.”
“Ana tunggu ya, Bunda. Bunda masih ada acara lagi nggak? Kalau nggak, ana antar
Bunda pulang!”
“Hem, syukron. Ana nanti masih ada syuro’ dewan guru. Ana nggak enak ninggal. Masa kepala sekolahnya nggak hadir disyuro’!” Ucap Bibiku. Dengan tersenyum.
“Ya, kalau gitu ana pamit dulu. Bunda! Assalamualaikum” Ucapku sambil mencium tangan bibiku.
“Iya. Walaikumsalam. Hati-hati!”
***
Dalam perjalanan pulang. Degup jantungku tak beraturan. Seorang Ikhwan yang sejak dahulu mencuri hatiku. Harus aku raih dengan keberanianku. Keberanian untuk menembaknya duluan. Aku takut, kalau sebenarnya. Akhi Khalid juga berpikiran demikan. Berpikiran, bahwa dia tidak cocok untukku. Hingga dia tidak berani menembakku duluan. Dari pada harus menunggu dengan ketidakpastian. Aku harus lebih berani menerima sebuah kepastian. Meskipun nantinya, jika aku harus ditolak oleh Akhi Khalid. Pedih dalam hati, pasti. Tapi, aku akhinya bisa mengetahui kepastian itu.
***
“Tluuut.... tluuutt..” bunyi Hpku. “Vita!” Tampilan nama di LCD Hpku. “Assalamualaikum!” Ucapku. Setelah menekan tombol Call. “Walaikumsalam.” Jawabnya.
“Wah, apa kabar Mbak?” Tanyaku. Basa-basi.
“Baik! Kalau kamu, gimana Far?” Ucapnya. Balik bertanya. “Alhamdulillah, baik juga! Ada apa Mbak?”
“Oh, nggak ada apa-apa! Hanya pengen nelphon aja. Kamu sekarang ada acara nggak, Far?”
“Nggak ada. Kenapa Mbak?”
“Aku pengen ngobrol. Bisa nggak?”
“Insya Allah, bisa! Pengen ngobrol dimana Mbak?” “Kamu bisa ke Asia Resto nggak, sekarang?”
“Bisa. Ok, aku sekarang kesana ya Mbak!” “Iya, aku tunggu!”
“Assalamualaikum!” Salamku. “Walaikumsalam!”
Asia Resto. Hem, berkelas juga nih! Marcedesku melaju dalam aspal yang terpanggang dengan panas yang terlihat membara oleh fatamorgana.
***
Setelah aku parkir mobilku. Bergegas aku langsung masuk ke Restourant itu. Asia Resto, salah satu pijakan para eksekutif dan pembisnis untuk melepas penat kesehariannya. Makanannya halal, tetapi mahal-mahal. Abi pernah mengadakan rapat
direktur disini. Yang akhirnya, aku kritik habis-habisan. Karena kehidupan hedonis sudah masuk diperusahaan yang mereka nyatakan perusahaan Islami. Seketika itu pun, Abi sudah tidak pernah lagi menyewa restourant itu.
Vita terlihat duduk sendirian. Wajahnya seperti menyimpan gundah dalam hati yang mendalam. Dia terlihat melamun, sambil memain-mainkan sedotan soft drinknya. Aku langsung berjalan kearahnya.
“Assalamualaikum!” Ucapku. “Wa..laikumsalam!” Jawabnya, tergagap.
“Kok melamun, Mbak?” Tanyaku sambil senyum.
“Ah, nggak kok! Silakan duduk. Eh, kamu kok cepat sekali datangnya?” Ucapnya. Sepertinya, mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Sebenarnya sih, aku tadi dalam perjalanan yang sejalur dengan restourant ini. Jadi lebih cepat sampainya!” Jawabku. Tak lupa dengan senyum ramah.
“Mau pesan apa, Far?” Vita menyerahkan daftar menu, kepadaku.
Aku buka daftar menu air minum. “Jus Alpukat aja deh!” Ucapku, saat melihat minuman kesukaanku.
“Kalau makannya?” Tanya Vita.
“Hem. Nggak deh, aku masih kenyang! Jus Alpukat aja, udah mengenyangkan kok” Jawabku sambil tersenyum.
Vita tersenyum. Setelah itu memanggil waiters dan memesankan pesananku. “Farah, kamu nggak apa-apa kan. Aku undang kesini!” Tanyanya.
“Hem. Nggak kok Mbak. Hanya saja, aku kikuk aja ditempat seperti ini. Kesannya elit banget! Kalau aku, makan di Ayam Bakar Wong Solo aja sudah kemahalan.” Ucapku. Sambil bercanda. Untuk ukuran eksekutif, seperti Vita. Memang style yang diutamakan. Walaupun, pulang pergi naik angkot! Tentunya, jika aku disuruh untuk memilih antara Asia Resto dan Ayam Bakar Wong Solo. Mending di ABWS aja deh!
Vita hanya tersenyum. Sejenak, wajah yang cerianya berubah kembali murung. Kesan raut wajah menyiratkan gundah yang mendalam.
“Mbak, kok kelihatannya sedih! Ada apa, cerita-cerita dong? Kali aja aku bisa bantu!” “Ya, karena itulah aku memanggil kamu! Entah kenapa, aku ingin sekali curhat
dengan kamu! Entahlah.” Vita sedikit menundukkan wajahnya. Sejenak menahan rasa deru. Matanya berkaca-kaca. “Farah. Aku memang sukses dalam karier! Tetapi, kehidupan rumah tanggaku sangat berantakan.”
Aku hanya mengangguk. Ikut mencoba merasakan kesedihannya. Walaupun, aku tahu. Itu hanya cerita klasik seorang wanita karier.
Tetesan air matanya berjatuhan. Sedikit Vita mulai mengatur nafasnya, mencoba mengatur lagi kondisi tubuhnya.
Vita menceritakan, kehidupan rumah tangganya tidak seindah kariernya yang terus melonjak. Suaminya menjadi tidak betah dirumah. Hingga akhirnya Vita menjadi sering bertengkar dengan suaminya, hanya karena masalah sepeleh saja. Mengatur rumah, memasak, mengurusi anak, dan lain sebagainya. Tidak dapat dia kerjakan. Karena kesibukan pekerjaannya. Sampai pada suatu malam, saat Vita pulang dari kantor. Dia melihat suaminya sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Badannya demam tinggi. Beberapa kali, anaknya meracau tidak karuan. Segera langsung Vita dan suaminya pergi kerumah sakit. Hingga akhirnya anaknya diopname. Saat dirumah sakit, suaminya terlihat sangat sabar. Tidak seperti biasanya. Tidak seperti hari-hari yang dialami dengan pertengkarannya. Suaminya kembali menunjukkan sifat kesabarannya, yang pernah diadapatkan saat masih berpacaran dan hari-hari setelah menikah serta hari-hari saat baru mempunyai anak. Saat Vita belum bekerja.
Dengan arah pembicaraan yang terlihat sangat gundah dan gelisah. Tetapi tetap menunjukkan kesabarannya. Suami Vita, memberikan pilihan kepada Vita. Dia berhenti bekerja dikantor, atau silakan melanjutkan pekerjaannya tetapi dia harus bercerai. Sebuah pilihan yang sangat berat baginya. Karena dia bekerja itupun, untuk mencukupi kekurangan gaji suaminya. Apalagi disaat-saat kariernya hampir mencapai puncak. Vita menjadi sangat bingung. Hingga akhirnya dia, mengundangku kerestourant yang mahal. Hanya untuk mendengarkan keluhannya. Dan kalau bisa, memberikan wejangan untuknya. Karena, menurutnya. Orang-orang yang mempunyai kekuatan iman. Adalah orang-orang yang bisa memberikan solusi yang bagus untuk setiap orang. Bagus memang, hanya saja aku menjadi tersanjung dengan ungkapan itu. Yaa Allah, lindungi aku dari sifat riya, ujub dan takabur.
“Mbak, Vita! Sebenarnya, nggak usah repot-repot ditempat seperti ini kalau mau curhat. Kemahalan, lagi Mbak! Dicafe-cafe yang murah aja aku siap kok. Atau rumah, dirumah Mbak Vita atau bisa juga dirumahku!” Ucapku.
“Aku, sangat menghargai orang yang mau membantuku. Bahkan hanya untuk mendengarkan curhatku saja. Aku sangat harus menghargainya!” Ucap Vita. Terlihat berharap dia mendapatkan solusi.
“Mbak. Kalau aku sih, jika Mbak mengundang dirumah Mbak Vita. Itu lebih terlihat menghargaiku, daripada harus bermahal-mahalan dirumah orang” Ucapku. sambil dengan senyum.
“Hem. Kalau gitu, Insya Allah kamu aku undang kapan-kapan dirumahku! Kalau menurut kamu, masalahku ini bagaimana?” Ucapnya, sambil terlihat bingung.
“Mbak, sebenarnya persoalan Mbak Vita ini klasik! Sering terjadi pada para wanita karier. Yang berkarier dalam pekerjaan diluar rumah! Kesibukan dia menjadi sangat menyita waktu para wanita karier ini!” Sedikit aku menghela nafas panjang. “Mbak,
kalau kita telaah lagi. Antara wanita dan pria yang melakukan sebuah pekerjaan. Saat para lelaki melakukan pekerjaannya, atau bekerja. Mereka mempunyai tujuan. Pertama, yang biasanya belum menikah. Maka tujuannya adalah untuk menikah. Yang kedua, jika lelaki ini sudah menikah. Maka tujuannya adalah, memberikan nafkah kepada keluarga. Seburuk-buruk suami, tetap suami itu ingin memberikan nafkahnya kepada keluarganya! Tetapi, jika wanita bekerja. Biasanya yang terjadi. Pertama, untuk wanita yang belum menikah, tujuannya adalah dua. Menabung untuk pernikahan, atau menabung untuk urusannya sendiri. Kedua, tujuan wanita bekerja yang mempunyai suami. Biasanya untuk membantu pemasukan keungan keluarga. Tetapi, itupun tidak mutlak biasanya juga untuk kebutuhannya sendiri!
Tetapi, jika seorang wanita yang bekerja dengan tujuan mulia. Yaitu untuk membantu pemasukan keuangan keluarga. Maka tujuannya jelas, bahwa keuangan keluarga yang menjadi prioritasnya. Sehingga, keluargalah yang menjadi prioritas pertama! Dan niat itupun tidak boleh berubah, meskipun seiring dengan apa yang telah Mbak Vita dapatkan. Seperti halnya, karier yang terus melonjak. Tujuan awal yang Mbak Vita inginkan, adalah sebuah kemuliaan. Seorang istri, tidak boleh berdiam diri manakalah dia melihat keluarganya kekurangan dengan sesuatu halnya. Seorang istri, diwajibkan untuk peka dalam urusan-urusan keluarga. Termasuk dengan kondisi materi keluarga! Dan tujuan seorang istri dalam pekerjaannya, harus diniatkan untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Hingga, seharusnya. Seorang wanita itu konsisten, atau dalam bahasa agamanya adalah Istiqomah. Terhadap niatnya. Tidak boleh seorang istri yang bekerja dengan niat untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Harus menyimpang, karena keberhasilan dalam berkariernya dikantor!
Manakala keluarga lebih membutuhkan Mbak Vita. Maka tidaklah Mbak Vita harus bingung dalam memilih. Karena tujuan Mbak Vita dalam bekerja, adalah untuk keluarga Mbak Vita sendiri. Tidaklah lucu, saat Mbak Vita bekerja untuk keluarga. Tetapi, keluarga yang Mbak Vita perjuangkan. Ternyata akan roboh karena tidak adanya andil yang besar dari Mbak Vita. Nah sebuah pertanyaan, bagi Mbak Vita kalau ingin tetap mempertahankan pekerjaan atau karier Mbak Vita. Sebenarnya, untuk siapa Mbak Vita bekerja? Dan apa yang Mbak Vita harapkan dari hasil pekerjaan Mbak Vita? Apakah rasa puas karena bisa mendapatkan jabatan atau kedudukan diperusahan yang tinggi? Lalu, setelah Mbak Vita mendapatkan kedudukan yang tinggi. Untuk apa, jika Mbak Vita sudah tidak mempunyai keluarga lagi! Karena semua itu akan sia-sia belaka.
Dalam Islam, wanita dibolehkan bekerja. Dan tidak dikekang. Makna gender dalam Islam pun tidak bias. Tidak seperti apa yang diperjuang oleh para feminimisme. Karena, setiap perjuangan atau pekerjaan yang dilakukan oleh wanita-wanita muslim. Sudah sangat jelas. Ada tujuannya. Tujuannya tetap untuk keberhasilan keluarga. Tetapi, jika perjuangan para feminimisme yang bias gender itu. Tidak mempunyai tujuan yang jelas, kecuali hanya egoisme dengan hawa nafsunya sendiri!
Dalam Islam, sudah jelas. Bahwa tujuan yang diharapkan oleh para wanita muslim. Adalah untuk keluarga. Jadi keluargalah yang nomer satu. Sebuah puncak karier yang tinggi, bagi seorang wanita. Adalah, saat mereka bisa mendidik anak-anak mereka dengan kemuliaan akhlak bagus, akhidah yang kuat, dan kepintaran yang membuat mereka dapat bertahan dalam kehidupannya. Sehingga tercipta keluarga yang sangat harmonis dalam kehidupannya. Dengan kata lain, wanita itu telah
mendapatkan kesakinahan keluarga yang selalu diharap-harapkannya. Islam, tidak memandang wanita kaya raya, tetapi keluarganya hancur berantakan. Tetapi, Islam akan memandang seorang istri yang bisa menciptakan suasana yang hangat dalam keluarganya. Mendidik anak-anaknya dengan perbuatan kebaikan seorang ibunya. Itulah puncak karier yang paling tinggi. Karena sangat sulit untuk membentuk keluarga seperti itu! Harus dengan intensif, seorang ibu menjaga anak-anaknya untuk mencapai keluarga yang seperti kita harapkan!” Aku sedikit menarik nafas panjang. “Bagaimana, Mbak?” Kataku.
“Farah. Aku sangat terkesan dengan penjelasan yang kamu utarakan! Sepertinya, kamu lebih memahami sebuah arti keluarga daripada yang sudah berkeluarga.” Ucapnya. Sambil tersenyum.
“Hehee... Mbak Vita ada-ada saja. Yah, tidak harus berkeluarga dulu untuk mengerti arti keluarga! Dengan mempelajari sebuah hal yang berarti dalam keluarga kita. Maka kita akan dengan mudah memberikan pengertian tentang arti keluarga. Karena keluarga kitalah yang menjadi sebuah contoh bagi kita!” Jelasku lagi.
“Iya, Insya Allah. Aku lebih tenang. Dan aku tahu, harus memilih yang mana! Tetapi Farah. Lalu bagaimana aku dapat membantu suamiku dalam memberikan pemasukan keuangan dikeluarga?” Ucap Vita. Terlihat bingung.
“Mbak Vita, bisa berdagang dirumah! Dengan berdagang apa saja. Bisa membuat toko, wartel, apa saja yang bisa menghasilkan. Dananya, bisa diambil dari pesangon yang Mbak Vita dapatkan setelah keluar dari perusahaan. Dengan seperti itu, Mbak Vita akan lebih fokus dalam mengasuh anak Mbak Vita! Dan, Mbak Vita bisa menyambut suami saat pulang dari pekerjaannya. Dengan senyum yang ramah, penuh cinta! Itu yang akan membuat suami akan terus betah dirumah.”
“Hem. Yups, ide briliant! Sebentar yah Farah.” Ucap Vita, sambil mengambil handphonenya. Setelah itu menekan beberapa nomor. “Mas, saya akan berhenti bekerja. Sekarang juga, saya akan membuat pengunduran diri! Iya. Ya sudah. Da.. Mas!” Ucapnya mengakhiri pembicarannya.
Aduh, jangan bermanja-manjaan didepanku dong. Buat iri aja nich! Gumamku. Sejenak aku tersenyum. Bahagia atas kebahagian yang aku rasakan dari seorang wanita yang berbahagia. “Gimana Mbak?” Tanyaku.
“Alhamdulillah. Aku udah menetapkan pilihan, semoga ini yang terbaik! Suamiku terlihat senang sekali, saat aku mengabarkan pilihanku ini!” Ucapnya riang.
“Alhamdulillah. Langkah awal yang Mbak Vita kerjakan, sekarang apa?” Tanyaku. “Untuk sekarang, aku akan mengajukan pengunduran diri! Setelah itu, aku akan buka
rumah makan. Atau entah apalah namanya, dari hasil pesangonku itu. Aku yakin pesangonku juga cukup untuk membuat rumah makan dan memperkerjakan beberapa orang dalam beberapa bulan!” Ucapnya antusias.
“Alhamdulillah. Wah enak nih, aku pasti akan datang kesana terus menurus!” Godaku.
“Silakan. Kalau kamu yang datang kesana pasti gratis deh! Untuk seorang sahabat, aku tidak akan menarik bayaran.” Ucapnya, dengan senangnya.
“Bukan sahabat, Mbak! Tapi saudara. Kita umat Islam, adalah bersaudara. Karena sesungguhnya semua umat Islam itu adalah bersaudara!” Ucapku.
“Terima kasih, Farah!” sebuah butiran intan berkilau, berjatuhan dari derai air matanya. Dia langsung memelukku. Erat, bagaikan saudara yang telah lama tidak berjumpa.
“Mbak, sudah sore nih! Mbak mau pulang apa mau kekantor dulu?” Tanyaku. “Kayaknya, aku harus kekantor dulu. Aku ingin mengajukan pengunduran diri
secepatnya!”
“Ok. Kalau gitu, kita bareng aja yah! Kan, jalannya searah!” Tawarku
“Ok. Tapi, sebentar yah!” Vita menuju kasir. Membayar pesanan apa yang sudah kami pesan.
Setelah itu kami pun bergegas untuk meninggalkan restourant mahal itu. Aku mengatakan kepada Vita untuk menunggu didepan restourant. Setelah itu aku menuju area parkir untuk mengambil mobil. Secepatnya, aku pun langsung menuju kedepan area restourant tempat Vita menunggu. Saat aku berada didepannya. Vita hanya diam saja, dia tidak terlihat memperdulikan aku. Setelah aku membuka kaca mobil. Vita tergaget sekali. Seorang wanita berjilbab, yang berada didalamnya. Aku. Sedang mengendarai mobil marecedes.
“Far, tidak salah?” Ucap Vita, heran.
Aku hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepala.
“Kamu Farahkan? Yang naik angkot, waktu dulu itu kan?” Ucapnya, masih tidak percaya.
“Iya, Mbak! Ayo masuk.” Ajakku.
Setelah itu Vita masuk kedalam mobil. Masih terlihat rasa ketidakpercayaannya. “Farah, aku tidak menyangka. Kalau kamu orang kaya!” Ucapnya.
“Bukan, Mbak! Yang kaya orang tuaku. Dan itu hanya harta titipan Allah! Bisa habis kapan saja.” Jawabku.
“Farah, aku sangat takjub melihatmu! Kamu memang benar-benar wanita yang sempurna!” Ucap Vita.
Aku terbangun dari tidurku. Jantungku berdetak cepat tidak karuhan. Keringatku mengucur deras. Sejenak aku mengingat mimpi yang menghampiriku. Tidak mungkin! Gumamku lirih. Sejenak air mataku mengalir. Entah mimpi tadi adalah sebuah kebahagiaan, atau sebaliknya. Aku tidak tahu!
Suara adzan shubuh menggema dalam keheningan pagi. Masya Allah, malamku terlewat lagi. Tahajjudku, tertinggal kembali. Begini, kalau tidak ada suami yang membangunkan! Ucapku dalam hati. Seraya tersenyum. Segera aku bangun dari peraduan kasur busa yang empuk. Bergerak menuju kamar mandi. Setelah berwudhu, aku langsung mengambil jilbab dan mukenaku. Sesegara mungkin aku keluar dari kamar, mengajak ummi untuk langsung kemasjid. Ternyata Ummi sudah berada menungguku. Untuk berangkat bersama-sama kemasjid. Tentunya, tidak lupa mengajak bi Iyem untuk sholat berjamaah ke masjid.
Memang dahulu ada ketentuan, seorang wanita dilarang untuk pergi kemasjid. Tapi bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, mungkin saat dijaman itu jalan-jalan masih gelap. Dan ditakutkan terjadi sesuatu hal kepada para wanita. Karena itu, sekarang banyak ahli fikih yang menyatakan boleh seorang wanita sholat berjamaah dimasjid. Setiap berjalan dalam langkah menuju Baitullah. Aku teringat dengan Abi. Kangen. Sudah enam bulan, Abi berada di Mesir. Mengurusi perusahaan yang baru dibelinya disana. Hem. Rasanya aku ingin bercerita banyak kepada Abi. Tetang mimpiku tadi malam!
Seperti biasanya, setelah sholat shubuh. Amalan pertama, membaca al ma’tsurat yang kedua tilawah dan menghapal hadits serta Al Qur’an. Lalu berolah raga. Sedikit meregangkan otot-otot yang kaku. Gerakan-gerakan beladiri yang pernah aku pelajari. Aku ulang kembali, hitung-hitung menghapalnya lagi. Memang seharusnya para akhwat juga harus belajar beladiri. Kalau teringat peristiwa lalu. Seharusnya aku sudah dapat membekuk para penjahat itu. Meskipun mereka membawa pistol, seharusnya aku lebih berani dengan merebut pistolnya. Jika seandainya aku sudah bisa dan terlatih dalam berbeladiri. Pastilah dengan mudah aku merebut pistol itu. Tapi sayang, rasa takut teramat dalam yang sudah melandaku. Ya Allah, azamkan pada diriku untuk lebih berani!
Aku teringat saat masih belajar beladiri. Para Al Ukh, sering aku ajak untuk ikut latihan. Tetapi sayang, banyak para Al Ukh yang menolak berlatih beladiri. Dengan alasan yang bermacam-macam. Seperti halnya, bahwa Akhwat sudah tidak jamannya lagi berlatih beladirilah, sekarang jamannya sudah tidak memakai beladirilah, sekarang perangnya memakai otaklah. Entah seribu satu macam alasan yang digunakan oleh para Al Ukh, untuk tidak mengikuti latihan beladiri. Padahal, Rasulullah sudah mengingatkan kita, bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah. Kuat dalam artian, adalah kuat dalam segala hal. Kuat hartanya, kuat fisiknya, kuat akal fikirannya. Dan kuat dalam hal yang lainnya. Ini yang seharusnya menjadi pengingat kita. Bahwa Rasulullah senang dalam bergulat (beladiri) untuk melatih ketangkasan geraknya, Rasulullah menganjurkan kita untuk
bisa berenang atau sering berenang, dalam artian. Bahwa Rasulullah menginginkan keseimbangan dalam kehidupan kita. Lalu Rasulullah menyerukan untuk berlatih memanah. Rasulullah menyerukan itu, agar kita lebih bisa memfokus dalam satu target yang tepat dalam berdakwah. Sambil mengukur dan mengetahui jarak sasaran yang tepat dalam berdakwah. Semua itu punya alasan. Bukan seperti kita yang selalu beralasan. Jika seorang akhwat bisa beladiri, maka akhwat itu Insya Allah akan lebih terjaga dalam geraknya. Bukan hanya pintar beladiri, tapi akhwat pun tidak harus gaptek. Semua hal seharusnya diimbangi. Bukan hanya salah satu saja.
***
Sejenak saat aku membaca surat Faathir 11. “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” Aku jadi teringat mimpiku. Yaa Allah, seandainya engkau memang benar-benar menjodohkannya kepadaku. Maka aku akan senang sekali, tetapi aku juga tahu. Bahwa keinginan dan kesenangan-Mu jauh lebih aku senangi!
Aku bingung. Bingung dalam rasa ketertarikan kepada seorang ikhwan. Aku tidak melihat wajahnya, yang aku lihat geliat dakwahnya. Sungguh sangat memukau. Dia begitu bersemangat dalam berdakwah. Ketegasan dalam memimpinnya pun sudah aku rasakan. Seorang leadership yang begitu hebat. Sangat hebat menurutku. Entah aku melihat dengan nafsuku atau karena dia bisa memperlihatkan kemuliaan akhlaknya. Aku sangat bingung. Apakah aku harus mendahuluinya untuk memberitahukan maksudku ini? Tapi aku malu! Tidak, aku tidak boleh malu. Ini bukan sebuah rasa malu. Walaupun aku nanti ditolak, biarkan. Tapi, ini bukanlah rasa malu. Aku harus seperti shahabiah yang lainnya. Meskipun ditolak, tapi ini bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah, seorang akhwat yang hanya memendam rasa cintanya dan hanya bisa berharap tanpa ada usaha yang pasti untuk menggapainya! Aku harus bisa menggapainya.
Aku langsung menyambar HP dan kunci mobilku. Dengan cepat aku bergegas langsung menuju mobil. Didalam mobil aku langsung menelephon bibiku. Ustadzah Heni.
“Hallo!” Ucap Bibiku.
“Hallo, Assalamualaikum. Bunda!” Salamku. Panggilan Bunda merupakan panggilan kesayangku kepada Bibiku. Karena sejak masih kecil aku sudah disuruh untuk memanggil Bunda. Tetapi, kalau ditempat kajian aku tidak mau memperlihatkan kedekatanku dengan Bibiku. Biar kesannya nanti, bukan hanya aku yang memiliki beliau.
“Walaikumsalam, Zah! Ada apa nih?” Tanyanya.
“Ana pengen ketemu, Bunda! Sekarang, Bunda ada dimana?” Tanyaku balik.
“Ana masih ngajar, setengah jam lagi ana sudah selesai! Anti datang disekolahan aja yah!” Jawabnya.
“Ok, Bunda. Ana sekarang meluncur kesana!” Ucapku sedikit manja. “Iya, ana tunggu!”
“Assalamualaikum!” Ucapku. “Walaikumsalam!”
Dengan segera aku langsung bergegas di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Insan
Mulia.
***
“Wah, ini ada apa? kok kelihatannya ada masalah yang besar!” Ucap Bibiku.
“Nggak juga, sih Bunda! Ana mau silahturahmi ke Bunda aja.” Jawabku enteng. Tetapi menyiratkan sesuatu yang terpendam.
Bibiku tersenyum. “Hem, mana mungkin hanya silahturahmi. Pasti ada yang lainnya.” Goda bibiku.
“Hehe... Bunda tahu aja!”
“Anti sudah ana asuh sejak masih bayi! Jadi ana tahu sifat anak sendiri dong!” Ucapnya menghibur. Seraya membelai kepalaku.
“Ana mau tanya, Bunda! Tentang Ukhti Reni!” “Ada apa, dengan Ukhti Reni?”
“Ana pernah ngobrol dengan Ukhti Reni, kalau dia ingin menembak duluan. Sudah belum Bunda?” Tanyaku.
“Oh, itu. Alhamdulillah, sudah! Tetapi, jangan memberitahu teman-teman anti dahulu. Ini masih dalam proses. Ana bersyukur, ada akhwat yang seberani itu!”
“Hem, lalu si Ikhwan menerima nggak Bunda?”
“Insya Allah, dari taarufnya. Si Ikhwan menerima! Memangnya kenapa?” “Oh... nggak apa-apa kok Bunda!” Jawabku, sedikit tergagap.
“Nggak apa. Apa, nggak apa-apa?” Goda Bibiku.
“Hehe... nggap apa-apa kok Bunda! Ana hanya pengen meniru Ukhti Reni.” Jawabku. Sedikit tersenyum malu.
“HA..! Alhamdulillah, sekarang Farah Zahrani sudah besar! Sudah dapat menentukan pilihannya sendiri.” Ucap Bibiku. Terlihat kaget tetapi tersenyum senang.
“Boleh, nggak Bunda?”
“Ya, tentu boleh dong. Tetapi, tetap harus diseleksi dulu akhidahnya. Meskipun anti yang memilih. Ana nggak mau anti menikah dengan seorang ikhwan yang akhidahnya tidak lebih baik dari anti!”
“Insya Allah. Pilihan ana ini cocok kok buat keluarga kita!”
“Hem. Tetapi anti juga harus ingat. Jika dia tidak menerima anti, anti tidak boleh merasa sangat malu. Malu boleh tetapi harus tetap dikontrol. Agar tidak menjadikan rasa malu itu menjadi futur dalam berdakwah!”
“Iya, Bunda!” Jawabku singkat. Sambil masih memperlihatkan sedikit rasa malu. “Lalu, Ikhwan mana yang terpilih untuk menjadi pendamping sang Bidadari?” Goda
Bibiku lagi.
Aku masih senyum dengan memendam rasa malu yang teramat sangat. “Akhi Khalid. Akhi Khalid Hendriansyah.” Jawabku singkat.
“Alhamdulillah. Anti memilih seorang Akhi yang memang tidak salah untuk dipilih! Tetapi anti sudah bilang ke Ummi belum?”
“Belum, Bunda. Insya Allah nanti, setelah ini!”
“Hem. Ya sudah, biar ana yang nanti bicara dengan Ummi! Anti persiapkan mental saja dulu.”
“Iya, Bunda!”
“Nanti, ana akan bilang ke ustad Fadlan. Ammi anti! Biar diurus semuanya.”
“Ana tunggu ya, Bunda. Bunda masih ada acara lagi nggak? Kalau nggak, ana antar
Bunda pulang!”
“Hem, syukron. Ana nanti masih ada syuro’ dewan guru. Ana nggak enak ninggal. Masa kepala sekolahnya nggak hadir disyuro’!” Ucap Bibiku. Dengan tersenyum.
“Ya, kalau gitu ana pamit dulu. Bunda! Assalamualaikum” Ucapku sambil mencium tangan bibiku.
“Iya. Walaikumsalam. Hati-hati!”
***
Dalam perjalanan pulang. Degup jantungku tak beraturan. Seorang Ikhwan yang sejak dahulu mencuri hatiku. Harus aku raih dengan keberanianku. Keberanian untuk menembaknya duluan. Aku takut, kalau sebenarnya. Akhi Khalid juga berpikiran demikan. Berpikiran, bahwa dia tidak cocok untukku. Hingga dia tidak berani menembakku duluan. Dari pada harus menunggu dengan ketidakpastian. Aku harus lebih berani menerima sebuah kepastian. Meskipun nantinya, jika aku harus ditolak oleh Akhi Khalid. Pedih dalam hati, pasti. Tapi, aku akhinya bisa mengetahui kepastian itu.
***
“Tluuut.... tluuutt..” bunyi Hpku. “Vita!” Tampilan nama di LCD Hpku. “Assalamualaikum!” Ucapku. Setelah menekan tombol Call. “Walaikumsalam.” Jawabnya.
“Wah, apa kabar Mbak?” Tanyaku. Basa-basi.
“Baik! Kalau kamu, gimana Far?” Ucapnya. Balik bertanya. “Alhamdulillah, baik juga! Ada apa Mbak?”
“Oh, nggak ada apa-apa! Hanya pengen nelphon aja. Kamu sekarang ada acara nggak, Far?”
“Nggak ada. Kenapa Mbak?”
“Aku pengen ngobrol. Bisa nggak?”
“Insya Allah, bisa! Pengen ngobrol dimana Mbak?” “Kamu bisa ke Asia Resto nggak, sekarang?”
“Bisa. Ok, aku sekarang kesana ya Mbak!” “Iya, aku tunggu!”
“Assalamualaikum!” Salamku. “Walaikumsalam!”
Asia Resto. Hem, berkelas juga nih! Marcedesku melaju dalam aspal yang terpanggang dengan panas yang terlihat membara oleh fatamorgana.
***
Setelah aku parkir mobilku. Bergegas aku langsung masuk ke Restourant itu. Asia Resto, salah satu pijakan para eksekutif dan pembisnis untuk melepas penat kesehariannya. Makanannya halal, tetapi mahal-mahal. Abi pernah mengadakan rapat
direktur disini. Yang akhirnya, aku kritik habis-habisan. Karena kehidupan hedonis sudah masuk diperusahaan yang mereka nyatakan perusahaan Islami. Seketika itu pun, Abi sudah tidak pernah lagi menyewa restourant itu.
Vita terlihat duduk sendirian. Wajahnya seperti menyimpan gundah dalam hati yang mendalam. Dia terlihat melamun, sambil memain-mainkan sedotan soft drinknya. Aku langsung berjalan kearahnya.
“Assalamualaikum!” Ucapku. “Wa..laikumsalam!” Jawabnya, tergagap.
“Kok melamun, Mbak?” Tanyaku sambil senyum.
“Ah, nggak kok! Silakan duduk. Eh, kamu kok cepat sekali datangnya?” Ucapnya. Sepertinya, mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Sebenarnya sih, aku tadi dalam perjalanan yang sejalur dengan restourant ini. Jadi lebih cepat sampainya!” Jawabku. Tak lupa dengan senyum ramah.
“Mau pesan apa, Far?” Vita menyerahkan daftar menu, kepadaku.
Aku buka daftar menu air minum. “Jus Alpukat aja deh!” Ucapku, saat melihat minuman kesukaanku.
“Kalau makannya?” Tanya Vita.
“Hem. Nggak deh, aku masih kenyang! Jus Alpukat aja, udah mengenyangkan kok” Jawabku sambil tersenyum.
Vita tersenyum. Setelah itu memanggil waiters dan memesankan pesananku. “Farah, kamu nggak apa-apa kan. Aku undang kesini!” Tanyanya.
“Hem. Nggak kok Mbak. Hanya saja, aku kikuk aja ditempat seperti ini. Kesannya elit banget! Kalau aku, makan di Ayam Bakar Wong Solo aja sudah kemahalan.” Ucapku. Sambil bercanda. Untuk ukuran eksekutif, seperti Vita. Memang style yang diutamakan. Walaupun, pulang pergi naik angkot! Tentunya, jika aku disuruh untuk memilih antara Asia Resto dan Ayam Bakar Wong Solo. Mending di ABWS aja deh!
Vita hanya tersenyum. Sejenak, wajah yang cerianya berubah kembali murung. Kesan raut wajah menyiratkan gundah yang mendalam.
“Mbak, kok kelihatannya sedih! Ada apa, cerita-cerita dong? Kali aja aku bisa bantu!” “Ya, karena itulah aku memanggil kamu! Entah kenapa, aku ingin sekali curhat
dengan kamu! Entahlah.” Vita sedikit menundukkan wajahnya. Sejenak menahan rasa deru. Matanya berkaca-kaca. “Farah. Aku memang sukses dalam karier! Tetapi, kehidupan rumah tanggaku sangat berantakan.”
Aku hanya mengangguk. Ikut mencoba merasakan kesedihannya. Walaupun, aku tahu. Itu hanya cerita klasik seorang wanita karier.
Tetesan air matanya berjatuhan. Sedikit Vita mulai mengatur nafasnya, mencoba mengatur lagi kondisi tubuhnya.
Vita menceritakan, kehidupan rumah tangganya tidak seindah kariernya yang terus melonjak. Suaminya menjadi tidak betah dirumah. Hingga akhirnya Vita menjadi sering bertengkar dengan suaminya, hanya karena masalah sepeleh saja. Mengatur rumah, memasak, mengurusi anak, dan lain sebagainya. Tidak dapat dia kerjakan. Karena kesibukan pekerjaannya. Sampai pada suatu malam, saat Vita pulang dari kantor. Dia melihat suaminya sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Badannya demam tinggi. Beberapa kali, anaknya meracau tidak karuan. Segera langsung Vita dan suaminya pergi kerumah sakit. Hingga akhirnya anaknya diopname. Saat dirumah sakit, suaminya terlihat sangat sabar. Tidak seperti biasanya. Tidak seperti hari-hari yang dialami dengan pertengkarannya. Suaminya kembali menunjukkan sifat kesabarannya, yang pernah diadapatkan saat masih berpacaran dan hari-hari setelah menikah serta hari-hari saat baru mempunyai anak. Saat Vita belum bekerja.
Dengan arah pembicaraan yang terlihat sangat gundah dan gelisah. Tetapi tetap menunjukkan kesabarannya. Suami Vita, memberikan pilihan kepada Vita. Dia berhenti bekerja dikantor, atau silakan melanjutkan pekerjaannya tetapi dia harus bercerai. Sebuah pilihan yang sangat berat baginya. Karena dia bekerja itupun, untuk mencukupi kekurangan gaji suaminya. Apalagi disaat-saat kariernya hampir mencapai puncak. Vita menjadi sangat bingung. Hingga akhirnya dia, mengundangku kerestourant yang mahal. Hanya untuk mendengarkan keluhannya. Dan kalau bisa, memberikan wejangan untuknya. Karena, menurutnya. Orang-orang yang mempunyai kekuatan iman. Adalah orang-orang yang bisa memberikan solusi yang bagus untuk setiap orang. Bagus memang, hanya saja aku menjadi tersanjung dengan ungkapan itu. Yaa Allah, lindungi aku dari sifat riya, ujub dan takabur.
“Mbak, Vita! Sebenarnya, nggak usah repot-repot ditempat seperti ini kalau mau curhat. Kemahalan, lagi Mbak! Dicafe-cafe yang murah aja aku siap kok. Atau rumah, dirumah Mbak Vita atau bisa juga dirumahku!” Ucapku.
“Aku, sangat menghargai orang yang mau membantuku. Bahkan hanya untuk mendengarkan curhatku saja. Aku sangat harus menghargainya!” Ucap Vita. Terlihat berharap dia mendapatkan solusi.
“Mbak. Kalau aku sih, jika Mbak mengundang dirumah Mbak Vita. Itu lebih terlihat menghargaiku, daripada harus bermahal-mahalan dirumah orang” Ucapku. sambil dengan senyum.
“Hem. Kalau gitu, Insya Allah kamu aku undang kapan-kapan dirumahku! Kalau menurut kamu, masalahku ini bagaimana?” Ucapnya, sambil terlihat bingung.
“Mbak, sebenarnya persoalan Mbak Vita ini klasik! Sering terjadi pada para wanita karier. Yang berkarier dalam pekerjaan diluar rumah! Kesibukan dia menjadi sangat menyita waktu para wanita karier ini!” Sedikit aku menghela nafas panjang. “Mbak,
kalau kita telaah lagi. Antara wanita dan pria yang melakukan sebuah pekerjaan. Saat para lelaki melakukan pekerjaannya, atau bekerja. Mereka mempunyai tujuan. Pertama, yang biasanya belum menikah. Maka tujuannya adalah untuk menikah. Yang kedua, jika lelaki ini sudah menikah. Maka tujuannya adalah, memberikan nafkah kepada keluarga. Seburuk-buruk suami, tetap suami itu ingin memberikan nafkahnya kepada keluarganya! Tetapi, jika wanita bekerja. Biasanya yang terjadi. Pertama, untuk wanita yang belum menikah, tujuannya adalah dua. Menabung untuk pernikahan, atau menabung untuk urusannya sendiri. Kedua, tujuan wanita bekerja yang mempunyai suami. Biasanya untuk membantu pemasukan keungan keluarga. Tetapi, itupun tidak mutlak biasanya juga untuk kebutuhannya sendiri!
Tetapi, jika seorang wanita yang bekerja dengan tujuan mulia. Yaitu untuk membantu pemasukan keuangan keluarga. Maka tujuannya jelas, bahwa keuangan keluarga yang menjadi prioritasnya. Sehingga, keluargalah yang menjadi prioritas pertama! Dan niat itupun tidak boleh berubah, meskipun seiring dengan apa yang telah Mbak Vita dapatkan. Seperti halnya, karier yang terus melonjak. Tujuan awal yang Mbak Vita inginkan, adalah sebuah kemuliaan. Seorang istri, tidak boleh berdiam diri manakalah dia melihat keluarganya kekurangan dengan sesuatu halnya. Seorang istri, diwajibkan untuk peka dalam urusan-urusan keluarga. Termasuk dengan kondisi materi keluarga! Dan tujuan seorang istri dalam pekerjaannya, harus diniatkan untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Hingga, seharusnya. Seorang wanita itu konsisten, atau dalam bahasa agamanya adalah Istiqomah. Terhadap niatnya. Tidak boleh seorang istri yang bekerja dengan niat untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Harus menyimpang, karena keberhasilan dalam berkariernya dikantor!
Manakala keluarga lebih membutuhkan Mbak Vita. Maka tidaklah Mbak Vita harus bingung dalam memilih. Karena tujuan Mbak Vita dalam bekerja, adalah untuk keluarga Mbak Vita sendiri. Tidaklah lucu, saat Mbak Vita bekerja untuk keluarga. Tetapi, keluarga yang Mbak Vita perjuangkan. Ternyata akan roboh karena tidak adanya andil yang besar dari Mbak Vita. Nah sebuah pertanyaan, bagi Mbak Vita kalau ingin tetap mempertahankan pekerjaan atau karier Mbak Vita. Sebenarnya, untuk siapa Mbak Vita bekerja? Dan apa yang Mbak Vita harapkan dari hasil pekerjaan Mbak Vita? Apakah rasa puas karena bisa mendapatkan jabatan atau kedudukan diperusahan yang tinggi? Lalu, setelah Mbak Vita mendapatkan kedudukan yang tinggi. Untuk apa, jika Mbak Vita sudah tidak mempunyai keluarga lagi! Karena semua itu akan sia-sia belaka.
Dalam Islam, wanita dibolehkan bekerja. Dan tidak dikekang. Makna gender dalam Islam pun tidak bias. Tidak seperti apa yang diperjuang oleh para feminimisme. Karena, setiap perjuangan atau pekerjaan yang dilakukan oleh wanita-wanita muslim. Sudah sangat jelas. Ada tujuannya. Tujuannya tetap untuk keberhasilan keluarga. Tetapi, jika perjuangan para feminimisme yang bias gender itu. Tidak mempunyai tujuan yang jelas, kecuali hanya egoisme dengan hawa nafsunya sendiri!
Dalam Islam, sudah jelas. Bahwa tujuan yang diharapkan oleh para wanita muslim. Adalah untuk keluarga. Jadi keluargalah yang nomer satu. Sebuah puncak karier yang tinggi, bagi seorang wanita. Adalah, saat mereka bisa mendidik anak-anak mereka dengan kemuliaan akhlak bagus, akhidah yang kuat, dan kepintaran yang membuat mereka dapat bertahan dalam kehidupannya. Sehingga tercipta keluarga yang sangat harmonis dalam kehidupannya. Dengan kata lain, wanita itu telah
mendapatkan kesakinahan keluarga yang selalu diharap-harapkannya. Islam, tidak memandang wanita kaya raya, tetapi keluarganya hancur berantakan. Tetapi, Islam akan memandang seorang istri yang bisa menciptakan suasana yang hangat dalam keluarganya. Mendidik anak-anaknya dengan perbuatan kebaikan seorang ibunya. Itulah puncak karier yang paling tinggi. Karena sangat sulit untuk membentuk keluarga seperti itu! Harus dengan intensif, seorang ibu menjaga anak-anaknya untuk mencapai keluarga yang seperti kita harapkan!” Aku sedikit menarik nafas panjang. “Bagaimana, Mbak?” Kataku.
“Farah. Aku sangat terkesan dengan penjelasan yang kamu utarakan! Sepertinya, kamu lebih memahami sebuah arti keluarga daripada yang sudah berkeluarga.” Ucapnya. Sambil tersenyum.
“Hehee... Mbak Vita ada-ada saja. Yah, tidak harus berkeluarga dulu untuk mengerti arti keluarga! Dengan mempelajari sebuah hal yang berarti dalam keluarga kita. Maka kita akan dengan mudah memberikan pengertian tentang arti keluarga. Karena keluarga kitalah yang menjadi sebuah contoh bagi kita!” Jelasku lagi.
“Iya, Insya Allah. Aku lebih tenang. Dan aku tahu, harus memilih yang mana! Tetapi Farah. Lalu bagaimana aku dapat membantu suamiku dalam memberikan pemasukan keuangan dikeluarga?” Ucap Vita. Terlihat bingung.
“Mbak Vita, bisa berdagang dirumah! Dengan berdagang apa saja. Bisa membuat toko, wartel, apa saja yang bisa menghasilkan. Dananya, bisa diambil dari pesangon yang Mbak Vita dapatkan setelah keluar dari perusahaan. Dengan seperti itu, Mbak Vita akan lebih fokus dalam mengasuh anak Mbak Vita! Dan, Mbak Vita bisa menyambut suami saat pulang dari pekerjaannya. Dengan senyum yang ramah, penuh cinta! Itu yang akan membuat suami akan terus betah dirumah.”
“Hem. Yups, ide briliant! Sebentar yah Farah.” Ucap Vita, sambil mengambil handphonenya. Setelah itu menekan beberapa nomor. “Mas, saya akan berhenti bekerja. Sekarang juga, saya akan membuat pengunduran diri! Iya. Ya sudah. Da.. Mas!” Ucapnya mengakhiri pembicarannya.
Aduh, jangan bermanja-manjaan didepanku dong. Buat iri aja nich! Gumamku. Sejenak aku tersenyum. Bahagia atas kebahagian yang aku rasakan dari seorang wanita yang berbahagia. “Gimana Mbak?” Tanyaku.
“Alhamdulillah. Aku udah menetapkan pilihan, semoga ini yang terbaik! Suamiku terlihat senang sekali, saat aku mengabarkan pilihanku ini!” Ucapnya riang.
“Alhamdulillah. Langkah awal yang Mbak Vita kerjakan, sekarang apa?” Tanyaku. “Untuk sekarang, aku akan mengajukan pengunduran diri! Setelah itu, aku akan buka
rumah makan. Atau entah apalah namanya, dari hasil pesangonku itu. Aku yakin pesangonku juga cukup untuk membuat rumah makan dan memperkerjakan beberapa orang dalam beberapa bulan!” Ucapnya antusias.
“Alhamdulillah. Wah enak nih, aku pasti akan datang kesana terus menurus!” Godaku.
“Silakan. Kalau kamu yang datang kesana pasti gratis deh! Untuk seorang sahabat, aku tidak akan menarik bayaran.” Ucapnya, dengan senangnya.
“Bukan sahabat, Mbak! Tapi saudara. Kita umat Islam, adalah bersaudara. Karena sesungguhnya semua umat Islam itu adalah bersaudara!” Ucapku.
“Terima kasih, Farah!” sebuah butiran intan berkilau, berjatuhan dari derai air matanya. Dia langsung memelukku. Erat, bagaikan saudara yang telah lama tidak berjumpa.
“Mbak, sudah sore nih! Mbak mau pulang apa mau kekantor dulu?” Tanyaku. “Kayaknya, aku harus kekantor dulu. Aku ingin mengajukan pengunduran diri
secepatnya!”
“Ok. Kalau gitu, kita bareng aja yah! Kan, jalannya searah!” Tawarku
“Ok. Tapi, sebentar yah!” Vita menuju kasir. Membayar pesanan apa yang sudah kami pesan.
Setelah itu kami pun bergegas untuk meninggalkan restourant mahal itu. Aku mengatakan kepada Vita untuk menunggu didepan restourant. Setelah itu aku menuju area parkir untuk mengambil mobil. Secepatnya, aku pun langsung menuju kedepan area restourant tempat Vita menunggu. Saat aku berada didepannya. Vita hanya diam saja, dia tidak terlihat memperdulikan aku. Setelah aku membuka kaca mobil. Vita tergaget sekali. Seorang wanita berjilbab, yang berada didalamnya. Aku. Sedang mengendarai mobil marecedes.
“Far, tidak salah?” Ucap Vita, heran.
Aku hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepala.
“Kamu Farahkan? Yang naik angkot, waktu dulu itu kan?” Ucapnya, masih tidak percaya.
“Iya, Mbak! Ayo masuk.” Ajakku.
Setelah itu Vita masuk kedalam mobil. Masih terlihat rasa ketidakpercayaannya. “Farah, aku tidak menyangka. Kalau kamu orang kaya!” Ucapnya.
“Bukan, Mbak! Yang kaya orang tuaku. Dan itu hanya harta titipan Allah! Bisa habis kapan saja.” Jawabku.
“Farah, aku sangat takjub melihatmu! Kamu memang benar-benar wanita yang sempurna!” Ucap Vita.
Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================
0 Komentar