JILID 4
Rumah ibu Inah sudah terlihat. aku percepat langkahku, menuju medan dakwah yang menunggu. Menunggu ladang-ladang dakhwah yang akan aku semai.
“Assalamualaikum” Ucapku, sembari langsung masuk rumah ibu Inah. Serempak, seisi rumah langsung menjawab salamku. “Walaikumsalam” “Wah, maaf yah. Saya terlambat!”
“Oh, nggak kok Mbak Farah!” Jawab ibu Inah, ramah.
Setelah itu aku langsung memberikan materi tarbiyah, untuk para ibu-ibu. Mereka dengan baik menyimak beberapa materi tarbiyah yang aku sampaikan. Sesekali terdengar celetukan para ibu-ibu, bingung karena tidak mengerti materi yang aku sampaikan. Materi Tauhid, materi awal pada setiap kajian. Ternyata, masih sangat banyak para wanita-wanita Islam ini yang belum mengerti tentang ajaran ketauhidan.
“Tauhid, merupakan sebuah hal yang mendasar dalam agama Islam sebelum Iman! Kalimat tauhid merupakan kalimat pertama yang harus diucapkan. Bentuk kalimat Tauhid, ada beberapa macam. Ucapan tauhid yang pertama adalah, syahadat. Dalam kalimat syahadat, telah ditetapkan. Bahwa, kita hanya boleh menyembah Allah dan mengikuti aturan-aturan yang telah dilakukan oleh Rasulullah. Kadang, kita melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Tetapi anehnya, kita tidak merasa bahwa perbuatan yang kita lakukan itu melanggar agama! Contohnya, saat kita kesulitan mendapatkan uang. Beberapa macam cara kita gunakan, sampai-sampai datang meminta pertolongan kepada orang pintar! Nah, kadang kita menganggap bahwa memita pertolongan kepada orang pintar itu sebagian dari ikhtiar kita!” sejenak aku menghentikan penjelasanku. Para ibu-ibu ini terlihat sangat antusias sekali mengikuti kajian.
Sesudah menghela nafas, aku meneruskan penjelasanku. “Ibu-ibu, ikhtiar itu bukan meminta tolong kepada selain Allah. Mungkin kita menganggap, bahwa orang pintar bisa dijadikan sebagai perantara pertolongan dari Allah? Sebenarnya, saat kita meminta pertolongan kepada mahluk Allah. Maka Allah itu akan sangat murka kepada kita, karena berarti kita meminta tolong bukan kepada Allah langsung. Padahal dalam Al Qur’an [16.53] ‘Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.’ Jadi, Allah sudah memperingatkan kita
untuk selalu langsung meminta pertolongan kepada-Nya. Bukan melalui perantara orang yang diragukan keimanannya untuk menyembah Allah. Seperti dalam Al Qur’an [29.41] ‘Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui’ ini merupakan sebuah perintah Allah kepada kita. Untuk langsung meminta sesuatu kepada Allah langsung. Dan, kita harus meminta dengan segenap ketaqwaan kita terhadap Allah. Dan Allah pasti mengambulkan permintaan kita! Jika permintaan kita belum dikabulkan secepatnya, pasti Allah akan mengabulkannya diwaktu mendatang! Karena Allah itu maha pemberi. Maka memintalah kepada yang Maha mengasih!” Ibu-ibu terlihat mengerti dengan materi kajian yang aku berikan. Insya Allah.
Waktunya tanya jawab. Waktu inilah yang akan membuatku lebih berinteraksi, jika memberikan sebuah materi kajian.
“Mungkin ibu-ibu, ada yang belum mengerti?” Tanyaku,
Ibu Inah mengacungkan tangannya. “Mbak Farah, saya mau bertanya!” “Iya silan Bu Inah!”
“Mungkin ini agak, menyimpang dari tema kajian kita kali ini! Yang saya tanyakan adalah. Apakah seorang wanita muslim wajib memakai jilbab? Apakah jilbab juga bentuk ketauhidan kita kepada Allah? Itu aja Mbak!”
Hem, memang ini saatnya aku memberitahukan perintah berjilbab! Tapi tetap dalam koridor-koridor yang bisa mereka mengerti! Ucapku dalam hati. “dalam Al Qur’an yang tertera dalam Annur 31 dan Al Ahzab 59. Allah sudah mengatur beberapa cara berpakaian wanita! Ibu-ibu, tubuh wanita itu sesungguhnya sangat sempurna. Sungguh kesempurnaan yang sangat luar biasa, karena Allah menciptakan mahluk yang dinamakan wanita itu dengan keindahan! Alangkah sayang, jika keindahan yang diberikan Allah kepada kita, kita perlihatkan kepada khalayak umum. Karena keindahan itu, harus diberikan kepada manusia yang berhak menerima keindahan. Yaitu suami kita. Karena Allah memualiakan kita, maka akhirnya dengan kemuliaan Allah kita diberikan ciri pakaian yang pantas untuk dipakai oleh seorang wanita! Sungguh wanita itu sangat mulia. Maka jika kita ingin mulia berpakaianlah sesuai dengan kemuliaan.
Hubungannya jilbab dengan ketauhidan. Merupakan sebuah mata rantai yang bertautan. Karena jilbab merupakan perintah Allah. Maka dengan begitu, jika kita wanita yang bertauhid. Dengan sendirinya kita akan menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah. Termasuk perintah untuk berjilbab menutup aurat! Jika kita tidak menuruti perintah Allah. Berarti kita telah menafikkan perintah-Nya. Orang-orang, yang tidak menuruti perintah Allah. Berarti dia telah mempunyai sesembahan baru selain Allah. Dengan begitu, seorang wanita yang tidak berjilbab. Sama saja dengan mempunyai sesembahan baru selain Allah. Karena telah berani menentang perintah Allah!
Tapi bukan berarti ibu-ibu menetang perintah Allah. Saya yakin, bahwa ibu- ibu sebenarnya pengen sekali berjibab! Tetapi mungkin, hanya belum dilaksanakan saja” kataku sambil tersenyum kepada para ibu-ibu.
Para ibu-ibu terlihat serius sekali memperhatikan penjelasanku tentang penutup aurat.
“Tapi Mbak, kalau kita belum punya uang untuk beli jilbab. Gimana?” tanya bu
Darmin.
“Insya Allah Ibu-ibu. Jika kita berniat kuat untuk melakukan sesuatu kebaikan. Maka Allah akan memudahkan usaha kita! Sesungguhnya, jika kita mendekati Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekati kita dengan berlari. Maka jangan putus asa, jika kita memang belum punya uang untuk berjilbab. Niat saja, itu sudah dihitung menjadi pahala oleh Allah. Apalagi melakukannya!” Senyumku terus mengembang, pada ibu- ibu.
“Mbak Farah, saya mau bertanya!” Giliran ibu Ijah.
”Iya Bu!”
“Apakah benar, wanita itu tidak boleh bersalaman dengan laki-laki?”
“Hem. Dalam hadits, dikatakan bahwa Rasulullah itu berkebiasaan berjabat tangan atau bersalaman. Tetapi Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita. Dan para sahabat pun, tidak pernah berjabat tangan dengan wanita. Dengan contoh seperti itu, maka kita harus mengikuti aturan-aturan yang dilakukan oleh Rasulullah. Seperti penjelasan saya tadi, bahwa seorang wanita itu adalah mahluk yang mulia. Maka, muliakanlah wanita dengan kemuliaan akhlak wanita itu sendiri. Maka wanita, akan menjadi benar-benar seorang yang dimuliakan! Bagaimana ibu-ibu, ada pertanyaan lagi?” Tanyaku menutup penjelasan.
Semua mengangguk, tanda mengerti.
*** Saat aku berjalan.
“Tluut...Tliiluut...” Bunyi Hpku. Saat aku lihat, Sms masuk dari Ukhti Dewi. “Mbak, ada dimana? Ana butuh bantuan Mbak, sekarang bisa?” Tulisnya. Langsung saja aku meneleponnya.
“Assalamualaikum, Mbak!” Ucap Dewi.
“Walaikumsalam, Ukhti! Ada apa Ukh?” Ucapku saat setelah Dewi mengaangkat
Hpnya.
“Mbak, ana butuh konsultasi nih! Mbak ada dimana?”
“Ana lagi dalam perjalanan pulang! Ini sudah sampai Jl. Sudirman.”
“Oh ya! Mbak, bisa nunggu ana di rumah makan LEZAT nggak? Itukan didaerah JL. Sudirman!” Serunya.
“Hem, ok! Ana tunggu disitu. Udah yah, ana menuju rumah makan Lezat sekarang!” “Iya Mbak, ana kesana sekarang! Assalamualaikum” Ucap Dewi, sambil menutup
pembicaraan.
Walaikumsalam! Hem, itung-itung makan siang disana. Gumamku dalam hati.
Dewi adalah adik kelasku saat masih di SMU. Dia termasuk anak ROHIS, yang militan banget. Semangatnya hebat sekali. Aku salut kepadanya. Jarang ada akhwat semilitan dia. Entahlah, Dewi memang lebih sering mengadu masalahnya kepadaku, daripada Akhwat senior yang lainnya.
***
Siang ini begitu terik, mentari bersinar dalam naungan panas yang menyengat. Aspal-aspal jalanan, mengeluarkan fatamorgana yang berhamburan. Pasti sangat panas! Tetapi dari sudut jalan, terlihat anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki. Mereka meminta beberapa rupiah, pada setiap pengendara. Aspal-aspal jalanan, seperti sudah menjadi saudara anak-anak itu. Hingga panasnya pun, tidak menyengat mereka. Pantas mereka disebut, anak jalanan. Sebenarnya pilu, saat melihat mereka berlarian mengais rupiah. Tetapi, aku hanya bisa merubah sedikit sekali anak-anak jalanan itu.
Tetap, diruang yang berAC dingin ini. Aku melihat mereka, si anak-anak jalanan. Semoga Allah, tetap membibing mereka. Terlihat Dewi berjalan menuju kearahku. Sambil tersenyum. Jilbab dan gamisnya pun seraya ikut menyapaku.
“Assalamualaikum. Afwan mbak, ana baru datang!” Ucap Dewi. “Walaikumsalam. Nggak kok, ini aja ana belum makan apa-apa!” Gurauku.
Dewi hanya tersenyum. Senyumannya terasa berat. Terlihat aral yang membelunggu dalam hatinya. Hem! Kenapa lagi adikku ini? Kasihan!
“Ada apa, Ukh?” Tanyaku langsung.
Sejenak, saat aku bertanya itu. Dia langsung memelukku. Isak tangisnya langsung mengalir dalam pelukanku. “Mbaa...k, Ana kena musibah!” Suaranya parauh dan terdengar lirih. “Mbak, Allah memberikan banyak musibah kepada ana! Ana nggak kuat Mbak!” isak tangisnya menandakan kegalauan yang sangat besar.
“Innalillahi.... Sabar, ya Ukh! Anti jangan ngomong gitu. Nggak boleh! Lebih baik sekarang kita makan dulu. Lalu, kita bicaranya dirumah ana aja! Biar, lebih leluasa!” kataku, sambil mengusap-usap punggung Dewi.
Wajah yang jelita, ceria dengan kegiatan yang begitu dia senangi. Kini seakan, musnah. Aral telah membelunggu tubuhnya. Jiwanya terlihat lemah. Matanya sayup dan terlihat tidak bergairah. Dengan sedikit mengangguk, Dewi menyetujui saranku.
Tetapi tidak seberapa lama, Dewi menatapku. Wajahnya terlihat khawatir. “Mbak..!”
ucapnya lirih. “Apa, Ukh!”
Dewi terlihat berhati-hati dalam setiap ucapannya. “Afwan ya, Mbak! Eem... Mbak, sebenarnya ana nggak punya duit banyak untuk mentraktir Mbak Farah!”
Saat Dewi mengucapkan itu. Aku langsung tersenyum. Adikku yang satu ini, sifatnya memang nggak pernah berubah! Pasti nanti minta bayarnya sendiri-sendiri. Tapi ini yang aku suka, sifat blak-blakkannya inilah yang membuatku semakin senang dengan dia. Sifat yang jujur, polos dan lugu. Gumamku dalam hati.
“Hehe... pasti anti mau bilang kalau bayarnya, sendiri-sendiri aja! Ya kan?” Ucapku sambil menggoda, si lugu.
Dengan sedikit malu, Dewi menundukkan wajahnya dan mengangguk pelan. “Hehee... Udah deh, Ukh. Anti nggak usah bayar, biar ana yang traktir anti!”
“Eh... jangan Mbak! Ana kan sudah merepotkan Mbak. Masa makan, Mbak juga yang repot!” Ucapnya, seraya memang terlihat rasa malu diwajahnya.
“Nggak apa-apa, lagi Ukh! Anti kan saudara ana. Jadi sesama saudara itu kan harus saling memuliakan!”
Dewi langsung tertunduk. Wajahnya memerah. “Afwan ya, mbak. Memang saudara harus saling memuliakan. Tetapi ana tidak pernah memuliakan Mbak Farah! Malah Mbak Farah yang terus memuliakan ana. Saudara macam apa ana ini! Ana malah sering merepotkan Mbak Farah, dengan masalah-masalah ana sendiri!”
Waduh, aku salah ngomong nich! Wah, jadi mendung kembali nih.
“Ukhti, anti selalu memuliakan ana kok! Dengan menceritakan masalah anti ke ana. Ana merasa anti sudah menganggap bahwa ana adalah saudara anti. Karena saudara, adalah seorang yang tidak saling menutupi kekurangan dan kelebihannya. Kepada saudara yang lainnya! Dengan menceritakan problem anti, ana sudah sangat merasa anti muliakan!” Aku menatapnya dengan penuh keikhlasan.
“Terima kasih, ya Mbak!” Ucap Dewi polos.
Aku tersenyum. “Baik, sekarang kita pesan makanan. Ok!”
Dewi mengangguk sambil tersenyum. Senyuman seorang saudara, yang mengandung keteduhan hati.
Uhibbukka fillah yaa ukhti.
***
“Ceritakan masalah anti, sekarang!” Ucapku. Saat sudah berada dikamar yang setiap hari memberikan fasilitas tidurnya untuk selalu kutempati. Tak lupa, aku memeluk boneka panda, yang setiap hari menemani tidurku.
“Mbak, Papa dipecat dari perusahaannya! Yang lebih parah lagi. Papa sakit jantung! Papa sekarang dirawat dirumah sakit. Kata Mama, saat Papa dipecat tidak membuat Papa sakit. Tetapi saat Papa dapat surat panggilan dari kepolisan, tentang dugaan korupsi diperusahaan. Papa langsung pingsan, dan langsung dirawat dirumah sakit! Pernah Papa, mengatakan kepada ana. Bahwa Papa, sedang menyelidiki dugaan korupsi diperusahaan. Papa curiga dengan, seorang anak pemilik salah satu pemodal perusahaan. Yang melakukan korupsi itu! Tapi entah kenapa. Pada saat Papa, sudah hampir menemukan semua bukti-bukti. Papa dengan cepat dipecat diperusahaan! Dan setelah itu Papa, balik dituduh sebagai seorang koruptor! Ana bingung Mbak. Biaya rumah sakit sangat besar. Hingga akhirnya, kami sekarang tidak mempunyai apa-apa! Alhamdulillah, Mas Aldi. Siap menanggung biaya pengobatan Papa. Tetapi mas Aldi, tidak punya cukup banyak uang untuk membiayai kuliah ana. Kasus tuduhan dugaan korupsi Papa, sampai saat ini masih diusut!” Sejenak Dewi menghela nafas panjang. Dengan masih terisak tangis, Dewi mengatakan. “Mbak ana bingung, ana nggak punya cukup uang biaya kuliah. Ana sekarang harus DO! Mbak ana juga takut, kalau Papa benar-benar akan masuk penjara! Ana takut.... Mbak!” dengan serta merta pun, Dewi langsung memelukku.
“Sabar ya Ukh! Ukhti, sesungguhnya anti sudah pernah mempelajari tentang teori kesabarankan! Hanya saja, kita terkadang dengan mudah berkata-kata tentang teori kesabaran yang diajarkan oleh agama kita! Tetapi, pada saat ujian itu datang kepada kita. Masya Allah, kita lupa dengan segudang teori kesabaran yang telah kita pelajari! Ini sudah sangat sering terjadi Ukh! Ana hanya mengingatkan kepada anti. Anti harus ingat, bahwa Allah sangat menyukai dengan hamba-hambanya yang sabar. Dan kemuliaan orang yang sabar, adalah dijanjikannya surga dan pahala. Anti harus ingat dengan Al Baqarah 214 ‘Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-sama. ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.’ Atau dalam Al Ankabut dalam ayat 2-3. ‘Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami tealh menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia megnetahui orang-orang yang dusta.’
Ukhti, cobaan merupakan sebuah rasa kasih sayang Allah. Yang diberikan kepada seluruh hambanya. Manakala seorang hambanya, saat diberikan cobaan. Maka kita harus ingat, katakanlah innaa lillahi wa innaa ilayhi raaji’uun. Yaa Ukhti, ana juga akan mengingatkan kepada anti, tentang hadits Abu Razin “Allah Swt. Merasa heran kepada seorang hamba yang putus asa padahal Allah Swt. Dapat merubah
segala sesuatu dengan mudah. Allah Swt. Melihatnya dalam keadaan putus asa, lalu Dia tertawa karena jalan keluar sebenarnya sudah dekat” Ukhti, anti harus ingat. Bahwa sesungguhnya cobaan yang anti dapatkan, merupakan sebuah ungkapan kasih sayang Allah kepada anti. Sungguh besar, kenikmatan yang diberikan Allah kepada saat ini. Jika anti menyadarinya! Anti ana sebagai saudara, apalagi ana merasa sebagai kakak Anti. Tidak akan mau melihat saudara atau adik ana, berputus asa. Karena, sebenar-benar seorang manusia yang terhina, adalah manusia yang berputus asa!
Ingat Ukh, ‘Sesungguhnya pertolongan turun dari langit sesuai dengan cobaan yang ditimpakan kepada seseoarang, dan kesabaran turun sesuai dengan besarnya musibah’ (Ibnu Katsir IV/526). Maka sesungguhnya, Allah pasti memberikan pertolongan kepada anti. Sesuai dengan tingkat cobaan yang diberikan anti!” sejenak aku melihat wajah sendu Dewi. Terpancar cahaya kemuliaan kembali. Semangatnya timbul, seiring dengan terpacunya penghambaan kepada Allah. Aku tersenyum. “Ukhti, ana siap membantu semua biaya kuliah anti! Mulai dari apapun. Ana tidak mau saudara atau adik ana putus kuliah hanya karena masalah seperti ini! Biaya kuliah ana yang tanggung. Untuk proses fitnah korupsi yang dituduhkan kepada Papa anti. Ana siap untuk membantu, menyediakan pengacara muslim, yang berkompeten dalam bidang ini! Insya Allah, Abi punya banyak kenalan tim pengacara Muslim!
Wajah sendu itu kembali tersenyum. Keceriaan yang meredup, kembali merekah. Kini saudaraku bahagai, sebahagia aku membahagiakan saudaraku. Aku pun tersenyum, bahagia.
Tapi tak lama. Wajah itu kembali meredup. “Nggak Mbak! Ana udah terlalu banyak merepotkan Mbak Farah! Ana menceritakan masalah ana, hanya untuk mendapat taujih dari Mbak Farah. Serasa damai saat Mbak Farah memberikan taujih Rabbani kepada ana! Itu sudah cukup! Ana nggak mau merepotkan Mbak terlalu banyak.” Dewi menundukkan kepalanya. Sebutir kristal kembali berjatuhan. Wajah sendu itu pun, kembali datang tanpa diundang.
“Yaa Ukhti! Apakah anti menganggap ana adalah saudara anti?” Ucapku, mempertegas.
Dewi mengangkat kembali kepalanya, dia tersentak. Kaget. “Pasti Mbak Ana sudah menganggap Mbak Farah adalah kakak ana!” sejenak dia menghela nafas panjang “Tapi, ana nggak mau menerima pemberian Mbak Farah dengan cuma-cuma. Ana malu, Mbak! Lebih baik Mbak Farah memberikan pekerjaan kepada ana. Dari pada ana harus berdiam diri, meminta pertolongan Mbak Farah terus menerus! Atau ana bisa menjadi seorang pembantunya Mbak Farah. Ana siap!” Ucapnya terbata-bata.
Aku tersenyum. Sebuah kesalahan besar, jika seorang Muslim hanya mendapatkan harta tanpa bekerja. Karena itu akan merendahkan kemuslimannya. Aku bertambah salut dengan Dewi. Memang benar-benar seorang adik yang memegang izzah! Pikirku. “Baik kalau begitu! Ana akan memberikan pekerjaan buat anti. Tapi bukan menjadi pembantu ana!” Kataku sambil senyum.
Dewi tersenyum puas. “Ana siap bekerja, apapun yang Mbak Farah perintahkan. Ana akan menurutinya! Apa pekerjaan ana, Mbak?” Dewi terlihat sangat antusias sekali.
“Mudah, anti tinggal menjadi pembantunya pembantu ana! Gimana?”
Mata Dewi terbelalak. Seakan tidak percaya dengan ucapanku. Bibirnya terlihat berat untuk berkata. Saat dia akan berkata.
“Hehhehe... afwan ana bercanda! Nggak mungkinlah, seorang akhwat yang cantik jadi pembantunya pembantu ana! Insya Allah, ada beberapa perusahaan ana yang akan membutuhkan seorang akhwat yang brilian dalam bekerja. Dan istiqomah tentunya. Apalagi yang siap berdakwah dalam perusahaan. Dan masih tetap bisa kuliah!”
Dewi kembali tersenyum. “Mbak Farah bisa aja! Ana kaget, tapi sebenarnya ana siap aja jadi pembantunya pembantu Mbak Farah. Asal pembantunya Mbak Farah mengijinkan ana kuliah!” Ucapnya dengan lugu dan polos.
Aku jadi teringat saat pertama kali Dewi masuk Rohis. Seorang anak direktur perusahaan yang baru beranjak dewasa. Apapun kegiatan dia ikuti. Sampai-sampai kegiatan ngeceng di mall pun dia ikuti. Lucu. Dia tidak mengetahui hukum-hukum Islam secara benar. Tetapi semangatnya benar-benar kuat. Dia pernah berkata, bahwa saat masih SMP dulu. Dia tidak boleh mengikuti kegiatan apapun. Jika sudah pulang sekolah, dia harus langsung pulang tepat waktu. Tidak boleh kemana-mana. “Bagaimana bisa kemana-mana Mbak! Setiap hari diantar supir. Kalau telat sedikit, langsung supir diomelin sama Mama. Makanya supir nggak berani nuruti kemauan yang aku minta!” itulah curhat pertama Dewi kepadaku. Hingga akhirnya, saat dia beranjak dewasa. Apapun ingin diikutinya. Alhamdulillah, setelah bergabung dengan anak-anak ROHIS. Dia lebih cenderung untuk mengikutinya, meskipun Dewi masih sering pergi konkow-konkow di mall. Tetapi lama kelamaan, dia mengetahui sendiri. Bahwa anak-anak ROHIS punya jiwa pembeda dengan yang lainnya. Dan mempunyai jiwa, lebih damai ketimbang dengan yang lainnya.
Masih banyak Dewi-Dewi yang lainnya. Yang tidak mengetahui dengan benar. Antara kebaikan, keburukan dan kesamaran dengan keduanya. Masih banyak Dewi-Dewi yang lainnya. Yang mereka tidak mengetahui perbuatannya. Entah salah, entah benar. Yang penting adalah kesenangan. Karena lepas dari jeratan penjara yang mengekang mereka. Beruntunglah Dewi yang satu ini, karena dia berada pada naungan kebaikan. Tetapi apakah Dewi-Dewi yang lainnya, seberuntung Dewi yang ini? Entahlah, semoga para aktivis dakwah tidak dengan mudah mengklaim kebenaran pada diri mereka masing-masing. Atau bahkan mengklaim paling baik dan paling sholeh ketimbang Dewi. Atau mengira, Dewi memang dilahirkan untuk menjadi setan! Bagi para aktivis dakwah. Renungkanlah!
Aku menatap Dewi, dalam-dalam. Aku penuhi matanya dengan jiwa kasih sayang seorang saudara. Dengan nada pelan dan lembut, aku katakan. “Ukhti, sesungguhnya ana sangat menyayangi anti! Ana tidak akan setega itu.”
Binar matanya kembali terang. Kini mata binar itu kembali. Cerah sekali. Setetes bulir air mata kebahagiaan membasahi. Terang itu kembali datang, mengisi semua rongga kebahagiaan dirinya. Entah apa yang diucap dalam bibirnya, seraya dia menyebut- nyebut nama Tuhannya. Seraya dia menyebut nama Sang Maha Suci Allah. Mengucapkan rasa syukur yang teramat dalam. Mengucapkan kebesaran nama
Tuhannya. Dan selalu melafalkan kalimat ketauhidan yang teramat dalam. Tak sebarapa lama, Dewi langsung memelukku. Pelukan seorang adik yang menyayangi kakaknya. Pelukan seorang saudara yang begitu mencintainya. Subhanallah.
“Terima kasih, Mbak Farah!” Itulah ucapan lirih yang terlantun dalam bibir merahnya.
Aku tetap memeluknya. Pelukan seorang wanita yang merindukan seorang adik. Pelukan seorang akhwat kepada saudaranya. Pelukan seorang wanita, yang ingin membahagiakan Ukhtinya. Aku, akan tetap menjagamu. Adikku!
***
“Mbak, gimana kuliahnya!” Tanya Dewi. Disela-sela pagi, sesudah sholat subuh. “Alhamdulillah baik. Tinggal sidangnya aja, sekarang!”
“Kabar-kabarnya. LDK kampus Mbak sekarang, lagi ngerencanain setrategi dakwah baru yah Mbak!”
“Iya, nih. Aktivis Dakwah Kampus ana, sekarang lagi mulai bersosialisasi dengan para mahasiswa ammah! Biar nggak terkesan ekslusive, gitu!”
“Hem, benar Mbak. Ana aja, kadang malas melihat para Aktivis Dakwah Kampus. Yang terkesan menjauhi para mahasiswa ammah! Padahal mereka kan objek dakwah juga!”
“Nah, makanya itu! Dakwah bukan berarti mengasingkan diri. Karena kita mempunyai objek dakwah yang pasti, yaitu orang dekat sekeliling kita. Maka, kita dilarang untuk menghindari mereka! Kalau kita menghindari mereka, sama saja kita menghindari objek dakwah!” Ujarku.
“Iya, Mbak! Oh iya, Mbak. Kapan nih, bersiap melangkah untuk menggenapkan Dien kita?” Ucap Dewi menggoda.
“Hem, Anti ini apa-apaan sich! Mana ada sih Ikhwan yang mau sama ana?”
“Yee... Mbak Farah gimana sih! Nggak ada, lagi. Maksudnya nggak ada yang akan menolak menjadikan istri Mbak Farah! Mana ada sih, seorang ikhwan yang menolak Akhwat sesempurna Mbak Farah!” Ucap Dewi, genit.
“Ih, anti genit banget!”
“Biarin, ana genitnya kan sama kakak sendiri!” Ujarnya sambil tersenyum centil plus manjanya.
Yaa Allah. Terima kasih, Engkau memberikan adik kepadaku. Adik yang selalu dapat menghiburku. Adik yang selama ini hanya menjadi khayalanku. Sungguh, Yaa Allah. Aku sangat berterima kasih kepada-Mu. Aku akan benar-benar menjaganya. Menjaga seperti kakak yang tidak akan mau melihat adiknya terluka atau pun dilukai.
“Mbak.... Mbak Farah! Ih kok melamun sih!” Suara Dewi mengejutkanku.
“Nggak, ana hanya mengingat-ingat. Nanti ada kegiatan apa nggak!” Ujarku
“Ih, Mbak Farah. Ngeles aja! Oh, iya Mbak. Mas Khalid itu siapa yah!” Dewi melirikku dengan matanya yang genit. Kegenitan seorang adik.
DEG. Jantungku serasa berhenti. Nama itu disebut lagi. Entah kenapa, setiap kali ada yang menyebut nama itu. Jantungku berdebar-debar. Astaghfirllah.
“Anti, tahu darimana Akhi Khalid!” Ucapku terlihat kaget. “Yee... berarti benar yah!”
“Bener, apanya? Anti jangan berfikiran yang bukan-bukan loh!”
“Berarti benar, Mas Khalid akan jadi Kakak laki-laki ana! Mas Khalid akan jadi suami Mbak Farah! Hihihihi...”
“Anti...” langsung saja, aku memukulkan bantal busa kearah Dewi.
Akhirnya, kami pun perang bantal. Seiring dengan tawa kebahagiaan bersama. Tawa yang tidak menjadikan rendah martabat seorang wanita. Tawa yang bukan memekikkan telinga. Apalagi, bukan tawa yang membuat orang ketakutan. Tawa yang dikira orang kerasukan.
Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================
0 Komentar