JILID 5
“Tluutt...Tliiuut...” Suara Hpku. Saat aku lihat di LCD Hpku. Nomer Hpnya siap yah? Kok nggak tertera di LCD!
Dengan cepat aku tekan tombol call. “Halo, Assalamualaikum!” “Iya, Selamat pagi! Ini Mbak Farah Zahrani?” Ucap si penelepon.
Hem kok nggak jawab salamku sih! Pikirku dongkol. “Iya, ini Farah Zahrani! Ini siapa yah?”
“Saya pernah membaca artikel Mbak Farah Zahrani, disalah satu buletin kampus! Saya tertarik untuk mendiskusikannya. Bisa Mbak?”
“Oh, iya bisa! Kapan?”
“Kalau nanti jam satu siang, gimana?” “Insya Allah, bisa. Dimana?”
“Kita ketemu di Aneka Kafe!”
“Ok. Bisa! Aku nanti tak kesana. Oh, iya. Nama Mbak siapa?” Tanyaku penasaran. “Aku, tunggu disana! Terima kasih. Namaku Nova!” Ucapnya, sembari langsung
menutup telphonennya.
Nova! Sepertinya aku mengenal nama itu. Apakah benar, dia? Aku terkejut, saat tak lama Hpku berdering kembali.
“Tluut....tliuutt” Dewi!
“Hallo, Assalamualaikum. Ukh!” Ucapku setelah memencet tombol call. “Wa..laikumsalam. Mbak....!” Ucapan Dewi terlihat gugup dan bingung. “Ada apa, Ukh?”
“Mbak... rumah ana. Rumah ana dibobol orang... semua barang diobrak-abrik. Surti, pembantu ana. Diikat, dikamar mandi. Mbak... ana bingung!” Dewi terdengar sangat panik.
“Tenang.... Istighfar. Ukh! Sudah menelephon polisi?” Aku sangat khawatir. “Be..lum, Mbak! Ana takut...”
“Nggak usah takut! Sekarang, anti telephon polisi!” “Ta..pi Mbak! Pembobol rumah itu mengancam.”
“Nggak usah takut. Pokoknya, sekarang anti telephon polisi! Ana kesana sekarang.” “i....ya Mbak! Ana akan telephone sekarang.”
“KLIK”
Ya Allah, kuatkan saudaraku. Kuatkan seorang mujahidahmu! Ya Allah. Aku tahu, bahwa pastilah ini cobaanmu kepadaku juga. Aku sadar, bahwa engkau memberikan cobaan kepadaku. Cobaan untuk lebih peduli lagi kepada saudara seiman.
Secepatnya aku berkemas. Dan langsung mengambil kunci mercedezku. Ini genting! Tak lama, aku sudah berada dikursi empuk mercerdez. Sesegera mungkin, aku lansung meluncur kerumah Dewi. Gundah sekali suasana hati. Bahkan mobil mewah yang aku kendarai, tetap tidak bisa menentramkan hati. Rasa asa yang berkecambuk dalam hati. Semakin membesar dalam diri. Pedal gas, seakan ingin melaju dalam kecepatan yang tak wajar. Melaju dalam kecepatan tinggi yang melanggar. Tapi, aku tetap harus bisa mengontrol diri. Tidaklah seorang muslim, terburu-buru dalam sebuah tindakan. Karena terburu-buru adalah tindakan syetan. Tidaklah seorang muslim, berlebih-lebihan dari kecepatan yang telah ditentukan untuk kemaslahatan. Kecuali seorang yang selalu melanggar dalam kehidupan. Mobil ini memang bagus, memang cepat dan nyaman. Tetapi, tidaklah seharusnya membuatku lupa dengan kemaslahatan.
Kecepatan mobilku, harus tetap sedang. Sedang, sesuai dengan peraturan yang tertera dalam berlalu-lintas. Meskipun aku, dalam naungan nafsu untuk dapat mempercepat laju kendaraanku. Deru laju mobil, begitu sangat nyaman. Tidak seperti, angkot yang biasa aku tumpangi. Memang beda. Beda memang, saat menaiki angkot. Aku merasa lebih leluasa sebagai seorang hamba Allah yang zuhud. Tetapi, saat marcedes ini aku kendarai. Kadang ujub dan takkabur sering muncul berbarengan. Aku takut, menjadi teman mereka. Teman-teman ujub dan takkabur apalagi riya’.
Tak lama, perumahan citra asri kencana sudah terlihat. Tinggal berbelok dan beberapa blok lagi, aku sudah sampai dirumah Dewi. Marcedes ini, melaju dengan nyaman diperumahan ini. Beberapa kali, seorang melihatku. Entahlah, kenapa. Orang- orang cina yang keluar dari rumahnya, menatapku dengan agak heran. Menatap, seorang berjilbab mengendarai mobil mewah. Mungkin.
Terlihat banyak sekali orang-orang disalah satu rumah. Ya, itu rumah Dewi. Beberapa mobil polisi, sudah terlihat disekitar rumah itu. Alhamdulillah, polisi lebih dahulu sampai. Tidak seperti difilm-film! Polisi, dikesankan selalu datang terlambat. Tapi, ya memang terlambat sih!
***
“Mbak Farah....!” Dewi berlari memelukku. Saat aku baru turun dari mobil. “Ukhti. Anti tidak apa-apa kan!” Tanyaku, khawatir.
Dewi menggelengkan kepalanya. Isakan tangisnya masih terasa. “Istighfar, ya Ukh!”
Sejenak Dewi menghela nafas panjang. Mencoba untuk menenangkan dirinya. Bisikan lirih terdengar dimulutnya. “Astagfirllah.” Derai air matanya, tetap mengalir seiring isak tangis yang tiada henti.
“Ukhti, sabar! Allah sedang menguji anti.”
“Mbak! Coba, Mbak masuk kedalam. Lihat tulisan yang ada di diding.” Dewi langsung menarik tanganku, mengajak masuk kedalam. Memperlihatkan tulisan ancaman itu.
“BERIKAN DATA-DATA ITU, ATAU KALIAN SEKELUARGA MATI. JANGAN SEKALI-KALI MELAPOR KEPOLISI” Tulisan yang terpampang di dinding ruang tamu.
Aku langsung memeluk Dewi. “Ukhti, bersabar yah! Jangan takut dengan ancaman- ancaman mereka. Insya Allah, polisi dapat menangani kasus ini!”
Tak lama, muncul seseorang polisi. AKBP Sumarta. Aku kenal beliau. Seorang polisi, yang pernah menangani kasus pembunuhan anak seorang karyawan perusahaannya Abi.
“Maaf, kami tidak menemukan sidik jari apapun disini! Motifnya, kemungkinan balas dendam! Kami masih dalam penyelidikan.” Seru AKBP Sumarta.
“Apakah memang, tidak ada bukti atau jejak yang terlihat Pak!” Tanyaku penasaran. “Hem, kami hanya menemukan beberapa sapu tangan. Dan, ada setetes darah.
Kelihatannya, darah ini milik para pelaku. Yang mungkin tidak sengaja, terkena pecahan kaca! Kami akan memeriksanya di LABFOR.”
Aku dan Dewi hanya mengangguk.
“Loh, kamu kan putrinya Pak Hanafi!” Ucap AKBP Sumarta. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Hem. Insya Allah, saya akan berusaha sebaik-baiknya menangani kasus ini!” Ucap
AKBP Sumarta, mantap.
“Iya, Pak! Saya percaya dengan Pak Sumarta. Saya hanya memberitahukan. Bahwa sesungguhnya, Papanya Dewi. Sedang dituduh kasus korupsi oleh perusahannya. Padahal, Papa teman saya ini malah mengetahui beberapa orang yang tersangkut kasus korupsi diperusahaan itu! Tetapi, malahan. Yang dituduh korupsi adalah Papanya Dewi! Hingga akhirnya, Papanya Dewi masuk rumah sakit. Karena penyakit jantung.” Jelasku. Kepada AKBP Sumarta.
“Hem. Memang, kasus korupsi dimana-mana sangat rumit! Dan sangat sulit untuk diberantas. Mungkin karena kita memang membudayakan korupsi. Jadi korupsi akhirnya budaya kita! Dalam bahasa kerennya, membudayakan korupsi menjadi budaya” Ucap AKBP Sumarta, sambil tersenyum ramah. “Kami memang sedang menangani kasus korupsi, Bapak Rosyidin. Tetapi memang, ada kejanggalan dalam setiap data-data yang diberikan oleh perusahaan Bapak Rosyidin! Terlihat, data-data itu tidak singkron dengan data-data yang lainnya! Saya sebenarnya, bukan mencurigai Bapak Rosyidin. Tetapi malah mencurigai, orang-orang yang melaporkan kasus korupsi Bapak Rosyidin! Sangat begitu ganjil. Laporan-laporan data, yang diberikan kepada kita untuk proses BAP. Begitu tidak realistis dengan jumlah nominal pengeluaran uangnya! Malah terkesan, berkas itu asal dibuat saja. Dan, ada kemungkinan berkas itu palsu! Tetapi, tidak disangka. Malah, rumah Bapak Rosyidin dibobol orang. Ini malah, menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kami! Apakah benar, Bapak Rosyidin terlibat korupsi diperusahaannya? Insya Allah, tim dari kepolisian. Akan serius menangani kasus ini! Dan kami, akan melindungi keluarga Bapak Rosyidin. Dengan cara, menempatkan beberapa personil disini. Insya Allah, akan aman!”
Alhamdulillah. Seandainya, semua polisi seperti AKBP Sumarta. Pasti, citra polisi akan sangat baik.
“Kami berdua, sangat berterima kasih kepada Bapak!” Kataku.
“Itu memang tugas kita. Dan setiap orang baik, harus mendapatkan kebaikan pula. Saya yakin, Insya Allah. Semuanya akan berakhir dengan jelas! Dan tentunya, semoga tidak ada korban.”
Aku dan Dewi hanya mengangguk. Memasrahkan diri kepada Allah.
“Akan saya perintahkan anak buah saya. Untuk menjaga rumah ini! Dan juga, menjaga kamar Bapak Rosyad yang di rumah sakit. Insya Allah, tidak akan terjadi apa-apa!”
“Iya pak, Insya Allah!” Ucap Dewi, sembari menahan isak tangisnya.
“Baik, kalau gitu saya permisi dulu! Beberapa anggota saya, masih akan tetap berada disini. Sambil memeriksa beberapa barang-barang yang bisa dijadikan bukti lain.”
“Silakan, Pak! Terima kasih” Ucap Dewi.
Sambil tersenyum, AKBP Sumarta mengucap salam “Assalamualaikum!” Setelah itu pergi meninggalkan kami berdua.
“Walaikumsalam” jawab kami bersamaan.
“Sekarang, anti gimana? Anti mau tinggal dirumah ana atau bagaimana?” Tanyaku
Dewi masih terlihat bingung.
“Kayaknya, anti sebaiknya tinggal di rumah ana dahulu!” Pintaku.
“Hem, Mbak. Lebih baik ana tinggal di rumah nenek aja! Itung-itung biar nenek nggak sendirian.”
“Oh, iya! Ana antar, anti kesana!” “Ana nggak ngerepotin Mbak kan?” “Nggak, kok! Kapan berangkat?” “Sekarang, gimana Mbak?” Pintanya. “Ok. Ayo kita berangkat!” Ajakku.
“Tunggu sebentar Mbak!” Dewi mendatangi pembatunya. Entah apa yang dibicarakannya. Setelah itu, Dewi langsung menghampiriku. “Baik Mbak. Kita berangkat sekarang!”
“Loh, Surti nggak diajak?” Tanyaku bingung.
“Nggak Mbak, biar Surti dirumah! Sambil nunggu Ijah. Pembantuku yang satunya. Ijah lagi pulang kampung. Kasihan dia, kalau nanti pulang dirumah nggak ada orang! Ya, itung-itung juga buatin kopi dan teh para polisi yang bertugas menjaga rumah ini! Kasihan kan, kalau sudah bertugas tetapi nggak ada camilan buat makan!”
“Iya, bener. Asalkan jangan diwajibkan aja! Biar camilannya nggak berupa uang. Nanti bisa dikatakan Bid’ah itu!” Ujarku, sambil tersenyum.
Dewi hanya tersenyum.
“Ok, kita berangkat sekarang!” Ajakku, dengan langsung menarik tangan Dewi.
***
Beberapa kali, Dewi terisak dalam tangisan yang tak kunjung mereda. Cobaan yang mungkin berat baginya. Ironis memang, seorang yang memperjuangkan kebenaran. Malah mendapatkan bertubi-tubi fitnah yang menerpa. Mungkin, ini memang sunnatullah. Dimana ada sebuah kebaikan, maka disitupun akan ada sebuah keburukan pula. Marcedesku tetap melaju dalam kecepatan yang stabil. Automatic diver, menjadi pilihanku disaat mengendarai mobil dengan suasana yang tidak begitu menyenangkan. Deru dalam haru, masih kami rasakan. Rasa takut, masih terlihat dari wajah cantik sang Dewi. Berjalan dalam setiap keramaian yang tidak begitu sibuk.
Jalan-jalan yang tidak dalam kemacetan. Menyenangkan sebenarnya, hanya saja. Kami datang dengan kondisi hati yang tidak menyenangkan.
Melaju, dalam setiap deru haru yang menderu. Kami melaju terus dalam kebisingan lalu-lalang mobil dan motor yang tidak henti. Mereka melaju, bagaikan tidak akan pernah berhenti dalam satu titik yang pasti. Tapi, aku merasakan ada yang aneh dengan perjalanan kami. Aku merasa, ada sebuah mobil. Yang sedari tadi, terus mengikuti kami. Entah benar atau tidak. Dalam sebuah persimpangan jalan, aku membelokkan mobilku. Mencoba untuk lebih mengetahui, apakah benar memang mereka mengikuti kami. Dari kaca spion mobil, aku masih melihat mereka pun ikut berbelok arah. Mengikuti arah berbelokku. Aku mencoba untuk memelankan mobilku. Ternyata, mereka pun tidak mencoba untuk mendahului kami.
Hem, siapa mereka! Gumamku.
“Mbak, ada apa?” Dewi terlihat bingung dengan sikapku. “Ada mobil Jeep, yang sedari tadi mengikuti kita!”
Saat Dewi akan menoleh,
“UKHTI! Jangan menoleh kebelakang.” Bentakku.
Dewi dengan cepat memalingkan wajahnya kedepan. Saat ia akan menengok kebelakang melihat mobil Jeep itu.
“Afwan, Ukh! Ana tidak bermaksud membentak anti. Hanya saja, biar mereka tidak mengetahui. Kalau kita sudah mengetahui, mereka mengikuti kita!”
“Iya Mbak. Afwan!” Ucap Dewi. Terlihat panik.
“Ukh, anti nggak usah panik! Ana akan mencoba untuk berhenti. Apakah mereka akan berhenti juga?” Dengan memperlambat kecepatan mobilku. Aku memberhentikan mobilku disalah satu pedagang kaki lima. Berpura-pura, akan membeli minuman ringan.
Sejenak, mereka terlihat akan berhenti. Tetapi akhirnya, mereka pun meneruskan perjalanannya. Mendahuluiku, yang sedang berhenti membeli minuman ringan. Aku tetap memperhatikan, saat-saat Jeep itu mendahuluiku. Tentunya, dengan hanya melirikkan mataku. Agar mereka tidak curiga, kalau kami berdua sudah mempergoki mereka. Saat mereka sedang membuntuti kami.
Sejenak aku dan Dewi bernafas lega. Karena Jeep itu sudah berlalu dari hadapan kami. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali. Saat beberapa meter, kami melihat Jeep itu lagi. Mereka berhenti disalah satu pedagang kaki lima. Saat kami mendahului mereka. Terlihat dari kaca spion. Mereka dengan cepat masuk kedalam Jeep itu. Aku percepat laju mobilku. Mencoba untuk menghindari mereka. Sekilas, kami melihat di kaca spion. Mereka tidak terlihat lagi. Degup jantungku, berdetak cepat. Seiring dengan laju marcedes ini yang melesat cepat. Pedal gas tetap aku tekan lebih dalam. Untuk lebih mempercepat lajunya. Beberap kali, aku melihat
di kaca spion. Mereka tetap tidak terlihat lagi. Dewi, masih terlihat panik. Terlihat dari mulutnya, terus menungucapkan lafadz-Nya. Mencoba untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Sebenarnya, jantungku pun berdetak dengan cepat. Rasa takut yang teramat sangat sedang melanda dalam relung jiwa kami berdua. Tetapi, aku harus tetap bisa bersikap tegar. Agar Dewi, tidak lebih menjadi semakin takut. Karena melihatku, ketakutan.
“CIIIITT......!”
Tak aku duga. Jeep itu langsung memotongku dari tikungan yang sedang aku lewati. Secera cepat, Jeep itu langsung memotong jalan. Tepat berada di depanku. Aku pun langsung spontan menginjak rem. Seketika itu, dua orang langsung meloncat dari mobil Jeep itu.
“KELUAR KALIAN. CEPAT!” Teriak mereka. Sambil menodongkan pistol kearah kami.
Ya Allah! Tolong kami. Aku masih tertegun dengan kejadian ini. “BRENGSEK. KELUAR KALIAN, CEPAT!” Teriaknya lagi.
Dengan tergagap, aku melihat Dewi. Dewi terlihat sangat shock. Tidak ada kata apapun yang keluar dimulutnya. Yang ada hanya, tatapan mata yang begitu sangat ketakutan.
Aku langsung memegang tangan Dewi. “Ukhti. Kita keluar! Kita layani apa mau mereka! Allah bersama kita”
Dewi melihatku dengan tatapan yang sangat takut.
Aku menatapnya. Tatapan kekuatan seorang saudara. Aku genggam erat tangannya. “Percayalah Ukhti! Allah bersama kita.” Ucapku, lirih.
Aku buka pintu mobil. Dengan langkah pelan, aku mendekati mereka. Seorang yang berjaket Levis, tersenyum. Tak pelak pun, pistol mengarah tepat dikepalaku.
“HAI! Kami sudah bilang. Jangan bawa-bawa polisi segala. Kami hanya menginginkan data-data itu kalian serahkan!” Ucapnya.
Aku hanya bisa memandanginya. Hanya istighfar yang terucap dalam benakku. Tetapi, saat aku mamandang seorang pemuda yang berada di mobil Jeep itu. Aku merasa pernah bertemu denganya. Tatapanku, kini beralih kepada pemuda itu. Pemuda itu pun, terlihat mengenalku. Dia merasa heran, tatapannya pun seperti merasa serba salah. Aku yakin. Aku mengenalnya. Tapi, entah dimana.
“HAI! Sudah ayo cabut sekarang.” Ucap pemuda didalam mobil itu. Terlihat sangat salah tingkah sekali.
“INGAT! Serahkan data-data itu nanti pada kami. Atau kalian akan merasakan akibatnya!” Ucap seorang yang berjaket Levis itu. Sambil tetap menodongkan pistol kearah kepalaku. Setelah itu beranjak pergi.
Jeep itu sudah meninggalkan kami berdua. Dewi, hanya berdiri disamping mobil. Tatapannya nanar. Terlihat sangat shock sekali. Segera mungkin, aku mendatanginya. Dan langsung memeluknya. Beberapa orang yang melihat, hanya diam saja. Orang-orang itu tidak mau menolongku. Mereka takut dengan pistol para penjahat-penjahat itu.
“Ukhti, Istighfar!” ucapku. Masya Allah, sungguh kami merasakan cobaan yang sangat berat. Tapi aku yakin, Engkau memberikan cobaan ini. Karena engkau menyayangi kami!
Isak tangis yang semula mereda. Kini terbias dalam tatapan kosong yang terlihat. Bening kristal, yang semula tertahan. Kini pun, telah berjatuhan.
“Hiks.... Mmbak..! Afwan, ana tidak bisa sekuat Mbak Farah. Afwan Mbak. Ini masalah ana, tapi Mbak Farah juga kena dampaknya. Afwan Mbak! “
“Nggak, ini masalah ana juga! Anti adalah saudara ana. Maka sudah seharusnya sesama saudara menanggung kesulitan saudara yang lainnya. Tenang Ukh, kita pasrahkan kepada Allah!” Ucapku. Dengan memeluk tubuh Dewi, dan mengelus-elus punggungnya. “Sudah. Sekarang, kita masuk mobil.” Ajakku dengan lembut.
Astaghfirllah. Alhamdulillah, Allah masih memberikan perlindungannya! Ucapku dalam hati, sambil mengelus dada. Hanya ditodongkan pistol dikepala. Aku sudah sangat berkeringat dingin. Lalu, bagaimana dengan mujahidah-mujahidah di Palestina, di Afganistan, Kosovo, Irak! Masya Allah, Imanku ternyata sangat tipis. Tipis sekali. Aku mengira, bahwa perjuanganku adalah bukti dari keimananku! Ternyata aku salah. Aku sudah merasa takut dengan penjahat-penjahat itu. Bagaimana jika aku berhadapan dengan para serdadu syetan yang bernama Israel itu? Apakah aku akan lebih takut lagi? Ya Allah, kuatkan imanku. Sekuat para mujahidah-mujahidahmu. Sekuat para ummahat palestina yang berjuang digaris depan. Sekuat para martir-Mu. Sekuat para syuhada-syuhada yang sudah berada disurgamu. Ya Allah, kuatkan aku. Tak terasa, tetesan air mataku pun mengalir.
“Mbak... Mbak menangis?” Tanya Dewi. Merasa bersalah. “Afwan, Mbak. Ana telah melibatkan Mbak Farah dalam masalah ana!”
“Ukhti. Ana bukan menangis karena sudah terlibat dengan masalah anti! Ana menangis. Karena ternyata keimanan ana sangat tipis dan rapuh. Hanya ditodongkan pistol dikepala. Ana sudah sangat takut! Ana, hanya berfikir. Bagaimana saudara- saudara kita yang berada di Palestina. Ana rasa, bukan todongan yang mereka dapatkan. Tetapi, peluru adalah bagian dari makanan mereka sehari-hari. Bom adalah penyedap bagi bumbu-bumbu para martir Allah. Iman ana sangat lemah!”
“Mbak... Mbak Farah sangat berani! Disaat Ana ketakutan. Mbak Farah, malah datang dengan keberanian menghadapi mereka! Ana malu, ana malu dengan keberanian
Mbak Farah! Mbak, ajarkan keberanian itu kepana ana.” Isak tangis Dewi pun kembali.
Mobil pun melaju dalam setiap aspal yang tertanam dijalanan. Tubuhku, masih merasakan gemetar yang tidak bisa ditahan. Tanganku serasa sangat lemas untuk digerak-gerakkan. Dan tubuhku pun terasa sangat lemah. Serasa, tenagaku terkuras habis. Mataku, menatap kedepan. Menatap, dengan tatapan yang kosong tapi terarah. Tatapan seorang yang penuh dengan fikir tiada henti.
***
“Ukh, mendingan kita makan dulu yah!” Usulku. Karena aku benar-benar lemas. Dewi hanya mengangguk. Terlihat mengerti.
Dengan cepat aku langsung memenggokkan marcedesku disebuah rumah makan. Rumah makan yang asri. Pohon mangga yang menjuntai rimbun. Membuat terlihat samakin nyaman. Dan tepat didepan, terdapat tulisan “SEDIA SATE KAMBING” Rumah makan ini tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi.
Hem, ini yang akan memberikan staminaku kembali. Aku masih teringat, saat Ummi setiap kali jika aku sedang kecapean. Langsung saja, sate kambing sudah berada di meja makan. Kata Ummi, daging kambing lebih bagus dalam pemulihan tenaga. Mungkin karena Ummi keturunan Arab, jadi lebih senang makan daging kambing.
“Anti pesan apa, Ukh?” Tanyaku.
Dewi tersenyum. Wajah cantiknya, kini bisa tersenyum kembali. “Mbak, ana terserah anti!”
“Ok. Kita pesan sate kambing saja! Tidak pake nasi.” Tawarku. “Tafadhol. Ana angka ikut aja deh!” Ucap Dewi sambil tersenyum.
Tak lama datang seorang wanita separuh baya. “Mau makan apa, Mbak?” Tanyanya ramah.
“Sate kambing, dua Bu! Tidak nggak pake nasi. Minumnya es jeruk aja Bu! Dua.” Ucapku.
Ibu itu mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, kebelakang. Tak lama, Ibu itu sudah membawa beberapa sate kambing. Dan menaruh, sate kambing dimeja kami berdua. Sambil mempersilahkan makan, dengan ramah.
Hem, ini yang aku tunggu. Sate kambing. Insya Allah, pasti enak. Gumamku dalam hati. “Ayo, Ukh! Sate ini, akan menambah energi kita lagi. Biar kuat, biar bisa hadapi para penjahat itu” ucapku dengan senyum.
“Mbak. Entah, apa jadinya jika Mbak Farah tidak ada disini. Pasti ana sangat shock sekali. Mbak, ana sangat beruntung. Mempunyai saudara seperti Mbak Farah!”
“Ah, anti jangan melebih-lebihkan! Biasanya, kalau Ali ra. Dipuji, maka beliau akan meleparkan terompanya!” Gurauku.
“Iya! Kalau Mbak Farah. Melemparkan satenya! Hihihi...” “Yee... kalau ana sih. Melemparkan tusuk sate! Hehehe...” “Mbak. Terima kasih, untuk semuanya yah!”
Aku hanya tersenyum. Setelah itu, kami memakan sate dengan sangat lahap.
Bismillah.
***
Rumah yang ditanami beberapa pohon buah-buahan. Jambu, mangga, rambutan. Sangat rimbun, dan terlihat sangat sejuk. Ya, itu adalah rumah neneknya Dewi.
“Kita, sudah sampai!” Ucapku. Saat mobil memasuki depan rumah.
Dewi memelukku. “Mbak, Syukron. Ana sudah sangat berhutang banyak kepada
Mbak Farah!”
“Ukhti. Sesungguhnya, apa yang ana lakukan. Hanya semata-mata untuk ridha Allah! Apalagi, anti adalah saudara ana. Jadi, tidak mungkin ana meninggalkan anti!”
“Syukron, Mbak Farah!”
“Afwan. Udah, anti turun. Kan udah sampai!” Ucapku, dengan senyum. “Iya, Mbak. Mbak Farah, nggak ikut turun?”
“Kayaknya ana punya janji dengan seseorang, deh Ukh!”
“Kalau gitu, ana duluan Mbak! Assalamualaikum.” Ucap Dewi, sambil membuka pintu mobil.
“Walaikumsalam” Jawabku, sambil melambaikan tangan. Dewi tersenyum sambil juga melambaikan tangannya.
Aku, punya janji dengan siapa yah? Kayaknya, aku memang punya janji dengan seseorang deh. Siapa, yah? Hem. Aku lupa. Aku benar-benar lupa. Yang teringat hanya kejadian yang ada dijalan, sangat mendebarkan jantung. Debar jantung masih sangat terasa. Hingga akhirnya mematikan sendi-sendi fikirku. Melupakan apapun yang telah aku rencanakan. Hanya mengalami peristiwa seperti itu. Aku sudah sangat kebingungan, hingga alam fikirku pun tidak dapat mengingat sesuatu yang sudah aku rencanakan. Lalu, apakah aku sanggup bertemu Rabb. Saat-saat sacratul maut, saat- saat para malaikat bertanya didalam alam kubur, saat-saat tiada lagi pengampunan.
Yang ada hanya, hari-hari pembalasan didunia. Yang baik, dibalas baik. Yang buruk dibalas buruk. Apakah aku akan ingat dengan semua yang akan aku rencanakan?
Mobil tetap berjalan dalam jalur aspal yang panjang. Hingga akhirnya Aku ingat, aku mempunyai janji untuk bertemu seseorang di Aneka Cafe!
Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================
0 Komentar